Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 112 Diantara Anak Dan Karya


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti, Raka dan Mardo bersama anak-anak mereka hidup rukun


dan bahagia. Tahun demi tahun yang terlalui terlewati tanpa terasa. Rakasiwi tumbuh


menjadi anak laki-laki berbadan besar, tinggi, berkulit hitam manis. Usianya sekarang


sudah lima belas tahun. Tubuhnya tinggi sekali hampir sama dengan ayahnya. Dan


Cindy juga sudah duduk di kelas satu smp. Tria kelas tiga sekolah dasar dan taraaaaa


ada si bungsu yang baru masuk sekolah taman kanak-kanak.


Sepuluh tahun tiada terasa. Cinta Raka dan Mardo mengikat semakin erat serta tiada


berubah sedikit pun. Rumah besar mereka dengan halaman yang luas menjadi tempat


yang cukup untuk anak-anak itu leluasa bergerak. Cindy dan Tria saudara rasa sahabat


keduanya suka sekali bersembunyi di atas pohon manggis, rambutan atau mangga


di belakang rumah. Atau memunguti buah belimbing manis. Kemudian duduk di cottage


yang berada di halaman belakang. Ada beberapa cottage yang bertebaran untuk


bersantai memandangi taman bunga serta pohon-pohon yang mengitari rumah besar


tersebut.


Jika kedua anak tersebut menghilang, sudah pasti keduanya ada di halaman tersebut.


Memetik bunga-bunga atau memeriksa apakah ada buah yang sudah matang. Kedua


putrinya senang sekali bermain di halaman belakang tersebut. Sebab sering menemukan


buah jatuhan yang rasanya lebih enak dari yang di beli. Ada  tiga atau


empat pohon durian, dan Mardo pernah mendapati dua anak tersebut sedang menikmati


sebuah durian yang mereka temukan di rerumputan.


Kedua bocah itu memekik kaget disertai ketawa panjang saat Mardo menemukan


mereka yang belepotan buah durian. Ujung-ujungnya Mardo ikut menikmati  buah


durian yang tersisa, durian montong yang besar. Sudah sejak lama pohon durian


itu di sana dan mulai berbuah ketika anak-anak sedang bertumbuh.


Rakasiwi juga kadang tak menemukan bunda dan adik-adiknya lantas mencari


di halaman belakang dan akhirnya ikutan bergerilya mencari lagi buah jatuhan.


Sering mereka panen mangga berbakul-bakul, pisang, dan buah-buah lain yang


terhitung jumlahnya, tanah mereka itu sekitar satu hektar. Untuk bangunan rumah


megah, kolam renang, paviliun untuk tamu serta taman bunga. Sisanya kebun


tersebut yang ditanami berbagai buah-buahan.


Beberapa hari sekali ada tukang kebun yang datang merawat dan membersihkan kebun itu.


Sehingga menjadi tempat bermain yang menyenangkan. Anak-anak senang sekali


menghabiskan waktu di sana. Terutama Cindy dan Tria. Putri Raka dan Mardo itu sudah


berusia sepuluh tahun sedang Tria tujuh tahun dan adik bungsu mereka empat tahun.


Sesekali terdengar suara tangisan Dode si bungsu. Pasti kakak Rakasiwinya yang


sangat usil menggangunya.


"Bunda, kakak nakal, kepalaku sakit di jitak."

__ADS_1


Dode menangis keras sekali, Mardo segera mengangkat dan bergegas mencari anak


sulungnya. "Kak Rakasiwi! mana kamu! nggak boleh menjitak kepala adik, berbahaya


kamu tau nggak kak?"


"Ya ampun, cengengnya, aku cuman pegang dikit kepalanya Bun, nggak jitak kok."


Anak lelakinya keluar dan meyakinkannya, Dode melebarkan mulutnya dan tertawa.


"Kena kakak ha ha ha."


"Tuh kan Bun! liat tuh, senang kalau aku kena marah hemmmm!"


Rakasiwi mengeram seperti harimau, membuat Dode hesteris dan memeluk leher


Mardo erat-erat.


"Dode nggak boleh bohong sayang, nanti bunda nggak percaya lagi loh ya."


Mardo memandang mata putranya dan keduanya tersenyum.


"Dasar cengeng tuh Bun, masukkin play grup aja!"


Ancam Rakasiwi, ia tau Dode belum mau pergi ke sekolah. Ia masih mau bermain


dan senang-senang di rumah bersama bunda. Tiap kali bicara sekolah, serta merta


bibirnya mencebik dan menangis. Sebab itu Rakasiwi manakutinya dengan itu.


