
Menjelang malam rumah besar itu perlahan mulai sepi. Beberapa saat yang lalu masih terdengar
suara anak-anak yang melengking, menjerit dan berteriak-teriak. Suara-suara Rachel, Richo serta
diimbuhi suara Dode, Tria, Cindy. Anak-anak itu bermain berusaha membuat Rachel, Richo bahagia.
Raka bersama Papi Bramantyo serta Rakasiwi yang tiba tadi sore menjenguk Richi di rumah sakit.
Richi belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan. Pihak medis serta dokter terus berupaya
memberikan yang terbaik. Malam itu Rakasiwi tinggal di rumah sakit untuk berjaga. Malam-malam
sebelumnya Raka dan Bramantyo yang berjaga. Rakasiwi bilang ia yang akan mengambil alih
menjaga Unclenya itu. Ia akan secepatnya menghubungi ke rumah jika sesuatu terjadi.
Akhirnya Raka dan Bramantyo kembali ke rumah. Sesaat mereka masih mengobrol di ruang tamu
sembari menghabiskan makanan yang tersaji. Tetapi selanjutnya setelah anak-anak naik untuk
tidur, Papi Bramantyo pamit menyusul mami yang telah duluan ke kamar tidur. Tinggal lagi
Mardo dan Raka yang duduk berduan di ruang tamu itu.
"Mi, udah ngantuk belum? tidur yuk."
Raka melirik istrinya yang masih menatap handphonenya.
"Sebentar Pi, Mimi membereskan meja dulu ya, Pipi duluan aja."
"Ok, jangan lama-lama ya Mi."
Raka beranjak sembari menggerak-gerakkan tubuhnya yang serasa pegal. Ia memasuk kamar
mereka yang sangat besar di bawah kamar anak-anak di atas. Ada bagian tengah yang terbentang
karpet halus. Dulu saat anak-anak masih kecil, dan mereka belum mau menempati kamarnya masing-masing
maka mereka semua tidur di kamar utama tersebut.
Saat Rakasiwi kelas enam menjelang masuk smp barulah dia mau menempati kamarnya yang dibuat
nyaman oleh ayahnya. Raka mendorong anaknya untuk mulai mandiri. Pertama dengan cara tidur
di kamarnya sendiri. Sebelum pindah kamar, Raka mengajak anak sulungnya itu mengatur perlengkapan
miliknya. Lemari baju yang besar memuat baju-baju, celana serta berbagai pernak dan pernik milik
Rakasiwi. Kemudian tempat tidur yang juga besar dengan meja kecil di kiri dan kanan. Tentu saja
untuk tempat menaro handphone juga lampu tidur. Kamar itu juga dilengkapi satu set kursi meja untuk
bersantai di depan balkonnya. Sebuah kamar yang mirip hotel.
Saat smp kelas dua barulah Rakasiwi betah dan berani tidur sendirian di kamar yang megah itu. Terkadang
sosoknya tak nampak seharian, ternyata ia menikmati hari-harinya di kamar itu. Ia betah seharian belajar
main gitar. Atau mengerjakan pekerjaan sekolah. Mengedit berbagai macam foto dan banyak hal yang
membuatnya betah berlama-lama di dalam kamarnya.
Cindy lebih cepat meninggalkan kamar orang tuanya di lantai bawah. Kelas lima sekolah dasar ayah Raka
sudah menyemangati anak itu untuk menempati kamarnya sendiri seperti halnya Raka. Di lantai atas itu
ada enam kamar, dua diantaranya di peruntukkan untuk tamu. Dua kamar itu agak terpisah dengan kamar
anak-anak. Kamar Raka di buat berhadapan dengan kamar Dode, sedangkan Cindy dengan Tria.
"Masa udah gede masih bobo di kamar ayah dan bunda, malu dong!"
