
Hari demi hari terus berganti, Raka dan Mardo bersama anak-anak mereka hidup rukun
dan bahagia. Tahun demi tahun yang terlalui terlewati tanpa terasa. Rakasiwi tumbuh
menjadi anak laki-laki berbadan besar, tinggi, berkulit hitam manis. Usianya sekarang
sudah lima belas tahun. Tubuhnya tinggi sekali hampir sama dengan ayahnya. Dan
Cindy juga sudah duduk di kelas satu smp. Tria kelas tiga sekolah dasar dan taraaaaa
ada si bungsu yang baru masuk sekolah taman kanak-kanak.
Sepuluh tahun tiada terasa. Cinta Raka dan Mardo mengikat semakin erat serta tiada
berubah sedikit pun. Rumah besar mereka dengan halaman yang luas menjadi tempat
yang cukup untuk anak-anak itu leluasa bergerak. Cindy dan Tria saudara rasa sahabat
keduanya suka sekali bersembunyi di atas pohon manggis, rambutan atau mangga
di belakang rumah. Atau memunguti buah belimbing manis. Kemudian duduk di cottage
yang berada di halaman belakang. Ada beberapa cottage yang bertebaran untuk
bersantai memandangi taman bunga serta pohon-pohon yang mengitari rumah besar
tersebut.
Jika kedua anak tersebut menghilang, sudah pasti keduanya ada di halaman tersebut.
Memetik bunga-bunga atau memeriksa apakah ada buah yang sudah matang. Kedua
putrinya senang sekali bermain di halaman belakang tersebut. Sebab sering menemukan
buah jatuhan yang rasanya lebih enak dari yang di beli. Ada tiga atau
empat pohon durian, dan Mardo pernah mendapati dua anak tersebut sedang menikmati
sebuah durian yang mereka temukan di rerumputan.
Kedua bocah itu memekik kaget disertai ketawa panjang saat Mardo menemukan
mereka yang belepotan buah durian. Ujung-ujungnya Mardo ikut menikmati buah
durian yang tersisa, durian montong yang besar. Sudah sejak lama pohon durian
itu di sana dan mulai berbuah ketika anak-anak sedang bertumbuh.
Rakasiwi juga kadang tak menemukan bunda dan adik-adiknya lantas mencari
di halaman belakang dan akhirnya ikutan bergerilya mencari lagi buah jatuhan.
Sering mereka panen mangga berbakul-bakul, pisang, dan buah-buah lain yang
terhitung jumlahnya, tanah mereka itu sekitar satu hektar. Untuk bangunan rumah
megah, kolam renang, paviliun untuk tamu serta taman bunga. Sisanya kebun
tersebut yang ditanami berbagai buah-buahan.
Beberapa hari sekali ada tukang kebun yang datang merawat dan membersihkan kebun itu.
Sehingga menjadi tempat bermain yang menyenangkan. Anak-anak senang sekali
menghabiskan waktu di sana. Terutama Cindy dan Tria. Putri Raka dan Mardo itu sudah
berusia sepuluh tahun sedang Tria tujuh tahun dan adik bungsu mereka empat tahun.
Sesekali terdengar suara tangisan Dode si bungsu. Pasti kakak Rakasiwinya yang
sangat usil menggangunya.
"Bunda, kakak nakal, kepalaku sakit di jitak."
__ADS_1
Dode menangis keras sekali, Mardo segera mengangkat dan bergegas mencari anak
sulungnya. "Kak Rakasiwi! mana kamu! nggak boleh menjitak kepala adik, berbahaya
kamu tau nggak kak?"
"Ya ampun, cengengnya, aku cuman pegang dikit kepalanya Bun, nggak jitak kok."
Anak lelakinya keluar dan meyakinkannya, Dode melebarkan mulutnya dan tertawa.
"Kena kakak ha ha ha."
"Tuh kan Bun! liat tuh, senang kalau aku kena marah hemmmm!"
Rakasiwi mengeram seperti harimau, membuat Dode hesteris dan memeluk leher
Mardo erat-erat.
"Dode nggak boleh bohong sayang, nanti bunda nggak percaya lagi loh ya."
Mardo memandang mata putranya dan keduanya tersenyum.
"Dasar cengeng tuh Bun, masukkin play grup aja!"
Ancam Rakasiwi, ia tau Dode belum mau pergi ke sekolah. Ia masih mau bermain
dan senang-senang di rumah bersama bunda. Tiap kali bicara sekolah, serta merta
bibirnya mencebik dan menangis. Sebab itu Rakasiwi manakutinya dengan itu.
