
Cindy sebelum mengenal Alfredo teman kakaknya Rakasiwi memiliki kisah cinta. Kata orang namanya cinta monyet. Tetapi lumayan indah dan berkesan. Cikidot kita mulai saja ya. Saat Cindy di smp.
"Bunda, bunda! bun...bangun donk dah setengah lima! Bundaaaa! Ayah,"
Suara cempreng terdengar wara wiri membangunkan bunda, ayah, Babay dan adik-adiknya. Cindy memanggil kakak lelakinya Rakasiwi dengan Babay. Kadang Babay, tak jarang juga kak Rakasiwi. Semau-maunya Cindy. Ia memanggili semua penghuni rumah yang masih terbelengu oleh udara dingin ac dan hangat selimut.
Suara cempreng itu tak lain suara Cindy Bramantyo. Anak perempuan kedua di dalam keluarga itu. Sudah kebiasaan baginya bangun sangat pagi dan menjadi Cinderella. Gadis kecil yang cerewet, lincah dan seperti bola bekel tersebut baru saja pindah sekolahnya. Dari sekolah dasar tak jauh dari rumah ke sebuah smpn di pertengahan kota.
Cindy sedang semangat-semangatnya bersekolah di smpn yang sangat sulit masuk ke sana. Lagi pula ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya bisa masuk ke sekolah favorit. Disiplin bangun pagi, membereskan tempat tidur miliknya, menyapu kamar, dan membawai baju-baju kotor ke belakang menjadi kebiasaannya. Cindy tidak suka kamar dan rumah yang berantakan. Barang-barang harus pada tempatnya dengan rapi. Tidak suka debu, bau pakaian yang bersangkutan. Baginya rumah harus rapi, bersih dan wangi.
Sementara kakak dan adik-adiknya kebalikkannya. Mereka sering sekali bergelut di ruang keluarga. Saling lempar bantal hingga ruangan itu seperti kapal pecah. Bahkan kadang saling kejar mengejar seperti kucing dan tikus. Suara Rakasiwi dan Dode memenuhi rumah, ditambahi oleh Tria yang entah dipihak siapa. Kadang ia memancing di air keruh sehingga Rakasiwi dan Dode bergelut tiada habisnya.
Saat-saat mereka masih kecil rumah besar itu masih terasa sempit jika sudah bermain perang-perangan. Rakasiwi sering naik ke atas kursi dan melompat ke atas karpet yang lembut. Begitu juga Dode dan Tria. Tiap hari sepulang sekolah, apa lagi jika hari libur. Terdengar suara berantem yang seru.
"Hiat! terimalah tendanganku!"
"Ciat! tidak kena! we we."
"Hiat hiat! "
Lantas terdengar langkah kaki berlarian ke belakang, depan, garasi hingga dapur. Ramai dan seru anak tiga itu. Setelah lelah atau ada yang menangis barulah terdengar sepi, meninggalkan bekas bertengkar yang berantakan. Cindy biasanya yang mendapati keadaan itu. Ia membereskan bantal-bantal kursi yang berserakkan. Bekas mainan di mana-mana. Kadang ia menyembunyikan mainan Rakasiwi dan Dode. Hingga keduanya kembali bertengkar dan saling tuduh menuduh.
Kalau sudah parah, barulah Cindy memberitahu ia menyimpan mainan itu. Tentu saja sambil berpesan agar jangan membuat rumah berantakan. Sebab ia tidak suka melihat hal itu lagi. Biasanya kedua anak laki-lak itu hanya bersungut-sungut. Sampai ia dijuluki Cinderella. Sebab senang sekali beres-beres dengan kain lap di tangannya.
"Cin, sana mandi dulu, nanti Bunda yang terusin pekerjaanmu."
Tanggung Bun, dikit lagi selesai."
Mardo hanya terkagum-kagum, setiap hari putrinya itu cekatan, telaten dan pintar. Entah siapa yang ditirunya, karena ia sendiri tidak terlalu pusing dengan keadaan rumah, ibu dan saudarannya faham dan sangat mengenal dirinya yang acuh dan malas beres-beres.
Ketika ia belum memiliki anak-anak, piring menumpuk di pencucian piring dua-tiga hari atau sampai piring bersih di rak habis barulah ia mencuci piring. Demikian juga baju dan pakaian, jika belum menumpuk setinggi gunung belum ingin ia menyentuhnya. Sepatu suami dan sepatunya bergelatakan di mana saja sesuka hati, jam tangan, dompet dan sebagainya.
