Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 135. Jangan Sekali-Kali Menyakiti Mama


__ADS_3

Dunia Prita yang selama ini tenang damai sejak laki-laki bapak tirinya datang berubah


nyaris seratus delapan puluh derajat. Dan mama yang selama ini selalu kecukupan uang


dari penghasilannya mengelola rumah kontrakkan mulai sering meminta uang pada Prita.


Tentu saja Prita keberatan karena uang itu untuk Abidin ayah tirinya.


"Tidak mama! uangku untuk membayar kuliahku, selama ini mama tak pernah perduli


padaku, aku bekerja keras untuk menjadi orang yang berarti Ma, tidak hidup seperi ini


terus! selama ini mama baik-baik saja, cukup uang untuk kebutuhan mama, tapi sejak


laki-laki itu datang mama hampir setiap saat kehabisan uang."


"Prita! kalau kamu nggak mau kasih ya sudah! tak perlu ngomong seperti itu! biar mama


cari sendiri!"


Dan mamanya pergi entah kemana? Gadis itu menyimpan baik-baik uang hasil memberikan


les privat. Ia menyimpannya di bank untuk membayar kosnya nanti dan kebutuhan makan.


Ia harus mengumpulkan banyak uang. Sebab kebutuhan sangat banyak. Prita sebenarnya


lebih senang berada di rumah saat lelah dan habis bekerja.


Tetapi keberadaan Abidin bapak tirinya yang sehari-hari berada di rumah membuatnya


tak lagi nyaman pulang ke rumah. Ia akhinrya pergi ke cafe Pria Idola untuk bertemu


Yunna dan Elsa. Hanya mereka yang bisa membuat Prita terhibur dan bisa tersenyum.


"Ada apa lagi Prita! apa bapak tirimu itu membuatmu kesal!"


Yunna bertanya dengan mimik memelas, sembari memberikan segelas susu coklat panas.


"Bukan, tapi mama beberapa hari kerjaannya minta uang terus. Padahal biasanya uangnya


selalu ada."


"Mungkin orang yang membayar kontrakkan macet atau menunda pembayaran, jadi


mamamu belum ada uang."


"Entahlah!"


"Laki-laki itu mengambil uang mama, aku tau setiap dia mau pergi  selalu mengambil


uang mama di dompet."


Prita teringat saat ia mendengar laki-laki itu meminta uang pada mamanya, "Masa


segini? memang tidak ada lagi? uang segini mana cukup!"


"Habis Bang, kan waktu nikah pakai uang aku, abang katanya mau ganti tapi mana


sampai sekarang belum, malah cincin dan perangkat sholat juga dariku semua!"


"Iya iya! kalau abang nanti menang kukembalikan!"


"Aku bahkan tak melihat gelang dan cincin emas yang selalu dipakai mama


jangang- jangan malah sudah diberikannya semua pada laki-laki sialan Itu!"


"Wah Prita bahaya kalau begitu, jangan-jangan lelaki itu hanya ingin uang


mamamu saja."


"Semua kesalahan mama! aku sudah bilang jangan menikah! tetap saja dia


tak menuruti nasehatku, paman dan bibi-bibi juga tak perduli dan tak ambil


pusing."


"Mesti bagaimana pun aku mengkhawatirkan mama, karena sebentar lagi

__ADS_1


kuliah akan di mulai, Yunna jika aku telah di Semarang tolong jaga mama


ya, mumpung aku ingat. Nitip mamaku."


"Kapan kau kembali masuk kuliah?"


"Tak lama lagi, minggu depan kita sudah tak bisa bertemu."


"Oh, rasanya cepat sekali. Padahal kita belum puas bermain."


Mereka bertiga bercengkrama, dan Prita bahkan sempat tertidur di ruang khusus


istirahat karyawan. Ia meringkuk di ruangan kecil  milik Yunna dan Elsa.


Setiap karyawan bisa memiliki ruangan untuk mereka istirahat, juga berganti


baju, kamar-kamar sederhana seperti tempat kos. Beberapa karyawan yang


berasal dari daerah malah tidur di tempat itu juga.


Ketika menjelang jam dua Prita keluar dari ruangan tersebut dan pergi


mengajar. Sebenarnya ia bisa saja menambah cuti kuliah, tetapi keberadaan


laki-laki ayah tirinya sangat menganggu dan membuatnya tak nyaman. Prita


memutuskan mempercepat masa liburnya dan bersiap kembali ke tempat


kosnya yang tak jauh dari kampus. Ia bisa mencari pekerjaan di sana. Lagi


pula ada penawaran menjadi guru taman kanak-kanak yang tak jauh dari


kosnya. Ia akan mempertimbangkannya.


