
Hari berganti dengan cepat. Bulan serta tahun. Baby Raka tumbuh menjadi anak laki-laki yang
tampan, menggemaskan serta lucu. Baby Raka menjadi kesayangan kedua belah pihak dari
kakek dan neneknya. Kebahagian Raka dan juga Mardo. Tepat saat Baby Raka berusia dua
tahun, Mardo merasa mual, pusing dan pingsan saat di kantor. Semua panik dan menghubungi
Raka. Pria itu datang dan melihat Mardo sudah siuman dan menciumi aroma therapi.
"Kenapa Mi? kita ke dokter yuk."
Penuh kecemasan Raka memaksa ke dokter langganan. Dan wajah ceria sang dokter mengatakan
bahwa baby Raka akan memiliki adik. Kebahagian pasangan itu menjadi-jadi, Raka serta merta
menyongsong istrinya, "Mi, selamat kita akan memiliki bayi lagi, Baby Rakasiwi akan punya adik."
Raka sangat gembira, ia segera mengabari keluarganya tentang berita baik itu. Dan semua
menyambut kebahagian itu penuh suka cita. Hari-hari saat menunggu kehamilan membesar
baby Raka menjadi sangat cengeng dan sensitip. Sedikit-sedikit menangis dan terisak. Menjadi
sangat manja.
Mardo kadang sampai kewalahan menghadapi baby Raka siwi, sampai membentak baby Raka.
Bukannya diam, baby Raka semakin menangis dan terisak-isak. Mardo terpaksa curhat pada
teman-temannya tentang baby Raka yang berubah menjadi sangat manja dan cengeng.
Teman-temannya bilang, itu memang naluri seorang anak. Merasa terancam dengan kedatangan
saudaranya. Merasa ayah dan ibunya akan mengabaikannya nanti. Tempatnya selama ini
akan diambil oleh saudaranya.
"Oh, begitukah? apa yang harus aku lakukan dengan baby Raka yang masih berusia dua tahun?"
Tidak ada jalan lain kecuali tetap sabar dan menerima kerewelan baby Raka, meyakinkan baby
Raka bahwa ia tetap di cintai dan disayangi oleh ayah dan ibu serta semua orang. Jangan sampai
ia melihat sedikit pun perubahan yang terjadi.
Mardo dan Raka mendikusikan hal tersebut, dan memberikan perhatian yang lebih besar pada
baby Raka. Juga memberitahu tentang perut ibunya yang kian hari semakin membesar. Raka dan
Mardo sama-sama menyentuhkan jemari kecil baby Raka pada perut Mardo.
"Ada adik di sini sayang, adiknya babang Raka."
Sekarang mereka mulai memanggil baby Raka dengan abang atau babang, untuk menumbuhkan
rasa kekakaannya. Setiap hari Raka dan Mardo melakukan hal tersebut, sehingga baby Raka
perlahan mengerti bahwa ia akan kedatangan seorang adik bayi. Setiap kali Raka mencium perut
Mardo yang perlahan membesar, baby Raka tak mau ketinggalan, ikut-ikutan mencium perut
__ADS_1
ibunya sembari berkata, "Adik, adik!"
"Iya adik ya bang! babang sayang sama adik?"
"Sayang, babang sayang adik."
Baby Raka tidak cemburu dan tidak merasa terancam lagi dengan kedatangan adiknya, ia sekarang
ceria dan gembira menyambut kedatangan adiknya. Mereka bertiga menyiapkan penyambutan untuk
adik baby. Baby Raka ikut menyiapkan tempat tidur untuk adik baby. Ikut berbelanja keperluan adik
bayi, bahkan ikut ke dokter kandungan.
Hingga Mardo mengalami lagi apa yang dirasakannya dulu saat melahirkan baby Raka. Perutnya
mulas dan sakit. Kali ini tidak ada seorang pun di rumah. Papi dan Mami Bramantyo sedang pergi
memeriksa bisnis mereka, juga menjenguk Richi di Merauke. Sedang Papi dan Mami Wijawa
sudah hampir seminggu berada di luar kota di rumah Mangara. Istri Mangara baru saja melahirkan
putra yang pertama. Silvi sempat kosong beberapa tahun, hingga akhirnya kabar gembira itu
terhembus, kelahiran putri pertama Mangara hampir bersamaan dengan kelahiran anak kedua
Mardo dan Raka.
Mardo menyiapkan sendiri persalinannya, ia memasukkan tas bajunya ke mobil, menelpun
Patricia dan Khairani. Sebab tadi Raka pamit bertugas ke luar kota bersama Deni dan Sammy.