Tak terlalu lama dari kakak lelakinya menempati kamarnya sendiri, Cindy pun, mengikuti jejak kakak
laki-lakinya meninggalkan kamar orang tuanya. Sementara Tria masih melihat-lihat kamarnya, ia masih
kelas dua sekolah dasar saat itu. Orang tuanya tidak menyuruhnya pindah, ia dan Dode masih tidur
di kamar orang tua mereka. Tetapi sekarang mereka berempat semua sudah menempati kamar
yang dibuatkan oleh Raka untuk anak-anaknya. Lantai atas adalah privasi anak-anaknya. Di sana selain
kamar juga ada tempat fitnes, perpustakaan dan tentu saja sebuah ruangan kedap suara untuk bermain
band.
"Pi, udah bobo?"
__ADS_1
Mardo membelitkan tangannya ke pinggang suaminya yang tidur miring ke kanan.
"Nggak bisa tidur Mi, aku memikirkan Richi. Apa yang terjadi dengannya. Aku lihat selama ini
ia dan Laura baik-baik saja. Aku tak mengerti mengapa mereka tiba-tiba ingin saling membunuh."
Raka membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Mardo. Biasanya sebelum jatuh
ke tidur yang lelap. Mardo dan Raka berbincang-bincang terlebih dahulu. Mereka saling
menceritakan kejadian-kejadian yang mereka hadapi hari itu.
"Apa yang kita lihat, tidak selalu sama Pi dengan keadaan sebenarnya."
Keduanya bertatapan dan tersenyum. Raka mendekatkan wajahnya pada Mardo, sehingga napasnya
terasa hangat di wajah Mardo.
"Iya, kau benar Mi. Tetapi a-aku tidak akan menyakiti istriku seujung kuku pun."
Mardo tersenyum, "Jangan ya Pi, aku juga tidak akan bisa melakukan hal itu Pi, karena aku
mencintai suamiku."
"Agaknya Richi belum menemukan cinta mereka, sehingga saling menyakiti seperti itu."
Mereka terus bicara tentang ke cemasan serta rasa prithatin keduanya pada Richi dan Laura.
Hingga akhirnya Raka terdiam dan memulai menjatuhkan sentuhan di kening, hidung dan akhirnya
keranuman bibir yang selalu berwarna pink muda itu. Raka memejamkan matanya menjelajah serta
menggerakkan kepalanya. Sementara Mardo mengelinjang oleh sentuhan nan lembut yang dilakukan
oleh Raka.
"Mi, ini kok kencang sekali."
Mardo berdesir darahnya oleh sentuhan di balik gaun tidurnya. Apakah Raka merasakan hasil dari
rajin merawat miliknya yang kembar itu. Usia telah membuatnya berubah juga oleh empat anak yang
menyusui asi hingga masing-masing berumur dua tahun. Tetapi Mardo selalu rajin dan menyisihkan waktu
untuk merawatnya sehingga tak ada perubahan yang berarti dari tubuhnya. Ia tetap elok bahkan
"Itukan gara-gara Pipi, setiap malam selalu saja menyusu, macam bayi."
Mardo pura-pura mengomel, padahal ia juga senang jika Raka sebelum tidur bermain-main
dulu dengan miliknya si kembar yang membuncah indah di dadanya. Kali ini pun setelah hari
yang melelahkan serta kecemasan yang menerpa hati. Raka menginginkan istrinya. Mardo
sudah melemah di pelukkan akibat ia berkali-kali membangkitkan geirat perempuannya.
"Sabar Mi."
Raka membisiki telinga Mardo, menyentuh mata yang terpejam dan menyambar bibir yang
terbuka dan tengah merintih tersebut.
"Pipi, Pipi."
Mardo meremas rambut laki-laki yang berada di atas tubuhnya itu. Sesuatu yang ingin
melesat dari dalam tubuhnya membuatnya seperti itu. Hingga kedua orang yang tengah
mengadu cinta itu menjerit kecil bersamaan. Lagi keduanya berhasil mencapai puncak
bersamaan, yang membuat keduanya kelelahan dan jatuh ke tidur yang sangat lelap.
