Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 191.Kangen


__ADS_3

Ya Rabb yang maha pencipta, betapa tampan dan menawan makhluk ciptaanMu.


Bolehkah Dia untukku? hatiku berdebar saat melihatnya. Tidak pernah seperti ini. Apakah dia


jodohku?


Elsa memandangi bayangan mobil yang sudah tak terlihat lagi. Ia merasa sendu. Apakah besok laki-laki muda itu


akan datang lagi? Betapa menyenangkan jika ia datang lagi.  Elsa membuka handphonenya dan membuka galeri. Ia menatapi fotonya bersama Rakasiwi. Manis sekali foto itu. Ia berdiri di sebelah Rakasiwi sang owner tempatnya


bekerja. Tak bosan melihat sosoknya yang imut dan disisinya sang bos yang berkharisma.


"Elsa, cepat bantu aku antar-antar minuman dan makanan. Kamu dari mana sih? aku mencarimu dari tadi."


Rekan kerja  memanggilnya  untuk segera membawai minuman dan makanan ke meja pemesan. Ia memberikan


catatan nomer meja.


"Ok, segera aku antar."


Elsa menyambut, gadis itu dan teman-temannya tenggelam ke dalam kesibukkan cafe, begitu setiap harinya.


Sementara Rakasiwi langsung pulang. Dua sahabatnya tak bisa datang sebab terbentur dengan keperluan


lain. Jadi Rakasiwi memilih berkemas untuk pulang. Lagi pula ia ingin bercengkrama dengan Opa, Oma serta uncle Richi.  Jarang-jarang bisa bersama mereka.


Ia juga ingin bermain dengan Dode. Rasanya sudah lama sekali ia dan Dode tak pernah saling menggangu


rasanya rindu situasi itu. Rakasiwi tersenyum adik terkecilnya itu merajuk pada bunda karena keisengan


kakaknya. Jika bunda belum memarahinya maka tangisnya tak berhenti. Malah semakin menjadi dan menuduh


bunda membiarkan kedholiman, ha ha ha.  Lucu saat mendengar permintaan lebay Dode.


Terpaksa bunda berpura-pura marah dan naik ke kamar mencari Rakasiwi diikuti oleh Dode yang siap


mentertawainya serta mensyukuri  dirinya.


 


"Rakasiwi! buka pintunya! ayo cepat."


"Ada apa Bun, Raka dari tadi di kamar."


"Bohong Bun, tadi dia menggangguku di kamar. Usil kak Rakasiwi Bun."


"Benar begitu? ich kamu ini usil sekali kak."


Sembari bunda mencubit perutnya, tetapi hanya bohongan. Dan dia pun mesti bersandiwara kesakitan


dan merintih-rintih.


"Aduh bunda sakit, perih auu! au! au!."


Dode terlihat sangat kesenangan. Wajahnya berseri-seri dan bibirnya tersenyum lebar. Ia juga berani


mendekat dan mengeroyok, akhirnya mereka bertiga jatuh di atas tempat tidur. Dode serta merta menindih


tubuhnya dan menjewer kupingnya.


"Ampun! ampun aw aw aw, ampun Dek."


Terpaksa pura-pura kesakitan dan kalah telak. Terkadang saking  berhasilnya sandiwara mereka Ayah sampai


terbengong dan ikut naik. Ia bukannya melerai malah memparah keadaan. Ikut menindihi mereka


semua. Bertambah ramai. Belum lagi kadang Cindy dan Tria ikut-ikutan hampir tempat tidurnya roboh.


Sering juga jika berantem laki-laki lawan perempuan, tiga lawan tiga. Ha ha ha selalu Bunda, Cindy dan Tria yang menang. Rakasiwi semakin melebarkan bibirnya.  Ia sering merindukan saat-saat ia masih smp dan smu.


Kebersamaan yang kental sangat terasa.


Sekarang mereka sudah mulai dewasa, terutama dirinya dan Cindy. Sudah jarang mereka bergelut dan


bermain kejar-kejaran di rumah itu. Hingga semua berantakan. Terlebih  sekarang pikirannya sering tercurah pada seorang gadis. Begitu juga Cindy. Tau-tau sudah pacaran dengan sahabatnya. Rakasiwi geleng-geleng sendiri

__ADS_1


adik perempuannya itu tak mau kalah dalam hal apa pun. Termasuk punya kekasih.


Saat Rakasiwi tiba di rumah, keadaan masih hangat dan terdengar gerumit-gerumit anak-kecil. Rupanya Rachel dan Richo sedang bermain. Opa dan Oma duduk di sofa sambil  bercengkrama. Kedua orang tua itu sama


menatapnya dan tersenyum.


"Ka, kita mau ke Vila. Katanya pohon durian sudah bisa dipanen. Uncle dan keluarganya mau menginap di sana


selama beberapa hari sebelum pulang ke Merauke."


Opa mengatakan rencananya.


"Kapan Opa? Raka mau antar dan ambil durian untuk dibawa ke Yogyakarta."


"Menunggu Ayahmu pulang dari kerja, sebentar lagi."


"Kalau begitu, Rakasiwi ke atas dulu ya Opa, Oma mau berkemas."


Orang tua itu menganggu-angguk. Mereka hanya menatap cucu pertama itu berlarian naikT ke atas.


