Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 60.Insiden Azhar dan Donny


__ADS_3

Ketika mentari meredup yang pertanda senja telah tiba barulah terdengar suara bibi Shanen dan


paman.


"O,Khairani jadi rupanya kalian datang. Mana gadis Jakarta itu? rindu kali Bibi loh."


Masih lagi di halaman suaranya sudah berteriak-teriak. Beliau memang salah satu dari anak


kakek yang ramai, ceria dan bersemangat.


"Bibi! aku datang!"


Khairani menyambut di depan pintu sembari melebarkan tangannya.


Perempuan setengah baya bertubuh mungil itu melompat dan berteriak senang sambil


berpelukkan, "O, inang benar perasaanku hari ini kalian pasti datang, udah bibi masakkan


kalian gulai ayam loh."


"Ha ha ha, sudah kami habiskan Bi, enak sekali.!"


Lalu matanya menatap pada Mardo yang terbengong dan tersenyum tipis, Yulia masih tidur.


"Oi, gadis Jakarta! di mana kau berada sekarang? ini lah kampung Bibimu Nang, sini peluk


Bibi, dulu kugendong-gendong dan kucium-cium kau waktu kecil."


Mardo meski pun lupa pada bibinya itu, ia menyongsong dan aleman memeluk tubuh bibinya.


Lantas juga Paman yang tersipu pada kehebohan istrinya.


Bibi Shanen bilang, tak bisa pulang cepat-cepat karena banyak sekali orang di pelelangan


getah karet. Tapi ia sudah menyiapkan makanan, masakkan yang beragam. Memberitahu


anaknya untuk melayani dengan baik, jangan sampai mengecewakan. Bibi menanyakan


apakah Amlan sudah memberikan pelayanan terbaik, karena kalau pelayanannya buruk


ia akan menjewer anaknya itu.


Tentu saja Mardo dan Khairani menyampaikan sangat puas pada pelayanan Amlan. Memberi


dua jempol pada Amlan. Bibi kemudian memberitahu bahwa saat pulang tadi, paman mengangkat


bubu yang terikat semalaman di sungai. Di dalam bubu ternyata sudah terperangkap seekor


ikan yang besar serta ikan-ikan kecil. Ada udang juga.


 Bibi bilang akan memasak ikan dan udang-udang tersebut. Tetapi ia minta waktu untuk beristirahat


sebentar, karena sangat kelelahan tadi pelelangan getah. Bibi ijin masuk ke kamarnya.


Khairani dan Mardo menyilahkan bibi dan paman beristirahat. Pekerjaan bibi dan paman


sangat berat. Mereka berdua sejak muda bekerja sebagai pengambil getah di kebun


karet. Berangkat saat masih dini hari. Karena saat-saat seperti itulah getah memancar dan


deras menetes ke mangkok-mangkok penadah. Hasilnya lebih banyak, bagus dan cepat


pula di jual. Terlambat sedikit saja, maka tak bisa diharapkan, pohon karet sulit mengeluarkan


getah. Demi penghasilan untuk membiayai anak-anak,para orang tua menekuni pekerjaan


itu selama bertahun-tahun.


Bibi dan paman berangkat kerja saat dini hari, mereka berdua menuruni lembah. Jika


beruntung mereka bisa menyebrang dengan perahu. Tetapi jika sedang sial, terpaksa


mereka berenang menahankan dinginnya air sungai yang menusuk hingga ke tulang.


Mardo membayangkan betapa berat pekerjaan itu. Beruntung Papinya lebih memilih


pekerjaan di perkantoran.  Jika Papi mengikuti  cara kehidupan penduduk kota kelahiran


tentu seumur bibi dan paman, masih bekerja keras.

__ADS_1


Kota kecil mereka dan kota-kota sekitar penduduknya menggantungkan kehidupan


dengan berkebun di perkebunan kelapa sawit atau perkebunan karet. Terjadi


secara terus menerus dari satu generasi ke generasi lainnya.


Hanya segelintir yang seperti Papi. Meninggalkan kota kecil itu mencari pekerjaan


yang berbeda. Memang tidak dipungkiri banyak sekali penduduk yang menjadi


juragan setelah bekerja bertahun-tahun di perkebunan. Banyak diantara mereka


yang memiliki rumah bagus, mobil, anak-anak yang bergelar sarjana hasil dari


kebun.


Tiba-tiba anak gadis bibi Shanen terlihat menuruni tangga ia membawa handuk


dan keranjang kecil tempat sabun.


"Mau ke sungai kau Amlan?, ikut aku."


Khairani bergegas mengikuti  Amlan, Mardo dan Yulia buru-buru bergegas


mengikuti  Amlan pergi ke sungai yang berada di lembah di depan rumah.


Mereka berjalan sebentar lantas mulai menuruni bukit. Sekeliling mereka kebun sayur dan rempah.


Juga banyak pohon pepaya dan pohon pisang.


