
Gedung tempat perpisahan kakak kelas sudah penuh meriah dengan tamu undangan yakni orang tua dan beberapa adik kelas yang ikut mengisi acara. Satu-persatu orang-orang yang berkepentingan maju ke depan untuk menyampaikan sesuatu atau ucapan perpisahan serta selamat jalan. Ketua panitia yang pertama kali melaporkan tentang acara tersebut. Lantas bapak kepala sekolah yang menyampaikan rasa bangganya sebab beberapa muridnya mendapatkan nilai sempurna yakni sepuluh. Anak-anak itu semua maju untuk mendapatkan penghargaan. Diantaranya Wani, Dea, Sabrina, Arya, dan beberapa anak dari kelas lain.
Pak kepala sekolah juga mengumumkan anak-anaknya dengan nilai tertinggi berikutnya, orang tua mereka dipanggil ke panggung untuk mendapatkan piagam serta hadiah. Nama Cindy termasuk di sini dan ia bersama bundanya Mardo naik atas panggung untuk berjabat tangan dengan bapak kepala sekolah. Tepuk tangan gemuruh membahana untuk murid-murid yang rajin belajar dan menjadi juara.
Bunda memeluk Cindy dan menciumnya, ia selalu bangga pada gadis kecilnya yang selalu memberikan nilai yang bagus. Masih banyak acara selanjutnya, tetapi bunda Mardo pamit sebelum acara selesai. Ia harus ke kantor sebab ada yang harus ditanda tangani.
"Sayang, bunda duluan nggak apa-apa kan? atau mau ikut bunda ke kantor?"
Cindy menggeleng, ia dan teman-teman sekelasnya sudah janjian akan mengadakan syukuran di sebuah tempat. Bunda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia membolehkan Cindy pergi bersama teman-temannya.
"Pulangnya jangan malam-malam ya Nak."
"Siap bunda."
Usai mengantar bunda ke pintu gerbang, Cindy kembali ke aula untuk menyaksikan lagi acara perpisahan. Bertemu kemudian berpisah merupakan hal yang menyenangkan sekaligus sedih. Mereka senang sebab telah melewati satu fase kehidupan yakni di pendidikan menengah pertama. Mereka berpisah untuk melanjutkan lagi ke sekolah menengah atas. Dan hal itu menyedihkan sebab bakal berpisah dengan teman-teman yang sudah dekat dan akrab.
Tak ingin terjadi. tapi apa mau dikata harus dijalani. Perjalanan masih panjang. Hingga kelak mendapatkan apa yang diinginkan, kehidupan mapan, serta sukses dan berguna bagi agama, bangsa dan orang tua.
Itulah keinginan setiap orang tua.
Banyak yang menangis ketika ditampilkan kenakalan-kenakalan mereka yang dividiokan. Ada yang kena strap di gerbang sekolah sebab telat, tidak mengerjakan pr, membolos, menggangu teman. Juga ada yang kedapatan sedang berpacaran, membuat sorai-sorai penonton.
Semua yang penuh warna-warni itu besok akan hilang. Mereka mungkin tak bertemu lagi, sebab akan melanjudkan ke sekolah yang berbeda. Masing-masing akan sibuk dengan dunianya masing-masing dan menemukan teman lain. Sebab itu, anak-anak ingin membuat perpisahan sekelas di sebuah tempat.
Sebuah mini bis telah mereka booking untuk pergi menghabiskan waktu di sebuah taman bunga di daerah Cibubur. Di sana banyak tempat yang menyenangkan. Beberapa teman telah ditugaskan untuk memesan nasi box, kue-kue, buah dan juga minuman.
Usai acara perpisahan anak kelas 3A segera berkumpul dan sama-sama berjalan menuju kenderaan yang menunggu. Kelas-kelas lain ada juga yang seperti mereka. Tapi tidak tau kemana dan dimana tempatnya.
"Cindy, semuah dah beres, cabut!!!"
