Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 279 Cindy di Todong Menjadi Pemimpin


__ADS_3

Ketika rombongan Raka memasuki ruangan semua mata menoleh. Ada yang berbeda, biasanya hanya tiga pria tampan yang kharismatik. Tetapi kali ini bersama mereka ada gadis muda  bertubuh ramping dan indah. Senyum gadis itu menyapa semua yang sudah hadir.  Peserta meeting yang merupakan para manager wilayah dari berbagai kota di Indonesia. Mereka kebanyakkan laki-laki muda dan berbakat.


Seperti biasa, Raka menempati kursi yang telah di sediakan bersama dengan Deni dan Sammy. Kali ini Sammy menjadi host. Dia tak banyak basa-basi lagi  segera membuka meeting awal bulan mereka. Di mulai dengan berdoa semoga usaha mereka selalu mengalami kemajuan, lancar serta diberikan kemudahan juga keberkahan. Semua mengucapkan aamiin.


Sammy diantara kata pembukanya juga mengingformasikan bahwa bapak pimpinan mereka yakni Raka Bramantyo kali ini ingin memperkenalkan seseorang. Semua para area manager tersebut terutama yang  laki-laki dan masih jomblo mania tak sabar menunggu. Hingga akhirnya tibalah giliran Raka Bramantyo. Pria yang masih tampan, matang serta masih mempesona. Banyak manager perempuan yang diam-diam jatuh hati pada pria itu. Tetapi oleh sebab sikap Raka yang sangat mencintai istri dan keluarganya. Tidak ada yang berani menggoda bahkan mencoba melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian Raka dari istrinya.


Keinginan untuk memiliki itu memupus berubah menjadi kekaguman kepada pria itu. Ketika muda gadis-gadis di kota eksotik menjulukinya pria idola. Sebab tidak seperti laki-laki lainnya yang suka menggoda para gadis dan berganti-ganti kekasih. Raka berbeda, ia bersih.  Hingga cinta pertama menyentuhnya.


Pria idola menurut Raka, tidak akan pernah meninggalkan jejak menyakiti hati seorang pun perempuan. Baginya Mardo adalah cinta pertama, cinta terakhir dan cinta sejatinya.


Perempuan-perempuan tak ada yang berani bermain mata dengannya, hanya akan mendapat malu. Sebab Raka bisa memecatnya dan mengusirnya bahkan membuangnya ke laut hu hu hu. Dia tak mau memberi peluang dan juga tak mau menggunakannya.


Jadilah perempuan-perempuan yang banyak mengelilinginya bersikap mengagumi dalam hati saja. Berharap ada Raka-Raka lain yang bisa mereka miliki.


"So, baiklah sebelum lanjut, ada yang ingin saya perkenalkan kepada kalian semua. Dia adalah putri kedua saya yang bernama  Cindy Larasati Bramantyo. Dia sedang menunggu wisudanya dan bermaksud magang di perusahaan ayahnya.  Sudah lama saya menunggu hal ini tapi baru sekarang ia bersedia datang ke perusahaan ini bertemu dengan semua area manager dan berkenalan."


"Cindy sangat tertarik dengan bisnis dan belajar keras untuk ini. Hem."


Raka berhenti dan memandang pada para area manager dan juga kemudian pada Cindy.


"Hemmm, mulai sekarang saya akan berada di balik layar. Dan perusahaan ini akan saya percayakan pada putri saya untuk memimpinnya."


"Ayah!"


Cindy sangat terkejut, jantungnya berdebar. Itu adalah hal yang sangat besar. Ia datang hanya untuk magang dan belajar tapi kenapa ayah Raka mengangkatnya langsung sebagai pemimpin. Semua saling berpandangan tetapi kemudian terdengar tepuk tangan bergemuruh.


"Percayalah meski masih sangat muda, ia cepat belajar."

__ADS_1


"Selamat! selamat! selamat!"


Semua peserta meeting mengucapkan selamat atas penunjukkan Cindy sebagai pimpinan baru perusahaan yang telah berusia 35 tahun tersebut. Raka sudah memulai bisnis minumannya sejak ia masih muda. Mulai mendaftarkan perusahaannya saat ia berusia 27 tahun. Sekarang ia ingin sedikit bersantai dan memberikan perusahaan pada Cindy. Selanjutnya Raka sudah berencana akan  mengalihkan pikiran dan tenaganya di dunia agama dan sosial.


