Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 219.Bingung Memulai Dari Mana


__ADS_3

Usai meeting itu Raka tak bisa memejamkan mata. Pikirannya terpusat pada bisnis orang tuanya di kota Eksotik. Kenangan masa kecil menari-nari. Mulanya Ia dan adiknya hanya tahu bahwa Papi mereka adalah pedagang antar pulau. Papi pergi meninggalkan keluarganya berbulan-bulan. Ia bilang berdagang ke sebuah kota yang sedang berkembang. Papi membawa berbagai barang-barang untuk dijual di kota eksotik dan kota Merauke. Barang-barang jualan Papi berkisar tiga hingga empat mobil. Ia dan temannya membawa mobil-mobil tersebut ke pelabuhan Tanjung Priok, kadang juga ke Tanjung perak. Di sana mobil-mobil yang bermuatan barang tersebut dimasukkan ke dalam kapal dan mereka memulai perjalanan ke kota Eksotik dan kota Merauke.


Raka pernah mengikuti Papi membawa dagangan ke kota-kota tersebut. Jadi Raka mengetahui apa yang Papinya kerjakan berbulan-bulan. Pulangnya barang-barang dagangan itu ludes dan uangnya terkumpul. Selanjutnya Papi dan karyawannya berbelanja lebih banyak dan kembali berlayar. Hingga akhirnya Papi memutuskan pindah ke kota Eksotik dan membuka bisnis di sana. Ia bisa memiliki dua buah kapal yang hilir mudik membawa penumpang dari kota Surabaya ke kota Eksotik. Juga puluhan kapal motor pencari ikan serta alat transportasi penduduk yang berdiam di pulau-pulau sekitar kota Eksotik.


Bisnis Papi Bramantyo berkembang dengan cepat. Tidak semua orang di kota kecil itu mampu membayar tiket pesawat perintis yang mahal. Pilihan jatuh pada kapal laut meski memakan waktu lebih lama. Sebulan sekali kapal laut pak Bramantyo berlayar ke Surabaya. Membawa para pedagang-pedagang antar pulau. Anak-anak sekolah yang berlibur atau karyawan, guru-guru saat cuti dan kembali pada keluarganya di Jawa. Kapal selalu penuh dan tumpah ruah. Demikian riuh rendahnya bisnis serta perjalanan laut antar pulau saat itu.


Setelah sukses meraup keuntungan di kota Eksotik. Papi Bramantyo melebarakan sayap bisnisnya ke kota Merauke. Tanah dataran serta suasana kota merauke membuat Papi jatuh cinta dan membangun hotel  di sana. Untuk bisnis sekaligus untuk berlibur keluarga. Setelah hotel, merambah membuat super market serta perguruan tinggi swasta.


Selama bertahun-tahun Papi menghidupi keluarga serta ratusan karyawan dari bisnisnya tersebut. Banyak orang yang mengantungkan kehidupannya pada Papi Bramantyo. Raka memikirkan kelanjutan karyawan yang telah mengabdikan dirinya puluhan tahun. Para pekerja pelabuhan dan banyak sekali yang mendapatkan penghasilan dari adanya bisnis orang tuanya.


"Sudah malam Pi, mikirin apa?"


Mardo yang melihat Raka masih melamun di sofa kamar tidur mereka mendekat dan memeluk bahunya.


"Oh, iya Mi. Aku memikirkan bisnis Papi di kota Eksotik."


"Tapi ini sudah malam Pi, jaga kesehatanmu."


Raka menyentuh lengan istrinya lantas berdiri dan bergandengan tangan menuju ke tempat tidur. Sejenak Raka melihat putra mereka yang terlelap di balik kelambu.


"Rama, nyenyak sekali tidurnya."


Gumamnya, Sementara Mardo sudah membaringkan tubuhnya pada tempat tidur yang lembut dan nyaman. Ia menghadap pada Raka yang sedang bersiap pula untuk tidur. Keduanya saling bertatapan, tersenyum kemudian mendekatkan wajah.


"I luv you Mi."


Bisik Raka sembari mengecup lembut dahi istrinya, dibalas dengan kecupan juga.


"Luv you too Pi."


Balas Mardo lembut di telinga Raka. Setelah itu mereka menghadap ke kanan, Sebab Mardo ada di kanan jadilah Raka yang memeluk tubuh istrinya, sedang Mardo mengenggam lengan suaminya. Keduanya tertidur nyenyak menghabiskan malam.


Pagi harinya, suasana rumah masih ramai oleh keluarga. Ada Mangara, Patricia serta anak-anak mereka. Juga Ada Khairani dan suaminya. Raka menemui mereka semua dan mengobrol.


"Bang."


