Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 40.Rahasia Pak Malik


__ADS_3

Kehilangan seorang sahabat baik seperti Vana sangatlah berat. Mereka, yakni dirinya,  Zamzam, Rose, Betty, Sarah lee dan Halima tak hentinya bersedih dan mengalir air mata selama berhari-hari. Betty mengisahkan bahwa mereka bersahabat sejak sekolah dasar. Merekalah yang paling kehilangan.


"Dia kenapa Do, ceritakan pada kami. Dia sakit apa. Kenapa begitu tiba-tiba."


Mereka mencecar  Mardo, karena sekarang semua orang tahu Mardo bersama Vana saat-saat terakhirnya.


Mardo menegang, karena ia merasa semua mata menuntutnya.


"Aku tidak tau, Vana sejak pagi di sekolah. Ririen adiknya mencari ke rumah. Aku memutuskan ke sekolah dan bertemu Vana di pintu gerbang.  Belum terlalu jauh berjalan tiba-tiba Vana jatuh limbung. Aku menangkapnya. Kebetulan mobil kak Raka lewat. Kami membawa ke klinik yang terdekat. Dan memberitahu pak Malik."


"Aku hanya sedikit mendengar, dokter klinik mengatakan Vana dehidrasi dan gizi buruk."


"Vana, terus menerus puasa, saat berbuka makannya sedikit, dan hampir tidak pernah sahur. Itu sebabnya Vana dehitdrasi dan gizi buruk."


Rose teman sebangku Vana seringkali menemukan Vana sedang puasa.


"Vana menanggung rasa bersalah yang tak berujung. Ia jadi mengabaikan kesehatannya."


Betty dan Rossy berasumsi.


"Dan pengorbanannya serasa sia sia karena papinya tetap ingin menikah."


Ya Allah Vana, kasihan kamu, sekecil itu sudah memiliki masalah yang berat hiks hiks."


"Sudahlah, yang penting sekarang kita mendoakannya, jangan menyesali dan menangis lagi. Itu memberatkan Vana."


Gadis gadis bersahabat itu menggangguk angguk. Lantas mereka pergi ke tempat Sarah lee untuk minum.


Sara lee  bersama ibunya mengelola tempat jajan. Mereka menjual baso serta minuman. Tempat itu selalu ramai karena rasa basonya sungguh enak.  Minuman jus buahnya juga berbeda dengan yang lain.  Pas manisnya. Orang tua Sarah Lee benar benar total memberikan yang terbaik bagi pelanggan pelanggan mereka.  Basonya pun mereka yang membuat sendiri. Dari daging asli.


Dari berjualan baso dan minuman jus itu selama bertahun tahun, orang tua Sara Lee bisa memiliki rumah yang bagus dan nyaman, mobil, motor serta roko dua lantai yang sekarang untuk berjualan baso. Mereka merintis usaha itu dari nol. Sesekali Halima Haremba menjadi karyawan juga di tempat itu. Jika Halima sedang malas pulang ke sebrang maka ia akan menginap di tempat Sarah Lee, dan membantu melayani pelanggan.


Sara Lee menyambut sahabat sahabat baiknya dengan memeluk.  Matanya langsung basah. Tapi ia tak banyak bicara.  Melainkan berusaha menguatkan sahabat sahabatnya.


"Aku buatkan baso dan minuman jus ya,   apakah alpukat?  buah naga? jeruk, jambu, melon, atau sirsak?"


"Aku alpukat saja Lee," kata Zamzam.


"Jeruk panas," jawab Rossy sementara Mardo dan Betty memilih baso serta jus buah naga.


Tak habisnya mereka mengenang Vana.


Richi, Sulaiman dan Husin bersama Halima Haremba bergabung.


Richi menatap pada Mardo,  ingin sekali ia menanyakan kenapa ia bersikap dekat pada Raka. Bayangan Raka dan Mardo yang saling bergenggaman tangan di depan jenazah Vana tak pernah sirna dari kepalanya.


"Do, kamu sudah baikkan?"


Gadis itu menatap Richi," Aku baik baik saja Rich, makasih."

__ADS_1


Richi tersenyum, "Kamu kelihatan sangat terpukul saat itu,  sampai sampai memeluk kakakku,"


Richi tanpa tedeng aling aling mengutarakan keberatannya.


"Oh," Mardo terkejut. Darahnya tersirap. Ia tak menduga Richi akan berkata seperti itu.


"A-aku sangat shok, saat tau Vana tiada."


Richi kembali tersenyum dan mengangguk angguk.


"Iya kita semua terkejut, setelah hampir dua minggu bersama Vana saat liburan."


Baso panas serta jus buah datang mengalihkan pembicaraan mereka.


Seorang pria berjaket hitam dan berkaca mata memasuki tempat itu. Ia mengedarkan pandangannya dan tertumbuk pada Mardo. Ia lama melihat gadis itu.  Lantas memesan baso serta minuman. Ia menulis sesuatu di handphone lantas melihat kembali pada Mardo.


