
Hai, assalamualaikum pembaca Mangatoon
Selamat membaca kisah kasih dari kota Fak-fak, Papua
Raka dan Mardo. Semoga kalian suka ya, jangan lupa tinggalin jejak
Like, komen dan vote yaa, aku pasti membalas.
***
Gadis-gadis ribut saat tahu malam itu Richi janjian pergi bertiga dengan Nona Black Sweet.
Sarah Lee terpaksa ikut menemani Halima yang menarik-narik tangannya sampai mau lepas.
"Tapi beta juga minta dibeliin kaos ya, smart casual, begitu aku membacanya di majalah."
"Iya, iya beres."
Mereka semua mengetuk kamar Mardo yang membukanya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa sih? sepertinya gawat."
Gadis-gadis cemberut, "Itu, Richi pergi jalan-jalan menikmati malam bersama Halima dan Sarah Lee! kita nggak diajak."
Hemm, Mardo melebarkan bibirnya. 'Bukankah Richi ada janji dengan Halima, ia janji akan membelikan gadis itu kaos sebagai ganti kaosnya yang hilang."
"Bukankah kalian juga janji padanya?"
Semua keributan itu berakhir dengan diam. Mereka kembali ke kamar masing-masing.
"Hei, janji adalah hutang, kalian mesti membelikan Halima kaos juga ya."
Tak ada yang menyahut.
Mardo geleng-geleng kepala, melihat kelakuan teman-temannya. " Tapi apa salahnya jika Richi mengajakku juga ya? aku sangat suka ke mall. Aku ingin tahu mall di kota Merauke, hemm."
***
Liburan mereka baru benar-benar terwujud keesokkan harinya.
Sulaiman menelpon semua kamar gadis-gadis.
"Hello! girls, siap-siap ya, jam tujuh kita semua sarapan di restoran selanjutnya berangkat menikmati liburan."
Gadis-gadis menjawab setengah mengantuk, "Ok Sulaiman, terima kasih pemberitahuannya."
__ADS_1
Selanjutnya gadis-gadis bersiap dan berdandan secantik-cantiknya.
Halima membangunkan Sarah Lee yang masih menelungkup di pembaringan yang lembut, enak sekali tidur di kamar sebuah hotel. Sarah Lee baru bisa tidur menjelang tengah malam. Karena Halima sibuk mencobai semua kaos-kaos yang dibelikan Richi, ada sepuluh baju kaos. Begitu banyaknya namun ia merasa sayang memberikan satu saja kepada Sarah Lee. Akhirnya Richi membelikan dua kaos yang disukai oleh Sarah Lee. Itu pun Halima masih cemburuan. Terlalu! Gumam Sarah Lee.
"Cepat bangun Sarah Lee!, kenapa torang masih nungging-nungging begitu, sudah siang Lee."
Halima tak sabar ingin memamerkan kaos barunya, dandanannya yang semakin bagus, bahkan sekarang ia juga sudah mahir pakai bulu mata. Sarah Lee saja tak bisa. Sahabatnya itu menggeleng-gelengkan kepalanya merasa takjub.
Merasa tenang dan nyaman setelah melaksanakan sholat subuh. Mardo selalu menyempatkan berdoa memohon keselamatan keluarganya, teman-teman yang sedang bersamanya. Kemudian ia melipat mukenanya dan bersiap. Gadis-gadis janjian turun bersama ke restoran. Ia mendengar teman-temannya memanggil di depan kamar.
"Nona! nona cantik! ayo kita turun!"
Halima dan Sarah Lee memangilnya.
"Iya, aku sudah siap kok Halima."
Membuka pintu kamar, membesarkan mata melihat Halima sangat keren.
"Wah! Halima, torang cantik sekali dan keren! baju baru ya? bagus Halima, kamu pintar memilih."
Berondongan pujian membuat Halimah sangat senang, "Ini tidak norak kan non? warnanya bagus ya?"
"Tidak norak Halima, ini kaos bagus, pastinya harganya mahal. Kau beruntung dibelikan kaos oleh Richi."
Gadis Papua itu paling bersemangat dan paling gembira. Senyumnya selalu terukir di bibirnya yang tipis.
Jadilah mereka barengan ke restoran.
Sulaiman berjalan paling depan, gadis-gadis mengikuti sembari berbincang-bincang seru.
Mereka mengomentari kepergian Halima, Sarah Lee bersama Richi tadi malam. Mereka cemburu karena tidak diajak. Sarah Lee membela diri, Richi hanya ingin membelikan Halima kaos, karena sudah janji.
Tetap saja, Betty, Zamzam, Rose, Vana serta Mardo janjian akan pergi ke Mall besok malam tanpa mengajak Halima dan Sarah Lee.
