
Sepanjang perjalanan mereka bertengkar mempersoalkan ini dan itu. Prita berkali-kali membuang wajahnya keluar, atau membesarkan mata sebab kata-kata Boy yang tak bermutu.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan di restoran yang dulu, tapi takut kejadian itu terulang. jadi aku memutuskan mengajakmu ke sebuah cafe."
Akhirnya sampai di sebuah tempat yang tidak asing bagi Prìta.
*'*Inikan cafe Pria Idola milik Rakasiwi!'
Prita sedikit heran memandangi tempat itu kenapa pak Boy mengajaknya ke cafe tersebut. Cafe itu adalah milik Rakasiwi.
"Teman saya bilang minuman di cafe ini sangat enak juga menu-menunya karena itu aku ingin mencobanya bersamamu."
Boy melihat wajah Prita. Ia sempat melihat perubahan di wajah gadis itu tapi dia mengabaikannya. Entah apa maksud Boy mengajaknya ke tempat ini.
"Memangnya punya teman?"
Prita bergumam tak jelas, tetapi Boy mendengarnya dan mengangkat tangannya ingin memukul, Prita tertawa sinis ia cepat menghindar.
"Kamu itu selalu saja menyangka rendah kepadaku, aku memiliki banyak teman enak saja."
"Oh, iya iya. Maaf."
Akhirnya Prita mengalah, dari pada nanti uang gajiannya dipotong. Keduanya memasuki tempat itu dan berdiri sejenak sebelum menentukan di mana mereka duduk.
Pramusaji menyambut kedatangan Prita dan Boy. Menunjukkan dua buah meja yang masih kosong, tinggal memilih. Boy memilih meja yang di bagian kanan. Pramusaji mengantarkan mereka dan memberikan daftar menu. Boy segera menuliskan pesanannya. Kemudian Prita memberitahu pesanannya dan ijin ke toilet.
"Aku sudah memberitahu pak Emir tentang fasilitas mobil untuk wakil direktur. Ia sedang mengurusnya."
Kata Boy saat Prita sudah kembali.
"Serius, aku akan mendapat mobil?"
Boy mengangguk.
"Syaratnya, harus sering pergi ke perusahaan-perusahaan untuk penawaran."
"Siap?"
"Apa aku boleh memilih mobilnya?"
Prita memiliki mobil impian yang ia pajang di kamarnya. Jika saja ia beruntung ia memilihnya. Tetapi kalau tidak Prita tetap saja bersyukur. Masa mau dibelikan mobil rewel.
"Memangnya punya mobil yang diinginkan?"
"Ada."
Prita menyebutkan mobil impiannya.
"Baiklah, nanti aku bicarakan dengan pak Emir."
"Terima kasih, tapi..."
Boy memandang wajah gadis itu.
"Tapi kenapa?"
"Aku tak bisa menyetir."
"Oh, mau kuajari. Paling sehari sudah bisa."
__ADS_1
Semudah itu?"
"Tentu saja, seperti belajar naik motor . Memangnya butuh berapa hari belajar untuk bisa naik motor? hanya beberapa menit kan?"
Prita mengangguk.
"Jadi kau mau kuajari belajar menyetir."
Kembali berpandangan. Prita teringat sahabatnya Elsa. Sekarang kemana saja ia pergi selalu mengenderai mobil sendiri. Apakah Elsa mau jika ia minta diajari. Pasti Elsa tak keberatan.
"Nggak usah, aku nggak mau merepotkanmu."
"Ok, terserah kau saja."
Boy seperti menunggu seseorang. Tapi sepertinya tak terlihat.
"Sepertinya kau mengharapkan seseorang?"
Laki-laki itu tersenyum kecil, ia jelas melihat sosok orang yang bertengkar dengan Prita di rumah sakit.
"Kau jangan berpura-pura lugu, kau jelas tahu siapa yang kuharapkan di sini?"
Prita membesarkan matanya.
"Kau selalu saja menuduh dan berpikiran buruk, memang siapa?"
Boy kembali menyesap minumannya.
"Kau pasti tahu, jangan pura-pura."
Prita rasanya ingin menjitak kepala laki-laki di depannya yang menyebalkan dan suka memaksa.
"Jadi kau tahu seseorang yang berada di sini?"
"Sebenarnya apa yang kau inginkan? bertengkar atau apa?"
Prita menekankan suaranya, terdengar seperti menggeram.
"Ok, kita hanya minum dan makan malam ringan he he he."
Barulah Boy berhenti mengganggunya.
