
Setelah menyelesaikan sarapan yang terlambat Boy mengajak Prita segera balik ke kantor. Gadis itu membesarkan matanya, memangnya siapa yang mau pulang. Nadanya itu seperti ia tak ingin kembali ke kantor. Dasar banget laki-laki ini. Prita mengomel dalam hati.
"Kamu lumayan juga ya."
Tiba-tiba Boy mengatakan itu, Prita tersenyum.
"Kok lumayan? susah ya bilang hebat!."
Boy tersenyum, mengelus dagunya. Ia menolehi wanita muda di sebelahnya, wajahnya cantik, mata yang dinaungi oleh bulu-bulu mata yang lentik dan lebat. Hidung dan bibirnya yang menggemaskan. Tubuhnya tinggi semampai, berisi serta berbentuk indah. Priti menutupi keindahan tubuhnya dengan blazer serta jas panjang. Sikapnya terkadang kenes, dan memberontak. Tapi seringnya diam membisu misterius. Itu penilaian seorang Boy Indra.
Tiba-tiba handphone Boy berbunyi. Ia menaro sebuah alat ke telinganya.
"Iya Pi."
Agaknya papi Boy menelpon putranya. Menanyakan tentang pekerjaannya.
"Aku sudah melakukannya Pi, tinggal menunggu jawabannya."
"Apa mereka puas dengan penjelasanmu?"
"Puas Pi, aku optimis."
"Itu adalah proyek pertamamu, semoga sukses."
"Tentu Pi."
Boy menolehi Prita, sedangkan gadis itu tengah menatap lurus ke depan.
"Mulai sekarang kamu adalah patnerku, ok! aku baru saja memasuki dunia kerja, begitu juga kamu."
Prita menoleh, ia mendengar kata patner. Seenaknya saja mentang-mentang ia tadi menyetujui keinginan Boy ikut
menemui klien perusahaan. Ia merasa tidak memiliki kapasitas sebagai patner pemilik perusahaan.
"Jangan menolak!"
Prita tak menjawab. Ia merasa tak nyaman dengan Boy. Lagi pula ia tak suka kesana kemari bersama pria lain. Ia lebih memilih tinggal di kantor. Membaca email dan menjawabnya.
"Kenapa harus aku? tadi kebetulan saja aku menguasainya sebab setiap hari tugasku memang menjawab dan menaksir nilai pekerjaan."
"Jadi kamu tidak mau?"
Prita terdiam. Pria ini memiliki daya memaksa dan menuduh.
"Pekerjaan yang tertulis di perjanjian adalah staf,keuangan, bukan sekretaris!"
__ADS_1
Boy Indra menggaruk-garuk kepalanya. Tetapi ia merasa nyaman dan cocok dengan Prita. Ia memikirkan sesuatu. Sikap Boy Indra meresahkannya. Sepulang kerja ia mampir ke tempat Elsa dan menceritakan problemnya.
"Aku baru saja di terima kerja, tetapi laki-laki itu membuatku tak nyaman."
"Memangnya kenapa?"
Prita mengangkat bahunya, ia sendiri tak enak jika mengatakan Boy menganggunya.
"Dia Putra pemilik perusahaan, baru kembali dari luar negeri dan seperti orang yang tersesat, sebab banyak yang tak ia mengerti. Bahkan ia masih kebingungan dengan nilai uang rupiah. Menurutnya aku bisa mengatasi semua permasalahannya di perusahaan dan juga di luar."
"Dia ingin kau membantunya?"
Elsa menyeduhkan teh hangat dan mereka menghirup bareng-bareng.
"Kenapa mesti aku, apa aku keluar saja ya? dan mencari pekerjaan lain."
Elsa tertawa, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap Prita lantas tersenyum.
"Kalau aku, sangat tertantang dan pengen tahu apa yang bisa ia lakukan padamu."
"Elsa, aku tidak mau sesuatu yang rumit. Hidupku sudah rumit dan penuh perjuangan, masa sekarang aku masih saja belum menikmati kebebasanku."
"Terserah kau, kalau sudah tak kuat, di sini saja kau bekerja Prita."
