Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 47. Sesuatu Di Pelabuhan


__ADS_3

Pria Idola Raka menikmati makan malam di suasana  yang hangat, ceria juga indah. Hanya beberapa saat namun keduanya puas dan gembira. Kedekatan hati antara Raka dan Mardo  semakin kuat. Senyum yang terukir di bibir mereka serta mata yang saling menatap menceritakan rasa yang  tak bisa dilukiskan.


Hembusan angin laut mengeraikan rambut serta gaun pesta yang dikenakan oleh Mardo. Bunyi debur ombak serta orang-orang laut masih terdengar. Pelabuhan tak pernah sepi. Nelayan pencari ikan juga mewarnai sudut pelabuhan kota Eksotik. Kapal-kapal pencari ikan bersandaran di pojok pantai. Sebagian tengah berada di tengah laut untuk mencari ikan.


"Masih mau duduk-duduk menatap laut atau langsung pulang?"


Raka menatap gadis belia di sebelahnya. Gadis itu melihat jam tangannya, "Langsung pulang saja ya."


Raka mengangguk kemudian keduanya menuju mobil yang terparkir di depan restoran.


Saat melintas di pelabuhan Mardo terkesiap melihat sesosok bayangan yang sangat ia kenal. Bang Mangara, kenapa ia ada di pelabuhan? Mardo menahan Raka agar berhenti. Keduanya melihat sosok Mangara yang berjalan sendirian di pelabuhan.


"Sedang apa bang Mangara di sini?"


Raka tak menjawab, selain menatap pada bayangan Mangara yang berjalan di bawah bayang bayang pohon nyiur.


"Aku akan menemui abangku."


Tak menunggu jawaban, Mardo membuka pintu mobil dan bergegas menyusul abangnya.


"Bang Mangara!" Mardo berteriak, dan Mangara menghentikan langkahnya.


Mardo terkejut ketika ia telah dekat dengan abangnya. Mangara kusut dan seperti baru saja mendapati musibah.


Raka menyusul dan berjalan pelan pelan di belakang Mardo.


"Kau kenapa Bang?"


Tiba tiba Mangara menjatuhkan barang barangnya dan terisak mendekap wajahnya.


Hal yang membuat Mardo menjadi cemas. Bang Mangara tidak pernah sehancur ini. Ia adalah pria yang kuat dan memiliki sisi homoris. Pasti ada sesuatu yang terjadi.


Mardo buru buru memeluk dan menguatkan abangnya yang sempoyongan. Dan akhirnya mereka terduduk di pasir. Mangara menangis sesengukan.


"Bang, katakan padaku apa yang terjadi? jangan menakutiku."


Mardo berusaha menenangkan Mangara. Menghapus pipinya yang dipenuhi air mata.


Sampai akhirnya Mangara tenang. laki laki muda itu menarik napas dan lantas menghembuskannya. Ia melakukannya beberapa kali untuk menenangkan dirinya.


"Clara sudah tidak ada ho ho ho...," Mangara terisak lagi. Mardo membesarkan matanya, apa pendengarannya tak salah? beberapa hari yang lalu mereka masih vidio call an.


"Clara Jakarta? meninggal Bang?"


"I-ya, sungguh malang nasibnya Do, kurang ajar pria pria yang sudah memperkosanya, semoga mereka dibalas dan membusuk di neraka."


Astaqfirullahulajim. Mardo mendekap mulutnya.


"A-apakah berita itu benar? bisa dipercaya?"

__ADS_1


"Jaenal yang mengabari abang Do, dan beritanya viral di Instagram dan facebook."


"Ya Allah, semoga kak Clara mendapatkan surga terindah, orang tuanya sabar dan tabah."


Mardo tercekat, air matanya merembes. Betapa tragisnya hidup gadis cantik itu.


"Do, abang mau ke Jakarta. Abang tak pamit sama Papi Mami. Tolong nanti kasih tau mereka ya Dek."


Mangara tiba tiba bangun meraih tas ranselnya.


"Tapi dengan apa bang Mangara pergi, hari sudah malam Bang."


Mardo mencemaskan abangnya.


Raka mendekat dan mendengarkan pembicaraan itu, laki-laki muda itu  melihat keraguan sekaligus duka yang raya di matanya. Raka sangat mengerti kalau Mangara ingin cepat sampai dan melihat penguburan kekasihnya. Serta merta ia mengajak Mangara ikut dengannya.


Raka berssedia membantu Mangara  berangkat secepatnya ke Jakarta. Ia bisa mengusahakan helikopter untuk segera berangkat ke bandara mengejar penerbangan terakhir malam itu.


