
Keakraban semasa remaja dulu serasa kembali disaat mereka telah dewasa. Anak-anak saling sambung menyambung berbincang di wa grup setelah reuni itu. Mardo sering tertawa geli oleh komentar-komentar temannya yang konyol seperti dulu. Setelah menerima rapot selanjutnya Mardo pindah mengikuti papinya yang bertugas ke Papua. Cerita manis dan lucu dengan teman-teman smp di Jakarta selesai. Bersambung dengan
kisah bersama teman-teman baru di kota eksotik. Itu juga tak lama, sebab setelah dua tahun papi dipanggil lagi ke kantor pusat. Saat itu ia baru lulus smp dan akan ke smu.
Mardo kembali bersekolah di Jakarta. Ia bertemu lagi dengan beberapa teman semasa smp. Sashi, Putri dan juga Emily serta beberapa teman lain. Ia merajut kisah putih abu-abu bersama teman-temannya. Masa-masa itu ada beberapa teman laki-laki yang mengejarnya tapi tak berlanjut. Hanya Satria yang masih menyangkut di pikirannya.
Drettt! drettt! drettt!
Lamunan Mardo buyar oleh suara handphone. Ia buru-buru mengambil dan mengangkatnya.
"Bunda!"
Terdengar suara Cindy di sebrang.
"Ya kak, ada apa? kok belum pulang?"
"Itulah bun, mau ngasih
tau pulangnya terlambat, ke rumah teman dulu Bun di Depok."
"Oh, jauh sekali Kak."
"Ramai-ramai kok Bun, ada acara
ulang tahun."
"Ok, hati-hati ya Kak."
"Ok Bun, makasih ya."
Cindy menyadarkan dirinya. Ia sekarang bukan lagi remaja yang memiliki kisah yang berwarna-warni. Melainkan
seorang ibu dengan empat anak. Dua diantaranya sudah beranjak dewasa. Rakasiw dan Cindy. Tak lama lagi Cindy menyelesaikan smu dan akan lanjut ke perguruan tinggi. Sedangkan Rakasiwi selesai dua hingga tiga tahun lagi. Ayahnya ingin Rakaksiwi lanjut hingga mendapatkan s2. Mengingat usianya yang masih muda dan
belum sibuk mengurusi bisnisnya.
Waktu berputar cepat. Setahun-demi tahun terlalui bersama kesibukkan yang silih berganti. Hingga ke hari sekarang. Ia dan Raka telah melewati menit, hari, bulan dan tahun bersama. Cinta mereka bertambah setiap harinya. Kian kuat dan lengket. Mardo bersyukur ia memiliki Raka yang setia dan menjadikankan perempuan paling bahagia. Sempurnanya kehidupan yang dimilikinya.
__ADS_1
Dretttt Drettt Drettt!
Bunyi handphone di atas meja. Mardo tersenyum melihat orang yang sedang ia pikirkan mengirirm pesan.
"Mi, maaf tadi Pipi ada meeeting penting nggak sempat mengabari dan menjemput. Mimi di mana sekarang?"
Mardo merajuk, ia mengerucutkan mulutnya.
"Udah di rumah Pi, pasti Pipi mengandalkan Sashi, Putri atau Emely kan. Dasar Pipi."
"He he he, kalau begitu Pipi akan pulang, pengen dekat dengan anakku."
Mardo tersenyum, "Anak apa Miminya?"
Terdengar suara tawa di sana.
"Ha ha ha, anak dong sekalian ibunya juga muah, tunggu Pipi ya Mi."
"Ok, Mimi menunggu."
Dokter kandungan tersenyum kepada keduannya. Ia hanya memberikan petunjuk kepada Mardo agar setiap pagi
mengukur suhu tubuhnya, lalu hormon. Dan tes itu berwarna biru tepat pada hari yang telah ditentukan oleh dokter. Mardo menelpon dokter dan mengatakan hasilnya. Dokter menyuruhnya memeriksa cairan leher rahimnya. Lagi-lagi hasilnya bagus.
