
Dunia Prita yang selama ini tenang damai sejak laki-laki bapak tirinya datang berubah
nyaris seratus delapan puluh derajat. Dan mama yang selama ini selalu kecukupan uang
dari penghasilannya mengelola rumah kontrakkan mulai sering meminta uang pada Prita.
Tentu saja Prita keberatan karena uang itu untuk Abidin ayah tirinya.
"Tidak mama! uangku untuk membayar kuliahku, selama ini mama tak pernah perduli
padaku, aku bekerja keras untuk menjadi orang yang berarti Ma, tidak hidup seperi ini
terus! selama ini mama baik-baik saja, cukup uang untuk kebutuhan mama, tapi sejak
laki-laki itu datang mama hampir setiap saat kehabisan uang."
"Prita! kalau kamu nggak mau kasih ya sudah! tak perlu ngomong seperti itu! biar mama
cari sendiri!"
Dan mamanya pergi entah kemana? Gadis itu menyimpan baik-baik uang hasil memberikan
les privat. Ia menyimpannya di bank untuk membayar kosnya nanti dan kebutuhan makan.
Ia harus mengumpulkan banyak uang. Sebab kebutuhan sangat banyak. Prita sebenarnya
lebih senang berada di rumah saat lelah dan habis bekerja.
Tetapi keberadaan Abidin bapak tirinya yang sehari-hari berada di rumah membuatnya
tak lagi nyaman pulang ke rumah. Ia akhinrya pergi ke cafe Pria Idola untuk bertemu
Yunna dan Elsa. Hanya mereka yang bisa membuat Prita terhibur dan bisa tersenyum.
"Ada apa lagi Prita! apa bapak tirimu itu membuatmu kesal!"
Yunna bertanya dengan mimik memelas, sembari memberikan segelas susu coklat panas.
"Bukan, tapi mama beberapa hari kerjaannya minta uang terus. Padahal biasanya uangnya
selalu ada."
"Mungkin orang yang membayar kontrakkan macet atau menunda pembayaran, jadi
mamamu belum ada uang."
"Entahlah!"
"Laki-laki itu mengambil uang mama, aku tau setiap dia mau pergi selalu mengambil
uang mama di dompet."
Prita teringat saat ia mendengar laki-laki itu meminta uang pada mamanya, "Masa
segini? memang tidak ada lagi? uang segini mana cukup!"
"Habis Bang, kan waktu nikah pakai uang aku, abang katanya mau ganti tapi mana
sampai sekarang belum, malah cincin dan perangkat sholat juga dariku semua!"
"Iya iya! kalau abang nanti menang kukembalikan!"
"Aku bahkan tak melihat gelang dan cincin emas yang selalu dipakai mama
jangang- jangan malah sudah diberikannya semua pada laki-laki sialan Itu!"
"Wah Prita bahaya kalau begitu, jangan-jangan lelaki itu hanya ingin uang
mamamu saja."
"Semua kesalahan mama! aku sudah bilang jangan menikah! tetap saja dia
tak menuruti nasehatku, paman dan bibi-bibi juga tak perduli dan tak ambil
pusing."
"Mesti bagaimana pun aku mengkhawatirkan mama, karena sebentar lagi
__ADS_1
kuliah akan di mulai, Yunna jika aku telah di Semarang tolong jaga mama
ya, mumpung aku ingat. Nitip mamaku."
"Kapan kau kembali masuk kuliah?"
"Tak lama lagi, minggu depan kita sudah tak bisa bertemu."
"Oh, rasanya cepat sekali. Padahal kita belum puas bermain."
Mereka bertiga bercengkrama, dan Prita bahkan sempat tertidur di ruang khusus
istirahat karyawan. Ia meringkuk di ruangan kecil milik Yunna dan Elsa.
Setiap karyawan bisa memiliki ruangan untuk mereka istirahat, juga berganti
baju, kamar-kamar sederhana seperti tempat kos. Beberapa karyawan yang
berasal dari daerah malah tidur di tempat itu juga.
Ketika menjelang jam dua Prita keluar dari ruangan tersebut dan pergi
mengajar. Sebenarnya ia bisa saja menambah cuti kuliah, tetapi keberadaan
laki-laki ayah tirinya sangat menganggu dan membuatnya tak nyaman. Prita
memutuskan mempercepat masa liburnya dan bersiap kembali ke tempat
kosnya yang tak jauh dari kampus. Ia bisa mencari pekerjaan di sana. Lagi
pula ada penawaran menjadi guru taman kanak-kanak yang tak jauh dari
kosnya. Ia akan mempertimbangkannya.
