Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 266. Ketemu Kakak Tampan di Angkot


__ADS_3

Sebelum turun dari mobil Cindy menolehi pak Mus. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Tetapi ia takut bunda marah. Hanya saja keinginan itu meletup-letup di pikiran dan jiwanya. Akhirnya ia memberanikan diri mengajak pak Mus bekerja sama.


"Pak Mus."


Panggilnya ragu-ragu.


"Iya Neng."


"Nanti siang saya ada keperluan dengan teman-teman. Pak Mus nggak usah jemput yah. Tapi bapak keluar rumah aja nanti sesuai jam pulang sekolah Cindy. Barangkali pak Mus mau jalan-jalan kemana gitu, terserah."


Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Majikan kecilnya ini sering sekali membuatnya bingung. Terlalu banyak akal bulus,  buntutnya nanti dia juga yang kena marah.


"Memang neng Cindy nggak mau dijemput bapak?"


"Saya dan teman-teman mau ke Gajah mada Plaza pak, pulangnya telat, tapi jangan kasih tahu bunda."


"Gimana kalau bapak antar ke sana neng?"


"Ich jangan pak, kan perginya banyakkan,"


"Jadi bapak nggak jemput?"


"Iya nggak usah, pak Mus pergi kemana aja suka-suka bapaklah."


"Nanti kalau ketauan ibu gimana neng?"


"Ya jangan ketauan, gimana sih bapak ini?"


"Kan kalau Neng?"


"Jangan sampai ketauan ya pak!"


"Ok deh, diusahakan."


Cindy menghembuskan napasnya lega.


"Aku kan mau menulis cerita tentang pertemuan di bis kota, masa nggak tau apa itu bis kota dan pernak-perniknya."


Ia menyipitkan matanya memasuki pintu gerbang sekolah. Ara menyambutnya mesem-mesem di dekat pintu sekolah.


"Napa loe Ra, kayak penerima tamu aja."


"He he he, Gwe udah kerjain pr Cintah, jadi ya mau berdiri-diri aja di sini."


"Oh, kalau di dalam kelas berarti belum ngerjain pr."


Cindy mangut-mangut dan dengan anggun memasuki kelas.


***


Cindy  berlari-lari kecil menyebrang dari gerbang sekolah. Ara menunggu waktu les di sekolah, Fani beralasan dijemput seseorang sedang Wani  ada urusan dengan genk anak enam. Untunglah mereka semua sibuk. Ia bisa menikmati kesendiriannya. Gadis itu tersenyum kecil.


Ia memandangi bis-bis yang lewat di depan halte. Tak lama sebuah bis besar berhenti di depan halte. Tujuannya kota. Tak pikir panjang Cindy ikut naik dan mendapatkan bangkunya. Bis patas yang sejuk dan tidak berjubelan. Cindy mulai menyelusuri bis kota tersebut.  Ia memandangi pak supir yang berpakaian rapi dan bersih. Begitu juga kenek. Lalu penumpang. Mereka semua agaknya para karyawan.

__ADS_1


Setelah sampai di gajah mada plaza, sebenarnya Cindy ingin naik ke cafe pria idola milik ayahnya. Tapi ia mengurungkan rencananya. Meski ayah sudah jarang ke cafe pertamannya itu, selalu ada kemungkinan sang ayah ada di sana. Cindy ketakutan sendiri dan memutuskan naik bis yang berbeda. Setelah sampai di tujuan Cindy naik bis lagi menuju jalan pulang. Lumayan pikir gadis kecil itu, ia sudah punya pengalaman tiga kali naik bis.


Akhirnya ia turun di persimpangan jalan yang menuju ke rumah. Tidak ada bis yang melewati jalur rumahnya. Melainkan angkot- angkot kecil. Cindy menunggu di perhentian angkot yang berbaris panjang. Seseorang melambai padanya agar menaiki angkot yang paling depan. Rupanya sudah disusun sedemikian rupa agar semua angkot mendapatkan rejeki. Cindy menaiki angkot yang nyaris penuh tinggal satu orang. Begitu ia duduk angkot langsung tancap gas.


Cindy nyaris jatuh akibat supir yang  selengean, untung  seseorang menangkap tangannya dan ia sedikit terjengkang mengenai orang tersebut.


"Ohh!!!"


Orang tersebut yang terdorong oleh Cindy  kaget setengah senang.


"Maaf ya."


