Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 273. Saat Mereka Kecil


__ADS_3

"Ayah!"


Cindy berteriak riang menyambut ayahnya.  Selalu kerinduan sosok ayah yang tampan, tinggi menjulang serta berkharimasma tertuang pada pelukkan erat dan hangat.


"Oh, putri ayah!"


Raka pun menyambut pelukkan erat putrinya, menciumi pipi dan mengusap rambutnya. Mardo memandangi kemesraan ayah dan anak. Kata orang anak perempuan dekat dengan ayahnya. Terbukti Cindy dan Tria  sangat dekat dengan ayah mereka.


Mardo masih ingat, ketika Cindy masih kecil  seringkali badannya hangat. Ayah dan anak itu bertelanjang dada. Raka memeluk Cindy kecil di dadanya, agar panas  tubuh putrinya  pulih. Gadis kecil itu merasa nyaman dan tenang di pelukkan ayah. Hingga ia tertidur dan panasnya menurun.


Saat hidungnya tersumbat karena tak bisa mengeluarkan lendir dihidung kecilnya. Raka sedikit pun tak merasa jijik menghisap lendir yang menyumbat di hidung putrinya. Setelah lencir itu terhisap, barulah napasnya menjadi normal. Tak lagi sesak dan tersengal-sengal. Seorang ayah melakukan apa saja demi kesembuhan putri yang disayangi.


Hubungan yang manis dan indah. Raka selalu hadir di tiap momen kebahagian Cindy. Saat ulang tahun pertama, kedua, hingga ia masuk play grup. Ayah adalah cinta pertama putrinya. Demikian juga Cindy. Ia ingin selalu ayah yang ada disisinya saat ia merasa gelisah, takut dan tak mengerti. Saat Ayah hadir di sisinya hilang semua kegundahan, serta problem yang ia alami. Ayah adalah jagoan di hati Cindy, paling hebat, tampan, dan yang terbaik sepanjang kehidupannya.


Ayah Raka tak pernah marah, paling hanya jarinya yang teracung  mengingatkan dirinya, jika ia sedikit nakal. Menjelang Cindy  besar dan tumbuh menjadi gadis remaja. Posisinya digantikan oleh Tria yang lebih manja dan cengeng.


Mardo tidak telaten dan sabaran seperti Raka. Tria akan lari saat ia marah dan bersiap mencubit pantatnya.


"Ayah! bunda nakal!."


Tria kecil menghambur ke pelukkan Ayah jika Mardo mengejarnya. Bersembunyi di punggung ayah atau mendekap leher ayahnya dan tak berhenti bergerak.  Raka sendiri menghalangi Mardo agar tak bisa mencubit atau sekedar memukul kecil pantat  anak itu yang sudah memetik bunga-bunga miliknya. Atau mengganggu saat ia sedang sibuk.


Belakangan akhirnya mereka bertiga-tiga berpeluk-pelukkan riuh. Raka mengambil kesempatan menciumi Mardo modus begitu lah, ha ha ha.

__ADS_1


Jika anak-anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya, maka anak laki-laki biasanya dekat dengan ibu. Ternyata itu pun benar. Rakasiwi  dan bundanya Mardo  sudah seperti perangko dan amplop. Sedikit-sedikit Bunda. Dari pagi hingga malam nempel di rok bundanya.


Kalau dilihat sekarang bagaimana Raka tumbuh menjadi anak muda yang tampan, kekar  dan tinggi serta  berkharisma, siapa yang menduga saat kecilnya seperti perangko dan amplop dengan bunda. Kerjanya merengek dan berpegangan pada rok Mardo. Sampai ke kamar mandi pun susah sekali lepas.


Masa-masa membesarkan Rakasiwi merupakan pengalaman menakjubkan bagi Raka dan Mardo. Kedunya sama-sama kebingungan saat Rakasiwi menangis sepanjang malam. Bergantian bergadang dan mengendong  Rakasiwi di pelukkan di dada.  Saat itu sangat merindukan bisa tidur nyenyak. Rasanya kurang tidur  di tiga hingga empat bulan usia Rakasiwi.


Hampir setiap malam, anak itu terbangun dan rewel serta serba salah. Sejam hingga tiga jam Rakasiwi dan Mardo masih asyik bermain dengan Rakasiwi. Memasuki empat jam Raka sudah mulai menguap, begitu juga Mardo. Keduanya tertidur dekat Rakasiwi yang masih melotot matanya dan bermain kakinya.