Ketika pulang di sore harinya ia terkejut melihat mamanya yang tergeletak


di lantai, jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia setengah menjerit menghampiri


tubuh ibunya.


Ibunya pingsan, dan ada beberapa luka lebam seperti pukulan di wajah dan


sekitar lengannya. Prita kaget sekali. Ia berusaha memanggil tetangga


untuk membantunya mengangkat ibu ke tempat tidur.


Tetangganya  bilang,  mereka mendengar suara bertengkar yang hebat, tetapi


tak menyangka kalau sampai seperti itu. Mama Prita di pukuli hingga babak


belur. Seketika Prita naik pitam. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun.


Ia pergi bergegas mencari laki-laki itu.


Mama pernah bilang bahwa Abidin bekerja sebagai penjaga keamanan di sebuah


karaoke di pusat kota. Ia tau tempat itu. Abidin laki-laki itu harus merasakan apa


yang telah ia lakukan pada mama. Prita tak akan membiarkannya. Ia adalah


seorang Dan sabuk hitam. Saat smp hingga kelas dua smu ia mengikuti eskul


bela diri juga masuk sebuah club yang berlatih secara teratur di hari sabtu


dan minggu.


Prita menghentikan motornya di depan karaoke yang mama katakan. Mama


dan teman-temannya sering sekali berkaraoke ria di sana, dan ia bertemu


Abidin di tempat itu.


Gadis itu tak melihat sosok Abidin, ia lantas masuk dan menanyakan laki-laki


itu. Seorang office boy menoleh kepadanya. "Di belakang kak, mau saya


panggilkan?"

__ADS_1


Prita mengangguk dan ia bergegas keluar. Menunggu laki-laki itu. Ia masih


dikuasai kemarahan dan kegeramannya terhadap Abidin. Ia berusaha tenang


menghembuskan napasnya. Tetapi laki-laki itu tak kunjung datang membuat


Prita naik pitam. Ia kembali masuk ke dalam dan mencari laki-laki itu.


Suasana tempat itu memang sepi sekali, tamu-tamu asyik bernyanyi di kamar


kamar yang kedap suara. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah ruangan paling


belakang. Ia membuka pintunya dan melihat pemandangan yang semakin


membuatnya marah.


Di sana di atas meja Abidin dan seorang perempuan sedang melakukan hal


yang menjijikkan. Prita dengan geram menarik tubuh besar yang sedang


menindih seorang gadis. Belum lagi Abidin berdiri dengan keseimbangan


penuh, Prita berputar sangat cepat sulit diikuti oleh mata, ujung kakinya menukik


menendang wajah laki-laki itu kiri dan kanan, diakhiri dengan tendangan di dadanya


hingga Abidin terlempar ke tembok. Prita mendatangi laki-laki itu dan menginjak


lehernya, "Jangan coba-coba menyakiti mama saya! atau saya akan


mematahkan leher kamu sekarang!"


Abidin yang sama sekali tak siap menghadapi kedatangan serta gerakkan


yang sangat cepat dari Prita, bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.


Tangannya berusaha melepaskan sepatu gadis itu yang membuatnya


tak bisa bernapas. Ia berguling dengan cepat dan bangun menaikkan


celananya dan mengancingkannya.


Mata Abidin menatap beringas, baru sekali ini ada seorang yang menghinanya


seperti itu. Sementara gadis yang tadi sudah berlari keluar dengan mendekap dadanya.


"Berani sekali kau datang ke tempat ini, mau menyerahkan tubuhmu juga, aku


tak sabar menikmatimu! dadamu sungguh menggemaskan he he he..."


Abidin laki-laki tegap itu menghapus bibirnya yang berdarah dan meludahkannya


dengan kasar. "Kemari kau, biar kubuka bajumu itu!"


Prita tak banyak bicara ia kembali bergerak untuk menghajar laki-laki yang


bermulut kotor itu. Kakinya melayang menuju mulut Abidin, tetapi lelaki itu


menangkapnya dan menarik. Serta merta Prita berputar dengan sangat cepat


sehingga Abidin melepaskannya. Sambil berputar ia masih sempat mendaratkan


tendangan ke muka laki-laki itu. Tendangan yang keras hingga ia terjengkang


dan membentur tembok dan akhirnya melorot jatuh.


Prita bergegas meninggalkan tempat itu. Mogenya meraung-raug di jalanan.


 


Bersambung


Hello, terima kasih atas kebaikannya gaes


memberi like, komen, vote.


Author sanga berterima kasih

__ADS_1


__ADS_2