
Ketika mentari meredup yang pertanda senja telah tiba barulah terdengar suara bibi Shanen dan
paman.
"O,Khairani jadi rupanya kalian datang. Mana gadis Jakarta itu? rindu kali Bibi loh."
Masih lagi di halaman suaranya sudah berteriak-teriak. Beliau memang salah satu dari anak
kakek yang ramai, ceria dan bersemangat.
"Bibi! aku datang!"
Khairani menyambut di depan pintu sembari melebarkan tangannya.
Perempuan setengah baya bertubuh mungil itu melompat dan berteriak senang sambil
berpelukkan, "O, inang benar perasaanku hari ini kalian pasti datang, udah bibi masakkan
kalian gulai ayam loh."
"Ha ha ha, sudah kami habiskan Bi, enak sekali.!"
Lalu matanya menatap pada Mardo yang terbengong dan tersenyum tipis, Yulia masih tidur.
"Oi, gadis Jakarta! di mana kau berada sekarang? ini lah kampung Bibimu Nang, sini peluk
Bibi, dulu kugendong-gendong dan kucium-cium kau waktu kecil."
Mardo meski pun lupa pada bibinya itu, ia menyongsong dan aleman memeluk tubuh bibinya.
Lantas juga Paman yang tersipu pada kehebohan istrinya.
Bibi Shanen bilang, tak bisa pulang cepat-cepat karena banyak sekali orang di pelelangan
getah karet. Tapi ia sudah menyiapkan makanan, masakkan yang beragam. Memberitahu
anaknya untuk melayani dengan baik, jangan sampai mengecewakan. Bibi menanyakan
apakah Amlan sudah memberikan pelayanan terbaik, karena kalau pelayanannya buruk
ia akan menjewer anaknya itu.
Tentu saja Mardo dan Khairani menyampaikan sangat puas pada pelayanan Amlan. Memberi
dua jempol pada Amlan. Bibi kemudian memberitahu bahwa saat pulang tadi, paman mengangkat
bubu yang terikat semalaman di sungai. Di dalam bubu ternyata sudah terperangkap seekor
ikan yang besar serta ikan-ikan kecil. Ada udang juga.
Bibi bilang akan memasak ikan dan udang-udang tersebut. Tetapi ia minta waktu untuk beristirahat
sebentar, karena sangat kelelahan tadi pelelangan getah. Bibi ijin masuk ke kamarnya.
Khairani dan Mardo menyilahkan bibi dan paman beristirahat. Pekerjaan bibi dan paman
sangat berat. Mereka berdua sejak muda bekerja sebagai pengambil getah di kebun
karet. Berangkat saat masih dini hari. Karena saat-saat seperti itulah getah memancar dan
deras menetes ke mangkok-mangkok penadah. Hasilnya lebih banyak, bagus dan cepat
pula di jual. Terlambat sedikit saja, maka tak bisa diharapkan, pohon karet sulit mengeluarkan
getah. Demi penghasilan untuk membiayai anak-anak,para orang tua menekuni pekerjaan
itu selama bertahun-tahun.
Bibi dan paman berangkat kerja saat dini hari, mereka berdua menuruni lembah. Jika
beruntung mereka bisa menyebrang dengan perahu. Tetapi jika sedang sial, terpaksa
mereka berenang menahankan dinginnya air sungai yang menusuk hingga ke tulang.
Mardo membayangkan betapa berat pekerjaan itu. Beruntung Papinya lebih memilih
pekerjaan di perkantoran. Jika Papi mengikuti cara kehidupan penduduk kota kelahiran
tentu seumur bibi dan paman, masih bekerja keras.
__ADS_1
Kota kecil mereka dan kota-kota sekitar penduduknya menggantungkan kehidupan
dengan berkebun di perkebunan kelapa sawit atau perkebunan karet. Terjadi
secara terus menerus dari satu generasi ke generasi lainnya.
Hanya segelintir yang seperti Papi. Meninggalkan kota kecil itu mencari pekerjaan
yang berbeda. Memang tidak dipungkiri banyak sekali penduduk yang menjadi
juragan setelah bekerja bertahun-tahun di perkebunan. Banyak diantara mereka
yang memiliki rumah bagus, mobil, anak-anak yang bergelar sarjana hasil dari
kebun.
Tiba-tiba anak gadis bibi Shanen terlihat menuruni tangga ia membawa handuk
dan keranjang kecil tempat sabun.
"Mau ke sungai kau Amlan?, ikut aku."
Khairani bergegas mengikuti Amlan, Mardo dan Yulia buru-buru bergegas
mengikuti Amlan pergi ke sungai yang berada di lembah di depan rumah.
Mereka berjalan sebentar lantas mulai menuruni bukit. Sekeliling mereka kebun sayur dan rempah.
Juga banyak pohon pepaya dan pohon pisang.
