
Mardo menyelimuti putranya. Ya Rabb dia tidak bisa kehilangan. Apa pun akan ia
lakukan untuk putranya. Termasuk harga dirinya. Perempuan itu menyentuh bibirnya.
Teringat apa yang Richi lakukan padanya. Ia terhanyut dan jatuh kasihan pada Richi
yang demikian menderita. Ia memeluk dan berusaha menguatkannya tapi Richi menanggapi
berbeda. Richi sangat mendendam pada kegagalan demi kegagalannya.
"Pi, maafin Mimi."
Mardo menghapus air matanya. Ia sudah membersihkan diri dan tengah tidur di samping
Dode. Sementara Raka masih dalam perjalanan.
Saat Raka pulang ia tidak menemui Mardo di kamar mereka. Ia berusaha mencarinya di kamar
anak-anak. Dan ternyata Mardo ada bersama Dode.
"Mi."
Raka memanggil istrinya dengan suara perlahan. Tapi rupanya perempuan itu terlelap sambil
memeluk tubuh anaknya. Raka tak sampai hati membangunkannya. Ia membiarkan Mardo
bersama Dode. Raka keluar dari kamar itu dan menuruni tangga menuju ke ruang makan. Ia
ingin menikmati kopi sambil menonton tivi. Setelah memesannya ke mba Winah Raka menghenyakkan
tubuhnya ke sofa. Ia mengambil remote control dan menghidupkan tivi.
Sesaat ia asyik menonton. Ia tidak mempermasalahkan Richi yang seharian membawa Dode
jalan-jalan dan ketiduran di apartemennya. Biasa saja seorang om yang dekat dengan keponakkannya
melakukan hal tersebut. Memang baru kali, agaknya Richi sedang banyak waktu sehingga ingin
menikmati bersama Dode.
"Pak, ini kopinya."
Bi Winah meletakkan kopi tersebut dan berlalu ke belakang.
"Ayah, kok belum tidur."
Tiba-tiba anak perempuannya Tria turun dengan mata sudah mengantuk.
"Eh, anak ayah juga belum bobo sih?"
Tria tersenyum-senyum, "Lapar Yah, ternyata Tria belum makan malam he he he."
Gadis kecil itu beranjak ke belakang memesan mie goreng dan sedikit nasi. Kemudian
kembali ke sofa dan duduk di sebelah ayahnya. Raka meletakkan tangan di pundak
Tria dan mengelus-ngelus penuh kasih sayang.
"Gimana pelajarannya tadi? apakah masih kesulitan?"
"Iya Ayah, aku pusing setiap hari pelajarannya berubah-ubah terus. Setiap kali aku
sudah belajar yang ini, besoknya yang dipelajari berbeda lagi."
"Hemmm, ya memang begitu. Itu tandanya ada kemajuan, supaya banyak pengetahuan
yang di dapat."
"Iya sih, tapi menurutku itu kecepatan Ayah, aku maunya lambat-lambat dan santai, seperti
kakak Prita mengajariku."
Raka tersenyum, putrinya yang satu ini memang berbeda dengan saudaranya yang lain.
Ia lebih senang bermain boneka, bermalasan dan berbelanja barang-barang yang sukai.
"Karena bu guru mempunyai target meski selesai memberikan pelajaran-pelajaran
__ADS_1
yang sesuai waktu dalam setahun, sayangku."
Mereka mengobrol hingga mie goreng dan sedikit nasi terhidang. Tria segera bersiap
menikmatinya.
"Wah, enak nih ayah juga mau deh."
Akhirnya Tria dan ayahnya menikmati mie goreng berdua. Sembari mengobrol.
Mardo yang terbangun mendengar obrolan pria dan gadis kecilnya. Ia keluar dari kamar
Dode dan melihat ke bawah. Air matanya berlinang menyaksikan keakraban putrinya
dan ayah mereka. Ia merasa sesak. Mendekap mulutnya agar tak bersuara.
Mardo tak tahan melihat pemandangan itu. Ia hapus air matanya dan perlahan turun
ke bawah, menghampiri Raka dan Tria.
"Aduh, kalian ini asyik sekali bunda nggak dibangunin sih."
Raka dan Tria menoleh, mereka sudah menghabiskan sepiring mie goreng.
"Oh, bunda terbangun! tadi Pipi ke kamar Dode, lihat Mimi tidur pulas ya udah
Pipi tinggal, kasihan sih lagi mimpi indah."
"Mimi ketiduran nungguin Pipi lama pulangnya, sekalian nemanin Dode."