Menurut dokter kandungan Mardo baru akan melahirkan sebulan lagi. Maju lebih cepat dari
Beruntung Patricia dan Khairani sedang ada di rumah, segera menghambur ke rumah Mardo
dan berusaha dengan tenang membawanya ke rumah sakit bersalin. Mardo memberitahu
jangan dulu mengabari Raka, sebab siang itu dia sedang bertemu seseorang yang sangat
penting untuk bisnis mereka. Mardo yakin ia bisa melewati persalinan dengan baik.
Tidak jauh berbeda dengan baby Raka yang lahir sore hari, putri kedua Mardo dan Raka
lahir siang hari, jam sebelas. Suasana saat itu meredup dan syahdu. Dan Mardo lebih
siap sehingga kelahiran putrinya berlangsung cepat dan lancar. Meski begitu Mardo sempat menangis
karena terharu. Semua orang-orang yang ia cintai dan sayang tidak ada satu pun yang
menyaksikan kehadiran bayi mungilnya yang cantik dan lembut. Hanya Patricia, Khairani
dan teman-temannya Putri, Sashinata dan Grace.
Sore hari, barulah Raka mendapatkan kabar bahwa ia sudah menjadi ayah dari dua orang
anak. Ia tertegun karena tak menyangka percepatan kelahiran putri keduanya. Tak sabar
untuk bertemu, segera ia pulang dan meninggalkan pekerjaannya. Deni dan Sammy juga
memaksa ikut pulang karena ingin melihat bayi perempuan, keponakkan mereka. Bahkan
__ADS_1
rekan bisnis mereka ikut gembira oleh kabar gembira tersebut, dan tidak keberatan
menunda pertemuan tersebut.
Malam harinya, Raka, Deni dan Sammy sampai di rumah sakit. Pria itu segera mencium
kening istrinya, memeluk penuh cinta dan keharuan, "Terima kasih sayang, kita sudah
memberikan adik pada Baby Rakasiwi, kita sudah memiliki sepasang anak yang tampan
dan cantik, Pipi akan mengazani anak kita Mi."
Mardo mengangguk dan melepaskan Raka pergi ke ruang bayi. Pria muda itu terlihat
sangat bahagia menatap putri cantik yang sedang tertidur pulas. Suster mengijinkan
laki-laki itu menggendong bayinya. Mata Raka berkaca-kaca oleh sesuatu yang
menggerakkan hatinya. Ia mencium pipi bayi perempuan itu, dan dengan lembut
melantunkan azan di telinga bayi perempuan cantik itu.
Si baby mengeliat lembut dan mengintip lewat matanya yang kecil, sekejap saja lantas
kembali memejam dan tertidur pulas. Raka memeluk sepenuh cinta dan sayang di
hatinya. Kehidupannya telah lengkap dengan sepasang anak di kehidupannya dan
Mardo. Ia merasa sangat bahagia dan beruntung. Ia memiliki perempuan cantik, pintar
dan sangat mencintainya. Lalu Baby Raka yang membuat hari-harinya ceria dan
merasa gembira. Kelelahannya akan terhapus saat ia pulang dan disambut riang
baby Raka dan juga istrinya.
"Papiiii dah pulang, udah gilap Pi."
Baby Raka mengatakan gilap untuk gelap. Menjadi sebuah kebiasaan, setiap kali menjelang
malam anak kecil itu telah ke teras dan melihat hari telah gelap, pertanda Papi segera datang.
Rumah kembali meriah dengan kedatangan Papi-Mami Bramantyo dan juga Wijaya. Mereka
bergantian menggendong serta mendoakan baby perempuan cantik yang telah hadir di tengah
keluarga tersebut. Kebahagian Papi-Mami Wijawa bertambah sebab mereka juga mendapat
cucu dari Mangara dan Silvi, bayi perempuan yang sehat dan juga cantik.
Sementara Papi mengabarkan kalau tidak ada aral melintang pertengahan tahun, Richi akan
menikah dengan kekasihnya yakni Laura Taylor. Semua yang mendengar kabar tersebut
sangat senang dan bahagia. Gadis-gadis dan anak muda saling berpandangan. Mereka
semua akan bertemu lagi dan bertugas sebagai tim sukses pernikahan Richi, tak sabar
menunggu saat-saat menyenangkan hari itu
Jangan lupa likenya gaes, bintang lima dan jejaknya ya gaes
__ADS_1
Penulis sangat berterima kasih.
Bersambung