
Pagi telah kembali lagi. Prita bersiap bertemu gadis kecil yang belum bisa membaca. Ia menjauhkan
dirinya memikirkan Yunna dan Elsa. Ia fokus dengan pekerjaannya. Hari ini Prita sengaja membawa
sebuah buku cerita yang menarik, kemarin ia menyempatkan waktu pergi ke toko buku untuk membeli
sebuah buku cerita.
Ia harus menarik minat Anggie dengan buku-buku cerita. Ia membeli buku cerita bergambar binatang
dongeng serta putri, dan ia berharap sebuah buku cerita sudah membuat gadit itu pintar membaca.
Dan gadis kecil itu menyambutnya dengan ceria. Berbeda sekali dengan saat pertama ia datang.
Bibirnya cemberut dan ia kemalasan dengan sifat yang keras. Untung ia sudah berkali-kali bilang
bahwa seorang gadis cantik harus pintar, dan kepintaran berawal dari bisa membaca. Sebab
semua pelajaran kan harus dibaca. Gadis kecil itu mengangguk-angguk.
"Baiklah gadis kecil yang cantik, hari ini kakak Prita membawakan dua buah buku, yang satu
bercerita tentang ayam kecil yang hebat, dan yang satu lagi ceritanya si Untung dan bangau
ajaib. Kedua buku ini bagus, kita baca yang mana dulu? Anggie boleh milih."
Prita memperlihatkan kedua buku tersebut. Gadis kecil yang bernama Anggie tersebut melirik
ke kiri dan ke kanan. "Hi hi hi hi ayam kecilnya kok bawa koper ya, seperti orang saja hi hi."
Anggie geli melihat gambar seekor anak ayam yang pergi dari rumahnya untuk berpetualang.
"Ini saja!"
Anggie memilih buku yang berjudul 'si koko anak ayam yang hebat'. Prita lantas menyimpan
buku yang tidak terpilih dan mereka fokus pada sebuah buku yang menjadi pilihan. Prita terlebih
dahulu mengajak membaca bismillah, agar belajarnya dimudahkan.
"Yuk kita mulai dengan membaca judulnya ya, hurup s dan i berarti di baca si
k dan o dibaca ko si koko ayam yang hebat."
"Si Koko anak ayam yang hebat."
Prita terkejut, karena Anggie langsung bisa mengerti saat ia mengabungkan hurup demi hurup
meski perlahan tetapi Anggie mendapatkan kemajuan. Mereka lanjut ke halaman berikutnya.
Tersebutlah sebuah perkampungan kecil. Di sana tinggallah keluarga ayam.
Kampung itu biasanya selalu tenang dan damai. Tetapi hari itu induk ayam
panik karena di atas melayang-layang burung elang yang mengintai anak-anak
ayam.
Induk ayam menyuruh anak-anaknya masuk ke dalam bulu-bulunya hingga
tidak lagi berkeliaran. Burung Elang akhirnya hinggap di sebatang pohon
dan menunggu induk ayam lengah.
Lama sekali induk ayam duduk dengan kedua sayapnya terbentang. Induk ayam
harus membawa anaknya ke kandang di sebrang. Bagaimana caranya
sementara burung elang masih mengintai di atas pohon.
Lalu induk ayam berlari ke kandang. Anak-anaknya mengikuti berlari kencang
tetapi adik mereka tertinggal di belakang. Burung Elang langsung menukik
menyambar si anak ayam dan membawanya ke atas pohon.
"Ciap! ciap! ciap!"
__ADS_1
Bunyi ayam kecil tersebut memanggil-manggil induknya. Lantas suaranya
menjadi lemah karena sudah dimakan oleh burung elang yang lapar.
Prita memperhatikan betapa Anggie sangat antusias dengan cerita yang mereka
baca.
"Kasihan sekali anak ayamnya."
Anggie mengomentari anak ayam yang menjadi mangsa burung elang. Matanya
berkaca-kaca. Pada gambar terlihat induk ayam yang sangat sedih.
Hari minggu berikutnya di sebuah kebun terlihat guguk mengintai anak ayam dan
induknya. Guguk sudah memakai celemek siap untuk menangkap anak ayam
dan membawanya ke gubuknya.
