
Rumah besar berhalaman luas yang jarang terbuka itu kini di penuhi orang yang ingin mengucapkan duka cita.
Jenazah belum lagi sampai dari rumah sakit tetapi kursi-kursi yang disediakan oleh karyawan dan pengurus
rumah tangga telah penuh . Tidak ada yang percaya anak laki-laki cakep, ganteng serta menyenangkan itu
meninggal muda akibat kecelakaan.
Rama dan teman-temannya tidaklah mengebut atau memenuhi jalan serta ugal-ugalan. Saat itu mereka semua berada di pinggir jalan dan akan melewati lampu merah di sebuah belokkan. Tidak seorang pun menduga ketika tiba-tiba saja sebuah kenderan tronton merangsak dari samping menyambar satu demi satu pengendara moge yang berada di tepi hingga kemudian terbanting menerjang satu angkot yang berada paling depan.
Bunyi benda keras yang memekakkan telinga membuat semua orang terkejut dan berlarian ke sana. Pemandangan
paling mengerikan terlihat di depan mata mereka. Motor-motor besar terbalik terlempar dan terbanting ke berbagai
arah, pengendaranya berjatuhan dengan luka parah, ada yang meninggal di tempat. Sisanya segera dilarikan
ke rumah sakit.
Tak lama ambulan datang membawa jenazah, tangis hesteris menyambut tubuh yang telah terbujur kaku.
Papa dan mamanya juga terlihat lemas tak berdaya. Air mata telah kering bahkan telah kehilangan
kesadarannya. Ibu Rianty selama ini dikenal sebagai wanita yang tegar sama sekali tidak terlihat, yang ada
adalah seorang perempuan yang tiada hentinya menangis dan memanggil nama anak semata wayangnya.
"Rama, jangan tinggalkan mama Nak. mama tak sanggup hidup tanpa kamu! Rama! Ramaaaaaa!"
Wanita itu kembali melemah. Beberapa orang tetangga dan kerabat memeluknya, mengelus dan berusaha
membesarkan hatinya. Tetapi ia tidak mendengarnya sedikit pun hanya Rama yang ada di pikiran dan
mulutnya.
Petugas yang memandikan mayat anaknya datang dan mengurus hingga siap mengantarkan ke peristirahatan
terakhir. Kembali terdengar perempuan ibunya meraung-raung tak membolehkan anaknya dibawa dan
dikuburkan.
"Rama! Ramaaaa jangan pergi sayang! jangan tinggalkan mama! Ramaaaaa!"
Para wanita kembali berusaha membesarkan hati perempuan itu, meski mereka juga menitikkan air mata.
Sekolah dan kota itu berduka atas berpulangnya Rama Regawa serta tiga yang lain. Dua orang masih kritis.
"Cintah, kak Rama Regawa meninggal, Inna lillhi wa inna ilahi rojiun."
"Rama Regawa meninggal!"
Cindy mendekap mulut mendengar berita itu. "Ya Allah! apakah aku tidak salah
dengar?"
__ADS_1
Gadis itu pias, tak percaya. Semua anak-anak sekolah mendengar berita itu dan berangkat untuk mendoakan
Rama, termasuk bapak kepala sekolah datang untuk mengucapkan bela sungkawa.
Deni dan Danang datang menyamper Fani, Ara, Cindy. Mereka pergi bersama untuk bertakziah. Ramai dan
penuh sesak. Jenazah setelah di sholatkan di masukkan ke mobil jenasah dan dibawa ke pekuburan umum
di pinggiran kota.
Banyak yang berdoa untuk Rama, apa lagi hari itu hari jumat, pak ustaz sendiri sampai tersendat suaranya
oleh keharuan yang menyeruak, air matanya menitik. Ikut merasakan kehilangan yang amat sangat
sebagai orang tua. Ia pun pasti sangat sakit jika putranya pergi meninggalkan dirinya seperti itu.
Doa yang panjang untuk Rama Regawa serta taburan bunga mawar serta melati memenuhi pusaranya.
"Kak Rama, mungkin aku bermimpi tadi malam pergi bersamamu naik moge di tengah kota. Mungkinkah
waktu itu kak Rama ingin mengatakan bahwa kak Rama sudah memiliki moge dan ingin mengajakku
naik motor moge itu?"
"Kau ingin mengajakku touring naik moge bersama teman-temanmu."
Cindy menghapus air matanya. Meski pun Rama belum lagi menyatakan apa-apa, tetapi ia
"Kak Rama selamat jalan, beristirahatlah dengan tenang di sisi Tuhanmu,"
Cindy mengirim doa Al fatihah untuk kakak kelas pengagumnya itu.