Meski seperti itu mertuanya sangat menyukai dan menyayanginya, hampir setiap bulan berkunjung dan dengan senang hati merapikan rumah dan membereskannya. Memang sih mulut mertuanya tak berhenti berkomat kamit saat ia meletakkan barang-barang pada tempatnya, " Ini tempatnya di sini loh Nak, yang ini di sini...sebaiknya ibu membelikanmu lemari barang lagi yang lebih besar untuk menyimpan barang-barangmu ya."
Dan mereka pergi ke mall untuk mengisi rumah. Rapi dan bersih saat mertua datang tapi beberapa hari kemudian rumah kembali seperti kapal pecah, satu kamar yang kosong penuh dengan pakaian yang belum di setrika. Barang-barang dan entah apa saja yang sebenarnya jika dirapikan ruangan itu bisa untuk kamar tidur tamu atau tempat yang nyaman, tapi satu kamar itu adalah untuk menyembunyikan keberantakan.
Mertuanya terpaksa mencarikannya lagi asisten rumah tangga yang sudah berapa kali ganti. Hingga akhirnya menemukan yang betah bertahun-tahun. Mardo tak pernah memarahi, mencereweti pembantu-pembantu yang bekerja di rumahnya. Mami mertua yang mengajari dan mencontohkan apa-apa yang mesti dilakukan setiap hari. Mardo hanya menerima bersih saja.
Setelah para pelayan mengerti pekerjaannya dan melakukan dengan benar, baru mami mertua pulang.
"Bun, berangkat ya."
Cindy sudah berdiri di depan Mardo yang masih duduk di kursi sejak bangun tadi. Cindy tersenyum mengambil telapak tangan untuk dicium.
"Masih jam setengah enam Cinta."
"Biasa juga setiap hari berangkatnya jam segini kok Bun, dari pada kejebak macet."
"Oh ya sudah, kok Babay belum berangkat ya?"
"Mentang-mentang punya motor Bun, berangkatnya dilambat-lambatin."
__ADS_1
Mardo hanya tersenyum simpul. Ia juga ingin dibelikan motor seperti Rakasiwi, diantar mobil nggak asyik.
Nggak ada peluang ketemu cowo-cowo ganteng. Teman laki-lakinya dan kakak kelas banyak yang naik motor ke sekolah. Sepertinya asyik sekali. Pemandangan cowo yang mengajak cewenya naik motor merupakan hal paling keren baginya.
"Cindy berangkat ya bunda, ayah, sampai ketemu lagi."
Cindy bergegas memasuki mobil yang telah siap mengantarnya ke sekolah. Beberapa menit kemudian biasanya pak Edy supir sudah kembali dan berikutnya mengantar Tria dan Dode.
***
Cindy membaca buku cerita sepanjang perjalanan ke sekolah. Kemudian memasukkan buku ceritanya saat sampai di gerbang sekolah. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada pak supir lantas memasuki gerbang sekolahnya yang megah. Ia bertemu Kiki yang rumahnya berdekatan dengannya. Orang tua Kiki pemilik wisma Langit biru di pinggir jalan.
Keduanya saling menyapa dan tersenyum.
"Hello Cindy, kok nggak pernah mampir ke wisma lagi?"
"Oh, banyak pr Ki, nanti deh ya."
"Ok, kutunggu ya, yuk aku ke kelasku."
Cindy menganggu. Dia juga bergegas ke kelasnya. Dan mendapat sambutan meriah.
"Cindy, ya ampun loe lama banget sich! udah gwe bilang jangan jadi Cinderella dulu dwonk, cepetan deh gwe belum ngerjain PR fisika. Buruan bentar lagi Mr. Umbrella datang...duhhh matiii gweee."
Cewe putih, rambut halus sepinggang dan agak gemuk memaksa di depan kelas.
"Yee salah sendiri. Males dipelihara! PR ini gampang dasar maunya nyontek melulu dasarrr."
"I walk a lonely road the only one that i have ever know. Don't know where it goes..But it's home to me and i walk alone....."
"Woiii nyanyian apa tuh? baru ya?"
"Aduh kagetin aja sih nih anak, katanya tadi malam sakit_ nggak sekolah hari ini."
"Mendadak pagi ini merasa sehat Cin, jadi gwe berangkat dong_ masalah buat loee?"
Ih itu lidah nyebelin banget, batin Cindy.
