Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Eposide 130. Sering Bertemu


__ADS_3

Pagi telah kembali lagi. Prita bersiap bertemu gadis kecil  yang belum bisa membaca. Ia menjauhkan


dirinya memikirkan Yunna dan Elsa. Ia fokus dengan pekerjaannya.  Hari ini Prita sengaja membawa


sebuah buku cerita yang menarik, kemarin ia menyempatkan waktu pergi ke toko buku untuk membeli


sebuah buku cerita.


Ia harus menarik minat Anggie dengan buku-buku cerita. Ia membeli buku cerita bergambar binatang


dongeng serta putri, dan ia berharap sebuah buku cerita sudah membuat gadit itu pintar membaca.


Dan gadis kecil itu menyambutnya dengan ceria. Berbeda sekali dengan saat pertama ia datang.


Bibirnya cemberut dan ia kemalasan dengan sifat yang keras. Untung ia sudah berkali-kali bilang


bahwa seorang gadis cantik harus pintar, dan kepintaran berawal dari bisa membaca. Sebab


semua pelajaran kan harus dibaca. Gadis kecil itu mengangguk-angguk.


"Baiklah gadis kecil yang cantik, hari ini kakak Prita  membawakan dua buah buku, yang satu


bercerita tentang ayam kecil  yang hebat, dan yang satu lagi ceritanya si Untung dan bangau


ajaib. Kedua buku ini bagus, kita baca yang mana dulu? Anggie boleh milih."


Prita memperlihatkan kedua buku tersebut. Gadis kecil yang bernama Anggie tersebut melirik


ke kiri dan ke kanan. "Hi hi hi hi ayam kecilnya kok bawa koper ya, seperti orang saja hi hi."


Anggie geli melihat gambar seekor anak ayam yang pergi dari rumahnya untuk berpetualang.


"Ini saja!"


Anggie memilih buku yang berjudul 'si koko anak ayam yang hebat'. Prita lantas menyimpan


buku yang tidak terpilih dan mereka fokus pada sebuah buku yang menjadi pilihan. Prita terlebih


dahulu mengajak membaca bismillah, agar belajarnya dimudahkan.


"Yuk kita  mulai dengan membaca judulnya ya, hurup s dan i berarti di baca si


k dan o dibaca ko si koko ayam yang hebat."


"Si Koko anak ayam yang hebat."


Prita terkejut, karena Anggie langsung bisa mengerti  saat ia mengabungkan hurup demi hurup


meski perlahan tetapi Anggie mendapatkan kemajuan. Mereka lanjut ke halaman berikutnya.


Tersebutlah sebuah perkampungan kecil. Di sana tinggallah keluarga ayam.


Kampung itu biasanya selalu tenang dan damai. Tetapi hari itu induk ayam


panik karena di atas melayang-layang burung elang yang mengintai anak-anak


ayam.


Induk ayam menyuruh anak-anaknya masuk ke dalam bulu-bulunya hingga


tidak lagi berkeliaran. Burung Elang akhirnya hinggap di sebatang pohon


dan menunggu induk ayam lengah.


Lama sekali induk ayam duduk dengan kedua sayapnya terbentang. Induk ayam


harus membawa anaknya ke kandang di sebrang. Bagaimana caranya


sementara burung elang masih mengintai di atas pohon.


Lalu induk ayam berlari ke kandang. Anak-anaknya mengikuti berlari kencang


tetapi adik mereka tertinggal di belakang. Burung Elang langsung menukik


menyambar si anak ayam dan membawanya ke atas pohon.


"Ciap! ciap! ciap!"

__ADS_1


Bunyi ayam kecil tersebut memanggil-manggil induknya. Lantas suaranya


menjadi lemah karena sudah dimakan oleh burung elang yang lapar.


Prita memperhatikan betapa Anggie sangat antusias dengan cerita yang mereka


baca.


"Kasihan sekali anak ayamnya."


Anggie mengomentari anak ayam yang menjadi mangsa burung elang. Matanya


berkaca-kaca. Pada gambar terlihat induk ayam yang sangat sedih.


Hari minggu berikutnya di sebuah kebun terlihat guguk mengintai anak  ayam dan


induknya. Guguk sudah memakai celemek siap untuk menangkap anak ayam


dan membawanya ke gubuknya.


