
Gadis itu menunggu selama beberapa menit. Hingga akhirnya namanya dipanggil.
Ia duduk dihadapan seorang dokter spesialis kebidanan. Dan ia menjawab beberapa
pertanyaan dan sang dokter mencatatnya. Selanjutnya dokter perempuan tersebut
menyuruhnya ke tempat tidur untuk pemeriksaan, Sebelumnya ia membuka celana
dalamnya. Gadis itu menahan rasa malu yang amat sangat. Ia disuruh berbaring, menekuk
kakinya seperti posisi ibu yang melahirkan. Dan mengangkangkan kakinya.
Dokter tersebut memandangnya, "Rileks aja, biar nggak sakit."
Gadis itu menggigit bibirnya. Ia berusaha tenang dan santai. Ia terpaksa melakukan ini
untuk menjawab rasa penasarannya. Juga agar ia bisa menentukan langkah selanjutnya.
"Oh," Gadis itu mengelinjang ketika sebuah alat spekulum menyentuh miliknya.
Ia memejamkan matanya.
Untuk sampai di sana, ia sudah mengalami kesulitan dan kesusahan. Beberapa rumah
sakit bersalin menolaknya. Ada beberapa persyaratan yang harus ia penuhi untuk
bisa melakukan tes tersebut. Dan ternyata tidak sembarangan orang bisa melakukannya.
Mesti memiliki ijin orang tua, surat keterangan beberapa pihak, dan apakah ia akan
menikah dengan seorang pria tentara.
Ia terus mencari dan yakin bahwa pasti ada yang bisa melakukannya setelah mendengar
ceritanya. Dan itu benar. Setelah berbagai kesulitan dan kesusahan ia menemukan sang
dokter spesialis yang mengerti pada dirinya. Bahkan sang dokter sangat bersimpati, ia
bilang pernah mengalami hal yang mirip. Ketika ia kecil, teman bermainnya yang lebih
besar telah menidurinya. Hal itu terus menghantuinya hingga ia remaja. Ia begitu ketakutan
saat pria yang ia cintai melamarnya. Ia depresi beberapa bulan, dan tidak ada yang mengetahui
keresahannya.
"Lalu bagaimana Dok?"
Ketika itu gadis tersebut ingin tau kelanjutannya, tapi sang dokter hanya tersenyum.
"Aku juga ingin tahu kelanjutan kisahmu gadis cantik, nanti kita ketemu lagi ok."
Terpaksa gadis itu mengangguk.
"Ok, dokter."
"Kamu mirip saya ketika remaja, tapi kamu lebih beruntung."
Kata sang dokter setengah bergumam.
"Beruntung di mananya Dok?"
Gadis itu ternyata mendengar gumamannya, sang dokter hanya tersenyum tipis.
"Seperti sekarang? kamu bisa mencari tahu rasa kepenasaranmu."
"Oh, begitu ya Dok."
"Sudah selesai cantik, tidak sakit kan?"
"Terus gimana Dok?"
Gadis itu bangun dan mengenakan celana dalamnya.
"Sabar, dua hari lagi hasilnya ya."
"Oh, nggak sekarang ya Dok."
Lagi sang dokter menggeleng, "Dua hari lagi saya praktek, besok saya libur."
Baiklah. Gadis itu pamit dan segera pergi.
Seminggu ini gadis itu menghindari semua orang, teman-temannya, karyawan bahkan
keluarganya. Memang ia menulis pesan pada Maminya, bahwa ia ingin tidur di apartemen
yang dibelikan Papi untuk hadiah ulang tahungnya yang ke dua puluh dua tahun.
"Oh, ok my baby."
Begitu jawaban Mami, ia sangat mengerti tentang anak gadisnya tersebut, sedang
__ADS_1
ingin sendirian.
Khairani yang akhirnya kebingungan menjelaskan perihal kakak sepupunya.
"Aku sudah dua minggu di Jakarta. Tak bisa lebih lama meninggalkan pekerjaanku."
Donny mulai mengeluh.
"Aku juga bingung Bang. Tak bisa menghubungi kakak. Dia mematikan handphonenya."
Mereka bertiga bingung mesti bagaimana.
Azhar kemudian memutuskan, "Sebaiknya kita pulang Bang. Sudah jelas bang Donny
menunjukkan itikad baiknya, tetapi kakak yang tidak mau."
Setelah ditimbang-timbang akhirnya Azhar dan Donny pulang ke Medan. Mereka
menunggu kabar dari Khairani.
Gadis itu meregangkan tubuhnya, ia baru saja terbangun dari tidur yang lelap.
Menghilang selama seminggu. Oh, ia merindukan keluarganya, teman-teman dan
pekerjaannya. Namun ia mesti menunggu sedikit lagi. Rasa penasaran yang sangat
menggangu. Hari ini ia akan menemui dokter spesialis tersebut. Mereka janjian
hari ini. Cepat-cepat ia melipat selimutnya, merapikan tempat tidurnya yang telah
memberikan kenyamanan hingga ia tidur lelap.