"Nggak mau!"


"Kalau masih cengeng dan kerjanya digendong terus ya dimasukkin play grup."


"Nggak mau hu hu hu.."


Menangislah Dode sekeras-kerasnya. "Kakak Rakasiwi!"


Mardo berlari berpura-pura akan menjewer anak laki-lakinya itu, mereka berkejaran


tingkah kakak Rakasiwi dan bundanya.


Jika kebetulan ada Cindy dan Tria maka mereka ikutan merubungi Rakasiwi


keadaan rumah itu menjadi sangat riuh, karena Rakasiwi seperti belut sukar sekali


ditangkap. Bahkan oleh mereka berempat. Cindy, Tria mengepung dengan tangan


dan kaki direnggangkan menutup jalan keluar tapi ia tetap bisa lolos.


Ujung-ujungnya Mardo dan anak-anaknya kelelahan dan menjatuhkan diri di kasur


lebar, memejamkan mata. Melihat itu Rakasiwi juga ikut tidur dan serta merta


Mardo, Cindy, Tria dan Dode menangkapnya ha ha ha ha.


"Kakak kena! kakak kena! "


Dode menjerit-jerit dan tertawa, ia bergelut dengan Rakasiwi, Cindy menduduki


kakinya dan Tria memegangi tangannya. Anak laki-laki itu pun hanya pasrah dan


tertawa terkekeh oleh kelakuan adik-adiknya dan bundanya yang seperti anak


kecil.


"Ampun! ampun! ampun!"


Rakasiwi mengaduh-ngaduh, dan Dode malah membekap dan memeluknya


kuat-kuat sembari tertawa, air liurnya menetes ke wajah Rakasiwi, membuat


semuanya semakin tertawa kegelian.

__ADS_1


"Ampun Dek, ampun kakak nggak nakal lagi deh, janji!"


Rakasiwi menghiba-hiba, barulah Dode turun dari perutnya, begitu juga Cindy


dan Tria.


"Makanya kakak Raka, jangan ngeledek Dode terus, ada kita yang membela


hidup duo inces! eng ing eng ing!"


Cindy dan Tria menggerak-gerakkan bokongnya dua kali ke kiri dan dua kali


ke kanan. Mardo kegelian sampai sakit perut melihat kelucuan anak-anaknya


apa lagi saat Dode menirukannya, rasanya perutnya melilit karena kegelian.


Asisten rumah tangga mereka juga terpingkal-pingkal melihat tingkah polah


ke empat anak itu.


"Eng ing eng ing!  eng ing eng ing, duo inces beraksi! hiattt eng ing! eng ing!"


Gaya untuk segera beraksi mengalahkan kakak mereka Rakasiwi! Dan memang


gaya tersebut langsung melemahkan anak laki-laki itu, ia tak tahan menahan


kegeliannya.


Ingin dipukulnya bokong adik-adiknya tersebut, tapi ia sudah sakit


perut karena tertawa.


Seperti itulah hari-hari yang dialami oleh Mardo bersama empat anak-anaknya


Ia bersyukur anak-anak itu memiliki sisi homoris serta kelucuan-kelucuan yang


alami, mereka tak benar-benar bertengkar tetapi justru senang sekali saling


menggangu, usil atau memancing-mancing, sehingga hampir setiap hari terdengar


keributan yang bercampur dengan suara tawa dan hesteris.


Kadang kakaknya Rakasiwi bersekutu dengan adiknya Dode melawan dua orang


princes, dan keduanya tetap kalah. Tak bisa melawan akal bulus kedua princes


ayah dan bunda. Sebenarnya sengaja mengalah hanya untuk menyenangkan


duo inces saja.


Setiap tahun setelah menerima rapor, Raka dan Mardo mengajak anak-anak


mereka berlibur di luar kota, kadang mereka ke Bali, Brastagi, puncak atau


sekedar berbelanja di Singapura. Tahun Depan Raka diam-diam merencanakan


liburan bersama anak-anak ke Korea, mengenang bulan madu sebelas tahun yang


lalu, sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan mereka.


Pengumuman.


Hello ikuti terus kisahnya ya Season Dua


Tentang kisah cinta Rakasiwi dengan Prita


Seru sekali. Tetap di Pria Idola season dua


di mulai di episode 114


Bersambung


Jangan lupa like, komen, vote ya

__ADS_1


author sangat berterima kasih


__ADS_2