Tiba-tiba Raka dan Mardo terbangun sebab lengking tangisan Rakasiwi. Matanya yang bulat mencari-cari, ia merasa sendirian.  Raka tak sampai hati, ia segera memeluk dan mengendong bayi empat bulan tersebut. Ia menina bobokan anak itu. Hingga akhirnya terpejam. Raka pikir anak itu sudah tidur nyenyak, pelan-pelan ia meletakkan bayinya. Tetapi tiba-tiba tangan anak itu mencengkram bajunya dan menangis melengking . Ia seolah-olah tak mau diletakkan di tempat tidurnya.


Mardo membuka matanya sedikit, ia melihat Raka kembali mengoyang-goyang tangannya menina bobokan Rakasiwi.  Setelah anak itu tertidur ia tak berani meletakkannya di box bayi. Raka duduk di kursi goyang hingga pagi. Sedangkan bayinya melekat di dadanya.


Mardo hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya melihat pemandangan manis itu. Pelan-pelan  Ia mengambil tubuh bayi itu dan membawanya ke tempat tidur. Ia membiarkan Raka terlelap di kursi goyang.   Ketika siang hari digelitik pun bayi itu tak akan bangun. Ia sangat lelap.


Benar saja, setelah lewat empat bulan  Rakasiwi tidur nyenyak. Ia baru terbangun ketika bunyi azan shubuh berkumandang. Rakasiwi tidak menangis melainkan mengoceh di dalam boxnya. Bibirnya seketika tersenyum saat muncul wajah yang ia kenal.


Anak itu baru melengking saat tak ada yang menggendongnya. Mardo atau Raka segera mengangkatnya dan membawanya keluar. Raka setiap pagi  membawa bayi itu berjalan-jalan di bawah matahari yang hangat. Setelah beberapa menit barulah mereka kembali ke rumah.


Raka memberikan bayi itu pada Mardo.  Setelah tubuhnya adem barulah Mardo memandikannya. Anak itu menciprak-ciprak air dengan tangan dan kakinya. Setelah diolesi  minyak telon, Mardo menyusui anaknya. Bayi itu dengan lahap menghisap air susu ibunya dan perlahan matanya terpejam. Kadang Mardo terkejut sebab Raka  ikut menikmati asinya. Mardo menjewer kecil suaminya yang nakal.


Saat Rakasiwi belajar berjalan, Mardo hamil Cindy. Usia Raka dan Cindy  tidak terlau jauh sekitar dua tahun. Keduanya menikmati menjadi ayah dan bunda untuk dua anak yang cantik, cakep dan lucu. Mereka sangat bahagia.


Dua tahun berikutnya lahir Tria, rumah mereka semakin semarak dan dipenuhi teriakan anak-anak. Selanjutnya Dode yang berbeda usia dengan Tria tiga tahun. Perbedaan usia yang sedikit agak jauh. Tak membuat anak-anak itu renggang. Malah sebaliknya setiap hari mereka bergulat dan bergelut.

__ADS_1


 


Ada yang usil, cengeng, serba tahu dan coba-coba. Rumah besar itu tak pernah sepi dari jerit, teriak-teriakan anak.  Bunyi-bunyian yang sangat ribut.  Kenangan masa anak-anak kecil begitu indah dan lucu. Mardo melihat anak-anak itu sekarang telah berbeda. Kenakalan anak-anak telah tak terliat lagi.  Keusilan dan  cengeng mereka menghilang menjadi senyum ramah yang menyenangkan.


"Ayah, bunda! Cindy sudah masak untuk makan siang, sebentar ya Cindy siapkan lima menit."


Raka dan Mardo saling pandang, sejak kapan Cindy bisa masak, wah gadis itu memang tak terduga. Tak lama meja makan telah tersaji masakkan serta pernak-pernik lauk-pauk. Dua ekor ikan gurame yang besar diberi bumbu. Ada lalap terong muda, kacang panjang, ketimun.  Cindy tahu kesukaan ayahnya, ikan gurame bakar dengan bumbu kecap yang di beri irisan bawang meras, cabe dan tomat.


Cindy juga membuat jus buah untuk adik-adik, ia benar-benar menyenangkan keluarganya. Mardo juga membuka oleh-oleh untuk Cindy. Masakkan kesukaan gadis itu, sayur lodeh, teri medan bumbu pedas, dan rendang sapi manis. Cindy tidak suka rendang pedas, melainkan rasa manis.


Gadis itu membesarkan matanya melihat masakkan kesukaannya  lengkap. Ia serta merta memeluk Mardo dan bergelayut manja di lengan perempuan itu.


"Terima kasih  Bunda, semuanya masakkan kusukaanku muah muah."


Cindy meluapkan kegembiraan dan rasa bahagianya, ia melayani ayah Raka, bunda Mardo dan adik-adik, Cindy makan siang bersama mereka. Bahagia sekali.


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2