Tapi kedua gadis itu santai dan tertawa saja, toh mereka bisa pergi juga. Mereka tau jalan ke Mall itu. Sangat dekat dengan hotel, bahkan masih menyatu dengan hotel. Hanya mereka yang tau ke mall itu. Halima dan Sarah Lee hanya senyum dan tertawa geli.
Gadis-gadis mengambil tempat. Mereka mendekatkan beberapa meja agar bisa bersama-sama. Selanjutnya mengambil sendiri makanan dan minuman sesuka hati mereka. Zamzam berduan dengan Rossy, Betty bersama Vana, sedangkan Halima menempel seperti perangko pada Sarah Lee.
"Kamu mau apa Halima?, semua enak nih."
Halima mengikuti apa yang dilakukan oleh Sarah Lee. Sedangkan Mardo mengambil minuman hangat dan kue-kue. Ia belum selera menyantap makanan berat. Vana dan Betty mencicipi bubur ayam. Zamzam dan Rossy membawa buah-buah yang dipotong. Mereka berkumpul di meja yang sudah di dekatkan.
Zamzam memberitahu Mardo bahwa diantara makanan itu ada daging rusa juga. Setiap orang yang datang ke kota Merauke mestinya menikmati kuliner khas kota Merauke itu.
"Ada dendeng rusa, semur daging rusa, sate juga sop."
__ADS_1
Mardo mendengarkan dan akan mengambil makanan lagi. Kemarin pagi untuk pertama kalinya ia mencicipi daging rusa. Ternyata sarapan di hotel banyak daging rusa juga.
Sembari menyuap makanan mereka berbincang-bincang. Sulaiman bertanya pada teman-temannya apakah mereka mengetahui asal mula nama kota Merauke? Tidak ada yang tau. Sulaiman bilang asal mula nama Merauke berasal dari orang Belanda yang pertama memasuki wilayah itu. Ia menanyakan nama daerah itu pada seorang penduduk asli. Saat orang Belanda itu bertanya, si penduduk asli tidak mengerti bahasa Belanda dia hanya menjawab. 'Maro Ka Ehe' Yang artinya sungai
Akhirnya orang Belanda tersebut menyebut Merauke dan hingga sekarang.
Kota Merauke dikenal sebagai yang paling ujung di Indonesia. Wilayahnya mirip dengan Australia. Flora dan faunanya juga tak jauh beda. Bahkan ada hewan yang mirip kangguru. Lebih kecil dan imut dari Kanguru Australia.
"Apakah nanti kita melihat kanguru Merauke?" Tanya Mardo.
"Tentu, kita ke taman Nasional, lihat saja nanti."
Asyik! Gadis-gadis tak sabar untuk memulai liburan mereka.
"Hei, teman-teman! kalian sudah sarapan ya? ayo makan sepuasnya agar tak kelaparan."
Richi muncul dan menyapa teman-temannya. Ia sejenak berdiri di dekat meja. Kemudian beranjak mengambil sarapan. "Richi, nanti malam kita ke mall ya."
Gadis-gadis masih penasaran, karena Richi pergi diam-diam hanya bersama Halima dan Sarah Lee.
"Boleh, kalian mau memborong ya? nanti kuantar dan kutemani ya."
"Asyik, kita ke Mall Ros, Halima dan Sarah Lee tak boleh ikut lagi. Besok khusus untuk kami saja."
Sarah Lee cemberut, "Torang terus saja jealous ich, pergi sana. Kita sih mau tidur, pasti nanti pulang dari berlibur kelelahan."
"Kita pasti pergi ke mall wee!."
"Sana saja pergi!"
Zamzam, Rossy saling meledek dengan Sarah Lee dan Halima.
Hingga gadis-gadis di restoran itu terpana oleh kemunculan pria idola dan dua teman-temannya.
Mereka melihat pada meja tempat Richi dan teman-temannya. Sekejab saja, kemudian mengambil tempat dan duduk menunggu. Pelayan datang menanyakan sesuatu pada Raka dan kawan-kawannya.
Pria itu, memesan sesuatu dan menunggu. Lantas memanggil adiknya.
Segera Richi menghampiri abangnya iru.
Raka menanyakan acara adiknya hari itu. Raka bilang mereka akan pergi ke pantai Lampu satu untuk menikmati pantai terkenal di kota Merauke itu. Pria idola mengangguk-angguk, ia bilang tetap hati-hati. Ia bersama Deni dan Sammy akan mengikuti mereka. Richi tak menolak.
Saat matahari terbit sepenggalah, mereka menuju mini bis yang sudah siap di depan hotel. Sedang Raka dan temannya naik mobil biasa. Deni yang mengenderai. Mereka bergerak keluar kota menuju hamparan belantara hingga nanti mereka sampai ke pantai laut Arafura.
__ADS_1
Bersambung