
Cindy menuruni tangga yang berada di tengah-tengah dan langsung turun ke lantai bawah. Terkadang perlu bergerak untuk kebugaran. Rambutnya yang panjang sebahu tergerai-gerai bebas. Ia mengenakan baju dress casual bermodel sederhana. Semua yang melekat pada tubuhnya menyatu dan menjadikannya cantik, mempesona. Apa lagi barusan ia dan kekasihnya Alfredo membicarakan keseriusan keduanya untuk menikah. Di awali dengan pertunangan. Wajah gadis itu berseri dan bahagia.
"Bunda, Cindy mau ke kantor nih, otw. Bunda jangan pergi dulu ya."
Cindy menelpon Mardo. Perempuan itu belum memikirkan makan siangnya sebab hari ini pekerjaan sudah selesai. Ia berpikir akan pulang dan makan bersama suaminya jika laki-laki itu sudah pulang dari kegiatan sosialnya.
"Ok, bunda tunggu."
Cindy segera meluncur ke kantor bundanya, tidak terlalu lama ia sudah sampai dan memeluk pinggang ibunya.
"Bunda, ada yang ingin Cindy bicarakan he he he."
Seperti gadis kecil ia menyandarkan kepalanya ke lengan ibunya. Mardo mendekap Cindy, ia selalu merasakan Cindy masih gadis kecilnya yang sering merajuk, pemarah dan cerewet.
"Kok bunda jadi deg deg deg an, apa nih jadi tak sabar."
Mardo menarik hidung mancung gadis kecilnya yang sekarang sudah dewasa.
"Bunda, kita pergi makan siang atau pulang?"
Mardo bilang ia ingin pulang dan makan di rumah. Ia sudah pesan makanan di cafe pria Idola terdekat dan segera sampai di rumah. Mardo juga bilang, siapa tau ayahnya sudah pulang. Mereka berdua bisa mendengarkan apa yang ingin dibicarakan oleh Cindy.
"Ok, kalau begitu kita pulang sekarang ya Bun."
Ibu dan anak itu berkemas lantas bergegas keluar. Supir sudah menunggu di depan gerbang. Mardo dan Cindy duduk bersebelahan. Mardo menyentuh jemari putrinya mendekatkan dirinya dan memeluk lagi gadis kecilnya itu.
"Gimana pekerjaan di perusahaan? lancar Nak?"
"Alhamdulillah Bun, hari ini aku sudah menanda tangani kerjasama dengan Diana. Gadis berbakat yang menciptakan kue penutup. Besok ia mulai bekerja dan membuat kue penutup."
"Selamat ya, kamu menemukan gadis yang berbakat untuk bekerja perusahaan."
"Iya Bun, semoga kerjasama ini berumur panjang."
"Aamiin yra."
Kenderaan sampai di rumah dan masuk ke dalam garasi. Keduanya segera turun dan berjalan menuju ke rumah yang nyaman. Rama dan Dode sedang asyik bercengkrama sampai tak mendengar langkah-langkah kaki bunda dan kakaknya.
"Duar!"
Cindy mengejutkan kedua adiknya itu. Rama hanya menyunggingkan senyumnya yang menggemaskan. Cindy menmcium pipinya adiknya itu.
"Kok somse sih, nggak nyambut bunda dan kakak."
Anak laki-laki itu hanya tertawa, dan melanjutkan permainannya dengan Dode.
"Yang, ayah sudah pulang belum?"
__ADS_1
Mardo memeriksa kamar, tapi agaknya Raka belum pulang. Akhirnya Mardo duduk di sofa tak jauh dari Rama dan menelpon suaminya.
"Ya, Hello Mi."
"Pipi di mana? masih lama pulangnya?"
"Sedang di jalan Mi, sebentar lagi sampai."
"Ok Pi, ditunggu, mau makan siang bareng-bareng."
"Siap Mi."
Mardo menutup telponnya. Ia bilang pada Cindy ayahnya sudah di perjalanan pulang. Perempuan itu masuk ke kamar dan menganti bajunya dengan daster berwarna biru. Sementara Cindy tetap dengan baju tersebut. Jika ada hal yang penting ia harus kembali ke kantor.
"Assalamualaikum, ayah pulang. Rama! Dode! Tria! Cindy!"
Seperti kebiasaannya jika pulang, selalu memanggil nama semua anak-anaknya yang ada di rumah. Anak-anak itu akan berlarian menyambutnya. Mengambil tasnya, menyiapkan tempat duduk di sofa yang terlebih dulu di tepis-tepis. Biasanya Tria yang membuka jas ayahnya. Dode membuka kaos kaki, Rama membuka dasi dan Cindy membawakan minuman untuk ayahnya.
