
Prita mengangkat wajahnya dan melihat sosok Alan yang baru saja meninggalkan
dirinya setelah mengucapkan perkataan yang agak nyelikit.
"Oh cowo itu yang ketemu di parkiran!"
Dia tak mengerti kenapa laki-laki muda itu mengucapkan kata seperti itu.
Rakasiwi memberikannya potongan buah, dan bertanya, "Apa kau bosan?"
"Nggak kok, aku santai,"
Prita tersenyum, tiba-tiba teman-teman Rakasiwi menghampiri dan ingin pria muda
itu bermain gitar dan bernyanyi untuk mereka. Seperti juga ayahnya Raka Bramantyo
juga mahir bermain gitar. Semua teman sekolahnya tau ia bisa lembut dan juga garang
saat bermain gitar. Jika Rakasiwi sudah manggung biasanya gadis-gadis hesteris oleh
pesonanya.
Rakasiwi awalnya menolak tetapi teman-temannya setengah memaksanya, Prita juga
menyemangati supaya menerima permintaan teman-temannya, jadilah Rakasiwi
sekali lagi maju ke depan sambil membawa gitar. Seorang teman gadisnya meletakkan
sebuah kursi agar Rakasiwi bisa bermain gitar sambil duduk. Rakasiwi menggeleng-
gelengkan kepalanya, "Dua kali di todong! lain kali malas ah kalau begini, kalian
sungguh merepotkan aku."
Tetapi teman-temannya hanya tertawa kecil dan bersuit-suit.
"Jangan lupa sawernya!"
Raka tersenyum, gadis-gadis melihat manis sekali senyum dan matanya yang kadang
sedikit jahil. Ia memeluk gitarnya memilih posisi yang nyaman, memeriksa dan
menyetel senar gitar, agar mengeluarkan suara yang merdu, Ia menggigit bibir bawahnya
dan memejamkan mata untuk fokus mendengarkan nada yang tepat.
mencoba memetik.
"Lagu apa? kalau penodongan kayak gini lupa semua lagunya."
Rakasiwi masih mengomel di depan, "Lupa syairnya kali!"
Teman-temannya riuh, "Ayo nyanyi! main gitar!"
Denting-denting gitar mulai terdengar, tepuk tangan semakin menjadi-jadi dan terdengarlah
suara serak yang jantan.
'Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh karena dirimu
Karena hati telah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa
Ku slalu memujaku
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh bayangmu seakan-akan
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Oh seperti udara yang kuhela
kau selalu ada
__ADS_1
Oh...oh...oh...oh
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi
"Lagi! nambah! lagi dong Rakasiwi, keren!"
Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan tersebut.
Terakhir, Rakasiwi langsung memainkan musik bernada lagu
gelang sipatu gelang dan menuntaskannya. Ia kembali ke
sebelah Prita dan Cindy.
"Suaranya tambah mantap kak!"
Cindy menyambut kakak Rakasiwinya, yang menjentik hidung
mancung adiknya. Rakasiwi saling pandang dan tersenyum.
"Yuk kak kita pulang! kata bunda jangan pulang terlalu malam."
Cindy mengajak Prita dan Rakasiwi pulang, tapi Alan tiba-tiba
datang, "Ah jangan pulang dulu, kalian ini mentang-mentang
bawa pasangan trus mau cepat-cepat pergi, kan masih ada
yang mau kita bicarakan Bro."
"Oh ya? boleh tapi jangan lama-lama ya, sebentar,"
Kembali Rakasiwi menyentuh lengan Prita dan rambut adiknya
Cindy supaya bersabar sebentar.
Beberapa laki-laki pergi ke sebuah meja dan mereka berbincang
sesaat dan menanda tangani sesuatu. Rakasiwi kemudian menyalami
Alan masih berusaha menahan, sikapnya berbeda. Ia beberapa
kali mencegah Alfredo supaya jangan pulang. Karena biasanya
mereka selalu bertiga, hingga lelah dan pulang.
"Lan, jangan jealous ya, Tria nungguin elo noh di rumah."
Rakasiwi meninju bahu sahabatnya itu.
"Nggak lah! gwe kaget aja, loe kesini sama cewe itu, dan Edo bawa adik loe."
