Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 37.Vana dan Papinya 2


__ADS_3

Hari pertama sekolah setelah liburan.


Seperti tahun tahun yang lalu, tetap saja ada anak anak yang belum kembali dari liburannya.


Kelas masih banyak yang kosong. Biasanya setelah seminggu barulah kelas kembali normal. Keadaan itu akhirnya dimanfaatkan juga oleh anak anak yang sebenarnya ada di rumah. Mereka menunggu seminggu lagi hingga keadaan belajar dan pemberlajaran normal. Halima Haremba,  Sarah Lee,  Mia serta Yanti termasuk yang memanfaatkan keadaan itu.


Vana, berbeda. Ia selalu masuk meski pun kelasnya kosong nyaris separo. Ia merasa lebih nyaman berada di sekolah. Pertengkaran dengan Papi membuatnya tak betah di rumah. Ia sangat kecewa pada keinginan Papi. Ia merasa sudah melakukan semua yang terbaik di rumah. Adik adik yang selalu bersih karena ia memandikan adik adiknya setiap pagi dan sore. Kamar tidur yang nyaman, karena ia yang membersihkan dan merapikan setiap hari. Juga mengajari adik adiknya bekerja menjaga kebersihan. Makanan juga selalu tersedia. Rasanya semua beres tak ada kekurangan. Selama tiga tahun ini Vana membuat adik adiknya dan juga Boni kompak bekerja sama agar Papi tak tak merasakan kehilangan mami.


Nyatanya papi tetap ingin menikah. Vana sangat kecewa dan terluka. Tidak boleh ada yang menggantikan mami.


Ia tak rela ada mami baru di rumah. Mengambil alih semuanya. Rumah dan adik adiknya. Ia sudah banyak berkorban demi semua itu. Ia mengurangi waktu belajarnya untuk membereskan rumah. Tak lagi pergi bermain atau les balet kesenangannya. Sudah ia buang semua kebahagiannya. Ia mengorbankan masa remajanya untuk rumah dan adik adik. Bahkan kalau papi menyuruhnya berhenti sekolah agar seluruh waktu dan perhatian tertuju di rumah ia akan bersedia. Hanya saja semua sia sia, keinginan untuk menikah lagi tak pernah sirna. Bahkan Papi menodainya untuk menunjukkan  kebutuhan lain. Vana tak mau mengerti.


Hingga menjelang senja Vana tak pulang ke rumah. Ririen adik nomer duanya mencari dan mampir ke rumah Mardo. Oh Mardo terkejut.Tadi sepulang sekolah Vana masih di kelas. Katanya ada yang belum beres dan menyuruhnya pulang saja duluan. Mardo pulang karena ia harus menulis menuntaskan novelnya.


'Apa Vana masih di sekolah? sudah sore seperti ini?'


Akhirnya Mardo memutuskan pergi ke sekolah mencari Vana.


Tergesa ia menuruni undakkan dan menyetop taksi.


Hampir sampai ketika ia melihat sosok Vana berjalan sendirian di tepi jalan.


"Pak,stop sini!"


Mardo menghentikan taksi tepat di depan Vana.


"Van, ayo kuantar pulang, tadi Ririen mencarimu."


Vana memandang dengan tatapan lembut.


"Suruh pergi taksinya Do, aku mau berjalan menikmati senja ini."


"Tapi Van, ini sudah mau magrib, kita naik taksi saja ok."


Tapi Vana keras kepala. Ia berjalan meninggalkan Mardo, terpaksa ia membayar taksi dan menyuruhnya pergi.


Mardo menjejeri Vana,mereka melangkah bersisian.


"Aku merasa kecewa Do, papi tetap mau menikah."


Vana mengatakan resah yang ia rasakan di sisi Mardo.


"Aku sudah janji pada Mami untuk menjaga papi dan adik adik."


Suara Vana parau menahan tangis.


Mardo bingung mesti mengatakan apa.  Vana sedang sensitif.


"Kamu tidak bisa menyalahkan dirimu terus menerus Van, diluar kuasamu Van, kita hanya anak kecil."


Belum lagi Mardo menyelesaikan kata katanya ketika Vana terhuyung limbung. Mardo terkejut dan berusaha menahan tubuh Vana.


"Van, kamu kenapa Vana vanaaaa,"  gadis itu panik saat Vana tiba tiba limbung dan jatuh. Untung ia bisa meraih tubuh  Vana dan memeluknya.


"Tolong! tolong! tolong!."


Mardo berteriak teriak , sementara malam sudah mulai  turun, suasana gelap.


Saat itulah terlihat cahaya sebuah mobil yang agaknya akan melewati tempat itu. Mardo buru buru meletakkan tubuh Vana dan ia lari ke jalan untuk menghentikan mobil.

__ADS_1


Sosok itu terlihat jelas di tepi jalan. Melambaikan tangan. Gadis yang sangat di kenalnya, bahkan saat ini hanya ingin lewat di depan rumahnya untuk menghilangkan rindu. Justru sekarang ada di sana melambaikan tangan terlihat panik. Mobil mewah itu pun berhenti tepat di depan Mardo.


"Tolong teman saya, kumohon to-long pak,"


Jendela mobil terbuka,"Ada apa?  ini sudah magrib, saya bisa terlambat sholat berjamaah."


