Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 30. Pesta Dansa


__ADS_3

Sarah Lee selintas melihat Halima yang sedang mengikuti dancing. Ia tersenyum."Halima, torang selalu ingin tau dan bisa. Torang luar biasa."  Cewe itu melebarkan senyum.  Ia sudah memesan minuman untuk teman temannya. Jika nanti sudah lelah tentu haus dan ingin minum.


"Sarah!"


Sulaiman memanggilnya. Cewe itu menoleh, Sulaiman sedang duduk sendirian.  Ia menghampiri temannya itu.


"Kok torang sendirian? kemana Husen dan Wiliam?"


"Beta tidak tau Lee, mereka pergi dari sore. Torang sedang apa Lee? tidak ikut dancingkah?"


"Beta tidak bisa dancing he he,  lebih baik beta bantu bantu pelayan antar antar minum dan makanan."


"Kebetulan tadi ada yang sakit karyawannya."


Sulaiman mangut mangut. " Torang mau minumkah? ini beta bawakan buat teman-teman, nanti beta ambil lagi buat kamu ya Sulaiman. Jangan kemana mana,"


Sarah Lee bergegas pergi ke belakang, ia menyelinap diantara tamu undangan, tak lama ia sudah kembali dengan minuman yang segar, permintaan sulaiman. " Minuman untuk Betty yang mana?"


Sulaiman menatap Sarah Lee sembari tersenyum ********. "Hemmm, Betty aku padamu."


Sarah Lee menggoda.


"Iya Lee, aku mau memberikan minuman ini padanya, ia pasti haus."


Sipplah! kata Sarah Lee.


Raka merasa cape dan mundur dari lantai dansa. Ia pergi ke sofa dan menghembuskan napasnya.


Ia merasa lelah dan tak bisa mengikuti gadis- gadis temannya.


Dari tempatnya  Raka mengawasi dansa tersebut. Ia melihat Mardo dan teman-temannya.


Wah, Raka tersenyum, mereka lincah dan pandai mengikuti gerakkan-gerakkan instruktur.


Raka membayangkan menari dan berdansa berdua dengan Mardo, berpegangan tangan, berputar putar hingga  gadis itu jatuh kepelukkannya. Ia memejamkan mata dan tersenyum yang samar.


Mardo melihat Betty, Zamzam, Vana dan Rose keluar  dan berjalan menuju Sarah Lee di sebuah meja. Ia juga istirahat dulu, sudah tiga tarian. Lumayan lelah juga.  Teman-temannya sedang menikmati minuman.


Sulaiman menyodorkan minuman untuk Betty, gadis itu tersipu dan mengucapkan terima kasih.


Halima yang melihat Mardo keluar dari lantai dancing segera melakukan hal yang sama. Ia mengikuti Mardo di belakang. Kakinya agak sakit.    "Nona Mardo,kitong su udahan kah dancingnya?"


Mardo menolehi Halima, "Aku mau istirahat dulu Halima, kamu dansa saja. Lagunya enak tuh Halima."

__ADS_1


Tapi Halima tak kembali.   Ia mengikuti Mardo berkumpul dengan  Sarah Lee.


Melihat Mardo dan Halima, Sarah Lee memanggil, "Nona Mardo, Nona black sweet! sini!"


Gadis itu mengacung-ngacungkan dua gelas minuman segar.


"Makasih Sara Lee," Mardo menyambut minumannya dan mencari tempat duduk.


Tiba-tiba, gadis yang tadi berulang tahun memberi sebuah chalenge, ada hadiah untuk pasangan dancing terbaik. Siapa saja boleh ikut asal berpasangan. Sedikit agak heboh karena banyak yang tak punya pasangan. Mereka bakal menyerahkan permainan itu untuk dancing pasangan.


Betty dan Sulaiman tiba-tiba saling berpandangan, lantas saling menunjuk, "Kau pasanganku!"


Keduanya tertawa, kita bisa. Yang lain tersenyum kecut. Betty beruntung sekali.


Muncul Richi,  Husen dan Wiliam. Gadis-gadis gembira lagi. "Mardo sama Richi tuh."


Teman-teman langsung menodong keduanya. Richi terbengong tapi ia mengangguk-angguk senang.


"Mari  buktikan bahwa  kita bisa!"


Richi mengangkat tangannya bertepuk dengan Mardo.


Husen Rumadau menghampiri Halima Haremba, "Maukah torang berdansa dengan beta nona Halima?'


Hore! kalahkan semuanya Halima dan Husen!


Sarah Lee menyemangati! juga Zamzam, Vana dan Rose. Mereka tak menemukan pasangan yang cocok.


Padahal hadiahnya sangat menarik.


"Mari semua peserta di depan, cepat-cepat sebab sudah semakin malam, Lolitaaaa!"


