
Pantai Buti masih merupakan kelanjutan dari pantai Lampu satu. Pantai ini lebih disukai oleh nelayan-nelayan. Karena lebih landai dan tenang. Ombaknya tidak terlalu besar. Sebab banyaknya nelayan yang datang dan pergi melaut dari pantai ini, membuat pantai tersebut kotor . Pemerintah sedang mengusahakan pemindahan kapal-kapal nelayan ke pelabuhan perikanan. Pantai Buti dan juga Lampu satu merupakan pantai wisata. Tidak lagi diperbolehkan tambat, juga aktivitas perbaikan, serta pembuatan kapal. Karena telah merusak ekosistim.
Masih di pantai Buti.
Tak terasa, matahari semakin tinggi, pantai itu memang menakjubkan. Sulaiman mengajak Hasan dan Wiliam membuat vidio. Jadilah mereka asyik membuat vidio. Richi juga ikutan membuat vidio berlatar pantai Buti. Akhirnya mereka semua ikutan dancing, membuat vidio-vidio yang seru dan lucu.
Banyak pengunjung yang menonton dan tertawa melihat keseruan tersebut.
Raka dan teman-temannya baru saja selesai bernostalgia.
Akan ada acara yang mereka buat setelah itu.
"Ok, Ka aku akan siapkan acara untuk kita, dari kita dan buat kita semua."
"Ya, aku dukung, silahkan kalian buat konsepnya aja dulu ok."
"Siap bos, silahkan menikmati liburan di kota Merauke."
"Ok, sampai ketemu ya."
Raka dan teman-temannya berpisah di halaman hotel.
Saling melambai dan melebarkan bibir.
"Mereka kemana?"
Raka segera menanyakan keberadaan Richi dan teman-temannya.
Ia menelpun Arif, supir yang ditugaskan mengantar Richi dan teman-temannya selama liburan.
"Di pantai Pak, pantai Buti."
Segera Ia, Deni dan Sammy bergegas ke sana.
Beranjak siang semakin banyak pengunjung yang berdatangan ke pantai Buti. Mereka pastinya telah menyusuri juga pantai sebelumnya. Ada rombongan yang mengenderai motor, dan berbagai macam mobil. Ada rombongan keluarga. Kantor, reuni, dan macam-macam.
"Ramai sekali tempat ini, dan aku belum melihat mereka."
"Sabar saja, kita susuri dulu pantai ini."
Raka menurut. Meski ia tak sabaran ingin bertemu seseorang.
Bayangan gadis belia menari-nari di pikirannya.
"Dasar Ceroboh, untung bukan nenek yang ditabrak!"
Raka tersenyum, gadis itu meski marah dan kesal namun masih menyisakan hal yang membuat tersenyum.Lagian ngapain juga nenek berjalan sendirian di bandara.
Raka tersenyum geli.
"Ada apa? kok senyum-senyum sendiri?"
Sammy yang melihat perilaku Raka tak bisa menahan dirinya ingin tahu.
"Ah, pengen tahu saja torang, apa belum kelihatan ya?"
"Coba telpun si Arif."
"Nggak aktif."
Huah menyebalkan!
"Mampir dulu yuk minum kelapa manis."
"Ayo, haus jadinya."
Deni membelokkan mobil ke warung tenda yang memajang banyak kelapa.
Mereka turun dari mobil dan menuju warung tenda tersebut.
Segera memesan tiga buah kelapa muda.
"Ramai sekali, seperti ada sesuatu."
Pemilik warung tenda berujar, bahwa menjelang malam minggu banyak yang ke pantai untuk melihat sunset di sore dan pagi harinya.
"Oh, pantas saja, ramai begini."
"Ladis, yok kita berangkat."
__ADS_1
"Ayo, kita ke pantai sebelah. "
"Banyak sekali pantai di Merauke ya."
"Iya, kita lihat pantai Onggaya. Di sana lebih hijau."
"Oh, tak sabar melihatnya."
"Orang sabar disayang guru Halima.,"
Ha ha ha ha....
Semua tertawa. Sembari berlarian dan masuk ke kenderaan.
Yuhuuuuu...kita berangkat lagi.
Sulaiman, Hasan,Wiliam dan Richi memastikan semua cewe-cewe sudah naik ke kenderaan.
"Sudah naik semuakah?"
Hasan berteriak keras.
"Sudah, tinggal torang yang belum naik, ha ha ha."
Mereka semua tertawa, karena memang tinggal Hasan yang belum naik, Wiliam, Sulaiman dan Richi meninggalkannya sendirian.