Ara, Fani dan teman-teman lain ikut berlinangan air mata. Mereka semua kehilangan sosok yang baik, ceria dan ramah. Orang tua Rama lunglai tiap kali menyadari anaknya telah tiada. Tak percaya hal itu telah terjadi.
Papa kak Rama yang biasanya berkharisma sekarang merunduk dipenuhi kesedihan dan kehilangan.
"Rama, kenapa ini terjadi padamu sayang? kenapa Nak?"
Berkali-kali ia mengeluh dan menyalahkan keadaan yang membuatnya kehilangan putra kesayangannya.
Lalu semuanya pulang ke rumah masing-masing, apa lagi sholat jumat sebentar lagi sudah dimulai.
Orang-orang akan melupakan hal itu tetapi tidak dengan ibu Rianti dan suaminya. Keduanya
berdiam diri dalam kamar masing-masing. Tidak merasa lapar dan haus. Kerabat mereka masih
tinggal untuk membesarkan hati kedua orang yang berduka cita tersebut.
Ketika sekolah telah dimulai, Cindy dan teman-temannya telah pindah ke smun orang-orang masih membicarakan kecelakaan maut itu. Sekarang Cindy, Ara, Fani, Wani dan yang lainnya bersekolah di tempat Rama dulu sekolah. Jadi guru-guru selalu mengenang kak Rama sebagai anak yang baik, penolong dan perhatian sama temannya.
Guru-guru mengenang Rama sebagai siswa yang berprestasi dan orang tuanya banyak sekali menyumbang
setiap tahunnya. Mereka hampir setiap tahun mengirim satu ekor sapi ketika hari kurban
__ADS_1
idul adha. Pantas saja seluruh guru merasa sangat bersedih dan kehilangan anak yang baik, ramah
serta pintar. Rama bahkan telah diterima di perguruan tinggi pilihannya. Sangat menyedihkan.
Satu hal yang selalu menjadi pemikiran Cindy, mimpi ataukah roh kak Rama yang telah datang malam
itu menjemputnya untuk naik moge di tengah kota? serasa begitu nyata dan rambutnya basah saat ia terbangun.
Cindy merasa ia menyentuh kak Rama, memeluk pinggangnya dan mendengar bunyi moge yang sangat jelas. Suara hujan, desau angin serta suara kak Rama, itu nyata dan ia rasakan.
"Ya Allah, benarkah aku bertemu dengan kak Rama saat terakhirnya?"
Tidak pernah terjawab. Suasana yang sangat berbeda dengan masa di smp. Cindy sudah lebih besar dan dewasa. Begitu juga teman-temannya. Terkadang jika lowong Cindy berkumpul bersama teman-temannya. Kebanyakan masih bertemu di sma tersebut.
Dan hari itu seorang wanita datang ke sekolah mencari Cindy. Dia datang tepat saat pulang
sekolah dan menunggu di ruang piket. Ibu guru yang sedang piket menyuruh seorang anak
untuk mencari Cindy , dan tak lama gadis muncul dengan mata penuh tanya. Perempuan itu memandang Cindy lalu tersenyum kecil. Ia mengenakan kacamata hitam.
Perempuan itu lantas mengenalkan dirinya sebagai ibu Rianty, yakni ibunya Rama Regawa.
"Oh, ini tante mamanya kak Regawa? ya Allah! bagaimana kabar tante?"
Cindy memang baru sekali saja melihat perempuan ini dan sekilas saja ketika penguburan anaknya.
Ia benar-benar lupa. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Karena suasana memang sangat ramai oleh hilir-mudik siswa, tante Rianty bertanya apakah
Cindy mau ikut dengannya untuk mengobrol di sebuah tempat makan? Tak pikir panjang ia menyanggupinya.
Ia lalu pergi berdua dengan perempuan itu dengan mobilnya. Cindy sesekali melirik perempuan yang lembut dan selalu tersenyum manis itu. Dia bertanya-tanya ada apa dan kenapa mama kak Rama menemuinya. Perempuan ini apakah telah bisa mengobati luka hatinya yang teramat dalam akibat kepergian putra kesaayangannya?
Aura kesedihan itu masih terlihat jelas.
"Kita makan siang di sini, ok."
"Ok tante, terima kasih."
Cindy tak banyak cakap selalu mengiyakan apa yang dikatakan oleh perempuan itu. Ia dengar Kak Rama tidak memiliki seorangpun saudara. Ia anak tunggal. Tante Rianty pasti sangat kesepian sejak kak Rama meninggal.
Bersambung
__ADS_1