Terdengarlah keok-keok serta pergulatan antara induk ayam yang melindungi
anak-anaknya dan guguk yang lapar. Induk ayam terluka dan guguk berhasil
menangkap anak ayam. Ciap! ciap! ciap!
Koko seekor anak ayam marah sekali karena adik-adiknya satu persatu
dimangsa oleh burung Elang, guguk dan juga ular.
Koko lalu pergi untuk belajar bela diri. Sebab kalau ia tidak melawan
maka keluarganya pasti habis.
Koko belajar memainkan tongkat. Belajar panah dan menembak.
"Wah hebat!"
Anggie senang sekali sampai melompat! lompat kegirangan, hingga tak terasa
hampir tiga jam. Prita tersenyum dan pamit. Besok mereka akan bertemu
membacanya.
Keluar dari rumah tempatnya memberi les privat, handphonenya berbunyi
dan ternyata dari Elsa.
"Ada apa El? loe disuruh Yunna nelpon?"
"Iya Prita, kita mau ngajak kamu makan siang di cafe pria Idola yang baru
buka cabang di dekat daerah kita. Kebetulan semuanya sedang harga
promo."
"Nggak! memangnya kalian punya uang dari mana?"
"Prita, kalau Loe nggak datang, berarti persahabatan kita putus, dan jangan
sampai menyesal."
Esla mematikan handphonenya, membuat Prita terkejut. Elsa kok sampai
begitu marah ya. Prita menelpon balik dan Elsa mengangkatnya.
"Alamatnya biar aku kesana."
Prita memelankan suaranya. Tak lama Elsa mengirim alamat cafe tersebut.
Setelah membacanya Prita mengenderai mogenya menuju alamat tersebut.
Tak berapa lama gadis itu sudah berdiri di hadapan gedung bertuliskan
Cafe Pria idola. Dan ia seperti sering melihat tulisan PI tapi di mana ya?
Tiba-tiba di dekatnya berhenti sebuah mobil, ia menoleh sesaat tetapi selanjutnya
__ADS_1
ia fokus dengan urusannya. Membuka helmnya hingga rambut panjangnya tergerai
sepundak.
Bersamaan seorang pria muda membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Agak susah
sebab ngepas sekali.
"Aduh mba, motornya menghalangi pintu mobilku."
Prita menoleh, dan matanya melirik tajam, "Salah sendiri! kenapa mepet-mepet ke
motor saya? itu di sana masih luas kok."
"He he he, iya ya tapi bisa keluar kok."
Prita diam saja, melepas sarung tangan dan menaronya di laci.
"Mau lunch ya, saya juga. Sendirian nih?"
Prita menoleh, "Nggak kok temanku udah menunggu di dalam."
Si pria terdiam, lalu berbarengan memasuki cafe tersebut.
"Rakasiwi! "
Pria itu segera berjalan lurus menemui beberapa pria muda yang sedang
duduk bercengkrama.
Prita mengikuti sejenak Laki-laki muda tersebut dengan matanya, tetapi berbelok dan
masuk ke ruangan sebelah kanan.
"Elsa Gwe udah di cafe yang loe maksud, kalian di mana?"
Prita duduk di sebuah meja agak memojok. Dua orang pramusaji datang dan memberinya
buku menu.
"Pesan apa mba?"
"Mmm sebentar."
"Minumannya mba, macam-macam jus yang enak banget."
Prita seperti mendengar suara temannya, gadis itu mendongak dan berteriak hesteris
Yunna! Elsa!
Ketiga gadis tersebut hesteris, membuat para pengunjung menoleh kepada mereka.
"Ka-kalian kerja di sini? ya ampun! Yunna ! Elsa, aku senang banget.
Mereka berpelukkan.
"Mereka ribut sekali, kayak udah berabad-abad nggak ketemu."
Laki-laki muda yang bersebrangan dengan mereka semua menoleh ke arah
gadis-gadis itu. Dan mereka merasakannya juga.
"Sebaiknya kita ke tempat kami di belakang, nanti aku ambilkan makanan ya."
"Sipp lah, iya biar santai kita ke belakang saja yuk."
Prita, Yunna dan Elsa lantas meniggalkan tempat itu, tepat saat Rakasiwi sedang
mengarahkan matanya ke para gadis-gadis itu. Ia terkejut sebab melihat sosok
Prita.
Bersambung
__ADS_1