"Cin, itu lagu Boulevard of broken dreams by green day yaa? gwe juga dengar di Nuansa semalam, asyik yaa lagu itu."
Dan berdua melanjutkan obrolan di bangku tak perduli kelas yang hingar bingar oleh kedatangan genx anak-anak. Waktu itu lagi musim genx-genx-an, yang tak punya genx kasihan deh tersisihkan jadi demi segala macam hampir setiap anak-anak masuk kedalam genx yang mereka sukai. Atau membentuk genx, kesannya serem ya genx padahal sih yang hanya kumpulan anak-anak yang baru gede he he he.
Tak sadar hampir satu jam, kok Mister Umberella, sebenarnya nama aslinya Pak Azis Sipayung belum masuk kelas. Tapi anak-anak acuh saja. Belum ada yang punya kesadaran ' Rugi bandar' he he he maksudnya sudah sekolah mahal-mahal kok senang saja guru tidak masuk mengisi pelajaran. Malah menduga sendiri saja kalau Mister sedang tugas ke luar kota.
Jadi deh Cindy, Shaskia Simamora ( Maunya dipanggil Ara waktu pertama kenalan) plus Fani teman sebangku Ara membentuk segitiga untuk bergosip ria tentang kaum Adam. He he he ini topik nomer satu selain yang lain. Maklum masih pada menjomblo.
Beberapa bulan lalu ketiga cewe abg itu baru saja membentuk genx, mengingat pertemanan mereka lumayan lama dan akrab, agaknya tak salah kalau saatnya membentuk genx seperti yang lain untuk mengaktualisasikan diri he he he atau sekedar ikut-ikutan saja, memang tak boleh? masalah buat loeee ( lidah menjulur dan bergetar)
Cindy memberi nama genx mereka Hubsche Maechen, emailnya genx hubschemaedchen@gmail.com jayus abiz hwee hwe hwe...
"Apaan Cinta artinya Hubsche Maedchen?" Ara merengkuh leher Cindy, kebiasaan anak itu memang demikian, kalau tak melihat mulut orang secara dekat tidak puas.
__ADS_1
"Kata ayah Gwe perempuan cakep dan smart."
"Ohh gitu ya? " Hemmm, benar banget kita kan orang cakep dan smart he he he."
Semua setuju mereka bernaung dibawah genx Hubsche Maedchen, anggotanya Cindy, Ara , dan Fani. Sementara
Wina teman sebangku Cindy sudah terdaftar pada genx lain, apa boleh buat padahal Wina duduknya dekat dengan mereka.
Nyaris dua jam terlewatkan begitu saja, suara wak wek wok alias mengobrol. Padahal beberapa bulan lagi ujian akhir masuk smu. Malah senang kalau tidak ada guru... ohhh I'm free I'm free_ kata-kata favorit semua anak-anak.
" Eh sis, malam minggu kita dapat undangan si ganteng loh_ dia sweet seventeen!"
"Hah si Unusual shape udah 17 tahun? Gwe 15 tahun."
" Memang Napa? cocok githu ama loe?"
Ara gelinjangan centil, masalah gitchu sis?
"Patungan kado berapa kita genx hubsche maedchen?"
Itu deh salah satunya keuntungan punya genx, lebih berhemat uang saku he he he...
"Nanti pulang sekolah kita mampir ya Grage mall."
Sippp!.
"Dan sore kumpulnya di rumah Fani aja Cin."
"Ok, siap sis."
"Awass ya Cin, kalau sampai telat, jangan jadi Cinderella dulu, biarin aja sesekali rumah loe berantakan, heran Gwe mah dari segitu banyak anggota keluarga cuman loe doang yang rajin, mudah-mudahan loe nanti dapat pengeran ganteng seperti Cinderella dongeng."
"Aamiiin, itu impian utama Gwe sis."
Sahut Cindy kalem. Kedua teman dekatnya cuman mesem.
"Jangan terlalu bersih juga kali Cin, biarin berantakan dikit buat kumis."
"Gwe mah ogah yang kumisan Fan."
"Dihh, kan mancho sis, kayak itu loh."
Kembali mereka membicarakan yang namanya laki-laki. Pokoknya topik yang sangat menarik bagi mereka.
Dan setelah semua beres mereka balik ke rumah masing-masing dan bersiap menghadiri pesta sweet seventeen seorang anak laki-laki yang ganteng dan menjadi impian anak-anak perempuan di sekolah paling terfavorit di kota tersebut.
Bersambung
__ADS_1