Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 243. Lunch


__ADS_3

Prita meluncur di keramaian kenderaan menjelang makan siang. Karyawan-karyawan lain juga melakukan hal yang sama. Tak heran kemacetan di mana-mana. Pagi saat keberangkatan, kepulangan serta jam makan siang merupakan waktu-waktu yang ingin dihindari. Tetapi tidak bisa. Terpaksa Prita menikmati warna-warna tersebut di sela waktunya. Lagi pula di dalam mobil sejuk, serta lagu-lagu pilihan yang menemani.  Kadang lagu-lagu itu membuatnya tak merasakan perjalanan yang menjengkelkan. Begitu rupanya kesenangan  memiliki kenderaan.


Hup!


Prita melompat dari kenderaannya. mengambil kunci dan memencet tombol maka pintu terkunci. Ia memasuki kantor penerbitan milik Mardo. Pak satpam menyambutnya dan mengatakan ibu Mardo ada di ruangannya. Prita segera ke sana dan mengetuk pintu. Mardo mengangkat kepalanya dan tersenyum.


"Bunda sudah siap, ayo."


Mardo tahu sekali bahwa waktu sangat berharga untuk orang yang bekerja. Sebab itu ia telah bersiap sebelum Prita menjemputnya. Prita bilang pakai mobilnya saja, mobil baru, keduanya tertawa. Prita tak bermaksud menyombongkan dirinya. Sebab Mardo tentu saja bisa membeli mobil yang lebih mahal di banding milik Prita. Mardo mengerti, Prita hanya sangat gembira dan ingin berbagi.


"Wah, mobilnya keren sekali Prita! kau gadis yang beruntung."


"Iya Bunda, terima kasih."


Prita membukakan pintu untuk Mardo. Menutup lantas  berjalan memutar  menuju kemudi. Mardo menikmati wangi serta sejuk mobil baru itu. Mardo melihat lagi sosoknya semasa remaja. Prita bersemangat serta mau mengejar keinginannya.  Dia dulu juga begitu. Papi sering sekali membuat chalenge untuknya, Manggara serta Patricia. Setiap kali memulai tahun ajaran baru, maka Papi memberikan chalenge hadiah yang menjadi idaman anak-ananknya. Saat ia kecil ia ingin sepeda mini berwarna pink. Kata Papi ia akan mendapatkannya saat menjadi juara di sekolah.


Maka Mardo kecil belajar dengan tekun hingga akhrinya ia meraih kejuaraan tersebut.  Hingga ia kuliah dan menginginkan mobil pribadi yang mungil. Papi membelikannya. Seperti Prita, ia juga saat itu sangat senang dan bahagia. Ia mengajak teman-temannya test drive keberbagai tempat. Makan-makan untuk merayakan mobil baru. Sama seperti Prita, Mardo mendapatkan mobil baru ketika ia bekerja. Bukan fasilitas melainkan membeli dari uang sendiri. Nikmat sekali rasanya bisa membeli dari uang sendiri. Papi juga sangat bangga saat itu. Tiap kali bertemu family atau temannya yang dekat ia memamerkan kehebatan putrinya.


"Putriku Mardo sudah bisa membeli mobil sendiri, aku bangga sekali padanya"


Begitu selalu yang dikatakan oleh papi pada teman dan saudara. Mardo tersenyum mengenangnya. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Tak jauh di sana tempat yang dimaksud oleh Mardo. Keduanya berjalan  menuju restoran tersebut. Restoran yang pelayannya berpakaian adat salah satu suku di Indonesia.


Mardo bilang sebenarnya ia lebih sering membawa bekal makanan ke kantor. Tetapi terkadang penat dan mudah sekali kelelahan terus menerus di kantor. Jika keluar seperti yang mereka lakukan saat itu bisa menghibur  pikiran dan juga mencuci mata. Sebab itu ia dan teman-temannya masih sering  janjian pergi makan siang sambil singgah di tempat perbelanjaan.


Prita dan Mardo mengambil meja yang menghadap ke taman. Makanannya biasa seperti restoran  lainnya tapi di tempat ini ada hidangan cocktail dengan kelapa muda yang segar. Pesanan nasi putih serta iga bakar serta beberapa tambahakan makanan tersaji cepat. Musik yang lembut menemani para penikmat. Prita mencicipi coctail dengan menyesap dari kelapanya. Di dalam banyak buah-buah bercampur dengan kerokkan kelapa muda. Gadis muda itu tercekat nikmat sekali. Pikirannya segera mengingat mama Risa. Ia akan ajak mamanya untuk menikmati minuman dan makanannya juga.

__ADS_1


"Bunda, apa kabar Rakasiwi?"


Tiba-tiba Prita memberanikan dirinya bertanya tentang kekasih hatinya. Mardo mengangkat wajahnya. Ia memandang Prita.


"Baik, akhir-akhir ini ia sangat sibuk di cafenya. Kangen ya?"


Sontak pipi Prita memerah, oleh tatapan menggoda Mardo.


"He he he."