"Hah! torang ini nakal," Hasan tersenyum.
Mardo meminta duduk dekat supir, ia bermaksud membuat vidio perjalanan.
Richi tak keberatan, Ia mengijinkan Mardo duduk dekat Mas Arif. Mulailah Mardo membuat Vidio.
Mardo mengarahkan kamera pada nyiur yang membuat hijau pantai. Tempat-tempat unik terlewati. Pemandangan dari satu pantai ke pantai yang lain berbeda. Punya kelebihan masing-masing.
Lagu satu tungku tiga batu mengalun sendu.
'Kita ada karna kita satu
Satu moyang satu bahasa
Walau kita berbeda agama
Satu hati satu tujuan
Kita bangun tanah Mbaham
Nen dan nan nia mi nomi
Pegang teguh janji leluhur
Nen dan nan nia mi nomi
Junjung tinggi budaya kita
Satu tungku tiga batu.
Satu saudara satu hati
Satu tungku tiga batu'
Lanjut dengan lagu 'Janji leluhur
Gadis-gadis serta Sulaiman mengikuti nyanyian tersebut sambil mata memandangi hamparan pantai dan laut.
'Ini teluk kami laut kami
Kami lahir unutk negeri ini
Ini gunung kami tanjung kami
Bukan pilihan tapi karna takdir
Dibangun atas falsapah
Satu tungku tiga batu
Negri ini akan selalu menghiburmu
ini negeri kami ya Tuhan
__ADS_1
Biarkanlah kami tetap berjalan
Bersama janjimu leluhur
Sampai nafas ini berakhir
Idu idu ma nina
Kami selalu hidup dengan tenang
Idu idu ma nina
Kami selalu hidup dengan damai
Keren lagu-lagunya, Mardo mengikuti sembari menggoyang-goyang kepalanya.
Betty mengambil gitar dan memetiknya, Zamzam, Halima, Sarah Lee bernyanyi.
Yang lain bersenandung. Seru dan meriah. Perjalanannya cukup jauh, Betty memetik gitar dan mulai bersenandung.
"Lagu apa say?"
Zamzam belum menangkap nada-nada lagu tersebut.
"Senja di Kaimana."
"Oh, iya. Teman-teman lagu Senja di Kaimana, Zamzam menolehi teman-temannya.
Kenderaan melaju di jalan yang berpasir. Sebelah kiri pohon-pohon nyiur yang melambai-lambai. sementara sebelah kanan samudra Arafura. Ombak yang bergulung-gulung berbuih putih setia berkejaran ke pantai.
'Kan kuingat selalu kan kukenang selalu
Senja indah senja di Kaimana
Seiring surya meredupkan sinar
Dikau datang ke hati berdebar
Kau usapkan tangan halus mulus
Di luka nan parah penuh debu
Senja di Kaimana dan kasihmu Dara
dalam jiwa sampai akhir masa
Kau usapkan tangan halus mulus
Di luka nan parah penuh debu
Senja di Kaimana dan kasihmu Dara
dalam jiwa sampai akhir masa.
"Kalian tau nggak sih? lagu ini menceritakan tentang seorang prajurit yang terluka. Jadi si prajurit ini dalam keadaan terluka terdampar di pasir pantai Kaimana. Seorang gadis yang kebetulan lewat melihatnya, ia segera merawat prajurit itu, membersihkan luka dan mengikatnya. Si prajurit kemudian jatuh cinta dengan gadis yang telah merawatnya itu, so sweet deh pokoknya."
"Dan kejadiannya di Pantai Kaimana ya? mau lihat dong pantai Kaimana."
Mardo yang menyimak pembicaran teman-temannya, jadi ingin tahu tempat kejadian terciptanya lagu 'Senja di Kaimana'
"Mas Arif, bisa ke Pantai Kaimana?"
"Bisa! apa yang nggak bisa buat bos Richi," Jawab mas Arif yang ramah dan sabar.
Richi mesem-mesem, mas Arif selalu memanggilnya bos.
"Kita ke pantai yang jauh dulu bos, pantai Wendu, tempatnya enak banget loh."
"Di sana pohon kelapanya rimbun banget, lautnya juga masih bersih. jarang yang kesana karena tempatnya jauh dibanding pantai lampu satu. Kalau mau yang tenang di sana tempatnya."
"Yups, mumpung ke Merauke, kita kunjungi semua pantainya, ok"
"Iya, kapan lagi."
Hari itu seharian di banyak pantai
Bersambung.
__ADS_1