Lantas lamat-lamat terdengar gemuruh air yang mengalir deras. Terlihatlah


di bawah sana sebuah sungai yang arusnya deras bergerak-gerak menyusuri


batu-batu yang besar menyebar di dalam sungai. Bunyi gerericik air terdengar


menggelikan telinga.


Khairani, Yulia dan Amlan langsung turun ke dalam sungai, mereka terbiasa


mandi di sungai. Bahkan Amlan dengan cekatan mencebur dan mandi.


karena merasakan aliran air sungai yang menarik kakinya kuat, nyaris membuatnya


terhuyung. Kalau saja Khairani tak memegang tubuhnya, ia pasti telah terjerembab


oleh derasnya arus air sungai. Mardo buru-buru naik ke darat. Ia ketakutan.


Gadis-gadis itu tak lama di sungai, mereka segera kembali ke rumah. Dan menghabiskan


waktu di rumah bibi. Amlan mengajak mereka bermain congklak. Asyik juga.


Sampai mereka di kejutkan oleh teriak-teriakan memanggil nama Bibi. Beberapa anak


memberitahu ada insiden.


Amlan memanggil ibunya yang sedang memasak di dapur.


"Nang, Inang, ada insiden di pintu gerbang, cepat Nang."


Bibi agak terkejut, ada apa? wajahnya menyiratkan seribu pertanyaan.


Mardo, Khai dan Yulia hanya terbengong saja. Mereka tidak  tau apa-apa tentang yang


terjadi. Bibi bergegas mengikuti anak muda itu. Ia memberi kode pada gadis-gadis


untuk tenang dan menunggu di rumah. Jangan ada yang turun dari rumah, begitu


pesan bibi.


Tak lama bibi kembali bersama beberapa anak muda, bibi memanggil Khairani.


Gadis itu menjerit mendekap muilutnya melihat dua anak muda yang berantakan.


Darah mengucur dari bibir yang pecah, agaknya terjadi baku hantam di depan


pintu gerbang.


"Azhar!!! apa yang terjadi? ya ampun! Bang Donny juga berdarah."

__ADS_1


Panik dan terkejut melihat sosok Azhar dan Donny yang di keroyok anak-anak


kampung itu.


Khairani menghapus darah dan memar di wajah Azhar, tangan mereka saling


menggenggam, sedang Donny mencuri pandang pada Mardo yang tercekat


menatapi kemalangan mereka. Ia tidak datang untuk mengobati lukanya. Donny


merasa sangat malang, Ia menghapus darah dari bibirnya dan menahan


perih. Amlan membawakan minuman hangat.


Azhar bercerita sejak dari siang mereka berusaha mencari Khairani, Sebelumnya


mencari info tentang bibinya yang di kota itu. Hingga akhirnya ketemu. Namun


sayangnya telah sore. Dan anak-anak muda itu melarang laki-laki bertamu


ke kampung mereka. Azhar dan Donny bersikeras tak mau kembali sebelum


ketemu dengan Khairani.


Sama-sama darah muda, kata-kata keras dan kasar terlontar. Terjadilah


pengeroyokkan terhada Azhar dan Donny, hingga beberapa anak muda lain


memanggil bibi untuk melerai. Perkelahian itu baru berhenti saat bibi datang


dan mengakui itu adalah tamunya. Mereka kemudian diperbolehkan ikut


bibi Shahnen, dengan syarat setelah sholat magrib dan makan malam


harus kembali, Azhar dan Donny, tidak boleh tinggal lebih dari tiga jam.


"Peraturan gila!"


Azhar masih kesal, sementara Donny beberapa kali melirik pada Mardo.


Gadis itu memang mendekat dan melihat Khairani dan bibi mengobati


luka-luka di wajah mereka. Bibir Mardo meringis seolah merasakan


perih dan pedih bekas tinju anak-anak muda kampung.


"Kalian kenapa memaksa masuk? besok kan kalian bisa kembali."


Khairani mengomeli Azhar yang membuat ribut, ia tak enak pada bibi


dan paman. Tapi bibi mengerti sifat orang yang berpacaran, selalu saja


rindu, tak mau berpisah meski hanya sebentar.  Setelah selesai sholat


magrib, bibi menjamu mereka semua makan malam bersama. Semula Azhar dan


Donny menolak, tapi bibi memaksa.


Setelah makan malam, bibi dengan berat hati menyuruh mereka pulang


Tidak bolah ada laki-laki yang bertamu jika hari telah sore, apa lagi


malam.


Sepanjang jalan Donny termenung, ia meraba bibirnya yang pecah, mata


bengkak. Kenapa ia melakukan sejauh itu? mengejar-ngejar dan ikut-ikutan


Azhar masuk keluar kampung hanya untuk seorang gadis. Donny


menghembuskan napas. Baru Mardo yang membuat dirinya konyol


seperti ini.


 


 


 

__ADS_1


Nyambung lagi


__ADS_2