Lantas lamat-lamat terdengar gemuruh air yang mengalir deras. Terlihatlah
di bawah sana sebuah sungai yang arusnya deras bergerak-gerak menyusuri
batu-batu yang besar menyebar di dalam sungai. Bunyi gerericik air terdengar
menggelikan telinga.
Khairani, Yulia dan Amlan langsung turun ke dalam sungai, mereka terbiasa
mandi di sungai. Bahkan Amlan dengan cekatan mencebur dan mandi.
karena merasakan aliran air sungai yang menarik kakinya kuat, nyaris membuatnya
terhuyung. Kalau saja Khairani tak memegang tubuhnya, ia pasti telah terjerembab
oleh derasnya arus air sungai. Mardo buru-buru naik ke darat. Ia ketakutan.
Gadis-gadis itu tak lama di sungai, mereka segera kembali ke rumah. Dan menghabiskan
waktu di rumah bibi. Amlan mengajak mereka bermain congklak. Asyik juga.
Sampai mereka di kejutkan oleh teriak-teriakan memanggil nama Bibi. Beberapa anak
memberitahu ada insiden.
Amlan memanggil ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Nang, Inang, ada insiden di pintu gerbang, cepat Nang."
Bibi agak terkejut, ada apa? wajahnya menyiratkan seribu pertanyaan.
Mardo, Khai dan Yulia hanya terbengong saja. Mereka tidak tau apa-apa tentang yang
terjadi. Bibi bergegas mengikuti anak muda itu. Ia memberi kode pada gadis-gadis
untuk tenang dan menunggu di rumah. Jangan ada yang turun dari rumah, begitu
pesan bibi.
Tak lama bibi kembali bersama beberapa anak muda, bibi memanggil Khairani.
Gadis itu menjerit mendekap muilutnya melihat dua anak muda yang berantakan.
Darah mengucur dari bibir yang pecah, agaknya terjadi baku hantam di depan
pintu gerbang.
"Azhar!!! apa yang terjadi? ya ampun! Bang Donny juga berdarah."
__ADS_1
Panik dan terkejut melihat sosok Azhar dan Donny yang di keroyok anak-anak
kampung itu.
Khairani menghapus darah dan memar di wajah Azhar, tangan mereka saling
menggenggam, sedang Donny mencuri pandang pada Mardo yang tercekat
menatapi kemalangan mereka. Ia tidak datang untuk mengobati lukanya. Donny
merasa sangat malang, Ia menghapus darah dari bibirnya dan menahan
perih. Amlan membawakan minuman hangat.
Azhar bercerita sejak dari siang mereka berusaha mencari Khairani, Sebelumnya
mencari info tentang bibinya yang di kota itu. Hingga akhirnya ketemu. Namun
sayangnya telah sore. Dan anak-anak muda itu melarang laki-laki bertamu
ke kampung mereka. Azhar dan Donny bersikeras tak mau kembali sebelum
ketemu dengan Khairani.
Sama-sama darah muda, kata-kata keras dan kasar terlontar. Terjadilah
pengeroyokkan terhada Azhar dan Donny, hingga beberapa anak muda lain
memanggil bibi untuk melerai. Perkelahian itu baru berhenti saat bibi datang
dan mengakui itu adalah tamunya. Mereka kemudian diperbolehkan ikut
bibi Shahnen, dengan syarat setelah sholat magrib dan makan malam
harus kembali, Azhar dan Donny, tidak boleh tinggal lebih dari tiga jam.
"Peraturan gila!"
Azhar masih kesal, sementara Donny beberapa kali melirik pada Mardo.
Gadis itu memang mendekat dan melihat Khairani dan bibi mengobati
luka-luka di wajah mereka. Bibir Mardo meringis seolah merasakan
perih dan pedih bekas tinju anak-anak muda kampung.
"Kalian kenapa memaksa masuk? besok kan kalian bisa kembali."
Khairani mengomeli Azhar yang membuat ribut, ia tak enak pada bibi
dan paman. Tapi bibi mengerti sifat orang yang berpacaran, selalu saja
rindu, tak mau berpisah meski hanya sebentar. Setelah selesai sholat
magrib, bibi menjamu mereka semua makan malam bersama. Semula Azhar dan
Donny menolak, tapi bibi memaksa.
Setelah makan malam, bibi dengan berat hati menyuruh mereka pulang
Tidak bolah ada laki-laki yang bertamu jika hari telah sore, apa lagi
malam.
Sepanjang jalan Donny termenung, ia meraba bibirnya yang pecah, mata
bengkak. Kenapa ia melakukan sejauh itu? mengejar-ngejar dan ikut-ikutan
Azhar masuk keluar kampung hanya untuk seorang gadis. Donny
menghembuskan napas. Baru Mardo yang membuat dirinya konyol
seperti ini.
__ADS_1
Nyambung lagi