Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 145.Ada Yang Jealous


__ADS_3

Prita mengangkat wajahnya dan melihat sosok Alan yang baru saja meninggalkan


dirinya setelah mengucapkan perkataan yang agak nyelikit.


"Oh cowo itu yang ketemu di parkiran!"


Dia tak mengerti kenapa laki-laki muda itu mengucapkan kata seperti itu.


Rakasiwi memberikannya potongan buah, dan bertanya, "Apa kau bosan?"


"Nggak kok, aku santai,"


Prita tersenyum, tiba-tiba teman-teman Rakasiwi menghampiri dan ingin pria muda


itu bermain gitar dan bernyanyi untuk mereka. Seperti juga ayahnya Raka Bramantyo


juga mahir bermain gitar. Semua teman sekolahnya tau ia bisa lembut dan juga garang


saat bermain gitar. Jika Rakasiwi sudah manggung biasanya gadis-gadis hesteris oleh


pesonanya.


Rakasiwi awalnya menolak tetapi teman-temannya setengah memaksanya, Prita juga


menyemangati supaya menerima permintaan teman-temannya, jadilah Rakasiwi


sekali lagi maju ke depan sambil membawa gitar. Seorang teman gadisnya meletakkan


sebuah kursi agar Rakasiwi bisa bermain gitar sambil duduk. Rakasiwi menggeleng-


gelengkan kepalanya, "Dua kali di todong! lain kali malas ah kalau begini, kalian


sungguh merepotkan aku."


Tetapi teman-temannya hanya tertawa kecil dan bersuit-suit.


"Jangan lupa sawernya!"


Raka tersenyum, gadis-gadis melihat manis sekali senyum dan matanya yang kadang


sedikit jahil. Ia memeluk gitarnya  memilih posisi yang nyaman, memeriksa  dan


menyetel senar gitar, agar mengeluarkan suara yang merdu, Ia menggigit bibir bawahnya


dan memejamkan mata untuk fokus mendengarkan nada yang tepat.


mencoba memetik.


"Lagu apa? kalau penodongan kayak gini lupa semua lagunya."


Rakasiwi masih mengomel di depan, "Lupa syairnya kali!"


Teman-temannya riuh, "Ayo nyanyi! main gitar!"


Denting-denting gitar mulai terdengar, tepuk tangan semakin menjadi-jadi dan terdengarlah


suara serak yang jantan.


'Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu


Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu


Karena langkah merapuh karena dirimu


Karena hati telah letih


Aku ingin menjadi sesuatu  yang selalu bisa kau sentuh


Aku ingin kau tahu bahwa


Ku slalu memujaku


Tanpamu sepinya waktu merantai hati


Oh bayangmu seakan-akan


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu


Oh seperti udara  yang kuhela


kau selalu ada

__ADS_1


Oh...oh...oh...oh


Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang


tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi


 


"Lagi! nambah! lagi dong Rakasiwi, keren!"


Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan tersebut.


Terakhir, Rakasiwi langsung memainkan musik bernada lagu


gelang sipatu gelang dan menuntaskannya. Ia kembali ke


sebelah Prita dan Cindy.


"Suaranya tambah mantap kak!"


Cindy menyambut  kakak Rakasiwinya, yang menjentik hidung


mancung adiknya. Rakasiwi saling pandang dan tersenyum.


"Yuk kak kita pulang! kata bunda jangan pulang terlalu malam."


Cindy mengajak Prita dan Rakasiwi pulang, tapi Alan tiba-tiba


datang, "Ah jangan pulang dulu, kalian ini mentang-mentang


bawa pasangan trus mau cepat-cepat pergi, kan masih  ada


yang mau kita bicarakan Bro."


"Oh ya? boleh tapi jangan lama-lama ya, sebentar,"


Kembali Rakasiwi menyentuh lengan Prita dan rambut adiknya


Cindy supaya bersabar sebentar.


Beberapa laki-laki pergi ke sebuah meja dan mereka berbincang


sesaat dan menanda tangani sesuatu. Rakasiwi kemudian menyalami


Alan masih berusaha menahan, sikapnya berbeda. Ia beberapa


kali mencegah Alfredo supaya jangan pulang. Karena biasanya


mereka selalu bertiga, hingga lelah dan pulang.


"Lan, jangan jealous ya, Tria nungguin elo noh di rumah."


Rakasiwi meninju bahu sahabatnya itu.


"Nggak lah! gwe kaget aja, loe kesini sama cewe itu, dan Edo bawa adik loe."


