
Boy kembali ke ruangannya dan membuka bekal makanan dari rumah. Ia menikmati makanan itu hingga habis. Ia berencana ke ruangan Prita setelah menyelesaikan makanannya. Ia tersenyum mengingat beberapa kejadian dengan gadis itu. Agaknya si gadis sedang menghadapi situasi perubahan. Dari seorang tomboy berubah menjadi feminim. Ia berubah sebab akan bekerja.
Tetapi ia lucu dan imut dengan rok sepan serta kemeja berbagai model. Gadis itu terbiasa dengan celana jeans, saat ia merubah penampilannya, justru gadis itu terlihat beda.
Boy tersenyum-senyum mengingat Prita. Tak sabar rasanya ia kembali ke ruangan gadis itu. Sementara Prita dan teman-temannya sedang sholat di mushola. Seusai makan dan menikmati es campur. Selanjutnya ke mushola menunaikan sholat dhuhur.
Barulah ketiga gadis itu naik dan bercengkrama di ruangan mereka. Tiba-tiba Boy datang menyapa ketiganya.
"Hello gadis moge rupanya kamu bekerja di perusahaanku. Hari itu kamu membeli beberapa rok rupanya untuk memulai kerja di sini he he he."
Prita melebarkan matanya pada Boy yang tiba-tiba saja datang. berceloteh yang tidak-tidak. Marlina dan Dian saling pandang. Mereka tak mengerti, kenapa tiba-tiba pria muda berwajah tampan kekanakkan tersebut terlihat akrab dengan Prita.
"Besok temani aku menemui klien ya, aku dengar kamu pandai menghitung dan menentukan harga. Aku ingin kamu menghitung nilai kerjasamanya."
"Eh, tunggu! Bukan a-aku! jangan sembarangan!"
"Jangan menolak, pokoknya besok ikut denganku!"
Laki-laki itu melangkahkan kakinya lebar-lebar. Prita terbengong memandangi tubuh tegap tinggi itu.
"Dian, Lina! kenapa kalian diam saja, aku belum bisa menaksir dan menghitung dengat tepat. Mestinya salah satu dari kalian, bukan aku!"
"Loh, dia sudah memilihmu dan juga sudah memutuskan bahwa dirimu yang akan pergi bersamanya. Jadi kami tidak bisa apa-apa. Pergilah, sudah terima saja anggap saja itu keberuntunganmu pergi berdua dengan pemilik perusahaan."
Boy senang, dia akhirnya memiliki kesempatan bertemu gadis bernama Prita Pujaningrum.
__ADS_1
"Hemm, namanya bagus sekali Prita Pujaningrum."
Pria muda itu merasakan debaran halus menjalajari dirinya. Sebuah perasaan yang baru sekali ini ia rasakan. Sedikit mengganggu tapi rasa itu menyenangkan. Ia lantas beranjak menemui seseorang dan berkonsultasi tentang pertemuan esok. Ia juga bilang kalau mengajak gadis dari divisi keuangan.
Pria yang agaknya berpengalaman serta bijaksana itu menatap wajah Boy. Lantas tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Laki-laki itu setuju saja dengan pilihan Boy yang membawa divisi terkait.
"Jika memang diperlukan boleh saja membawa seseorang dari divisi mana pun."
"Terima kasih pak, saya masih belajar terus menerus nih. Bapak jangan kapok ya jika saya tanya-tanya tentang pekerjaan."
"Tidak dong Pak Boy, sudah tugas saya. berbagi apa yang saya ketahui."
Keduanya tersenyum lantas berpisah. Boy kembali ke ruangannya. Ia sumringah sekali hari ini. Tak sabar menunggu besok.
Prita sendiri tak habis pikir kenapa dia yang diajak. Dia masih baru, tak banyak yang dia ketahui. Tapi ia memutuskan akan bekerja sebaik-baiknya.
Gadis itu bilang bahwa ia baru saja bekerja di sebuah perusahaan besar. Kalau Richi enak, tinggal menggantikan
papanya di perusahaan. Terdengar suara tertawa di sebrang. Enak saja bilang seperti itu, kan tidak tau bagaimana
perjuangan untuk mendapatkan kepercayaan orang tua. Mesti membuktikan kalau memang pantas mendapatkannya.
"Kamu nggak tau kan, aku mesti mendapatkan nilai bagus, magang bertahun-tahun, bahkan setiap pulang sekolah menjadi pelayan mencuci piring di cafe Pria Idola."
Prita terkejut, ia tak menyangka bahwa Rakasiwi juga mesti bersusah payah untuk mendapatkan kepercayaan dari orang tuanya sendiri.
__ADS_1
"Jadi kamu pernah menjadi pelayan di cafe pria idola? itu kan tempat Elsa kerja."
"Oh, Elsa kerja di Cafe Pria idola mana? Cafe pria Idola itu banyak sekali loh, aku dulu kerja di cafe ayah yang di mall Jakarta Pusat. Cafe pria Idola yang pertama."
"Oh, ja-jadi cafe pria idola itu milik Om Raka ya?"
Rakasiwi tersenyum, ia tak menutupi kebanggaannya memiliki seorang ayah yang sukses membuat bisnisnya
sendiri menjadi raksasa serta menggurita. Raka memulai bisnis tersebut saat ia masih smu. Hingga kini telah memiliki ratusan cafe pria Idola di berbagai tempat bahkan merambat ke luar kota.
"O, aku baru tau kalau Om Raka adalah owner cafe Pria Idola. Pantas saat aku minum dan makan di cafe itu sepertinya familiar, di rumah banyak pernak-pernik bertuliskan Pria Idolah, PI. Sekarang baru aku mengerti."
Priti mangut-mangut lantas memutuskan sambungan telpon sebab ia tak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaannya. Apa lagi ia harus berkemas, sebentar lagi ia harus pulang.
__ADS_1
Bersambung