
Hello, terima kasih pada yang selalu membaca Pria Idola, (Di hatinya hanya ada satu cinta)
jangan lupa dukungannya ya sob, like, rate, vote dan komen. Yang penting juga membaca dari awal kisah ini supaya mendapatkan keindahannya he he he, kali ini Pria Idola sedikit syerem-syerem gitu ya cos Jaelany jahat rupanya sudah kembali ke sosok aslinya. Hnappy reading.
Jaelany terkesiap ketika dokter keluar dari ruang medis, wajah dokter terlihat tegang dan prihatin. Lalu permintaan maaf dan juga kata-kata bahwa mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tak bisa mengelak dari takdir Tuhan. Setelah berkata seperti itu sang dokter menepuk pundak Jaelany dan meninggalkannya. Pria itu sesaat mematung. Dua orang telah ia bunuh dengan perencanaan matang. Perampokkan di halaman parkir sumah sakit bersalin. Itu kesan yang ia tanamkan. Karena tidak memperoleh hasil yang maksimal perampok menculik anaknya. Selesai.
Jerita tangis ibu Yunna dan saudara lainnya memenuhi ruangan itu. Jaelany memperlihatkan keterpukulannya sebentar. Ia limbung dan nyaris pingsan. Kemudian berusaha tegar dengan mengurusi pemulangan istrinya ke rumah duka. Ia membayar orang-orang untuk memandikan, mengapani jenasah Yunna di rumah sakit dan membawa ke rumah duka orang tuanya. Hal yang sama ia lakukan pada mertua laki-lakinya.
Geger, itu yang terjadi di kampung Yunna. Baru saja mereka mendapatkan berita gembira tentang anak laki-laki tampan yang ia lahirkan. Namun menyusul kabar tragedi kematian Yunna dan ayahnya. Semua tetangga miris mendengar berita tersebut. Rumah Yunna ramai menyambut jenasahnya. Banyak yang menitikkan air mata mengenang sosok Yunna yang tegas, jarang tersenyum tetapi memiliki hati yang baik.
Prita sampai di Jakarta dan menuruni undakkan menuju keluar dari stasiun. Ia telah memesan taxi online. Saat menunggu di pintu gerbang stasiun ia merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin menoleh. Gadis itu terpaku ia melihat Yunna tengah berlari kearahnya diantara penumpang. Prita mengedipkan matanya, dan Yunna menghilang.
"Yunna? apa penglihatanku yang salah."
Prita berusaha melihat lebih fokus, tetapi tidak ada Yunna di sana, hanya penumpang yang berpencar mencari jalan untuk pulang. Taxi online melintas di sisinya sembari bertanya apakah namanya Prita Pujaningrum? dan gadis itu mengangguk lantas masuk ke bangku penumpang di belakang. Ia membuat pesan di grup. Tetapi tidak ada yang membalas. Prita menelpon Elsa. Kebetulan Elsa sedang online dan mengangkat dengan gembira.
"Sa, aku baru sampai Jakarta nih. Nanti malam temani ke rumah Yunna ya."
"Ok say, aku sedang liburan, baru mau berangkat ke mall mencari kado buat anaknya Elsa."
"Oh, mall mana?"
Elsa menyebutkan Mall yang tak jauh dari rumahnya, Prita bilang ia akan melanjutkan taxi onlinenya ke tempat Elsa berbelanja di sekitar Lenteng Agung Depok.
"Ok Sa, aku nanti kesana, sebentar lagi kok. ini sudah sampai kampung melayu."
"Ketemu di Mall ya Prita."
Mereka memutus perbincangan itu dan. Prita menyimpan handphonenya dan sesaat memejamkan matanya merasa sangat lelah. Ia meregangkan tubuhnya.
__ADS_1
Sementara Yunna telah disemayamkan. Seorang ustaz membacakan doa-doa yang panjang untuk Yunna dan ayahnya. Mereka disemayamkan berdampingan. Ibunya tak sanggup menyaksikan suami dan anak tercintanya ditimbuni oleh tanah. Ibu Yunna tak sadarkan diri dan dibawa pulang ke rumah. Keluarganya mempersiapkan tujuh hari tahlil untuk Yunna dan ayahnya. Ibu dan keluarga Yunna tidak mengetahui apa-apa tentang peristiwa itu. Mereka menyerahkan masalah tersebut kepada Jaelany. Mereka percaya, Jaelany yang memiliki kekuasaan serta uang yang akan mengurusnya. Mereka sebagai mahkluk beriman hanya percaya bahwa sudah menjadi takdir Yunna dan ayahnya meninggal dengan cara seperti itu.
Jaelany sendiri pulang ke rumahnya setelah pemakaman Yunna dan ayahnya. Ia langsung masuk kamar dan menganti semua bajunya. Ia pernah merasakan tidak nyaman seperti ini ketika menghabisi nyawa suami istri majikan yang begitu baik padanya. Bahkan sudah mengangatnya sebagai anak angkat. Ia juga pernah menghilangkan nyawa anak buahnya karena berani berhianat. Setiap kali itu terjadi Jaelany merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Berdebar hingga ketakutan yang amat sangat. Keringat membanjir ditubuhnya bahkan yang terparah ia merasa mual, muntah dan berkunang-kunang.
