
Sementara itu hari berganti dengan malam. Suasana berubah yang tadinya orang-orang berambisi dan bersemangat bekerja mencari sebanyak-banyaknya uang.
Ketika malam saat kegelapan menyelimuti alam. Suasana pun berubah. Orang-orang bersikap santai dan berkeliaran mencari kesenangan.
Dua orang laki-laki mengenderai sebuah kenderaan dengan logo BMW. Mereka tampan dan perlente.
"Lan, yakin mau pergi ke tempat itu?"
Salah satu dari mereka yakni laki-laki yang rambutnya keriting pendek menatap pada temannya. Dia kurang yakin dengan keputusan temannya itu.
Tak biasanya laki-laki ini mau mendatangi tempat seperti itu. Tapi dia juga percaya bahwa semua bisa berubah dalam sekejap. Pria alim itu juga bisa berubah.
Dulu mungkin dia menghindari tempat itu karena tidak memiliki uang yang berlebih. Tetapi sekarang dia sudah berbeda.
Laki-laki di sebelahnya itu yang sedang mengenderai mobil mahalnya sekarang sudahb menjadi seorang pengusaha muda. Dia memiliki banyak uang berlebih.
Agaknya tak mengapa jika sedikit berpoya-poya di tempat itu. Tidak masalah jika sanggup membayar.
Akhirnya kenderaan memasuki pelataran parkir yang berputar-putar menuju lantai atas yang paling puncak. Gedung yang menjulang hingga ke langit.
Laki-laki itu serta-merta memarkirkan mobilnya. Lalu meninggalkan begitu saja. Semua pintu dan tombol otomatis terkunci dan keamanan maksimal.
Mereka pun berjalan memasuki pintu masuk menuju ke tempat yang telah yang fitentukan.Tempat itu kayaknya memang seperti sebuah lelang.
Puluhan pria muda dari dunia bisnis yang berbeda-beda datang ketempat itu dengan tujuan sama. Bersenang-senang serta menghamburkan uang.
Beberapa di antara mereka bahkan membawa botol minuman dan beberapa kali meneguknya. Kemudian meminta agar acara lelang tersebut segera dimulai sebab suasananya mulai panas. Suara sorak-sorak meminta agar acara jangan lagi ditunda.
Tepat dengan kedatangan dua laki-laki muda yang memasuki tempat itu sebagai yang terakhir. Seorang perempuan berdiri di depan mereka. Perempuan setengah baya yang masih cantik dan energik.
"Tuan-tuan yang terhormat, baiklah kita akan memulai acaranya, harap mengendalikan diri, bersikap terhormat. Kami akan mengajukan harga dan yang berminat mengangkat tangannya.."
Perempuan setengah baya itu menjelaskan tentang tata tertib yang harus dipatuhi oleh pelanggannya atau orang yang baru datang ke tempat itu. Dia melakukan hal itu agar suasana tenang, aman serta terkendali.
Segera acara itu dimulai. Dua orang perempuan yang mengenakan baju serupa dengan perempuan yang membuka acara tadi membimbing perempuan muda, bernomor satu di dadanya.
Penawaran dimulai dengan harga minimal 50 juta. Penawaran tertinggi ternyata hanya sampai 75 juta.
Hingga sampai pada nomor urut 5. Seorang gadis muda berpakaian kantor. Roknya sebatas lutut dengan highheel. Ia terlihat tenang dan menggigit bibirnya. Dari semua gadis yang telah mendapatkan harganya. Nyata sekali gadis ini berbeda dengan yang lain.
Penawaran dimulai dengan harga minimal 250 juta. Laki-laki muda yang datang belakangan terkejut. Karena ia mengenal perempuan itu. Ia mengerjapkan matanya, tapi itu memang dia. Laki-laki itu sangat mengenalnya.
"500juta!"
"550juta!"
"Ambil dia untukku!"
__ADS_1
"600juta!"
Harga terus naik meroket.
"700juta!"
Laki-laki itu berteriak.
"1 milyar!"
Semua terdiam dan gadis cantik itu menjadi milik si pria muda. Transaksi berjalan dengan cepat.
Parrr!
Beberapa pukulan tak jua membuat Raffaza mengaku. Bibir laki-laki itu pecah dan mengeluarkan darah bercucuran akibat kemarahan Raka, Deni dan Sammy. Ia mengaku memang berniat Menculik Cindy, tetapi tak jadi sebab ia mendapat kabar ibumya diculik.
"Cepat katakan di mana kedua anak buahmu menyembunyikan putriku? brengsek!"
"Tidak pak! Saya sudah berkali-kali bilang bahwa saya tidak menculiknya, seharian saya disini memikirkan bagaimana saya bisa membebaskan ibu saya. Tentang anak buah saya itu, mereka sudah saya pecat!"
Raka, Deni dan Sammy sudah kehabisan tenaga dan pikiran memaksa Raffaza bicara tentang penculikkan itu. Tapi dia tak juga mengaku. Hingga ketiganya berpikiran ada orang ketiga.
Ketiganya hampir putus asa. kebingungan bahkan sangat ketakutan. Karena malam sudah kian larut.
Tiba-tiba handphone Raka berdering. Raka buru-buru mengangkatnya dan wajahnya berubah.
Diseberang sana terdengar suara putri kesayangannya.
Meskipun Raka terkejut oleh suara Cindy di sebrang. Dia nyaris tak percaya. Tapi dia tak salah dengar, itu adalah suara putrinya yang sangat ia kenali.
Serta merta ia berteriak.
"Sudah selesai!"