'Dia seorang gadis yang cantik,"  kenapa Theo menginginkannya?"


Pria itu mengerutkan keningnya.


Saat senja mereka semua berjalan-jalan di pantai, serasa ada sesuatu yang kurang. Mereka kehilangan seorang sahabat yang dekat. Kemudian mereka berpencar dan pulang. Richi menawari Mardo dan Betty tapi keduanya menolak, tak mau merepotkan Richi. Lagian sesekali naik angkot tak mengapa juga.


Dan Betty lebih duluan turun, baru kemudian Mardo.


Baru saja Mardo memasuki rumah ketika bang Mangara bilang kalau pak Malik menelpun dan mencarinya.


"Iya tadi katanya begitu, hari ini apa besok?"


Karena masih ada beberpa jam menjelang magrib, Mardo memutuskan pergi ke rumah pak Malik.


Ia berlari-lari kecil dan mendapati Boni yang sedang bermain dengan adik-adik Vana. Rien datang dari dalam dan memeluknya. Kemudian pak Malik keluar dan mengajak Mardo kesebuah tempat. Ia juga mengajak Boni dan anak-anak, tapi beri Papi waktu untuk bicara berdua dengan Mardo. Dan Anak-anak setuju.


Mereka pergi jalan-jalan ke pelabuhan. Pantai di kota Eksotik menjelang malam banyak sekali dikunjungi penduduk.


Pak Malik mengajak Mardo duduk di sebuah  bangku yang menghadap ke pantai.


Sesaat bisu hanya suara ombak dan anak-anak yang berlarian.


"Bapak sangat terpukul Nak, tidak ada firasat apa-apa, ya Allah, ya Rabb."


Pak Malik, berusahan mengendalikan perasaannya, "Vana sampai dehitrasi dan kekurangan nutris, d-dia sengaja melakukannya, setiap hari berpuasa, tanpa makan sahur. Berjalan kaki dari rumah ke sekolah dan sebaliknya."


Laki-laki besar itu mendongakkan kepalanya, mengigit bibirnya. "Bapak bersalah pada putriku, saya sangat menyesal.'


Pertahanannya bobol juga, ia menangis terisak-isak. Mardo menunggu hingga pria itu tenang. Sebelum meninggalnya  Vana, pak Malik ingin bicara dengannya, sepertinya sesuatu yang sangat penting.


"Sudah Pak, biarkan Vana tenang di sisi Allah Swt, semua sudah menjadi kehendak Allah, dan sudah takdir Vana pak, ikhlaskan Vana, doakan dia."


Pak Malik mengangguk-angguk, "Iya kau benar Nak Mardo. Penyesalan tiada berguna."

__ADS_1


"Nak Mardo, apakah Vana pernah bercerita sesuatu kepadamu?"


Pak Malik merendahkan suaranya. Mardo berusaha mengingat, kemudian menggeleng.


"Vana hanya bilang, dia kecewa karena Papi ingin menikah lagi, hanya itu pak."


"Kalau kami semua sahabatnya bisa memaklumi kenapa Papinya ingin menikah, agar ada yang mengurus adik-adiknya."


"Itu sumber dari masalah ini Nak. Namun ada sesuatu membuatnya sangat terluka."


"Terluka?,"


Mardo menatap laki-laki di sampingnya. Dia juga inggat dua bulan terakhir Vana sering termenung dan menyendiri bahkan Vana nyaris terjun ke laut ketika di kapal. Apakah itu berhubungan?


"Siang dan sore itu setelah bapak membicarakan keinginan untuk mencarikan mereka ibu yang baru. Vana marah dan tidak mau menerimanya.  Bapak sangat kesal dan juga marah. Jadi.."


Pak Malik tampak ragu dan gelisah, "Bapak tak mengerti, apakah ini masih perlu diceritakan karena Vana sudah tidak ada, bapak terlambat bicara denganmu."


Dia berdiri dan bersiap meninggalkan aku.


"Pak, katakan! setidaknya bapak akan tenang dan tidak tersiksa  menyimpan sebuah rahasia sendirian."


"Eh, Mmm, apakah ada gunanya lagi."


"Baiklah, semoga pembicaraan ini sampai kepada putriku."


"Jadi malam itu, saat Vana tertidur bapak menggendongnya ke kamar, membuat seolah-olah ba-bapak telah melakukan pemerkosaan terhadapnya."


Mardo membesarkan matanya, Oh! sembari mendekap mulutnya.


"Demi Allah, putriku masih suci, aku tidak menyentuhnya! hanya membuatnya mengerti akan kebutuhan lain."


Mardo membisu, ia tak tau mau menjawab apa.


"Aku ingin bicara denganmu dan menyampaikannya pada putriku, te-tapi terlambat."


Membisu sesaat, "Bapak bisa tenang sekarang, Vana adalah putri bapak yang masih suci."


Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa Mardo ucapkan.


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2