Panggil Raka. Ia teringat saran abang iparnya itu untuk meregenerasi perusahaan papinya.


"Bang, katanya waktu itu abang mau cari bisnisan sampingan. Kayaknya sekarang saat yang tepat. Bagaimana kalau abang yang mengurus bisnis di kota Eksotik. Kebetulan abang pernah tinggal di sana, jadi sudah tau seluk beluknya."


Laki-laki itu tercekat.  Dia memang mencari bisnis sampingan, tapi nggak sejauh itu. Mangara tersenyum.

__ADS_1


"Paling abang bisanya hanya memberi saran, nasehat. Kalau tenaga sudah tak ada lagi Ka."


Mangara menolak secara halus. Sedangkan Patricia dan suaminya tak tertarik. Mereka sudah memiliki pekerjaan dan bisnis sendiri.


"Kalau saran abang, untuk semantara waktu pegang saja dulu. Sambil menunggu Rakasiwi dan Cindy menyelesaikan study mereka."


Raka akhirnya hanya mengangguk-angguk.


"Iya sih bang, padahal aku dulu sudah berbisnis saat belum lagi lulus sekolah."


"Bedalah, jaman dulu memang anak-anak lebih cepat matang."


Mereka lantas tertawa. Mangara menyuruh istri dan anak-anaknya bersiap karena mereka harus kembali.


***


Rakasiwi sudah berjanji pada Priti akan mengantar gadis itu ke kantornya.  Ia sangat prihatin saat Priti cerita ia ke kantor dengan moge. Ia mengenakan celana jeans. Tetapi sampai di kantor ia langsung ke toilet mengganti celana jeansnya dengan rok sepan. Merepotkan tapi ia menikmatinya. Raka bilang ia tak akan membiarkan pacarnya menjadi koboy ibu kota.  Selama ia di Jakarta  akan antar dan jemput  Priti  setiap hari. Dan jika ada waktu senggang ia mengajari Priti menyetir.


"Rakasiwi! aku merepotkan dirimu. Aku biasa kok naik moge ke kantor."


Prita membuka pintu mobilnya dan duduk di sisi Rakasiwi. Pria muda itu hanya tersenyum dan segera meluncur.


"Makasih ya, aku merasa bagaimana gitu he he he."


"Seperti nyonya Rakasiwi ya?"


Priti menolehi Rakasiwi dan pipinya merona. Ia tersenyum. Wajahnya menjadi terlihat segar seperti mawar yang terkena embun pagi.


"He he he, tau aja."


Priti bergumam tak jelas. Rakasiwi juga mendongakkan wajahnya. Ia senang sekali berada di sisi Prita pagi ini.


"Nggak lama lagi, aku wisuda, gimana kalau kita tunangan dulu?"


Prita menggigit bibirnya. Ia berdebar dan pipinya semakin merona.


"Em, ter-terserah dirimu calman."


Jemari Prita meremas roknya. Ia tak menduga Rakasiwi  akan membicarakan tentang mereka. Meski semula Priti merencanakan ingin menikmati terlebih dahulu kesendiriannya bersama mama Risa. Tetapi ia bisa mengubah rencana tersebut. Sebab ia bisa membahagiakan mamanya bersama Rakasiwi.


"Kapan wisudanya?"

__ADS_1


"Nggak lama lagi, dah daftar."


Lantas sunyi, kebersamaan yang terjalin memang telah membuat keduanya memiliki ikatan. Tapi tetap saja keduanya malu membicarakan mengenai yang satu itu. Hingga tak terasa tempat Priti bekerja telah di depan mata.


Raka menghentikan mobilnya. Keduanya berpandangan.


"Terima kasih ya."


Rakasiwi tersenyum dan mengangguk.


"Aku juga ke cafe idola."


"Ok, hati-hati."


"Jam berapa pulangnya? aku jemput di sini ya."


"Nanti aku wa in kalau dah mau pulang kantor,"


Raka mengangguk, lalu meluncur meninggalkan Priti yang masih berdiri memandangi kekasihnya. Belum lagi ia beranjak saat sebuah mobil berhenti tak jauh darinya. Seorang pria muda keluar dari mobil. Ia tercenung mendapati Prita diantar seorang laki-laki yang tampan.


"Siapa itu tadi?"


Matanya melirik pada mobil yang tengah berbelok ke jalan raya.


"Tunanganku!"


"Bohong! kamu bohong!"


Wajah Boy menegang dan ia berteriak setengah marah. Hal yang membuat Prita terkejut.


"Ke-kenapa? aku tidak bohong!"


Boy menarik Prita ke dalam lift dan napasnya memburu. Keluar dari lift laki-laki itu menarik Priti yang meringis kesakitan. Boy menggenggam tangannya keras.


 


 


 


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2