Mereka bertiga meluncur ke bandara perintis. Dan heli sudah menunggu saat mereka sampai. Mangara berpelukkan dengan Raka, mengucapkan terima kasih dan menitipkan Mardo adiknya. "Tolong jaga adikku."


Raka mengangguk angguk, sesaat saling menatap dan menggenggam.


"Aku juga tak akan tahan jika kekasihku mengalami hal seperti itu."


Raka bergumam, tiba tiba ia memeluk Mardo ke dadanya, erat dan kuat.


"Aku mencintaimu Do. Aku sangat mencintaimu."


Lalu mendadak pria idola seperti anak kecil yang takut kehilangan dirinya.


"Ach sana, jangan cari kesempatan dalam kesempitan."


Sembari menghapus sisa sisa air mata yang tergenang.


"Aku limbung mendengar kejadian itu, peluk aku sebelum jatuh,"


Raka aleman, ia tak sepenuhnya melepaskan pelukkkannya.


Mardo merasakan pelukkan hangat seperti abangnya, ia lantas membalas pelukkan Raka.


"Bilang saja kak Raka ingin dipeluk kayak bang Mangara, hemm cemburuan ya."


Keduanya tersenyum dan tertawa geli.


"He he he, iya aku jealous sama bang Mangara, untung dia abangmu jadi aman."


Huh!


Setelah mengantar Mardo pulang, Raka meluncur ke pelabuhan dan menyimpan mobilnya.

__ADS_1


Ia terkejut melihat kamarnya yang berantakan dan hancur lebur. Apa lagi beberapa gitar kesayangannya  rusak akibat dibanting dan sengaja dipukul pukulkan.


"Richi Bramantyo!"


Raka hesteris, bergegas ke kamar adiknya.


Pak Bramantyo yang baru saja akan masuk ke kamar terkejut mendengar suara yang hesteris.


"Richi! Richi! kau apakan kamarku? gitarku? apa kamu sudah gila!"


Raka berteriak teriak dan menendang nendang pintu kamar Richi yang terkunci.


"Hei buka pintunya! jangan lari sembunyi tangan, Richi!!!"


"Raka, ada apa?"


Pak Bramantyo membesarkan matanya, ia keheranan melihat kemarahan anak sulungnya.


"Papi lihat saja kamarku! Richi menghancurkan kamarku!"


Raka bergegas ke depan. Ia akan tidur di kamar tamu.


Pak Bramantyo mengetuk ngetuk pintu Richi, tapi sepi. Ia lantas berjalan ke kamar Raka dan terperangah melihat kamar yang seperti kapal meledak. Ia memanggil istrinya dan berdua membicarakan hal itu.


Keduanya keheranan. Kedua anak itu memang sering sekali bertengkar tapi tak separah ini.


Pak Bramantyo dan istrinya lantas memanggil pelayan untuk merapikan kembali kamar Raka.


Malam yang penuh kejadian tragis itu pun kembali tenang.


Richi mendekap tangannya erat, saat mendengar kemarahan Raka di pintu kamarnya.


Ia juga menutupkan selimut saat Papi memanggilnya. Ia tak menyesal telah melakukan tindakkan tak terpuji pada kakakknya. Jika Papi, Mami marah  ia memiliki alasannya sendiri.


Sementara Raka di kamar tamu, mencopot baju dan celananya. Membuang dengan kesal ke lantai. Richi keterlaluan! setan apa sih yang merasuki anak itu? Raka mengomel sembari melangkah ke kamar mandi.


mengucurkan air dingin dan mencoba di kulitnya. Ia mengibas ngibaskan rambutnya yang basah. Menaro shampo di rambutnya mengucek ucek dan membilas lagi. Ia juga dengan cepat menumpahkan sabun cair ke tubuhnya. Wangi yang enak merebak. Hingga akhirnya selesai. Raka keluar sambil membungkus rambutnya, setelah itu menghanduki tubuhnya dan termenung. Apakah Richi begitu marah padanya? Richi tau ia pergi bersama Mardo?


memangnya mereka sudah jadian? buktinya Mardo membuka diri untuknya.


Raka sempat bingung sesaat. Namun rasa lelah membuat matanya mengantuk. Ia terjatuh ke atas pembaringan dan terlelap begitu cepat.


Papi berada di luar kamarnya, ingin mengetuk dan bicara dengan putra sulungnya. Namun pria itu menahan tangannya, hari telah begitu malam. Papi akhirnya kembali ke kamarnya.


Bersambung.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2