Raka masih sempat meletakkan selimut di atas tubuh Mardo dan menghapus keringat
yang tampak di wajahnya.
"Selamat bobo Mi."
Kemudian Raka pun ambruk di sebelah Mardo. Ia tertidur sangat lelap. Sementara
malam merangkak.
Di sebuah tempat, perempuan itu terlonjak kaget. Ia membuka matanya, lalu
meraba lehernya. Tak lama ia terlihat terisak-isak. Teringat kebencian di pancarkan
mata itu. Lekuk bibir yang sinis serta tangan-tangannya yang besar nyaris membuatnya
__ADS_1
mati muda.
"Richi, maafkan aku, semua telah mengubah cinta kita yang semula membara dan mekar
seperti mawar."
Perempuan itu merenungi yang telah terjadi. Pernikahannya dengan Richi adalah sebab
laki-laki itu sangat baik dan halus perangainya. Sejak pertemuan mereka di Bandara
hingga berlanjut di taman nasional Merauke, Richi terus mengejar dan berusaha
membuatnya jatuh cinta.
Mereka menikah beberapa tahun yang lalu. Keduanya sangat bahagia, dan tak terlalu
lama hadir buah cinta mereka. Rachel dan Richo.
Bahagia serta terkungkung di rumah. Laura adalah gadis yang muda belia. Ia masih
ingin bersenang-senang serta bergaul dengan teman-teman mudanya.
Richi menginginkan Laura seperti Mami yang betah mengurus rumah dan dirinya. Juga
Mardo. Kedua orang itu ia sebut-sebut sebagai pigur yang mengesankan dirinya. Ia juga
berharap Laura menjadi seperti mami dan Mardo.
Jika saja Richi bersabar, menunggu Laura beradaptasi dengan suasana kehidupan
papi dan mami. Jika saja ia juga tidak keras hati dalam memahami keinginan suaminya.
Mereka berdua mulai bertentangan sedikit demi sedikit. Dan Laura yang tidak memiliki
siapa-siapa memilih pulang setiap kali hatinya merasa tersakiti oleh sikap Richi.
Ia senang dan tersanjung saat Richi meminta maaf dan menginginkan dia kembali.
Rasa membutuhkan itu yang sangat menyenangkan bagi Laura. Saat jauh Richi
memanggilnya pulang, meminta maaf dan mereka akan berbaikan lagi serta mesra.
Richi tidak akan marah dalam jangka lama. Namun keadaan itu telah berlangsung
lama. Agaknya Richi tak ingin lagi melakukannya. Saat ia pergi dan tinggal lama
di negara ayahnya, Richi tak mencarinya. Tidak meminta maaf dan memohon
agar ia pulang.
Bahwa sebenarnya ia menunggu Richi menelponnya. Laura menyadari sebuah
hal. Bahwa dia tidak akan melakukannya lagi. Usia serta pengalaman telah
mengajarinya. Ia mencintai Richi dan anak-anak. Ia janji tidak akan pernah lagi
meninggalkan Richi serta anak-anaknya.
"Darling, Im so sorry."
Laura menyusut hidungnya, air matanya berlinang. Jika sampai Richi mati, maka
ia akan dekap kesedihan yang dalam seumur hidupnya. Anak-anak beserta orang-orang
terkasih Richi pasti menuduhnya pembunuh Richi.
"No, tidak!"
Laura takut membayangkan hal tersebut. Ia pulang ke Indonesia untuk berubah. Menjadi seseorang
yang suaminya inginkan. Itu tidak buruk. Ia bisa menikmati kehidupan meski selalu berada di rumah.
Seperti halnya Mom end Daddy, Papi serta Mami Bramantyo juga kakak iparnya Raka dan Mardo.
Mereka sangat bahagia.
Bersambung
Hello kesayangan, jangan lupa yah like, vote serta komennya.
__ADS_1
Othor sangat berterima kasih.