Terdengarlah keok-keok serta pergulatan antara induk ayam yang melindungi


anak-anaknya dan guguk yang lapar. Induk ayam terluka dan guguk berhasil


menangkap anak ayam. Ciap! ciap! ciap!


Koko seekor anak ayam marah sekali karena adik-adiknya satu persatu


dimangsa oleh burung Elang, guguk dan juga ular.


Koko lalu pergi untuk belajar bela diri. Sebab kalau ia tidak melawan


maka keluarganya pasti habis.


Koko belajar memainkan tongkat. Belajar panah dan menembak.


"Wah hebat!"


Anggie senang sekali sampai melompat! lompat kegirangan, hingga tak terasa


hampir tiga jam. Prita tersenyum dan pamit. Besok mereka akan bertemu


membacanya.


Keluar dari rumah tempatnya memberi les privat, handphonenya berbunyi


dan ternyata dari Elsa.


"Ada apa El? loe disuruh Yunna nelpon?"


"Iya Prita, kita mau ngajak kamu makan siang di  cafe pria Idola yang baru


buka cabang di dekat daerah kita. Kebetulan semuanya sedang harga


promo."


"Nggak! memangnya kalian punya uang dari mana?"


"Prita, kalau Loe nggak datang, berarti persahabatan kita putus, dan jangan


sampai menyesal."


Esla mematikan handphonenya, membuat Prita terkejut. Elsa kok sampai


begitu marah ya. Prita menelpon balik dan Elsa mengangkatnya.


"Alamatnya biar aku kesana."


Prita memelankan suaranya. Tak lama Elsa mengirim alamat cafe tersebut.


Setelah membacanya Prita mengenderai mogenya menuju alamat tersebut.


Tak berapa lama gadis itu sudah berdiri di hadapan gedung bertuliskan


Cafe Pria idola. Dan ia seperti sering melihat tulisan PI tapi di mana ya?


Tiba-tiba di dekatnya berhenti sebuah mobil, ia menoleh sesaat tetapi selanjutnya

__ADS_1


ia fokus dengan urusannya. Membuka helmnya hingga rambut panjangnya tergerai


sepundak.


Bersamaan seorang pria muda membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Agak susah


sebab ngepas sekali.


"Aduh mba, motornya menghalangi pintu mobilku."


Prita menoleh, dan matanya melirik tajam, "Salah sendiri! kenapa mepet-mepet ke


motor saya? itu di sana masih luas kok."


"He he he, iya ya tapi bisa keluar kok."


Prita diam saja, melepas sarung tangan dan menaronya di laci.


"Mau lunch ya, saya juga. Sendirian nih?"


Prita menoleh, "Nggak kok temanku udah menunggu di dalam."


Si pria terdiam, lalu berbarengan memasuki cafe tersebut.


"Rakasiwi! "


Pria itu segera berjalan lurus menemui beberapa pria muda yang sedang


duduk bercengkrama.


Prita mengikuti sejenak Laki-laki muda tersebut dengan matanya, tetapi berbelok dan


masuk ke ruangan sebelah kanan.


"Elsa Gwe udah di cafe yang loe maksud, kalian di mana?"


Prita duduk di sebuah meja agak memojok. Dua orang pramusaji datang dan memberinya


buku menu.


"Pesan apa mba?"


"Mmm sebentar."


"Minumannya mba, macam-macam jus yang enak banget."


Prita seperti mendengar suara temannya, gadis itu mendongak dan berteriak hesteris


Yunna! Elsa!


Ketiga gadis tersebut hesteris, membuat para pengunjung menoleh kepada mereka.


"Ka-kalian kerja di sini? ya ampun! Yunna ! Elsa, aku senang banget.


Mereka berpelukkan.


"Mereka ribut  sekali, kayak udah berabad-abad  nggak ketemu."


Laki-laki muda yang bersebrangan dengan mereka semua menoleh ke arah


gadis-gadis itu. Dan mereka merasakannya juga.


"Sebaiknya kita ke tempat kami di belakang, nanti aku ambilkan makanan ya."


"Sipp lah, iya biar santai kita ke belakang saja yuk."


Prita, Yunna dan Elsa lantas meniggalkan tempat itu, tepat saat Rakasiwi sedang


mengarahkan matanya ke para gadis-gadis itu. Ia terkejut sebab melihat sosok


Prita.


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2