Kata Mardo sembari duduk di sebelah Raka dan menyandarkan kepalanya pada
Raka. "Kak, pesanan bunda susu coklat dong."
"Ok Bun, Tria buatin aja ya, Tria bisa kok Bun."
Tak menunggu jawaban, Tria bergegas ke belakang. Dan membuatkan susu coklat
untuk Bunda. Ia sering melihat bunda membuatnya hingga ia mengerti dan bisa.
"Makasih sayangku."
Mereka bertiga bercengkrama hingga kantuk datang. Raka dan Mardo mengantarkan
Tria ke kamar dan mencium kening gadis kecil itu."
"Baca doa sebelum memejamkan mata ya cantik Bunda dan Ayahanda."
Tria tersenyum, dan menganggukkan kepalannya lalu berbalik ke kanan, menaro
jemarinya di bawah pipi dan berdoa. Seperti itu yang diajarkan bunda kepadanya.
Selain baik untuk kesehatan juga meniru perilaku Nabi Muhammas Saw.
Raka dan Mardo beranjak ke kamar mereka, "Hari yang melelahkan, aku ingin tidur
di pelukkan kekasihku, istriku yang kucintai."
Laki-laki itu menggendong Mardo ke tempat tidur dan membaringkannya dengan lembut. Ia
mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur. Lalu keduanya berpelukkan memberikan
kehangatan yang indah, dan tertidur amat lelap.
Seorang laki-laki tak sabar menunggu hari berlalu. Ia ingin menelpon dan membuat janji
dengan perempuan yang sangat ia inginkan. Membuatnya terobsesi. Kegagalan demi
kegagalan telah membuatnya mendendam.
Keesokkan harinya Mardo terlihat sering melamun. Ia mengerjakan pekerjaannya tetapi
pikirannya pada Richi. Bagaimana pun ia harus membuat Richi membatalkan maksud
gilanya. Ia mengenal Richi sebagai pribadi yang hangat, manis serta berhati baik. Richi
tidak mungkin tega padanya. Tapi seandainya laki-laki itu memang sudah tidak lagi memiliki
__ADS_1
hati nurani? Ia harus bersiap melakukan sesuatu.
Atau sebaiknya ia mengatakan hal ini pada Raka. Bukankah sudah tidak ada lagi yang
perlu dicemaskan? anak-anaknya hari ini berada di rumah. Ada Cindy, Tria serta Dode.
Mereka saling menjaga dan tidak ada keperluan untuk keluar.
Drettttt! drettt!! dretttt
Bunyi notifikasi di handphonenya. Jantungnya berdebar dan serasa akan copot. Biasanya
ia senang dan ingin cepat membukanya. Tapi kali ini ia membiarkannya hingga mati. Karena
pesannya tak terjawab orang itu menelpon. Mardo mengambil handphonenya dan mendengar
suara Richi.
"Kau sudah membaca pesanku?"
"Belum, aku masih sibuk!"
"Baca! sekarang!"
Dan terputus. Mardo terpaksa membacanya. Dan perempuan itu tertegun sangat lama.
Namun ia memutuskan pergi. Ia yakin bisa mengatasi Richi.
"Bunda mau ke kantor ya?"
Tiba-tiba Tria muncul dan menatapnya yang sedang berkemas.
"Iya, bunda ada perlu. Setelah selesai baru ke kantor. Baik-baik di rumah ya."
"Ok Bun, hati-hati."
Kedua ibu dan anak itu saling tersenyum. Mardo menyambar tasnya dan bergegas.
Sedangkan Tria kembali ke kamarnya. Priti memasuki mobilnya dan menghidupkanya. Ia
menunggu sesaat untuk memanaskan mesin. Sekali lagi ia baca pesan dari Richi.
"Penuhi janjimu! aku menunggumu di sini!"
Mardo membaca nama sebuah tempat. Ia memasang kacamatanya dan mulai melajukan
kenderaan miliknya. Ia membuka kaca mobil dan tersenyum pada penjaga yang sedang
minum kopi, sehabis sarapan.
"Pak, nitip anak-anak ya, saya keluar sebentar."
Laki-laki setengah baya itu, mengangguk-anggukkan kepalanya, sembari membukakan
pintu gerbang sehingga mobil leluasa keluar.
"Siap Bu."
Kemudian menutup kembali pintu pagar.
Bersambung
Tara, hadir lagi nih he he he pengen buru-buru ditamatin. Jangan lupa tetap kasih
dukungan ke Pria Idola ya, like, komen, vote dan bintang limanya.
Othor sangat berterima kasih sekali, love kalian muahhh.
__ADS_1