Suara Alan terasa menyayat oleh kecemburuannya. Ketika pertama kali
bertemu Prita, ia menyukai gadis itu dan ingin berkenalan bahkan
berusaha mengikutinya, ia berharap dan menunggu suatu ketika pasti
bertemua gadis cantik itu lagi, kesempatan pasti datang, tetapi ternyata
Rakasiwi bersama Prita di malam itu.
Alan menggigit bibirnya, ada rasa perih dan tak rela. Kenapa Rakasiwi
selalu yang menang darinya. Sedang dia selalu saja menjadi nomer
dua bahkan yang ketiga. Saat mereka dulu bersaing untuk menjadi
ketua osis ternyata suara terbanyak jatuh pada Rakasiwi. Bahkan
ia tak bisa melampau Rakasiwi di dalam pelajaran. Ia sudah coba berbagai
cara untuk mengalahkannya, tetapi selalu saja temannya itu nomer satu.
Huah! Alan menendang batu di jalanan beraspal yang mengakibatkan
kakinya sakit. Ia mengaduh dan terduduk mengusapi sepatunya. Sementara
restoran tersebut telah sepi. Ia membiarkan semua teman-temannya
__ADS_1
pulang. Ia kesal pada Alfredo, kecewa pada Prita dan terutama Rakasiwi.
Dia tak habis pikir kenapa Rakasiwi selalu mendapatkan keberuntungan
dan mudah sekali mendapatkan sesuatu. Bahkan Rakasiwi tak pernah merencanakannya.
Semula ia berharap ia yang akan menjadi ketua organisasi pertemanan yang baru saja
terbentuk, tetapi teman-teman lain justru menjatuhkan pilihan pada Rakasiwi,
sial! sial!!!!
Padahal dia yang memprakarsai acara tersebut, mengumpulkan satu persaru
teman-temannya. Huah!! aku tak mau terlibat lagi kalau begini. Biar Rakasiwi
yang mengurusnya. Aku tau mau turun tangan untuk selanjutnya. Keningnya
berkerut-kerut oleh kekecewaan yang melandanya malam itu.
Alan Sukmawijaya pria muda yang ambisius, Ia putra pertama dari ayah serta
ibunya yang memiliki tiga orang adik. Ayahnya bekerja sebagai pegawai
negeri sipil. Dan ibunya berbisnis di rumah. Penghasilan ibunya dari berbisnis
jaringan cukup besar sehingga bisa mencicil ruko di pinggir jalan. Setiap hari
banyak orang berdatangan ke roku yang dibuat sebagai kantor sekaligus
stokis.
Ibunya juga mengajari anak itu berbisnis, untuk mengembangkan usaha ibunya.
tetapi Alan lebih senang keluyuran memamerkan mobil baru yang dibeli oleh
ibunya. Sekarang ia melihat kehidupan Rakasiwi yang bergelimang harta, Ayahnya
sudah menyertakan Rakasiwi di dalam bisnis sejak masih smp. Anak itu dipercaya
memegang pembukuan beberapa buah cabang toko minuman, dan mengurus
keuangannya.
Alhasil Rakasiwi sudah bisa melakukan managemen sebuah perusahaan jika
kelak ia berniat membuka cv atau pt.Tentunya sudah tak gamang lagi. Alan
sudah melihat dan tau semua yang dilakukan Rakasiwi. Sebelum terlambat
ia juga akan melakukan seperti halnya Raka. Penawaran ibunya agar ia terjun
ditoko stokis semoga masih berlaku. Besok ia akan menghabiskan harinya
di ruko ibunya. Perduli setan dengan pertemanan!
Alan merutuk kesal.
Lebih baik ia belajar dan mempelajari bagaimana ibunya bisa membesarkan
bisnis jaringan tersebut. Usaha tersebut juga mirip dengan cafe Pria Idola
yang menyebar di berbagai tempat. Bisnis ibunya juga bisa beranak pinak
jika ia bisa merekrut banyak member. Ia pasti bisa memgembangkannya, Alan
menyesal kenapa tak dari dulu ia bekerja bersama ibu. Sekarang ia baru
memulai. Padahal sebuah bisnis jika lebih cepat memulai akan lebih cepat
pula sukses.
Bersambung
Hello Pembaca yang baik, jangan lupa memberi like, komen
vote, bintang lima,author sangat berterima kasih
__ADS_1