
Mardo merasakan tubuhnya melemas dan nyaris terjerembab. Raka cepat meraih tubuh itu.Ia berteriak teriak membuat beberapa paramedis berlarian untuk membantu. Tubuh yang lemas itu berpindah dengan cepat dan di dorong ke ruang unit darurat. Raka mengikuti dan mengawasi pekerjaan dokter serta beberapa perawat. Raka tak habis pikir, tiba tiba saja gadis itu melemah setelah sebelumnya segar bugar.
"Mardo kenapa kak?"
Halima sama gelisahnya melihat keadaan sahabatnya.
"Entahlah, ia mendadak seperti itu."
Raka menggeleng gelengkan kepalanya. Ia lantas menelpun ke rumah dan mendengar suara Mangara.
"Bang Mangara, ini Raka."
"Oh iya,ada apa?"
Mangara dan keluarganya tidak bisa tidur sejak Mardo hilang. Dan mereka semua menunggu dengan gelisah.
"Pap, Mardo di rumah sakit!"
Keluarga itu bagai di sambar petir mendengar kabar tersebut. Terutama Mami, sangat syok. Ia takut sesuatu terjadi dengan putrinya. Patriacia juga langsung menangis ketakutan. Papi memeluk anak perempuannya itu.
"Kakak tidak apa apa, tenang jangan nangis."
Mereka semua berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan semua diam dan membisu.
Halima juga sudah menghubungu Sarah Lee. Dan Sarah Lee menelpun teman temannya. Mereka semua senang karena Mardo dan Halima sudah kembali.Tapi mendengar Mardo masuk rumah sakit semua terperangah. Meski tengah malam, Betty, Rosse,Zamzam, Sarah Lee juga Richi bergegas ke rumah sakit. Mereka semua hampir berbarengan sampai di halaman rumah sakit.
"Kenapa Mardo? a-apakah orang-orang Papua yang menculiknya menyakiti gadis itu?"
Teman-temannya saling bertanya dan tak mendapatkan jawaban, Halima juga membisu.
Dokter masih memeriksa dengan seksama. Semua menunggu dengan tegang. Richi melihat Raka yang dikelilingi oleh keluarga Mardo. Sementara Raka menjelaskan kejadian yang menimpa mereka bertiga. Papi dan Mangara menatap tak lepas dari wajah Raka. Sesekali Halima juga ikut menceritakan dan melengkapinya. Terlihat Papi dan Mangara mengangguk angguk.
"Jadi Mardo diculik atas permintaan seseorang?"
Papi merasa keheranan. Ia sangat tahu siapa putrinya tersebut. Seorang putri yang lembut dan manja. Bukan seperti yang dituduhkan dan pantas menjadi target pelindung anak Papua.
Tiba tiba dokter keluar dan mencari orang tua Mardo.
"Bagaimana putri saya Dok?"
__ADS_1
Papi dan dokter saling bertatapan. Sesaat kemudian dokter tersenyum.
"Tidak apa apa, nggak usah cemas, putri bapak hanya syok, dia sudah sadar."
Alhamdulillah. Semua lega saling bertatapan dan tersenyum.
"Jadi putri saya tidak apa apa Dok?"
Papi berusaha meyakinkan dirinya sekali lagi.
"Iya, hanya butuh istirahat dan banyak minum air putih."
"Oh, syukur alhamdulillah, Mardo tidak apa-apa."
Teman-teman Mardo bergumam sembari senyum lebar pertanda sudah tidak ada yang mereka khawatirkan, Richi bertanya pada Sarah Lee, apakah baso dan minuman masih ada? Sara Lee menjawab warung basonya buka dua puluh empat jam. Mereka janjian makan baso di warung Sarah Lee.
Malam itu juga Mardo boleh pulang bersama orang tuanya.
Mangara mengucapkan banyak terima kasih pada Halima, Raka dan semua teman temannya yang telah datang meski tengah malam.
Semua tulus dan keinginan dari hati untuk datang melihat keadaan Mardo. Mereka tak bisa tidur memikirkan hilangnya Mardo dan Halima hari itu. Semua mencemaskan gadis itu tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Richi tak habis pikir. Ia juga masuk ke mobil dan meluncur menuju warung Sarah Lee di sudut pelabuhan.
Teman-temannya berjalan kaki, karena tak terlalu jauh.