Raka memberikan kesempatan pada Cindy untuk menyapa para area manager yang akan bekerja padanya. Agak sedikit gugup gadis itu berdiri di bawah tatapan  hampir 100 lebih peserta meeting. Ia berusaha tenang dan akhirnya bisa dengan lancar dan santai menerima pengangkatannya.


"Hem, terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya, saat ini saya tidak bisa berkata banyak karena saya tidak menyangka ayah saya melakukan penodongan langsung dan saya tak bisa menolaknya.  Seperti yang ayah bilang saya cepat belajar. Semoga saya bisa menjalankan amanah dari ayah saya bersama  Om Deni, om  Sammy dan semua area manager. Saya berharap kita bisa bekerja sama. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih pada Ayah Raka Bramantyo yang memberikan saya kepercayaan yang besar."


Kembali tepuk tangan membahana memenuhi tempat meeting tersebut. Selanjutnya Raka menyalami Cindy dan memeluk putrinya itu dan menepuk-nepuk pundaknya. Setelah penanda tanganan semua peserta meeting diundang untuk makan siang bersama di salah satu cafe dan resto Pria idola yang berada di Jakarta pusat. Cafe yang berada di salah satu gedung pusat perbelanjaan mewah. Mereka semua kesana dengan mengenderai bis mini yang dimiliki perusahaan.


Keluar dari tempat meeting tersebut Cindy cemberut. Raka tertawa melihat putrinya itu.


"Ayah! kenapa melakukan itu sih? kan aku masih kecil, apa aku mampu memimpin perusahaan sebesar itu Yah."


"Katakan Aku bisa!"


Beberapa wanita dan pria yang gagah dan tampan telah mendekati Cindy dan menyalaminya. Mereka perempuan dan laki-laki muda yang usianya sedikit lebih tua dibandingkan Cindy. Putrinya tampak bercakap-cakap dan tertawa dengan mereka.


 


"Wih keren, kita dipimpim oleh seorang perempuan muda yang usianya masih tuaan adik gue."


Seorang laki-laki muda yang tampan tersenyum sinis, meski hatinya cukup berdebar oleh penampilan Cindy yang terlihat cantik, mempesona, smart dan pintar. Ayahnya Raka Bramantyo tidak mungkin memberikan jabatan tertinggi kepada putrinya yang muda belia itu jika tidak melihat potensi dalam diri Cindy.


 


"Hello, selamat ya atas pengangkatannya, semoga sukses."

__ADS_1


Saat Cindy sedang memilih makanan yang hendak ia nikmati, tiba-tiba seorang laki-laki muda yang memiliki wajah tampan, bersorot mata kuat seperti mata elang berbisik di dekatnya.


"Oh, terima kasih, aamiin yra."


Sahut Cindy sembari bergeser mengambil makanan selanjutnya.


"Kenalkan, saya Raffaza Alfarezi, panggil saja Raffa."


"Oh, senang berkenalan denganmu Raffa."


Cindy menoleh sekejap dan menyungingkan senyumnya. Raffa penasaran, biasanya gadis-gadis akan berlama-lama memandangi wajah tampannya yang memagnet. Bahkan misal itu pandangan tak senjaga, maka orang itu akan mengulangi tatapannya pada wajah tampannya. Tapi gadis tadi biasa saja.


"Saya menunggu kunjungan ibu pimpinan ke kantor saya di bilangan Blok M."


Laki-laki tadi masih berdiri dan mengikuti Cindy mengambil makanan.


"Baiklah, aku pasti berkunjung."


"Terima kasih."


Cindy mengangguk, lantas pamit meninggalkan Raffa yang masih melanjutkan melihat-lihat berbagai menu makanan. Sementara Cindy membawa makanannya ke meja tempatnya duduk bersama ayahnya. Tak jauh dari mereka meja  Deni dan Sammy yang  sedang menikmati  makan siang mereka.


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2