Suara Alan terasa menyayat oleh kecemburuannya. Ketika pertama kali


bertemu Prita, ia menyukai gadis itu dan ingin berkenalan bahkan


berusaha mengikutinya, ia berharap dan menunggu suatu ketika pasti


bertemua gadis cantik itu lagi, kesempatan pasti datang, tetapi ternyata


Rakasiwi bersama Prita di malam itu.


Alan menggigit bibirnya, ada rasa perih dan tak rela. Kenapa Rakasiwi


selalu yang menang darinya. Sedang dia selalu saja menjadi nomer


dua bahkan yang ketiga. Saat mereka dulu bersaing untuk menjadi


ketua osis ternyata suara terbanyak jatuh pada Rakasiwi. Bahkan


ia tak bisa melampau Rakasiwi di dalam pelajaran. Ia sudah coba berbagai


cara untuk mengalahkannya, tetapi selalu saja temannya itu nomer satu.


Huah! Alan menendang batu di jalanan beraspal yang mengakibatkan


kakinya sakit. Ia mengaduh dan terduduk mengusapi sepatunya. Sementara


restoran tersebut telah sepi. Ia membiarkan semua teman-temannya

__ADS_1


pulang. Ia kesal pada Alfredo, kecewa pada Prita dan terutama Rakasiwi.


Dia tak habis pikir kenapa Rakasiwi selalu mendapatkan keberuntungan


dan mudah sekali mendapatkan sesuatu. Bahkan Rakasiwi  tak pernah merencanakannya.


Semula ia berharap ia yang akan menjadi ketua organisasi pertemanan yang baru saja


terbentuk, tetapi teman-teman lain justru menjatuhkan pilihan pada Rakasiwi,


sial! sial!!!!


Padahal dia yang memprakarsai acara tersebut, mengumpulkan satu persaru


teman-temannya. Huah!! aku tak mau terlibat lagi kalau begini. Biar Rakasiwi


yang mengurusnya. Aku tau mau turun tangan untuk selanjutnya. Keningnya


berkerut-kerut oleh kekecewaan yang melandanya malam itu.


Alan Sukmawijaya pria muda yang ambisius, Ia putra pertama dari ayah serta


ibunya yang memiliki tiga orang adik. Ayahnya bekerja sebagai pegawai


negeri sipil. Dan ibunya berbisnis di rumah. Penghasilan ibunya dari berbisnis


jaringan cukup besar sehingga bisa mencicil ruko di pinggir jalan. Setiap hari


banyak orang berdatangan ke roku yang dibuat sebagai kantor sekaligus


stokis.


Ibunya juga mengajari anak itu berbisnis, untuk mengembangkan usaha ibunya.


tetapi Alan lebih senang keluyuran memamerkan mobil baru yang dibeli oleh


ibunya.  Sekarang ia melihat kehidupan Rakasiwi yang bergelimang harta, Ayahnya


sudah menyertakan Rakasiwi di dalam bisnis sejak masih smp. Anak itu dipercaya


memegang  pembukuan beberapa buah cabang toko minuman, dan mengurus


keuangannya.


Alhasil Rakasiwi sudah bisa melakukan managemen sebuah perusahaan jika


kelak ia berniat membuka cv atau pt.Tentunya sudah tak gamang lagi. Alan


sudah melihat dan tau semua yang dilakukan Rakasiwi. Sebelum terlambat


ia juga akan melakukan seperti halnya Raka. Penawaran ibunya agar ia terjun


ditoko stokis semoga masih berlaku. Besok ia akan menghabiskan harinya


di ruko ibunya. Perduli setan dengan pertemanan!


Alan merutuk kesal.


Lebih baik ia belajar dan mempelajari bagaimana ibunya bisa membesarkan


bisnis jaringan tersebut. Usaha tersebut juga mirip dengan cafe Pria Idola


yang menyebar di berbagai tempat. Bisnis ibunya juga bisa beranak pinak


jika ia bisa merekrut banyak member. Ia pasti bisa memgembangkannya, Alan


menyesal kenapa tak dari dulu ia bekerja bersama ibu. Sekarang ia baru


memulai. Padahal sebuah bisnis jika lebih cepat memulai akan lebih cepat


pula sukses.


 


 


 


Bersambung


Hello Pembaca yang baik, jangan lupa memberi like, komen


vote, bintang lima,author sangat berterima kasih

__ADS_1


__ADS_2