Ketika pulang di sore harinya ia terkejut melihat mamanya yang tergeletak
di lantai, jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia setengah menjerit menghampiri
tubuh ibunya.
Ibunya pingsan, dan ada beberapa luka lebam seperti pukulan di wajah dan
sekitar lengannya. Prita kaget sekali. Ia berusaha memanggil tetangga
untuk membantunya mengangkat ibu ke tempat tidur.
Tetangganya bilang, mereka mendengar suara bertengkar yang hebat, tetapi
tak menyangka kalau sampai seperti itu. Mama Prita di pukuli hingga babak
belur. Seketika Prita naik pitam. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun.
Ia pergi bergegas mencari laki-laki itu.
Mama pernah bilang bahwa Abidin bekerja sebagai penjaga keamanan di sebuah
karaoke di pusat kota. Ia tau tempat itu. Abidin laki-laki itu harus merasakan apa
yang telah ia lakukan pada mama. Prita tak akan membiarkannya. Ia adalah
seorang Dan sabuk hitam. Saat smp hingga kelas dua smu ia mengikuti eskul
bela diri juga masuk sebuah club yang berlatih secara teratur di hari sabtu
dan minggu.
Prita menghentikan motornya di depan karaoke yang mama katakan. Mama
dan teman-temannya sering sekali berkaraoke ria di sana, dan ia bertemu
Abidin di tempat itu.
Gadis itu tak melihat sosok Abidin, ia lantas masuk dan menanyakan laki-laki
itu. Seorang office boy menoleh kepadanya. "Di belakang kak, mau saya
panggilkan?"
__ADS_1
Prita mengangguk dan ia bergegas keluar. Menunggu laki-laki itu. Ia masih
dikuasai kemarahan dan kegeramannya terhadap Abidin. Ia berusaha tenang
menghembuskan napasnya. Tetapi laki-laki itu tak kunjung datang membuat
Prita naik pitam. Ia kembali masuk ke dalam dan mencari laki-laki itu.
Suasana tempat itu memang sepi sekali, tamu-tamu asyik bernyanyi di kamar
kamar yang kedap suara. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah ruangan paling
belakang. Ia membuka pintunya dan melihat pemandangan yang semakin
membuatnya marah.
Di sana di atas meja Abidin dan seorang perempuan sedang melakukan hal
yang menjijikkan. Prita dengan geram menarik tubuh besar yang sedang
menindih seorang gadis. Belum lagi Abidin berdiri dengan keseimbangan
penuh, Prita berputar sangat cepat sulit diikuti oleh mata, ujung kakinya menukik
menendang wajah laki-laki itu kiri dan kanan, diakhiri dengan tendangan di dadanya
hingga Abidin terlempar ke tembok. Prita mendatangi laki-laki itu dan menginjak
lehernya, "Jangan coba-coba menyakiti mama saya! atau saya akan
mematahkan leher kamu sekarang!"
Abidin yang sama sekali tak siap menghadapi kedatangan serta gerakkan
yang sangat cepat dari Prita, bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.
Tangannya berusaha melepaskan sepatu gadis itu yang membuatnya
tak bisa bernapas. Ia berguling dengan cepat dan bangun menaikkan
celananya dan mengancingkannya.
Mata Abidin menatap beringas, baru sekali ini ada seorang yang menghinanya
seperti itu. Sementara gadis yang tadi sudah berlari keluar dengan mendekap dadanya.
"Berani sekali kau datang ke tempat ini, mau menyerahkan tubuhmu juga, aku
tak sabar menikmatimu! dadamu sungguh menggemaskan he he he..."
Abidin laki-laki tegap itu menghapus bibirnya yang berdarah dan meludahkannya
dengan kasar. "Kemari kau, biar kubuka bajumu itu!"
Prita tak banyak bicara ia kembali bergerak untuk menghajar laki-laki yang
bermulut kotor itu. Kakinya melayang menuju mulut Abidin, tetapi lelaki itu
menangkapnya dan menarik. Serta merta Prita berputar dengan sangat cepat
sehingga Abidin melepaskannya. Sambil berputar ia masih sempat mendaratkan
tendangan ke muka laki-laki itu. Tendangan yang keras hingga ia terjengkang
dan membentur tembok dan akhirnya melorot jatuh.
Prita bergegas meninggalkan tempat itu. Mogenya meraung-raug di jalanan.
Bersambung
Hello, terima kasih atas kebaikannya gaes
memberi like, komen, vote.
Author sanga berterima kasih
__ADS_1