Host sudah memanggil dan suara musik sudah menggema. Pasangan-pasangan dansa mulai mengambil tempat saling berhadapan. Mereka nanti mengikuti  instruktur. Namun pasangan tersebut juga bisa maju menunjukkan tarian mereka sendiri.


"Rich, aku nggak bisa!"


Mardo semula hanya berpartisipasi saja, tidak menyangka bakal serius.


"Tenang saja! "


Richi menenangkannya, mengajak fokus karena aba-aba pertanda dansa pertama segera dimulai.


Pasangan saling berhadapan, musik telah menghentak, maju dan mundur gerakkkan pertama yang mudah.

__ADS_1


Kemudian berputar, gerakkan kaki yang lincah.  Beranjak ke lagu Rivers of Babylon, banyak yang kesulitan. Namun Richi bilang mainkan kaki saja. Ternyata Richi pintar berdansa, ia membuat gerakkan kaki yang lincah. Mardo hanya berusaha mengimbangi  dan mengikuti arahan Richi, "Mundur sambil angkat gaunnya, aku mengejarmu lalu kita sama melompat."


Mardo pikir ia dan Richi yang sangat buruk, ternyata tinggal berapa orang yang menarik perhatian.  Termasuk Betty dan Sulaiman, mereka menguasai arena,  tepuk tangan membahana untuk pasangan Betty dan Sulaiman. Halima dan Husen tak mau kalah, sekejap saja mereka memperhatikan lalu bergerak alami dan ternyata indah.


Tiga buah lagu telah selesai, pemenang pertama pasangan dari club, kedua pasangan Betty dan Sulaiman, Lalu Halima dan Husen, dan pemenang hiburan oleh pasangan Richi dan Mardo. Wau! mereka semua bertepuk tangan dan bersorak gembira.


 


Pemberian hadiah dilakukan oleh Raka, Ia turun dari kursinya memberikan hadiah pertama hingga hadiah hiburan.


Raka memandang Richi dan Mardo, "Dansanya bagus." Gumamnya tersenyum samar.


Terakhir sekali semua tamu undangan diajak dansa bersama-sama. Seru dan meriah.


Malam yang tak terlupakan, Raka ingin sekali mengajak Mardo berdansa bersamanya, tapi tak ia lakukan malah buru-buru kembali ke kamarnya.


Betty dan Sulaiman memeriksa hadiah mereka, ternyata sepasang jam yang indah, keduanya langsung memakainya. Husen dan Halimah juga mendapatkan sepasang jam tangan. Halima suka sekali dengan hadiahnya. Ia tak bisa melupakan acara itu. Mardo juga tercenung. Teman-temannya ternyata pandai berdansa.Halima dan Husen bisa melakukan gerakkan yang indah, seperti pedansa-pedansa. Entah kapan mereka belajar.


Mardo baru tahu bahwa remaja-remaja kota Eksotik  setiap tahun mengadakan kompetisi dansa Papua. Sedari kecil anak-anak di kota itu telah akrab dengan dansa.


Mereka malam itu sangat gembira tak merasakan kelelahan, saat mulai sepi barulah mereka kembali ke kamar.


Richi mengingatkan, bahwa besok pagi mereka akan meninggalkan hotel. Dan mereka sudah berkemas sejak pagi.


Esok  harinya setelah sarapan, mereka bergegas ke mini bis, seluruh karyawan mengantar kepergian cewe cewe itu di halaman. "Sampai jumpa lagi."  Kata karyawan, Zamzam pun mewakili teman temannya  mengucapakan terima kasih  sudah melayani dirinya dan teman teman. "Beta merasa tersanjung, seperti tamu kehormatan mo."


Halima bergumam.


"Ya memang mesti begitu mo, pelayanan yang baik itu membuat tamu datang lagi dan lagi ,"


"Beta akan kembali .  "Bisik hati Halima.


Tak lama dihadapan mereka kapal watam pone sedang berlabuh. Ramai dan riuh. Banyak penduduk asli yang datang melihat lihat. Ada juga yang membawa barang barang khas Merauke. Penduduk asli itu sudah memakai baju dan celana. Mereka kelihatan sudah beradaftasi dengan suasana kapal. Beriringan cewe cewe masuk ke kapal. Mardo berjalan bersisian dengan Richi.  Vana dengan Rose, Betty berendengan bersama Zamzam, Sedangkan Halima bersama Sarah Lee. Di dinding kapal  mereka bersandar untuk melihat kota Merauke. Sama-sama gadis-gadis itu melambaikan tangan dan memberi kecupan selamat berpisah.


Kenderaan bermunculan di pintu masuk. Salah satunya memuat Raka dan teman temannya. Mereka juga kembali ke kota Eksotik hari ini.


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2