Delon melaporkan pada Cindy yang tadi menugasinya memasukkan barang-barang yang akan mereka bawa ke taman bunga Cibubur.
"Tikar udah belum?"
"Tikar? sebentar, eh tikar udah masuk?"
"Udah, nggak ada yang tersisa di kelas."
"Ok, kita berangkat."
Mini bis itu pun melaju menuju taman bunga. Suasana di sana tidak terlalu ramai. Sebab saat itu taman bunga Cibubur baru saja di resmikan untuk umum. Hanya beberapa jam saja mereka telah sampai di sana. Suasananya
sangat asri dan teduh. Tempat yang mereka pilih tak jauh dari kolam. Mereka semua bergotong royong membawai makanan, minuman, kue-kue, buah serta empat buah tikar yang cukup untuk mereka semua.
Sebab sudah menjelang siang, langsung dibagikan box nasi serta lauknya. Mereka menikmati makanan sambil bercengkrama. Setelah itu ketua kelas bicara tentang kegembiraannya sebab mereka semua lulus dengan nilai yang baik. Ia berharap teman-teman tidak saling melupakan. Ingin bisa bersilaturahmi hingga mereka nanti dewasa.
Yang lain juga bicara, Cindy sangat senang jika teman-teman mampir ke rumahnya. Atau suatu waktu mereka membuat acara reuni agar tahu kabar masing-masing. Semua memberikan kesannya masing-masing. Usai itu mereka berlarian di taman, membuat foto-foto kebersamaan, kelak untuk di kenang saat mereka telah berkeluarga atau telah tua.
Tiba-tiba mendung menyelimuti kota, mereka semua berkemas dan berlarian naik ke bis mini. Itu lah kenangn Saat Cindy bersama teman-temannya. Beberapa diantara mereka nanti bertemu lagi di smu favorit. Mereka tiba di sekolah dan berlarian masuk ke dalam. Sekolah memang sudah sepi, hanya ada penjaga sekolah. Beberapa orang sudah ditunggu oleh jemputan. Mereka memang sepakat akan kembali lagi ke sekolah setelah acara perpisahan. Anak laki-laki masih memarkir kenderaan mereka di halaman sekolah.
"Cintah! aku dan Ara pulang bareng ya, kamu nunggu jemputan kan?"
__ADS_1
Gadis itu mengangguk, sebentar lagi pak Mus sampai. Tiba-tiba dari sebuah mobil keluar kak Rama. Semula ia pikir kak Rama ada keperluan dengan Danang, Arif atau Delon. Tetapi ternyata kak Rama berjalan ke arahnya.
"Cindy!
Laki-laki muda itu menatapnya dan berusaha menenangkan napasnya yang agak memburu. Ia memandang pada Cindy yang balas menatapnya.
"Ya, ada apa ya Kak?"
Rama berdiri dengan pipi mulai merah. Kak Rama memang laki-laki yang pendiam dan kelihatan pemalu. Meski begitu banyak gadis-gadis yang berharap menjadi pacarnya. Tapi pertama ia menyukai seorang gadis adalah saat bertemu adik kelasnya itu. membuatnya mengacuhkan gadis lain. Ia tertarik pada Cindy dan memikirkan gadis itu. Sebenarnya sudah lama ingin menyatakan perasaannya. Tetapi hatinya selalu malu dan ragu.
Delon sahabatnya selalu memberitahu tentang Cindy, bahkan tadi pun ia yang bilang bahwa mereka termasuk Cindy balik lagi ke sekolah. Sebab itu Rama buru-buru ke sana untuk bertemu dan bicara dengan Cindy.
"A-ada yang ingin kak Rama katakan."
Ia duduk tak jauh dari Cindy. Di halaman sekolah banyak tempat duduk untuk murid-murid saat istirahat. Gadis itu menoleh dan sedikit mengerutkan keningnya. Hujan sudah berhenti, dan beberapa teman Cindy sudah berlarian dan ada yang berboncengan pulang.