***
Esok harinya Prita mengunjungi Elsa. Keduanya sangat gembira oleh pertemuan itu.
"Hei, sibuk ya? sudah lama tak main."
"He he he, kamu juga Sa, nggak pernah kirim-kirim pesan."
"Iya say, maaf ya hari-hari ya kayak begini sibuk terus. Oia anak kita sudah besar loh Yundiiii! sini nak ada ibu Prita."
Elsa berteriak memanggil Yundy, putra dari sahabat mereka Yunna dan Jaenudin
yang telah meninggal. Anak kecil itu datang menghampiri Elsa yang ia panggil ibu.
"Coba lihat siapa yang datang? ini ibu Prita, ingat nggak?"
Bocah kecil itu menggeleng.
__ADS_1
"Ha ha ha, dia telah melupakanmu, salah sendiri sih, jarang kesini."
"Yahhh, Yundy dah lupa dengan ibu Prita hu hu hu, jadi sedih."
Anak itu hanya senyum tersipu-sipu, memeluk rok Elsa kencang. Prita berusaha mengambilnya hingga terjadi saling tarik menarik yang seru. Suara ketiganya memenuhi ruangan tersebut.
"Kau harus makan siang di sini Prita. Biar kusuruh bibi masak gulai ayam dan lalap daun singkong, sambal terasi, itu kesukaanmu loh."
"Wau! iya udah lama nggak makan gulai ayam, asyik-asyik."
"Ngomong-ngomong tumben kamu kesini i pasti ada sesuatu ya?"
"Iya kamu benar Elsa! feeling kamu selalu tepat. Begini Aku ingin belajar menyetir mobil Sa, bagainana sih? Kamu enak kemana-mana pakai mobil."
"Keren! beli mobil baru ya?"
"Bukan, dapat dari perusahaan."
"Wow! berarti sahabatku bisa mencapai target ya, luar biasa!;"
"Alhamdulillah, seperti biasa aku selalu beruntung."
"Bos aku tadinya mau mengajariku tapi aku nggak enak Sa, lalu teringat padamu. Kau pasti bisa mengajariku say."
"Siap, kebetulan aku kosong hari ini, kita bisa seharian belajar, sama besok aku luangin waktu khusus untuk kamu say."
"Benaran say? alhamdulillah. Makasih ya say."
Berhubung hari itu masih pagi, maka Elsa buru-buru mengajak Prita pergi ke sebuah tempat. Tak lama keduanya sudah memulai pelajaran menyetir mobil. Tak terlalu jauh, dari rumah Elsa ada sebuah lapangan yang sekelilingnya ditumbuhi oleh pohon-pohon mangga sehingga terkesan teduh.
Di sana lah Elsa mengajari Prita mengenderai mobil mengunakan milik Elsa. Kebetulan mobil Elsa tanpa kopling dan gigi. Hal yang memudahkan pembelajaran. Elsa hanya memberitahu tentang rem serta gas.
Elsa mencontohkan pada Prita untuk memulai. Memeriksa Tuas atau perseling dalam keadaan normal. Barulah memasukkan kunci menunggu hingga indikator dan kelistrikkan menyala. Barulah menghidupkan mesin dan terdengar suaranya. Jangan langsung menjalankan mobil saat baru dihidupkan, tetapi menunggu hingga mesin sedikit mamanas dan siap bekerja.
Tak terlalu lama terlihat mobil honda Jass milik Elsa itu memutari lapangan. Dari pelan hingga cepat. Juga terlihat mobil mungil itu mundur dan maju. Belajar parkir. Sejam berikutnya mereka kembali.
"Alhamdulillah, aku bisa Sa. Enak banget sih Sa, pakai mobil."
Elsa hanya tersenyum. Hidup Elsa sangat beruntung, kekayaan ayah Jae jatuh kepadanya yang mengasuh Yundy, putra semata wayang Yunna dan Jaenuddin.
"Masakkan sudah siap bu Elsa."
"Iya Bi, segera ke meja makan."
"Yuk Prita, masakkan gulai ayam kesukaanmu sudah siap disantap."
"Wah, beruntungnya Prita pujaningrum."
Kedua sahabat itu bergegas ke ruang makan, nasi putih pulen, gulai ayam yang wangi, lalap daun singkong serta beberapa lauk pauk terhidang untuk dinikmati."
Setelah makan, keduanya duduk kekenyangan di ruang bersantai. Kata Elsa ada film drama korea baru. Dan tivi berlayar lebar bisa menayangkan you tube. Keduanya larut di dalam cerita.
Bersambung
__ADS_1