Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 36. Vana dan Papinya


__ADS_3

Liburan tak terlupakan di kota Merauke telah usai. Namun mereka sulit untuk tidak teringat hari hari di sana. Setiap bangun di pagi hari serasa masih berada di kota itu. Merauke dan suasana kapal Watam pone masih saja melekat di jiwa. Mardo berusaha memulihkan diri.  Kebiasaan di rumah ia lakukan lagi.  Setiap pagi ia membuka jendela jendela dan pintu.   Kemudian berdiri di teras.  Dulu saat pertama pindah dan semuanya serba aneh dan unik. Setiap pagi menunggu dan mengintip orang papua lewat di depan adalah kebiasaan seperti halnya minum susu. Setelah pulang liburan Mardo melakukannya lagi.  Ia sengaja berolah raga di teras untuk melihat lagi penduduk asli lewat.  Dimulai dengan seorang laki laki yang bertubuh tinggi tegap.   Hanya mengenakan koteka yang diikatkan di pinggang. Jam enam pagi secara rutin laki laki itu melintas di depan rumah.  Ia menuju sebuah tempat. Laki laki berkulit hitam, rambut gimbal berjalan lurus dan tak pernah menoleh.


Papi, Mami, Mangara, Mardo serta Pat menahan napas ketika ia lewat. Tidak ada yang terjadi selama ini. Hanya saja kenapa mesti jam enam pagi?  selalu tepat waktu.  Dan  berjalan lurus sendirian. Bertelanjang dan tidak memakai alas kaki.  Kemanakah dia menuju? dan kapan kembali?  tidak pernah tau.  Besok pagi dan pagi lagi ia muncul dan berjalan lurus tak pernah menoleh.


"Mau kenalan ya? nanti kupanggilkan,"  Manggara suka meledeknya saat mendapati adiknya tengah memandang laki laki penduduk asli itu.


"Ah, kayak berani aja," Mardo melengos meninggalkan Mangara yang menatap si orang Papua yang menjauh dan akhirnya menghilang.


"Sudah lewatkah?


Papi. Mami, dan Pat  melongokkan kepalanya. Mereka selalu ketinggalan he he he.


"Tinggal jejaknya tuh, makanya pagi pagi tungguin di depan.   Bangun kesiangan melulu."


Manggara menatap adik terkecilnya yang tergopoh bangun dari tempat tidurnya masih dengan selimut.


Pat hanya tersenyum kembali lagi ke kamarnya.


"Kapan kalian masuk sekolah?"


Tiba tiba Papi menanyakan ketiga anaknya.


"Kalau Mardo lusa Pi, masih sempat ke mall Pi beli perlengkapan sekolah ya Pi."


Mardo mengerling pada Papi, biasanya papi mengajak anak anak ke mall setiap menjelang usai liburan. Melihat lihat barang keperluan sekolah.


"Sama, Abang juga lusa Pi. semua juga lusa iya kan Pat?"


"Iya, Pi mau ke mall ya? Dede mau beli sepatu balet Pi."


Mereka semua merayu dan merajuk pada laki laki berkharisma yang tak pernah marah itu.


"Benar Pi, kita ke mall yuk. Pengen beli tas baru Pi."


Wanita cantik istri Papi yang juga senang belanja ikutan merayu.


"Kalau Papi sih pengen menonton, ayo lah hari ini kita senang senang."

__ADS_1


Asyik!


Rumah itu penuh teriakkan kegembiraan, sampai sampai tetangga sebelah kaget dan berlari keluar untuk menengok, ada kegembiraan apa ya mereka? Tetangga kepo.


******


Di Rumah Vana.


"Papi sudah putuskan akan menikah lagi. Adik adikmu perlu seorang mami,"


Terdengar isak tangis Vana. Teringat pesan Mami yang sudah meninggal serta pengorbanannya.


"A-aku sudah berusaha menggantikan mami Pi, aku mengurus adik adik dan keluarga ini!  hingga peringkatku turun di sekolah!"


"Iya, Papi menyesal. Tapi keputusan Papi sudah bulat. Ini juga demi kamu, sekolahmu dan impianmu. Mana mungkin sekolahmu maju jika kamu repot mengurus adik adik."


"Aku tidak repot Pi,  aku hanya turun peringkat tidak masalah. Lagian ada Boni yang sangat bertanggung jawab."


"Vana! kenapa kamu tidak mengerti juga! Papi ini seorang pria normal yang membutuhkan seorang perempuan!"


