
Berkali-kali Mardo berteriak pada perempuan di depannya, siapa nama laki-laki yang telah membuatnya begitu dendam. Tapi perempuan itu hanya diam. Tubuhnya terlihat bergetar dan napasnya sesak oleh kenangan pahit yang ia tanggung.
"Siapa?"
"Katakan saja, biar saya tau siapa laki-laki itu."
Dia perlahan mengangkat wajahnya menatap Mardo, lalu bibirnya mulai berusaha menyebut sebuah nama.
"Do-Donny Devien."
Mardo tersentak dan ingatannya berusaha mencari ribuan nama yang pernah ia kenal .
"Donny! Donny..."
Ia terkesiap, ia ingat tentang nama itu. Seseorang yang pernah menyangkut dalam perjalanan hidupnya. Mardo menarik napasnya. Apa yang terjadi?
Pertemuan terakhir ketika Mardo dan laki-laki itu bertemu di kantornya.
"Mardo, mohon maafkan aku. Percayalah aku bertanggung jawab dan mau menikahimu."
Donny menatap wajah perempuan di depannya dengan bersungguh-sungguh. Perempuan bernama Mardo itu mengangkat wajahnya. Ia memang sempat sangat marah pada laki-laki ini. Ia tergoncang oleh keadaan yang menimpanya. Ia mengira Donny telah mengambil kesempatan saat ia tak sadarkan diri setelah terjatuh dan mengelinding ke lembah.
Antara Raka dan Donny? akhirnya ia harus menyelesaikan perang antara mereka bertiga. Mardo menolak Donny dan menyuruhnya pergi meninggalkannya. Karena ia memilih Raka. Saat itu Donny kecewa dan bergegas pergi. Ia membawa luka hati yang tak terkira perihnya. Saat ia jatuh cinta yang sesungguhnya tetapi justru cintanya itu tak berbalas dan menolaknya.
Donny kembali ke kotanya. Ia tengelam dalam kesedihan dan melarikan dirinya dengan minum dan berakhir mabuk. Setiap kali ia pulang dari kantor, ia mengarahkan kenderaannya ke club, berdiam diri di sana dan meminum satu gelas bir, dua gelas hingga kadang menghabiskan tiga gelas bir. Dengan cara begitu sakit hati dan terluka menghilang. Ia tak mengingat lagi gadis yang menyakiti hatinya justru menyebut-nyebut namanya mesra, memanggil sepenuh rindu.
Orang tua Donny sangat prihatin, mereka kemudian menjodohkannya dengan seorang perempuan putri dari orang yang dekat dengan mereka.Donny menerima saja pernikahan itu. Hidupnya serasa bukan lagi miliknya setelah cinta yang sebenarnya ia temukan menghilang.
"Baiklah aku menikah denganmu tapi jangan harap aku menjadi suami yang baik untukmu, hidupku, gairah cintaku telah kuberikan habis pada Mardo. Kau tidak mendapatkan sedikitpun apa yang namany cinta."
Donny menikahi perempuan itu dan tinggal berdua membina rumah tangga yang tidak ia inginkan. Sikapnya dingin serta acuh.Ia masih mabuk-mabukkan dan memanggil-manggil nama perempuan yang bernama Mardo. Hingga akhirnya istrinya melahirkan seorang anak laki-laki.
__ADS_1
Bukannya bahagia ia justru menuduh istrinya itu telah membuat dirinya terpenjara dalam ikatan perkawinan yang tak bahagia. Ia menuduh keras perempuan itu sengaja hamil agar ia tidak bisa melakukan sesuatu yang salah sebab sekarang ia sudah menjadi ayah. Kepulangannya dari rumah sakit bersalin disambut kata-kata tuduhan yang menyakitkan. Beruntung ia perempuan yang kuat. Ia tidak bergeming mendapatkan tuduhan, umpatan, caci maki serta banyak lagi perkataan yang mengatakan bahwa meski ia memiliki bayi sekarang tidak mengubah apa pun.
Cintanya, hasratnya dan pikirannya hanya Mardo dan perempuan bernama Mardo tersebut. Tidak ada tersisa meski satu persen. Hancur dan perihnya hati lebih sakit dari pada luka saat ia melahirkan putranya. Ia hanya bisa menangis sambil mendekap bayi mungil putranya.
Perempuan itu masih bertahan bertahun-tahun setelah itu. Sedikit kegembiraannya dengan kesibukkan merawat putranya. Tak terasa anak laki-laki itu tumbuh besar dan tampan seperti Donny. Kebahagian seorang ibu hanya ada saat bersama anaknya, mengurusinya, dan mengantarnya ke sekolah. Penolakkan Donny terhadapnya dan juga putranya berimbas pada hubungan dingin dan saling tak perduli. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.