Rakasiwi sangat mirip dengan ayahnya. Tinggi besar dan tampan. Dan ia memiliki kulit Mardo yang


putih bagus, mata yang bersorot kuat.


"Tak terasa kita sudah memiliki cucu perjaka dan gadis ya Mi. begitu cepatnya waktu. Rasanya


baru sekejap bersama Raka dan Richi. Sekarang mereka sudah memiliki anak-anak, dan kita


punya cucu."


 


***


Pagi-pagi sekali Bunda mengantar Rakasiwi ke stasiun. Ia membawa jinjingan buah durian yang


lumayan berat. Bunda sebelum melepaskan anaknya terlebih dahulu merapikan kerah bajunya dan juga mengusap rambutnya. Bunda mengecup keningnya dan juga pipinya.


"Bunda makasih ya, Rakasiwi kembali ke Yogyakarta."


"Hati-hati dijalan ya Nak."


Serasa berat berpisah, tetapi demi cita-cita apa boleh buat. Rakasiwi membalikkan tubuhnya pergi keantrian


pemberangkatan.


"Aku pergi bunda."


Mardo melambaikan tangannya dan memperhatikan Rakasiwi hingga anakknya itu masuk ke dalam kereta. Setelah itu Mardo beranjak dan masuk ke mobilnya. Sudah lama tak pernah bertemu teman-temannya. Ia merasa sedikit


bosan dan mulai membuat pesan. Mereka masih berada di grup yang sama. Mardo menepikan mobilnya saat


menulis pesan. Ia trauma karena pernah hampir kecelakaan gara-gara bermain handphone. Untung ia hanya


menabrak tumpukkan pasir yang berada di tepi jalan.


Namun kejadian itu mengingatkannya agar tidak bermain handphone saat dijalan. Lebih baik menepi jika membuat pesan atau menelpon. Sebab kejadian itulah sekarang ia menepi.


'Hello kalian, Putri, Sashi dan Emily, sibuk nggak? kangen pengen ngopi-ngopi yuk.'.


Mardo mengirimnya.


"Aku menunggu di kantorku ya."


Sebelum berbalas Mardo segera berada kembali di arus jalan. Ia akan ngantor sebentar sambil


menunggu kabar dari teman-temannya. Jalanan belum lagi dipadati kenderaan. Sehingga ia bisa


dengan cepat sampai ke kantornya.


Mardo memasuki kantornya. Udara yang segar dan wangi menyerbu masuk ke penciumannya.


Perempuan itu jarang sekali datang ke kantor saat pagi. Ternyata suasananya menyenangkan.


Ia melebarkan senyumnya. Dan tak menyangka senyum cantiknya dinikmati oleh seorang pria

__ADS_1


yang menunggunya di ruang tamu. Pria itu langsung menghirup kopi panas dihadapannya. Sebab


kerongkongannya mendadak terselak melihat senyum segar nan cantik milik Mardo.


Mardo langsung ke ruangannya dan menghenyakkan tubuhnya di sofa. Ia memeriksa handphone


dan ketiga sahabatnya membalas dengan ok. Perempuan itu tersenyum. Ia bisa bersenang-senang


dengan Putri, Sashi dan Emily.


Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dan karyawannya memberitahu ada tamu. Mardo terkejut. Tamu?


rasanya ia tidak ada janji hari ini. Tetapi Mardo bersiap menyambut tamu tersebut. Tak lama pintunya


kembali terbuka dan muncullah seorang laki-laki tegap yang tampan. Pria itu mengucapkan salam, sementara


Mardo sedang berusaha mengingat-ingat.


Seseorang yang tidak asing. Tapi ia lupa.


"Lupa padaku ya?"


Pria itu tersenyum usil.


"Siapa ya?"


"Aku banyak berubah ya, sehingga tak ingat lagi."


"Aku Satria, mantanmu ha ha ha."


"Satria? hah yang benar saja."


Mardo berusaha memutar memorinya dan akhirnya ia ingat.


"Ya Ampun, jadi kamu Satria ya. He he he kamu berubah Sat jadi aku nggak ingat."


"Tambah ganteng ya?"


Mata pria itu mengerling-ngerling usil.


"Hem, kamu itu tak  berubah selalu saja menyebut dirinya paling ganteng."


Keduanya tertawa.


"Ada angin apa yang membuatmu kesini? kok tau?"


"Angin puyuh, he he he."


"Oh iya Sat, bisa kebetulan begini ya, Putri, Sashi dan Emily sebentar lagi kesini. Kamu jangan


pulang dulu ya. Kita tadi janjian makan dan minum. kamu beruntung banget ketemu kami


gadis-gadis cantik he he he."


"Jadi kalian masih tersambung ya, enak banget. Bisa kumpul kapan saja."


"Kan kita ada grup wa sekolah, kamu nggak ikut?"


"Baru kamu yang kutemukan."


Sesaat Satria menceritakan tentang dirinya yang baru pulang dari luar negeri. Ia memutuskan


membuka usaha sendiri berbekal pengalamannya.


"Aku sedang mencari percetakkan untuk buku-buku promosi."


"Dan kau menemukan perusahaanku? hemmm baguslah."


Mereka asyik mengobrol dan mengenang masa lalu yang seru.


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2