Laki-laki itu perlu waktu berhari-hari untuk menenangkan dirinya. Memulihkan perasaan bersalah, ketakutan serta bayang-bayang orang yang telah ia habisi nyawanya. Setelah semuanya pulih ia baru keluar dengan wajah sumringah, serta lebih kuat. Orang-orang yang bertemu dengannya akan melihat bahwa ia sudah menerima kenyataan yang sangat berat. Kali ini ia juga tak mau diganggu.
Elsa dan Prita akhirnya bertemu. Mereka cipika-cipika dan tertawa sangat bahagia. Prita menanyakan tentang anak Yunna. Elsa mengatakan tampan dan lucu. Mereka lantas pergi kebagian penjualan perlengkapan baby. Kembali Prita merasa ia ingin menoleh ke sebuah tempat dan melihat sosok Yunna. Astaqfirullah! Prita secepat kilat berastaqfirullah. Elsa memandanginya keheranan.
"Ada apa?"
"Entahlah sudah dua kali aku melihat sosok Yunna."
Keduanya tegang.
"Jadi kau juga melihat sosok Yunna?'
"I-iya, memangnya kau juga?"
"Tadi saat berangkat ke sini, aku mendengar dia memanggilku. Ketika aku menoleh ia terlihat sekelebatan mata."
Keduanya memiliki perasaan yang tak bisa mereka maknai. Kecuali Yunna menunggu kehadiran dua sahabatnya untuk melihat buah hatinya.
"Ayolah, kalau sempat kita langsung ke rumahnya ya, agaknya ia sudah sangat rindu denganmu Prita."
Kedua gadis itu mengembangkan senyum dan memilih-milih kado untuk anak laki-laki Yunna. Mereka harus sabar mengantri di bagian bungkus kado serta menulis ucapan selamat yang manis. Sudah malam, dan mereka berdua memutuskan menikmati makan malam dan besok pagi ke rumah Yunna. Sebab Yunna sebelumnya sudah memberitahu bahwa hari ini kepulangannya ke rumah bersama baby. Pastinya Yunna dan Jaelany sibuk mengurus kepulangan itu dan membuat bayi mereka bersosialisasi dengan rumah.
"Besok pagi saja kita ke rumahnya, lagian kamu pasti lelah Prita."
Elsa dan Prita memutuskan. Mereka berdua akan ketemuan di sebuah tempat dan pergi bareng ke rumah Yunna. Usai makan malam keduanya pulang ke rumah masing-masing. Ibunya menyambut sepenuh senyuman. Tetapi tiba-tiba wajahnya berubah. Ia mengigit bibirnya dan membiarkan Prita istirahat. Mama Risa sudah mendengar tentang kematian Yunna yang tragis. Malam ini ia sebenarnya ia akan ikut tahlil sembari membantu di belakang. Tetapi karena Prita mengabari ia akan sampai rumah malam ini, mama memutuskan menunggu anaknya. Tadi siang ia sudah membawa lima liter beras ungkapan bela sungkawa.
__ADS_1
Mama Risa menerka-nerka apakah Prita sudah mengetahui tentang kematian Yunna dan juga ayahnya. Tetapi sikap Prita yang biasa saja membuat mama Risa beranggapan anaknya itu belum tau apa-apa tentang kejadian yang menimpa Yunna. Perempuan itu membuatkan anaknya teh manis hangat dan memanaskan lauk-pauk dan menaronya di meja. Jika lapar Prita tinggal mengambil dan makan. Tapi agaknya Prita lama di kamarnya untuk membersihkan diri dan membalas pesan Rakasiwi.
Menjelang tengah malam ketika Prita dan ibunya bercengkrama di ruang tengah, mereka berdua mendengar ketukkan. Ibu dan anak itu saling pandang.
"Biar aku yang melihat Ma."
Prita beranjak ke pintu, ia membukanya dan tak melihat siapa-siapa. Ia tiba-tiba ingin menoleh ke jalan yang gelap dan di ujung jalan ia melihat sosok Yunna yang berjalan meninggalkan tempat itu.
"Yunna!"
Prita tak bisa menahan dirinya, itu jelas sosok Yunna. Tapi sosok itu menghilang dan Prita terbengong di tempatnya. Hingga ibunya menghampiri dan mengajaknya masuk. Gadis itu mengerutkan keningnya. Ada apa? tak pernah seperti ini. Ia sering lama tak pulang dan telah membuat janji dengan Yunna tapi gadis itu sabar menunggunya dan tak pernah sampai membayanginya seperti ini.
"Siapa?"
Prita hanya mengangkat bahunya.
"Seperti Yunna tapi mana mungkin, ngapain semalam ini jalan-jalan tak karuan, kan dia habis melahirkan."
Mama Risa membekapkan mulutnya, lalu buru-buru menarik Prita masuk dan mengunci pintu.
"Mana mungkin, ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Mama tidur di kamarmu ya."
Prita memandang mama Risa keheranan, tapi tak menolak. Mungkin mamanya merindukan dirinya.
__ADS_1
Bersambung