"Pagi Dokter!"
Gadis itu mendorong pintu ruang praktek sang dokter. Dan senyuman lembut
serta hangat menyambutnya. Gadis itu menyalami sang dokter.
"Selamat ya."
Dokter yang berwajah manis dan lembut itu mengambil map di dalam lacinya
dan memberikannya pada si gadis.
Gugup, takut dan serba salah menguasainya. Ia memerlukan sebuah ruangan
untuk membuka hasil tes itu.
"Terima kasih Dok, saya merasa berdebar."
Gadis itu setengah berlari meninggalkan rumah sakit tersebut.
Di dalam mobilnya, ia melirik map coklat tersebut. Kembali jantungnya
berdebar. Ia sangat takut. Ia tak sanggup. Terburu buru ia keluar dari
parkir dan menuju arah apartemennya.
Sesampai di sana ia harus bersabar sedikit menunggu lift naik ke apartemennya.
"Hah!"
Gadis itu menghembuskan napasnya. Melepas sepatu dan melempar tas dan
map itu ke atas tempat tidur. Tiba-tiba kerongkongannya teraasa kering. Ia bergerak
meraih minumannya yang terletak di atas meja makan. Ia melihat map coklat
yang tergeletak di atas kasur. Perlu sedetik untuk meraih dan membukanya.
Tapi ia sangat ketakutan. Ac begitu dingin tapi Ia merasakan tubuhnya
berkeringat. Gadis itu menggigit bibirnya. Ia menyalakan tivi dan menontonnya.
Ia mesti menghilangkan rasa berdebar itu, detak jantungnya masih berpacu.
Perlahan tangannya berdebar, ia sudah menyiapkan sebuah teriakan hesteris
apa pun isi dari surat itu.Jantungnya kian berdebar. Kertas itu bergoyangan
oleh jemari yang gemetar. Namanya tercantum di sana, usia, alamat dan
berbagai data lainnya yang sesuai. Hingga akhirnya kertas itu benar-benar
lolos dari map coklat. Di sana tertulis positif.
Ia masih perawan tulen.
Aaaaaaaaaaaaaaa!
Gadis itu menjerit sekuat tenaganya.
__ADS_1
Sekali lagi ia menjerit, Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!
Kebahagian, kegembiraan dan ribuan rasa ungkapan betapa ia telah
terlepas dari hal yang menghimpit.
"A-aku tahu Donny pria yang baik."
Gadis itu tersenyum, Ia sangat bahagia. Meski begitu Donny harus mendapatkan
pelajaran. Bisa-bisanya ia membuat sandiwara itu. Apakah ia bisa menerima
alasan Donny yang telah jatuh cinta dan ingin memperistrinya.
Tok tok tok!
Gadis itu terkejut, mendengar suara ketukkan keras di pintu.
Ia beranjak membuka pintu.
Dua orang satpam serta merta melonngok masuk.
"Ada apa ya Pak?"
Gadis itu keheranan.
"Justru kami yang mau bertanya, tetangga sebelah mendengar jeritan yang
sangat keras berasal dari apartemen ini."
Gadis itu menutup mulutnya, ya ampun. Begitu kencangnya ia menjerit tadi
sehingga mengejutkan tetangga yang sedang berjemur.
Bahkan tetangganya itu muncul di pintu menatap agak ketakutan.
"A-aku mendengar jeritan mba tadi, dua kali!"
Mereka semua melonggoki ke sana dan kemari, tapi tak berani masuk.
"Maaf, itu tadi ada seekor kecoa pak, mba. sa-saya takut sekali,"
Mereka semua sekali lagi menatap gadis itu.
"Kami periksa boleh mba? kami takut mba dalam tekanan."
Satpam yang lebih muda, membuka sepatunya dan memeriksa kedalam.
Mereka akhirnya percaya.
Huahhhh!
Lagi gadis muda itu tersenyum dan tertawa kecil
Baru sekarang ia bisa tersenyum dan tertawa. Ia merebahkan sebagian tubuhnya
di tempat tidur. Lantas meraih handphone yang hampir seminggu ini ia matikan.
Bunyi pesan masuk beruntun terdengar.
Puluhan telpun dari Khairani, dari kantor dan seorang ibu yang menanyakan
naskahnya.
'Kakak ada di mana? tolong jawab Kak.'
Lalu terlihat panggilan tak terjawab sebanyak sepuluh kali.
'Besok, Azhar dan Donny pulang. Penerbangan sore.'
Berarti hari ini?
Serta merta gadis itu menelpun Khairani.
Ramai mereka bersahut-sahutan di telpun.
"Mereka baru saja berangkat ke bandara kak, bosan katanya, lebih baik
menunggu di sana."
"Memangnya kakak mau apa? sudah ada jawaban untuk bang Donny."
"Iya,"
Mereka sepakat bertemu dan pergi ke bandara.
Terima kasih, sudah membaca Pria Idola
__ADS_1
Tinggalkan jejak ya.
Bersambung