Prita hanya tertawa tak bisa menjawab. Pertanyaan itu terlontar begitu saja tadi.


"Ketemulah, jangan lama-lama marahannya."


Prita lagi-lagi tersenyum. Ia sangat ingin bertemu tapi agaknya Rakasiwi  masih marah padanya.


Mardo menasehati Prita seperti anaknya sendiri. Sebenarnya beberapa kali ia datang ke kamar anak lelakinya itu. Tapi Rakasiwi menolak membicarakan Prita. Ia bergegas pergi saat Mardo menanyakan yang terjadi. Lalu ia ingin bercerita tentang sesuatu yang Prita sampaikan padanya. Tapi tetap Rakasiwi tak bergeming. Ia sangat sakit saat menemukan kenyataan Prita bersama laki-laki lain di rumah sakit. Bahkan Prita tak mampu berbuat apa-apa saat ia membutuhkan pembelaan. Malah Prita membiarkan dia pergi. Hal itu yang membuatnya sangat kecewa dan sakit.


Akhirnya Mardo tak lagi mencoba. Ia hanya berdoa agar hubungan Rakasiwi dan Prita tersambung lagi. Tetapi agaknya mustahil sebab Rakasiwi telah dekat dengan Melani, seorang gadis manager di cafe Idola. Melani gadis yang pintar serta cekatan. Pekerjaanya bagus dan rapi. Mardo memuji-muji gadis itu beberapa minggu  terakhir ini. Bahkan  Rakasiwi juga telah membawa ke rumah dan mengenalkannya pada ayah dan bunda.


Mardo ingin menceritakannya pada Prita. Tetapi ia menundanya. Dan berharap Prita memperjuangkan cintanya. Sebab Mardo merasa ia nyaman dan dekat bersama gadis itu. Prita yang ia kenal sejak masih kecil. Ia bahkan menjadi pengagum rahasia gadis itu. Tak menyangka gadis kecil yang tersimpat kuat di memori  justru datang di dalam kehidupannya sebagai Prita yang tetap mengagumkan.


Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Melani menurut Mardo sosok gadis muda yang tak kalah menarik. Ia terlihat ceria dan menyenangkan. Ia datang bersama Rakasiwi membawa kue bolu rasa kapulaga kayu manis yang harum. Gadis itu bilang kalau kue bolu kapulaga kayumanis itu buatannya. Ayah Raka, Cindy, Tria dan Dode menghabiskan bolu yang enak tersebut. Dan minta dibuatkan lagi kalau tak keberatan. Sudah dua kali Melani membuatkan bolu kapulaga kayu manis buatannya. Cindy malah ingin belajar. Sebab ia juga ingin membawakan bolu untuk camernya. Mereka janjian saat hari minggu praktek membuat bolu. Mardo sekeluarga sangat terkesan oleh gadis mungil tersebut.


"Prita, Bunda hanya mau bilang, ada seseorang yang Rakasiwi bawa dan kenalkan pada Bunda dan keluarga, ia dengan kelebihan dan kekurangannya berusaha telah menarik simpatik Cindy, Tria dan kita semua."

__ADS_1


Ukh!


Prita nyaris tersedak, ia buru-buru menghirup teh hangat miliknya.


"Seseorang Bun? maksudnya?"


"Seorang gadis yang tak kalah cantik dan menarik!"


"Oh, ja-jadi Rakasiwi ada gadis lain?"


Mardo mengangguk. Ia lantas mengambil jemari gadis itu.


"Tetapi Bunda berharap kau adalah pilihan Rakasiwi yang pertama dan terakhir, Bunda sangat mendukungmu jika berusaha mendapatkan lagi cinta Rakasiwi."


Prita mengigit bibirnya, kelopak matanya berair. Ia terharu oleh kebaikkan Mardo.


"Terima kasih Bunda, Prita akan berusaha."


Gadis itu berusaha menenangkan hatinya yang sangat takut kehilangan Rakasiwi.  Ia berjanji akan berjuang. Pembicaraan tentang Rakasiwi membuat suasana berubah. Untungnya mereka sudah berbincang cukup lama. Perubahan terbesar tampak pada Prita, keceriaannya menghilang. Wajahnya tampak memucat dan murung. Ia bahkan tak ingin masuk ke ruangan Mardo lagi melainkan buru-buru pergi.


'Rakasiwi! cepat sekali kamu melupakan kisah kita, hanya segitu saja cintamu.'


Prita menangis dan terisak-isak, hatinya sakit setelah mendengar nama Melani. Lama sekali ia tak keluar dari mobil, ia menangis di atas setir. Tubuhnya terguncang-guncang oleh kesedihan yang dalam. Ia tak bisa berpikir akan melakukan apa? keinginan bertemu dengan Rakasiwi menggebu. Tetapi ia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu. Tenang Prita, semuanya baik-baik saja seperti biasanya. Selalu ada keberuntungan buat kamu Prita. Gadis itu mengambil tasbih digitalnya. Ia akan menenangkan dirinya dengan tasbihnya.


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2