"Nggak mau!"
"Kalau masih cengeng dan kerjanya digendong terus ya dimasukkin play grup."
"Nggak mau hu hu hu.."
Menangislah Dode sekeras-kerasnya. "Kakak Rakasiwi!"
Mardo berlari berpura-pura akan menjewer anak laki-lakinya itu, mereka berkejaran
tingkah kakak Rakasiwi dan bundanya.
Jika kebetulan ada Cindy dan Tria maka mereka ikutan merubungi Rakasiwi
keadaan rumah itu menjadi sangat riuh, karena Rakasiwi seperti belut sukar sekali
ditangkap. Bahkan oleh mereka berempat. Cindy, Tria mengepung dengan tangan
dan kaki direnggangkan menutup jalan keluar tapi ia tetap bisa lolos.
Ujung-ujungnya Mardo dan anak-anaknya kelelahan dan menjatuhkan diri di kasur
lebar, memejamkan mata. Melihat itu Rakasiwi juga ikut tidur dan serta merta
Mardo, Cindy, Tria dan Dode menangkapnya ha ha ha ha.
"Kakak kena! kakak kena! "
Dode menjerit-jerit dan tertawa, ia bergelut dengan Rakasiwi, Cindy menduduki
kakinya dan Tria memegangi tangannya. Anak laki-laki itu pun hanya pasrah dan
tertawa terkekeh oleh kelakuan adik-adiknya dan bundanya yang seperti anak
kecil.
"Ampun! ampun! ampun!"
Rakasiwi mengaduh-ngaduh, dan Dode malah membekap dan memeluknya
kuat-kuat sembari tertawa, air liurnya menetes ke wajah Rakasiwi, membuat
semuanya semakin tertawa kegelian.
__ADS_1
"Ampun Dek, ampun kakak nggak nakal lagi deh, janji!"
Rakasiwi menghiba-hiba, barulah Dode turun dari perutnya, begitu juga Cindy
dan Tria.
"Makanya kakak Raka, jangan ngeledek Dode terus, ada kita yang membela
hidup duo inces! eng ing eng ing!"
Cindy dan Tria menggerak-gerakkan bokongnya dua kali ke kiri dan dua kali
ke kanan. Mardo kegelian sampai sakit perut melihat kelucuan anak-anaknya
apa lagi saat Dode menirukannya, rasanya perutnya melilit karena kegelian.
Asisten rumah tangga mereka juga terpingkal-pingkal melihat tingkah polah
ke empat anak itu.
"Eng ing eng ing! eng ing eng ing, duo inces beraksi! hiattt eng ing! eng ing!"
Gaya untuk segera beraksi mengalahkan kakak mereka Rakasiwi! Dan memang
gaya tersebut langsung melemahkan anak laki-laki itu, ia tak tahan menahan
kegeliannya.
Ingin dipukulnya bokong adik-adiknya tersebut, tapi ia sudah sakit
perut karena tertawa.
Seperti itulah hari-hari yang dialami oleh Mardo bersama empat anak-anaknya
Ia bersyukur anak-anak itu memiliki sisi homoris serta kelucuan-kelucuan yang
alami, mereka tak benar-benar bertengkar tetapi justru senang sekali saling
menggangu, usil atau memancing-mancing, sehingga hampir setiap hari terdengar
keributan yang bercampur dengan suara tawa dan hesteris.
Kadang kakaknya Rakasiwi bersekutu dengan adiknya Dode melawan dua orang
princes, dan keduanya tetap kalah. Tak bisa melawan akal bulus kedua princes
ayah dan bunda. Sebenarnya sengaja mengalah hanya untuk menyenangkan
duo inces saja.
Setiap tahun setelah menerima rapor, Raka dan Mardo mengajak anak-anak
mereka berlibur di luar kota, kadang mereka ke Bali, Brastagi, puncak atau
sekedar berbelanja di Singapura. Tahun Depan Raka diam-diam merencanakan
liburan bersama anak-anak ke Korea, mengenang bulan madu sebelas tahun yang
lalu, sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan mereka.
Pengumuman.
Hello ikuti terus kisahnya ya Season Dua
Tentang kisah cinta Rakasiwi dengan Prita
Seru sekali. Tetap di Pria Idola season dua
di mulai di episode 114
Bersambung
Jangan lupa like, komen, vote ya
__ADS_1
author sangat berterima kasih