Sepanjang jalan ke tempat Sarah Lee, Richi terus bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi. Kakaknya terlihat sangat melindungi Mardo.
"Tidak mungkin, hanya kebetulan saja."
Richi bergumam sendirian. Supir hanya membisu. Dia sudah sangat mengantuk. Karena seharian telah bekerja keras untuk keluarga tersebut.
Sementara Papi terkenang masa kecil putrinya itu. Ia mengingat sesuatu. Ketika kecil dulu. Sepulang sekolah seorang ibu di pinggir jalan telah memberi Mardo kue kesukaannya.Tak lama setelah memakan kue itu Mardo ditemukan pingsan di pinggir jalan. Beruntung ada yang menemukannya dan membawa ke rumah sakit. Tapi dokter tidak menemukan sesuatu yang menjadi penyebab pingsannya gadis kecil itu. Berhari-hari gadis kecilnya terbaring pingsan dengan tubuh panas.
Agaknya sesuatu yang ghaib telah membuat Mardo tak sadar berhari-hari.
Kakeknya yang memiliki pengetahuan tinggi telah melihat cucu kesayangannya berhasil disusupi racun berusia ratusan tahun. Tidak perlu disesali, sebab kejadian itu terjadi atas ijin Allah Swt. Racun itu tidak membuat seseorang mati, karena ia hanya membutuhkan tubuh seseorang untuk tinggal dan bertahan.
Justru pemilik racun akan terlindungi dan tak mempan tubuhnya bahkan oleh gigitan ular berbisa.
__ADS_1
Sebuah ritual mengusir racun turun temurun itu dilaksanakan.Mardo masih sangat kecil saat itu. Tubuhnya dibaringkan dan di kelilingi beberapa sesepuh. Entah apa yang dilakukan sesepuh. Tapi berikutnya Mardo bangun dan batuk batuk serta memuntahkan sesuatu ke dalam baskom. Sebuah benda berwarna kehitaman meluncur kedalam baskom dan warna air putih berubah menjadi darah merah. Racun berusia ratusan tahun itu sendiri tidak pernah keluar dari dalam tubuh Mardo. Hanya lapisannya saja. Jika tak bisa bersahabat dengan sang racun, maka terlihat tubuh akan menjadi lemah, pingsan serta tahun demi tahun menggegoti tubuh hingga menjadi kurus kering dan akhirnya mati.
"Ya Rabb, lindungilah putriku."
Pak Wijaya sangat mencemaskan putrinya, meski selama ini Mardo terlihat baik-baik dan tidak ada masalah selama bertahun-tahun. Hingga kejadian hari ini. Pak Wijaya teringat masalah racun tua dalam tubuh putrinya.
"Apakah maksud dari semua ini? seperti kata Ayahnya, 'Itu Terjadi karena Allah mengijinkannya'
Pak Wijaya tenang jika mengingat kata-kata tersebut. Sesungguhnya dia yang diincar oleh pemilik racun tua itu. Namun sebuah cincin bertuah yang dipakai di jari manis Pak Wijaya mencegahnya menembus tubuh pak Wijaya.
Beberapa kali minumannya telah dimasuki racun tua, namun jatuh dan pecah saat disentuh oleh jemari yang dilingkari cincin bertuah.
Pak Wijaya menyentuh cincinnya, apakah tidak sebaiknya ia memberikan cincin tersebut pada Mardo?
Pak Wijawa bermaksud menelpun seseorang di kampung, untuk menanyakan mengenai keinginanannya tersebut. Ia tak ingin Mardo suatu saat kembali mengalami pingsan berhari-hari. Untung saja malam itu Mardo segera sadar kalau tidak, bagaimana ia harus mendatangkan ayahnya yang sudah tua ke tempat ini. Atau membawa Mardo pulang ke tanah kelahirannya, keduanya sama-sama riskan.
Dulu kata sesepuh semuanya sudah berakhir. Nyatanya Mardo masih mengalami gangguan tersebut.
Papi tidak tahu kemana mengobati penyakit tersebut. Karena sudah beberapa dokter yang ia datangi tapi sakit Mardo dalam satu waktu yang tidak dapat di duga menyerang gadis itu.
Pak Wijaya tak akan tahan melihat Mardo hanya terbaring diam berhari-hari. Ia membenci orang yang telah memberikan racun itu di dalam sebuah kue.
Bersambung
__ADS_1