"Ta-tapi kak maaf, pak Mus sebentar lagi menjemputku, apakah sangat penting?"
Rama menggaruk-garuk kepalanya, ia kebingungan.
"Iya sih sudah kesorean juga ya? kalau begitu bagaimana kalau kakak nanti chat aja ya."
"Iya benar kak, chat Cindy aja."
Terdengar klakson mobil, Cindy mendongakkan kepalanya.
"Sudah datang, ayo kak Rama pulang, udah sore, sebentar lagi magrib."
"Maaf ya kak Rama."
"Nggak apa-apa tenang aja."
Akhirnya mereka berdua bersisian menuju kenderaan. Cindy menyebrang sedangkan Rama masuk ke mobil yang terparkir di pinggir jalan. Rama menatap Cindy yang berlarian ke sebrang, tak lama menghilang karena masuk ke mobil.
Menjelang tengah malam, hujan deras mengguyur kota, membuat suasana sangat dingin.
Cindy menggigil kedinginan dan tak biasanya, antara sadar dan tertidur ia mendengar
namanya di panggil. Bunyi pagar di ketuk-ketuk. Gadis itu merasa aneh, kenapa penjaga tidak mengusir orang tersebut.
Cindy terbangun membuka pintu kamarnya dan keluar menuruni tangga untuk melihat keluar. Gadis itu terkejut Ia melihat Rama berdiri di luar pagar menunggunya. Hujan sudah mereda dan cahaya dari langit sedikit
menampakkan sosok kak Rama.
"Kau kah itu kak Rama? ada apa kenapa malam-malam begini ke rumahku kak? begitu pentingkah sehingga kau menembus hujan serta gelam malam."
Cindy akhirnya membuka pintu pagar, terlihat kak Rama berdiri dengan jaket dan helm.
Ia memberikan helm pada Cindy dan menarik tangannya.
"Kemana Kak?"
__ADS_1
"Naik moge di jalanan kota yuk."
Sebuah motor besar yang sangat gagah di hadapan mereka, Cindy seperti dicocok hidung
mengikuti kak Rama menaiki motor tersebut, mengenakan helm. Lalu suara raungan motor
memecah kesunyian malam. Cindy memeluk pinggang kak Rama dan menempelkan pipinya
di punggung laki-laki muda.
"Wah, akhirnya bisa naik moge keliling kota huahhhh."
Keduanya berteriak dan tertawa menembus suasana malam hari dengan rintik-rintik hujan, Lampu jalan menerangi kemana saja mereka pergi. Kenderaan memang tidak seramai siang hari. Tetapi saat malam seperti itu pun masih ada beberapa mobil yang melintas.
Keduanya berputar-putar di tengah-tengah kota.
"Asyik, impian naik moge di tengah kota tercapai deh, kakak baru beli moge ya?"
Rama hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga senang sekali akhirnya bisa mewujudkan keinginan gadis itu.
"Orang tuaku akhirnya membelikanku moge. Huaahhh aku juga bahagia sekali."
Mereka menghentikan mogenya dan memarkirkannya. Ia memandangi Cindy yang berada
di dekat mogenya. Dia mengajak Cindy bersenang-senang di bawah lampu jalanan. Rama bahagia sekali. Tetapi mendadak hujan mulai datang, kak Rama melihat ke atas dan sedikit kecewa, ia lantas mengajak Cindy kembali naik ke moge dan mengantar gadis itu pulang.
"Yah, kok udahan."
Cindy merajuk, tetapi tetesan air semakin deras, dan keduanya basah oleh air besar.
"Terima kasih ya Cindy sudah mau pergi denganku naik moge di tengah kota."
"Aku juga ya kak Rama, terima kasih karena sudah merealisasikan impianku naik moge
di tengah kota bersama seorang pria yang jantan dan tampan."
Kedunya saling tersenyum dan kak Rama menyuruhnya masuk ke rumah. Saat Cindy
menutup pintu, suara raungan moge memecah malam.
Bersambung
__ADS_1