"Waalaikumsalam, ayah pulang!"
Mereka semua berlarian menyambut laki-laki tampan dan kharismatik itu. Sesaat rutinitas di sofa itu berlangsung. Mardo dan Cindy menyiapkan makanan dan menatanya.
"Ayah, makanannya sudah siap."
"Ok sayang, ayo Rama, Dode, Tria kita makan sama-sama."
Mengambilkan nasi dan menaronya di piring. Hingga semua kebagian. Lauknya juga diambilkan. Barulah mereka memulai makan siang tersebut.
"Cindy ada yang diomongin Pi."
Mardo setengah bergumam pada Raka. Laki-laki itu mengangkat kepalanya dan memandang pada Cindy, kemudian mengangguk-angguk.
"Makasih Bunda, aku dan Alfredo sudah membicarakan acara pertunangan kami. Kalau tidak ada aral melintang minggu ini atau minggu depan. Aku perlu mengkonfirmasi tentang waktu yang ayah dan bunda miliki. Juga tentunya saran dan nasehat dari bunda dan ayah."
Meski sudah menduga sejak awal, tetapi keduanya sebagai orang tua merasa terkejut. Jadi sekarang Cindy akan bertunangan lalu menikah. Satu demi satu anak-anak mereka akan pergi membangun rumah tangga seperti dirinya dulu bersama Mardo.
"Cindy sudah yakin dengan Alfredo Yah, bunda. Dia akan menjadi imam bagiku dan kelak anak-anak kami."
Raka dan Mardo saling bertatapan.
"Ayah selalu ada waktu, bunda juga. Silahkan saja, terserah Cindy dan bunda saja yang mengatur."
Raka tak banyak kata, langsung setuju dan menyerahkan semuanya pada Mardo dan Cindy sendiri.
"Gimana kalau sabtu malam minggu Pi, kita buatnya di cafe Rakasiwi."
"Oh ya, acaranya di sana."
__ADS_1
"Jadi ayah dan bunda setuju Cindy buat acara lamarannya di cafe kak Rakasiwi hari sabtu?"
"Urus kamu lah, Ayah ok."
"Baik Yah, terima kasih."
Bersamaan pembicaraan mengenai pertunangan selesai, makan siang yang nikmat itu pun juga usai. Gadis itu merasa sangat lega, selangkah lagi ia akan memasuki fase berikutnya di dalam kehidupannya. Ia menelpon Alfredo.
"Besok sabtu, ayah dan bunda siap untuk acara lamarannya."
"Oh ya? alhamdulillah? ok aku juga akan memberitahu mama dan papa, kami akan siap-siap."
Keduanya sama-sama tercenung di dekat handphone. Sangat mendebarkan. Cindy berlari ke kamarnya dan memeluk guling dengan gemas. Ia akan bertunangan dengan cinta pertamanya, pria idolanya. Saat itu akan datang. Ia tak bisa membayangkannya. Begitu meresahkan tapi sekaligus tak sabar untuk menjalani kehidupan yang baru itu.
Cindy belajar dan melihat ayah bersama bundanya. Kakak laki-lakinya dan Prita. Mereka sangat bahagia menjalani kehidupan rumah tangga. Gadis muda itu memiliki impian sejak lama, hidup berdua dengan pria yang ia cintai dan juga mencintainya.
Alfredo melompat dan berteriak girang di ruangannya. Ia segera menyambar kunci mobilnya dan pergi menemui mama dan papanya di gudang. Ia berlarian menemui orang tuanya.
"Pa, Mama hari sabtu lusa, sore aku harap papa dan mama bersiap untuk melamar Cindy Larasati untukku!"
"Hei jagoan, yang tenang, sini duduk dulu minum, baru ngomong pelan-pelan. Papa tak jelas."
Biasa, laki-laki itu suka mengganggu anaknya dengan pura-pura tak mendengar. Ia duduk di sofa dan mengangkat kakinya sebelah dan menaro lengannya di sandaran kursi. Lalu ia menyilahkan Alfredo menyampaikan maksudnya. Mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat suami dan anaknya itu. Anak cuman semata wayang tapi dikerjain melulu. Begitu batin mama Alfredo.
"Apa sih? yang jelas! keras dan tegas!"
"Papa hari sabtu lamarkan Cindy Larasati untukku!"
Alfredo berteriak di depan laki-laki itu. Barulah dia mengangguk-angguk. Dan serius membicarakannya. Mama lega melihatnya.
Tara!!! masih berlanjut Gaes, dukung pria idola ya, jangan lupa likenya dan komentarnya
Othor sangat berterima kasih.
Bersambung
__ADS_1