"Mamimu sudah meninggal, kehidupan terus berjalan. Bukan Papi menghianati mamimu.  Papi memikirkan kalian


"Papi egois! Vana benci benciii!"


Gadis itu berlari masuk ke kamarnya dan menangis di sana. Sedangkan laki laki itu membanting asbak hingga pecah berantakkan.


Adik kecil terkejut dan menangis menjerit jerit. Seorang laki laki berkulit hitam legam,   berambut keriting yang gimbal berlari dari belakang mengambil adik dan menimangnya.  Laki laki itu bernama Boni. Anak Papua. Sejak kecil ia ikut dengan keluarga Vana.  Sekarang dialah yang diandalkan menjaga adik adik dan mengurus rumah.  Meski pun laki laki ia telaten dan bisa mengerjakan semua hal,  ia sayang pada adik adik dan menganggap keluarga itu adalah keluarganya.  Ia sudah tidak memiliki orang tua,   sejak kecil ia diasuh dan dibesarkan oleh Pak Malik  yakni Papi Vana.


"Boni bawa sini,"  laki laki itu memanggil Boni dan mengambil Adik dari gendongannya. Papi memeluk Adik dan berusaha mendiamkannya.


"Boni, bagaimana kursusmu? lulus?" laki laki itu menatap Boni. Anak laki laki yang ia ajak masuk kedalam keluarganya.  Ayah Boni dulu bekerja di kantornya. Dan meninggal karena digigit ular. Boni datang ke kantor dan setiap hari menunggunya. Suatu hari Boni menyongsongnya dan menangis sambil memegang tangannya.


"Bapak, tolong beta. Boleh beta ikut bekerja sama Bapak?"


Mata anak laki laki itu penuh air mata, wajahnya yang hitam memelas.


"Beta ingin menghidupi ibu dan adik Bapak,  tolong beta pak."

__ADS_1


"Oh Boni, kasihan sekali kamu. Mau ikut bapak? bantu bantu ibu di rumah sambil sekolah mau?"


Langsung anak papua itu bersujud di kakinya,"Mau bapak,beta mau!"


Sejak itu anak laki laki asli Papua yang cerdas bernama Boni menjadi anak laki lakinya. Pak Malik memiliki lima anak perempuan. Ia menyekolahkan Boni  dan menyuruhnya kursus menyetir mobil, komputer dan banyak ketrampilan. Selama ini Boni sangat membanggakan.


"Beta sudah lulus kursus menyetir Bapak,  Alhamdulillah."


Boni berseri seri wajahnya.


"Kalau begitu kau boleh pakai mobil sedan untuk kemana mana, sudah jadi simnya juga kah?"


"Sudah Bapak."


"Bagus Boni, nanti bapak kasih kunci mobil untuk kamu bawa, antar anak anak sekolah dan belanja, juga boleh kamu bawa menengok ibumu hemm."


"Terima kasih Bapak," Boni bahagia sekali. Sejak ikut pak Malik kehidupan ibu dan adiknya tak kekurangan lagi.


Ia berjanji akan mengabdi seumur hidupnya hanya pada pak Malik.


Vana menangis dan terus menangis. Apa artinya pengorbanannya selama ini. Bahkan ia diam saat laki-laki yang ia hormati itu menidurinya. Ia menyimpan rahasia itu sendirian. Betapa kejamnya Papi. Inikah yang Mami rasakan hingga tak tahan dan memilih mengakhiri hidupnya. Papi selalu egois. Tak pernah mendengarkan curahan


hati istrinya. Papi hanya pulang untuk memberi uang dan tidur semalam, kemudian pergi selama berbulan-bulan. Papi tak mau tahu urusan anak-anaknya. Terakhir yang menyakitkan hati mami adalah keinginan Papi untuk menikah lagi, untuk menemaninya di tempat tugas. Jelas-jelas Mami tak mengijinkan. Tapi Papi mengancam dan mengintimidasi Mami. Hingga Mami mengambil keputusan itu.


"Papi!"


Vana menjerit hesteris, mengejutkan Papi, Boni serta adik-adik. Mereka semua lari ke kamar Vana.


Di sana Vana tengah menangis, dan sangat marah. Ia menatap Papi dan melompat memukul dan mencakar Papi.


"Plak! plak! plak!'


Papi menampar gadis itu. Vana jatuh terjerembab.


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2