Hingga sampai pada kejadian saat Donny hampir saja membunuh putranya sendiri, perempuan itu juga memiliki kesabaran yang ada batasnya. Ia memutuskan membawa putranya pergi dan bersembunyi dari laki-laki jahat itu. Mardo menggeleng-gelengkan kepalanya. Perempuan itu menceritakan penderitaannya dan anakknya. Hingga mereka berdua penasaran apa yang telah Mardo lakukan sehingga suami dan ayah mereka menjadi seperti itu.
Ia sudah berusaha melupakan rasa pahit itu. Tetapi putranya yang telah dewasa tak mudah menghilangkan hal tersebut, ia bertekad mencari perempuan bernama Mardo dan ingin menanyakan kenapa ayahnya bertindak sangat jahat dan brutal kepada mereka.
"Ya Rabb."
Mardo mendekap wajahnya. Ia tidak tahu bahwa ada perempuan dan seorang anak yang marah kepadanya dan menaruh dendam selama bertahun-tahun. Ternyata memilih Raka dan menolak Donny saat itu berimbas telah mengubah laki-laki itu.
Tetapi bukan salahnya. Mardo bisa saja mengelak. Tetapi korban telah jatuh. Perempuan itu dan anaknya menderita bertahun-tahun. Ia tak bisa membiarkan hal tersebut.
Mardo harus meyakinkan perempuan itu dengan menceritakan kembali pertemuannya dengan Donny. Hingga laki-laki itu juga menyusul ke Jakarta dan melamarnya. Ia sama sekali tidak ada menaruh hati sedikitpun pada Donny. Mereka saat itu berteman. Tapi rupanya Donny yang jatuh cinta dan menginginkan Mardo menjadi cinta terakhirnya.
Perempuan itu harus percaya bahwa jodoh, maut, dan rejeki ada yang mengatur. Jodohnya adalah Raka bukan Donny. Sedangkan perempuan itu berjodoh dengan Donny. Setiap orang sudah ditetapkan jodohnya. Jadi tidak semestinya perempuan itu marah dan dendam kepadanya.
Mereka lantas berbicara dari hati-ke hati, hingga akhirnya perempuan itu menyadari bahwa Mardo tidak bersalah.Ia sangat malu atas perbuatan putranya yang telah menculik dan membawa Mardo ketempat terpencil itu.
"Maafkan aku dan anakku, ibu Mardo."
Mardo tersenyum dan berbesar hati, ia menerima permintaan maaf perempuan itu dan berharap putranya itu segera mengurus kepulangannya ke Jakarta. Meski ia ingin mengenal putra perempuan itu yang melakukan hal tersebut untuk ibunya. Tetapi perempuan itu tak ingin memberitahu. Ia takut terjadi sesuatu dengan putranya. Akhirnya Mardo mengerti.
Perempuan itu bicara dengan anaknya dan mereka harusnya malu dan meminta maaf pada Mardo. Ia berharap anaknya melupakan kepahitan mereka, Mardo tak bersalah, tetapi Donny yang menyebabkan penderitaan mereka.
Putranya di sana mengerti. Ia janji akan mengirim orangnya kembali untuk menjemput Mardo dan membawanya ke bandara.
__ADS_1
"Terima kasih ya Rabb."
Mardo mendesah kebahagiannya. Meski begitu ia belum bisa menghubungi keluarganya. Perempuan itu memasak ubi, pisang serta makan siang untuk mereka. Keduanya lega dan tersenyum. Mardo menawarkan perempuan itu tinggal di Jakarta karena ia masih muda dan sehat. Tapi perempuan itu menolak. Ia bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
Tengah hari dua laki-laki menyemput Mardo. Mereka mengenakan masker yang menutupi wajah. Mardo tidak marah dan tidak akan menuntut perempuan itu dan anaknya. Yang terpenting rasa penasaran dan kemarahan mereka pada perempuan bernama Mardo itu telah sirna. Tinggal lagi menjalani kehidupan dengan suka citta dan bahagia.
Mardo merasa seperti mimpi. Beberapa saat kemudian ia telah terbang menuju tempatnya. Perempuan itu sempat terisak-isak oleh rasa bahagia dan keharuan. Meski ia penasaran dengan putra perempuan itu. Tetapi ia berjanji akan melupakan masalah tersebut. Sekarang ia sangat rindu pada Raka, Cindy, Tria, Dode dan Rama.
"Sayang-sayangku, Bunda pulang, mimi pulang sekarang Pi."
Ia menghapus air matanya dan memandang pada awan putih yang bergumpal-gumpal di sekitar pesawat. Mardo memeriksa tasnya dan menemukan handphonenya telah menyala kembali. Ia akan menelpon Raka begitu ia sampai di bandara. Tak sabar rasanya menenggelamkan dirinya kepelukkan Raka.
Bersambung
__ADS_1