
Waktu cepat sekali berganti, menikmati tiga tahun di sekolah menengah atas. Masa-masa paling indah seorang remaja. Hari-hari indah dan penuh semangat sebab seseorang yang selalu menemaninya. Cinta pertamanya. Cindy bisa mengatakan itulah cinta pertamanya. Karena dengan kak Rama ia belum merasakan perasaan tersebut. Berbeda ketika pertama bertemu tatap dengannya.
Saat itu kakaknya Rakasiwi belum berangkat ke kota Yogya. Ia mengantar dan jemput Cindy. Pak Mus sedang cuti dan tak berangkat selama seminggu.Cindy bertemu pandang dengan Muhammad Alfredo. Cindy berdebar dan wajahnya berubah. Teman kak Raka itu berwajah tampan dan tubuhnya menjulang seperti halnya kakaknya.
Yang mengejutkan teman kakaknya itu mencandainya seolah mereka sudah kenal.
"Cin, sekarang beda ya, jadi somse, nggak ingat lagi ya."
Cindy seketika menoleh memandang sekali lagi laki-laki itu. Tetapi ia benar-benar lupa, ia mengalihkan tatapannya pada Rakasiwi dan bertanya.
"Siapa kak? aku benaran lupa."
"Hem, gitu aja lupa. Itu yang dulu suka numpang makan di rumah, suka nginap melulu."
Sahut Rakasiwi sembari memukul lengan teman di sebelahnya.
Cindy berusaha mengingat dan lantas tersenyum.
"Aku nggak ingat, siapa sih kak?"
Sebenarnya Rakasiwi tidak memiliki banyak teman, hanya beberapa orang saja. Tetapi yang mana ia tak menyimpan kenangan tentang hal itu.
"Ini kan Alferdo, masa lupa teman kak Rakasiwi sejak di smp."
Barulah terbuka pikiran gadis itu. Tetapi seingatnya dulu Alfredo tidak setampan sekarang. Ia mendekap mulutnya sebab malu.
Gadis itu sontak ceria mengingat salah satu teman kakaknya yang paling sering menginap di rumah dan juga numpang makan. Dia sianak semata wayang orang tuanya. Sering ditinggal tugas sehingga ia menginap di rumah Rakasiwi.
"Dah ingat kan?"
"Iya udah, tapi dulu kakak Alfredo hitam perasaan."
"Enak aja! dari dulu kulit aku kuning langsat, malah udah mau berubah jadi putih langsat."
"Alah sawo busuk gitu."
Raka melirik temannya menggoda.
"Jangan gitu Bro, kuning langsat ini."
"Iya, iya dah."
Mereka tertawa lepas.
Setelah pertemuan itu, Alfredo tak bisa melupakan adik sahabatnya itu. Ia mulai meminta pertemanan di facebook milik Cindy, instagramnya serta medsos lain yang dimiliki gadis itu. Ia selalu menjadi yang pertama berkomentar setiap Cindy mempublish sesuatu.
__ADS_1
Mereka juga mulai chat dan sering mengirim vidio atau hal-hal lucu. Hingga akhirnya Alferdo memberanikan diri mengajak Cindy bertemu. Gadis itu tak menolaknya. Mereka berdua pergi ke sebuah taman yang indah. Dan Alfredo nembak Cindy. Jadilah mereka berpacaran saat Cindy kelas dua smu.
Tentu saja sama seperti hubungan pacaran teman-teman yang lain Cindy dan Alfredo mengalami putus sambung. Hanya saja saat Cindy tak bersama Alfredo dia tidak menemukan laki-laki lain yang menggetarkan hatinya. Ia menyimpan rapi cinta pertamanya itu di dalam hatinya.
Begitu juga dengan Alfredo, tidak ada gadis lain yang menarik hatinya. Ingatannya selalu terpaut pada Cindy. Setiap waktu yang ia lewati saat jauh dari gadis itu ingatannya tak lepas dari gadis itu. Akhirnya ketika mendapat liburan semester ia menemui Cindy dan meminta gadis itu kembali padanya.
Cindy yang pemcemburu dan tak bisa melihat Alfredo bersama gadis lain, menangis dan menghambur ke pelukkan Alfredo. Ia meminta maaf telah menjadi gadis yang posesif. Penyebab berkali-kalinya mereka putus sebab penyakit Cindy tersebut.
Ia tak bisa melihat Alfredo kekasihnya itu bersama seorang gadis lain, berjalan atau sekedar menyapa saat sedang berdua. Cindy langsung kesal dan marah. Padahal Alfredo sudah bilang mereka itu adalah teman-teman semasa smp dan smanya.
Kesal dengan sikap Cindy, ia akhirnya membalas dengan bersikap sama. Ia memeriksa handphone Cindy dan menghapus semua kontak laki-laki. Ia langsung menegur gadis itu saat ia melihatnya bicara dengan teman-teman masa smpnya.