Cindy  menoleh sekilas dan kaget ternyata itu kak Rama mantan kakak kelasnya yang sekarang sudah di SMU. Langsung Cindy memerah pipinya sebab malu. Keduanya sama-sama terkejut dan heran. Kok bisa mereka ketemu di angkot. Rasanya sangat luar biasa. Padahal baik Rama dan Cindy selalu antar jemput.


"Nggak napa-napa, habis dari mana Cin? kok naik angkot dari sini."


"Oh, habis main tadi kak sama teman-teman, kalau kak Rama?"


"Sama, sambil nyari bahan praktek."


Diam sejenak, sampai kenek angkot menagih ongkos penumpang.


"Kak, ongkosnya."


Kenek angkot mengulurkan tangan ke penumpang meminta ongkos, semua sudah siap dengan uang pas di tangan, Kecuali  Cindy,  dia merogoh-rogoh tas, ditunggu oleh abang kenek.


"Ada nggak Kak?"


Abang kenek agak mengejek begitu.


Sahut Cindy sebel, mau ngajak berantem apa!


"Udah Cin, ini saja sekalian."


Rama sudah memegang uang sepuluh ribuan dan memberikannya pada kenek untuk berdua katanya sambil menunjuk Cindy dengan gerakkan bahunya. Sementara Cindy masih merogoh tasnya.


"Udah dibayarin ayangbeb kok kak, nggak usah cari uang receh lagi."


Penumpang lain jadi mesem-mesem oleh kejadian itu. Sekali lagi pipi Cindy merona, ia jadi sebel banget sama abang kenek yang nggak sabaran, masa sih dibayarin, apa kata dunia.


"Bang kenek nggak sabaran sih, ini baru nemu dompetnya tau!"


Cindy mengebuk punggung kenek yang membelakangi penumpang, si tukang angkot hanya terkekeh.


"Sakit kak!"


"Rasain!"


"Udah Cin, kasihan tukang angkotnya."


Rama geli juga oleh sikap Cindy yang dirasanya lucu, penumpang lain juga ikut-ikutan tergugah.


"Pukul terus aja, orang nggak sabaran gitu tuman."

__ADS_1


"Lah, napa pada berantem ya?"


Supir di depan ikutan ngomong.


"Udah Bang! nyupir-nyupir aja, jangan ikut campur."


Sempat ramai sambung menyambung menggangu tukang angkot dan supir. Lumayan membuat senyum diantara kelelahan habis bekerja.


"Kak, ini Cindy kembaliian uangnya."


Cindy tak enak dan terus memikirkannya, akhirnya ia membuka dompetnya dan memberi uang sepuluh ribu, Rama menolak dan mengatakan tak perlu ia ikhlas.


"Tak seberapa kok."


Tapi Cindy  ada kok kak."


"Udah biar aja."


Akhirnya Cindy menyerah dan mengucapkan terima kasih.


"Turun di mana.?" tanya kak Rama.


" Rajawali kak,"


" Loh kok sama ya,"


" Bukannya rumah kak Rama di Jalan Toha?"


" Iya benar, ini mau bikin tugas prakarya elektro sama teman,"


"O gitu."


Tak lama keduanya sampai dan turun di tepi jalan, Rama langsung memanggil beca sedangkan  Cindy  menelpon pak Mus, mereka janjian di tempat itu. Tapi pak Mus tak mengangkat telponnya sebab sedang sholat ashar.


"Cindy, aku duluan ya."


"Iya, kak."


Gadis itu menunggu di dalam rumah warnet, sembari ia mengisi perutnya yang keroncongan. Tak lama pak Mus membaca pesan dari Cindy dan meluncur menjemput.  Untunglah bunda masih di kantornyam jadi hari itu aman.


Di dalam sejuk ac  mobil yang menjemputnya Cindy tersenyum, begitu rupanya naik bis. Ada yang sepanjang jalan semua penumpang berdiam diri, ada yang perhatian dan mau memberikan bangku miliknya untuk yang membutuhkan. Ada juga penumpang, kenek dan supir saling sambar-menyambar omongan. Tetapi yang luar biasa berkat keinginan naik bis itu ia bertemu mantan kakak kelas yang tampan dan charming ihhhh senangnya.


Gadis itu berteriak gemes dan senang sampai pak Mus hanya geleng-geleng kepala melihat gadis kecil itu  yang menurutnya lucu, menyenangkan dan pintar.


 


 


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2