Suara yang membuat jantung Mardo bagai hendak putus.


"K-Kak Raka!"


Tapi Vana mesti segera di bawa ke klinik terdekat. Urusan pribadi mesti dikesampingkan, urusannya nyawa. Mardo tak menghiraukan perasaannya dan sikap angkuh pengemudi di dalamnya.


"Vana pingsan,tolong bawa ke klinik  di dekat sini."


Oh, orang yang tak lain Raka adanya terkejut. Ia buru buru keluar setelah melihat tubuh yang tergeletak di pinggir jalan.


"Dia pingsan ya? aku harus mengangkatnya ke mobil. Buka pintunya."


Mardo bergegas membuka pintu dan keduanya bekerja sama memasukkan tubuh Vana ke jok belakang.


Semula Mardo ingin memangku kepala Vana sambil memberikan minyak kayu putih dari Raka. Tapi sangat sempit dan susah akhirnya Mardo duduk di sebelah Raka. Ia kembali harus mengeyampingkan perasaannya yang sangat benci pada Raka.


"He, bagaimana kabarmu?"


Setelah mobil meluncur, Raka berusaha mencairkan suasana. Gadis itu melengos, membuang muka.


"Aku benci kak Raka!"


Akhirnya Mardo tak bisa menahan hatinya.


"Benci? benaran cinta kan."


Raka malah tersenyum, ia suka cara Mardo mengungkapkannya, tidak benar-benar marah.


"Bukannya bersyukur, seorang Raka Bramantyo menyukaimu, puluhan gadis bermimpi jadi pacarku, berbuat apa saja untuk bisa menjadi kekasihku. Tapi aku mengacuhkan mereka semua. Menolak cinta mereka."


"Kok curhat sih?"


"Mereka semua menunggu ciuman pertamaku, tapi kau yang beruntung mendapatkan ciuman pertama seorang Raka Bramantyo."


"Huh, beruntung apa? rugi bandar beta!"


Kwa kwa kwa!


Raka tergelak-gelak mendengar istilah rugi bandar, seperti orang-orang batak saja.


Sementara Mardo merasakan jantungnya berdebar oleh suara ketawa Raka, mereka sepertinya sangat dekat.


Kenapa kliniknya menjadi jauh?


Mardo meremas jari-jemarinya


"Itu ciuman pertamamu kan?"


Raka masih tersenyum dengan tatapan yang lembut.


"Mau tau aja!"


Raka tergelak oleh keketusan Mardo.

__ADS_1


"Ciuman pertama yang tak terlupakan, ha ha ha."


"Bukan ciuman pertama yang mengerikan."


Kwa kwa kwa!


Raka kembali tergelak dan terkekeh kegelian.


"Bikin mimpi buruk, setiap malam!"


"Memangnya ciuman Kingkong ach, so sweet gituh."


"Itu kliniknya!"


Mardo mengalihkan pembicaraan mengenai ciuman itu.


Raka memasuki halaman klinik yang buka dua puluh empat jam.


Kembali mereka bekerja sama mengeluarkan Vana yang masih belum siuman.


Raka kemudian menggendong tubuh Vana ke klinik. Mardo menutup pintu dan berjalan di belakang.


'Hemmm, beruntung sekali Vana digendong yang pertama oleh kak Raka.'


Ia tersenyum merasa geli.


Dokter dan perawat segera memeriksa Vana.


Mardo menunggu. Sedangkan Raka agaknya mencari musholla.


Tak lama Dokter memanggil dan mengatakan kalau Vana sangat lemah. Ia dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Harus segera mendapatkan pertolongan. Ia  meminta tolong diantar pada keluarga Vana. Raka yang sudah sholat magrib dengan senang hati melakukannya. Keduanya kembali berduan dalam mobil mewah itu.


"Kejadian yang membawa hikmah," Raka bergumam


"Hikmah apaan? jangan mencari kesenangan diatas kesedihan."


"Hikmah berduan dengan pacar."


Mardo memajukan mulutnya mencibir.


Raka ingin tertawa, tapi tak enak, akhirnya dia tersenyum


 Ini pertama kalinya Mardo akan bertemu orang tua Vana. Ia teringat keluh kesah Vana tentang Papinya yang ingin menikah lagi. Sedangkan ia dan adik-adik tak setuju.


Vana masih terlalu muda mengalami hal tersebut, mestinya Vana meminta bantuan pada pak guru, atau tetangga yang dituakan. Ada seseorang yang harus menasehati Papi Vana dan Vana sendiri.  Mardo merasa Vana memerlukan bantuan orang dewasa.


Pria tinggi besar Papi Vana terkejut mendengar kabar anaknya ada di klinik. Agak panik ia segera bersiap ke sana. Mardo dan Raka menemaninya ke klinik.  Setelah menyerahkan perihal Vana, Mardo pamit.


Laki-laki tinggi besar dan gagah itu berterima kasih, ia berkata pada Mardo suatu saat ingin bicara tentang sesuatu hal. Mardo hanya mengangguk. Ia menyahut, siap pak.


Sepanjang jalan bersama Raka yang mengantarnya ke rumah, ia memikirkan Papi Vana yang ingin bicara dengannya di suatu kesempatan, sangat penting katanya.


Mengenai apa ya? Mardo mengerutkan kening.


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2