"Hem, sangat bagus, nanti malam adalah waktu yang tepat untuk berhubungan dengan suami, berikutnya saat pagi, semoga apa yang kalian inginkan cepat tercapai."
"Terima kasih Dok, kami akan mengabari secepatnya."
Sepulang dari Dokter kandungan itu, Raka sangat bersemangat. Pipinya terlihat merona. Dokter bilang bahwa dari pemeriksaan Mardo sedang berovulasi, jadi saat yang bagus bagi Raka untuk membuahi istrinya malam itu dan paginya.
Dokter kandungan itu telah membuat pemeriksaan dan jadwal untuk mereka bercinta, malam hari dan pagi harinya. Hal itu membuat keduanya terdiam saat sarapan berdua. Jadwal bercinta dari dokter kandungan membuat keduanya tegang. Sebab tak pernah seperti ini sebelumnya.
"Pi, kau tau apa yang kurasakan tadi malam?"
Mardo memandang Raka sendu.
"Apa Mi?"
__ADS_1
"Aku merasa seperti anak kecil yang kehilangan keperawanan, he he he."
Ketegangan mereka mencair, Raka juga tersenyum dan merasa lebih santai.
"Kita akan melihat hasilnya setelah dua minggu Mi, kabari dokter jika kau haid dan juga sebaliknya."
"Iya Pipi sayang, aku mengingat semua yang dokter katakan."
Menjelang awal bulan, Mardo mulai mual dan sering mengantuk. Ia merasa sedikit berbeda lalu memberitahu Raka.
"Kau pasti hamil Mi!"
"Sebaiknya kita ke dokter Pi, kita harus mengabari dokter seperti yang ia katakan."
Repotnya mereka berdua saat itu. Mondar-mandir ke dokter dan akhirnya dokter berwajah ramah tersebut mengucapkan selamat. Raka mengandeng istrinya keluar dari ruang prakter dokter tersebut. Lalu memeluknya dan menciumi perempuan itu penuh kebahagian.
Mardo tak meragukan betapa Raka sangat dekat dengan anak-anak. Empat anak mereka mendapatkan pengasuhan yang baik. Bangun tengah malam untuk menganti popok, mengendong dan menina bobokan kembali anak mereka. Hingga anak-anak besar tak pernah Raka marah, memukul sedikit pun tubuh anaknya. Melainkan selalu pelukkan, gendongan serta kehangatan yang di dapatkan oleh anak-anak. Mereka semua lekat sekali dengan ayahnya.
Kali ini pun Mardo yakin bahwa Raka yang akan begadang jika nanti anak mereka menangis tengah malam. Menganti poponya dan menina bobokan. Ia mengerti sekali kepayahan Mardo bersalin. Yang ia lakukan tidak ada apa-apanya. Istrinya bersabung nyawa setiap kali melahirkan.
Mengingat suami kesayangannya akan pulang, Mardo segera masuk ke kamar. Ia harus membersihkan diri, meski ia sangat malas. Segera ia menanggalkan bajunya dan melihat perutnya yang mulai membuncit. Ia terlihat berisi. Mardo buru-buru menghindari cermin tersebut. Ia segera ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Tak lama ia muncul dengan handuk melilit tubuhnya. Ia mencari baju kesukaannya, menyisir rambutnya dan merias wajahnya sangat tipis. Ia selalu cantik dan mempesona.
"Hello Mi,"
Raka muncul di pintu dan mengagumi riasan istrinya yang elegan. Mardo menyambut dan mencium tangannya.
"Pipi, mandi dulu gih, Mimi mau memeriksa makan malam."
Raka tau ia tak akan bisa mencium bibir ketipisan milik istrinya itu jika ia belum membersihkan dirinya. Lagi pula ia yang membiasakan seperti itu. Wangi dan bersih saat berdekatan dengan istri. Nantinya anak-anak mereka pun akan memperlihatkan kebersihan itu. Anak-anak memiliki tubuh yang halus, lembut, segar serta bersih. Berkat orang tuanya menjaga kebersihan, bahkan saat bercinta memulainya dengan tubuh yang wangi dan bersih. Sangat indah seperti itu.
Bersambung
__ADS_1