"Itu Deni dan Danang teman smp ku! masa sih mereka dicemburui?"
Sangat tak masuk akal menurut Cindy.
"Loh, kamu juga marah saat aku berbincang-bincang dengan teman smp ku? padahal kami hanya membicarakan acara reuni."
"Nah, makanya sayangku jangan lebay-lebai cemburuannya he he he."
Cindy merajuk memajukan mulutnya yang menggemaskan.
"Ich sok imut banget ayang aku, bikin pengen muah."
Ancam Cindy sambil membesarkan matanya. Alfredo hanya tertawa terkekeh.
Setelah lebih dari empat kali putus nyambung, akhirnya keduanya bersatu kembali dengan sikap yang sudah lebih dewasa. Muhammad Alfredo adalah pria idola Cindy. Belahan jiwanya.
Ketika Rakasiwi dan Prita menikah, Alfredo membisiki Cindy bahwa ia juga tak mau kalah dengan Rakasiwi.
Cindi membesarkan matanya.
"Apaan sih Yang? memangnya perang-perangan? ada yang kalah dan ada yang menang."
Alfredo tersenyum, ia paling suka saat Cindy merajuk, membuatnya terlihat sexy dan mengemaskan. Sebab itu ia seringkali membuat gadis itu membesarkan matanya dan memajukan bibirnya.
" Gimana kalau tahun depan kita menikah?"
Alfredo berbisik lagi.
"Berarti aku sudah lulus kuliah ya? baiklah kesayanganku aku menurut saja."
"Begitu dong Cintaku, setidaknya aku tak kalah banyak dengan sahabatku Rakasiwi."
"Hem, selalu cemburuan dengan sahabatnya sendiri."
__ADS_1
Cindy memukul pelan bahu laki-laki yang duduk di sebelahnya saat menyaksikan pernikahan Rakasiwi. Lagi Alfredo terkekeh. Setelah mendapat lampu hijau dari kekasih hatinya, secara pribadi Alfredo menemui Mardo di kantornya.
Perempuan itu terkejut ketika Alfredo menemuinya di kantor.
"Bunda, apakah saya menggangu?'
Tanyanya dengan sopan dan wajah yang berseri. Pemuda itu memang sering datang ke rumah dan mengajak Cindy pergi. Mardo sudah tahu bahwa Cindy dan Alfredo memiliki hubungan yang khusus sejak lama. Ia tidak pernah mengomentari keduanya.
Mardo tak pernah melarang anak-anaknya bergaul dengan siapa saja. Ia sudah memberikan rambu-rambu mengenai teman yang baik. Siapa Alfredo tak lagi asing baginya. Sejak smp anak laki-laki itu sudah seperti anggota keluarganya.
Ibu Alfredo beberapa kali menemuinya. Ia sangat berterima kasih sebab anaknya boleh menginap di rumah bersama Rakasiwi. Ia menjadi tenang saat bertugas di luar kota. Biasanya jika ibu Alfredo keluar kota terlebih dahulu menelpon Mardo.
"Bunda, minta maaf sebelumnya, Alfredo nginap lagi ya, tak mau dia tinggal berdua dengan ayahnya, sama Rakasiwi saja katanya."
"O, silahkan bu, Rakasiwi biar ada temannya, anteng di rumah."
Teringat hubungan yang baik sejak lama dengan keluarga Alfredo.
"Masuk sini, bunda sedang tak sibuk kok."
Alfredo segera masuk ke ruangan Mardo, sesaat keduanya mengobrol tentang ibu Alfredo dan ayahnya yang sehat dan baik. Hingga akhirnya Alfredo mengutarakan maksudnya.
"Bunda, saya dan Cindy sudah membicarakan hal ini, malam minggu nanti ibu dan ayah akan datang melamar."
Mardo terkejut, ia sama sekali tak siap mendengar hal ini. Cindy sendiri masih di luar kota menunggu jadwal sidang kelulusannya.
"Ka-kalian sudah membicarakannya?"
"Sudah, ketika pernikahan Rakasiwi dan Prita."
Melihat kesungguhan Alfredo, akhirnya Mardo menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih Bunda, jika sudah diijinkan begini, aku dan keluarga akan bersiap-siap."
"I-iya."
Mardo termangu-mangu di depan pintu saat ia selesai mengantar Alfredo keluar. Begitu cepatnya waktu berjalan. Tau-tau putrinya akan menikah. Cindy, gadis kecilnya yang memiliki sifat seperti papanya. Pemberani dan sigap bertindak.
Rasanya baru beberapa hari yang lalu ia mengantar putrinya ke taman kanak-kanak, kemudian sekolah dasar, smp, sma dan mengantarnya mencari kost. Rasanya seperti mimpi. Gadis kecilnya yang suka berteriak-teriak dan cerewet seperti Raka akan menikah. Mardo menghembuskan napasnya. Nanti malam ia akan membicarakan ini dengan suaminya si pria idola.
Bersambung
__ADS_1