Esok paginya di kantor Prita terkejut sebab ia tak menemukan mejanya. Ia terbengong dan tak mengerti sampai pak Emir memanggilnya dan bicara padanya tentang pekerjaan barunya. Prita mengerutkan keningnya.
"Selamat Nak, kamu sekarang menjadi wakil bapak direktur yang baru, ruanganmu pindah ke lantai tujuh dekat dengan pak Dirut."
Prita tertegun. Baru saja kemarin ia memikirkan tentang takdir yang aneh, kemudian ia mengalaminya.
"Ta-tapi pak, bagaimana dengan gaji saya? apakah lebih besar dari yang sekarang?"
Prita tahu ia tak akan bisa menolak, jadi ia ingin kejelasan gajinya. Itulah yang terpenting saat ini. Ia tak perduli tentang jabatan. Yang penting adalah penghasilannya.
"Tentu saja! pokoknya sangat memuaskan, mari ikut saya."
Pak Emir bergegas sembari menunggu Prita mengikutinya ke lift. Ia juga memberikan amplop berlogo perusahaan kepada Prita. Gadis itu tak banyak pikir segera mengikuti pak Emir. Tak lama mereka sampai ke lantai tujuh. Pak Emir membawa ke ruangannya, menunjukkan tempat Prita sekarang. Gadis itu mengangguk-angguk. Ia sekarang sendirian di ruangannya. Sebuah ruangan yang pas untuk seorang wakil bapak direktur. Prita menerima takdir luar biasa dalam kehidupannya hari itu.
"Ok, selamat bekerja mba Prita Pujaningrum."
"Pak Emir mengedipkan matanya."
Tinggallah Prita di ruangan mewah tersebut. Ia berputar-putar mengakrabkan dirinya dengan tempat itu. Mimpi apa semalam? sehingga tiba-tiba ia menjadi wakil direktur bapak Boy Indra. Baru saja bibirnya akan melebar ketika pintunya terdengar di ketuk.
"Hello, guten morgen Frau Prita Pujaningrum wakil derektur."
__ADS_1
Seraut wajah segar yang muda serta tampan menyembul di pintu.
"Hem, ini semua pekerjaanmu kan? ini bukan hal kecil pak Boy!"
"Iya, sudah kubilang tiba-tiba aku bertemu dengan seseorang yang bisa kupercaya dan kuandalkan."
"Aku?"
"Tentu saja, sejak aku kembali ke Indonesia hanya kamu yang kutemui, sejak kecil aku di Jerman bersama Om dan tanteku."
"Ta-tapi aku juga tidak punya pengalaman apa-apa. Aku baru wisuda minggu lalu."
"Tidak perlu cemas, kita akan belajar dan mendapat pengalaman, ok."
Pada akhirnya Prita tak lagi mau berdebat. Ia tiba-tiba merasa kasihan pada Boy. Bisa jadi ia tak memiliki teman atau seseorang yang dekat dan ia percayai.
"Ok."
Prita mengangguk, dan Boy Indra mengucapkan terima kasih dengan merundukkan tubuhnya. Setelah itu Boy meninggalkan ruangan Prita. Gadis itu segera duduk di meja kerjanya dan menghidupkan komputernya. Ia membacai banyak hal seputar perusahaan tersebut. Tak kenal maka tak sayang, sebab itu ia mengisi waktu pertamanya dengan mempelajari profile perusahaan. Awal mulanya perusahaan itu berada dan berdiri di kota Bekasi. Karena perkembangannya yang pesat, akhirnya pada tahun 2010 dibangun sebuah gedung berlantai
25 di tempat strategis. Sebagian ruangannya dan beberapa lantai di sewakan pada perusahaan lain.
Di lantai paling bawah merupakan ruang informasi, toilet, lobby serta mini swalayan di pojok kanan. Lantai dua hingga tujuh digunakan oleh Perusahaan Kesuma Wijaya. Sedangkan sisanya di sewa. Lantai paling atas tempat
karyawan bersantai dan menikmati makanan yang banyak sekali mangkal di tempat itu.
Bersambung
Hello, terima kasih Othor ucapkan pada kalian yang mau mampir dan memberikan like, komen dan votenya.
Othor sangat berterima kasih sekali.
__ADS_1