Raka bergegas meninggalkan tempat itu diikuti oleh Deni dan Sammy. Sementara raffaza hanya memandangi kepergian ketiga orang itu dengan bibir yang meringis.
Ia tak habis pikir siapa yang telah menculik gadis itu? hingga Ia mendapatkan telepon dari anak buahnya yang mengatakan bahwa mereka sekarang tidak membutuhkan dirinya lagi.
Karena sudah mendapatkan bos yang lebih baik dan Royal. Bahkan sudah berhasil mendapatkan imbalan yang sangat besar.
Sebab telah memberikan kontribusi yang bernilai satu milyar. Mereka berhasil menculik dan menjual gadis yang sangat istimewa yakni Ibu Cindy Larasati. Sang pemimpin perusahaan yang menjadi obsesi Raffaza.
Terdengar kedua laki-laki itu agaknya sedang menikmati pesta. Banyak suara tawa dan musik keras.
"Ha ha ha, gadis itu telah menjadi milik laki-laki lain, dan malam ini laki-laki yang beruntung itu akan mengambil keperawanan seharga satu milyar, ha ha ha fantastik kan!"
Rafa sangat terkejut oleh berita yang diberikan oleh mantan anak buahnya. Ia berteriak memaki-maki kedua orang itu.
__ADS_1
Sebab karena ulah mereka ia kena getahnya. Ia hampir saja mati di hajar habis-habisan oleh ayah dan Paman gadis itu. Sedangkan mereka enak-enakan berpesta dan makan-makan merayakan keberhasilan mendapatkan imbalan yang besar.
"Awas kalian! Lihat saja nanti!"
Ha ha ha!
Raffaza membuang handphonenya. Ia merasa dunianya telah runtuh. Ketiga orang penting di perusahaan telah mengetahui sepak terjangnya. Ia melempari semua barang-barang hingga ruangan itu hancur berantakkan. Raffaza menjerit hesteris.
"Apa yang terjadi kenapa kau ada di tempat itu?"
Laki-laki itu yang tak lain adalah Alan, yakni sahabat Rakasiwi dan Alfredo telah menjadi pahlawan bagi Cindy. Ia memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Cindy yang blazarnya telah dilepas oleh orang-orang malam. Mereka memang disebut begitu sebab mereka hanya beraktifitas saat malam.
"Panjang ceritanya, tapi aku sangat yakin akan ada seseorang yang mengeluarkan aku dari tempat itu, sangat yakin. Aku terus berdoa dan berzikir tiada henti. Ternyata Allah mengirimmu, kau adalah pahlawanku kak Alan.
Alan tersenyum, ia tidak tahu kenapa ia senang pada kata-kata Cindy.
"He he, aku sendiri baru kali itu kesana, biasanya aku menolak dan sama sekali tidak tertarik. Hanya menghabiskan uang dan juga perbuatan maksiat dan dosa besar menurutku. Tapi entahlah tadi seperti tak sadar saja pergi ke tempat itu."
"Allah Swt yang telah menggerakkan langkahmu ke tempat itu untuk menolongku. Tadi pagi aku diculik oleh komplotan mereka tak jauh dari pos pintu gerbang komplek. Aku pikir mereka petugas yang sedang memperbaiki jalan yang tiba-tiba rusak. Aku membuka jendela untuk mencari tahu. Saat itulah salah satu dari mereka masuk dan membekap wajahku dan aku pingsan."
Cindy mengingat mobilnya, kata Alan temannya akan mengurus semua barang-barang milik gadis yang Cindy telah sebutkan. Gadis itu dalam kemarahannya mengancam bahwa perbuatan mereka itu akan dilaporkan pada polisi.
Percuma saja, kegiatan mereka itu seperti setan, berpindah-pindah tempat dan sulit dilacak. Mereka seperti siluman. Meski sudah berkali-kali di berantas tetapi mereka tumbuh lagi seperti jamur di musim hujan.
Keduanya terdiam. Hingga akhirnya kenderaan Alan memasuki pintu gerbang rumah besar tersebut. Mardo, Tria, Dode dan Rama menyambut hesteris.
Bersamaan Raka, Deni, Sammy disusul Alfredo sampai. Raka berlari ke rumah dan melihat Cindy segar bugar.
"Ayah! aku baik baik saja."
Laki-laki itu dan putrinya berpelukan. Cindi terisak-isak di dada ayahnya. Begitu juga Raka menitikkan air matanya. Ia sangat bersyukur karena Cindy masih diberikan keselamatan.
Deni, Sammy dan akhirnya Alfredo memeluk kekasihnya. Dalam kediamannya Alfredo juga berdoa untuk keselamatan Cindy.
"Ayah, bunda, om Deni dan om Sammy, dia adalah pahlawanku yang menebusku dengan uangnya sebesar satu milyar. Kalau tidak ada kak Alan... "
Cindy tak sanggup melanjutkannya. Seperti yang Alan ceritakan pada Cindy ia juga bercerita pada mereka yang ada diruangan itu bahwa dia seperti digerakkan kesana. Katanya pada mereka semua.
"Itu adalah pertolongan Allah melalui Alan, Om akan menganti uangmu dua kali lipat."
Alan tersipu.
"Terima kasih Om Raka, saya melakukannya ikhlas, tetapi saya sangat senang jika mendapatkan hadiah dua kali lipat, om Raka sangat kaya raya, saya perlu untuk memperbesar usaha saya."
"Ah, dasar mata duitan."
Alfredo meninju lengan sahabatnya.
__ADS_1
Selanjutnya Mardo Tria menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Semua bahagia malam itu.
bersambung