
"Assalamualaikum, bundaaa! duh kok sepi sih? assalamualaikum any body home? hellooo! hu hu hu.....huallow."
Suara Cindy yang cempreng sepulang sekolah menyapa pengisi rumah. Tapi kayaknya tidak ada seorang pun dalam rumah sedang pintu tidak terkunci. Cindy menghela napas. Di luar sih memang ada pak Mus yang menjaga rumah besar itu.
Hanya saja Cindy terbiasa dengan bunda yang menyambut anak-anaknya setiap pulang sekolah.
"Bunda kemana ya? mbaaa!"
Berteriak memanggil mba Wiwin yang sedang beristirahat. Cindy menatapi keadaan rumah yang sepi dan beberapa tempat berantakan, kontan sifat kecinderelaannya keluar. Belum lagi menukar seragamnya ia segera menaro benda-benda yang berjatuhan di lantai dan menatanya hingga rapi kembali.
"Bunda sedang ke kantor, ada tamu katanya Neng."
"Oh, ok mba,"
Begitu selesai merapikan ruang keluarga mendadak muncul Tria dan Dode, keduanya berkeringat. Cindy membesarkan matanya melihat keberantakan itu. Keduanya memegang buah belimbing yang besar berwarna kuning emas. Pasti habis bermain di taman belakang dan manjat-manjat.
"Udah makan siang belum? kok manjat-manjat? kalau jatuh gimana?"
"Nggak jatuh kok, tuh sehat."
"Anak-anak, makan siang udah siap ya, tadi bunda suruh makan dulu terus tidur siang."
Ketiganya segera ke ruangan makan. Setelah mencuci tangan mereka bertiga menikmati makan siang. Dode meminta mba Wiwin mencuci dan memotong-motong buah belimbing manis dan segar. Setelah selesai makan siang, Cindy dan Tria duduk di sofa menghidupkan tivi, kedua anak itu asyik menonton film siang 'Forever love'
berkisar tentang cinta orang dewasa yang rumit.
Entah kenapa kedua kakak adik itu sama menyukai drama seri tersebut. Setiap pulang sekolah dan makan siang lanjut menonton film tersebut. Cindy dan Tria seperti tersihir jika sudah di depan tivi. Sangat bagus meski pun alur ceritanya bertele-tele dan lambat, tetapi kisah dan pemain yang melakonnya sanggup membuat rasa penasaran. Cindy dan Tria terlanjur mengikuti film seri ini sejak awal ditayangkan.
Lantas terdengar suara deru motor yang ribut, siapa lagi kalau bukan Babay yang nama sebenarnya Rakasiwi Bramantyo Putra Syah Bandar dilaga dan masih panjang lagi yang dilekatkan semau hati Dode, adik mereka.
"Bunda! bundaaaa! Babay pulang nih bun."
Merasa banget dia anak kesayangannya bundanya, pake teriak-teriak biar disambut. Cindy dan Tria saling pandang lantas mengikik geli.
"Kasihan banget, bundanya nggak ada!"
Anak laki-laki yang masih di sma itu tak percaya, ia mencari-cari Mardo hingga ke kamar.
"Uch kemana bunda?"
Sembari menghempaskan badannya yang tinggi dan besar ke sofa depan tivi, membuka kaos kaki dan melempar sepatunya ke sudut bikin mata Cindy mendelik.
"Ihhh jorok banget sih, nggak liat rumah dah rapi!"
"Tenang aja nanti diberesin, laparrr!"
"Cuci tangan dulu sana! dasar jorok."
Keributan kecil terjadi di ruang keluarga dan sudah menjadi menu dan rutinitas adik dan kakak tersebut, karena perbedaan sifat diantara mereka. Cindy yang cerewet, rapi dan senang dengan rumah yang rapih. Tria acuh dan masa bodoh. Babay yang sebaliknya senang membongkari dan berpetualang selalu ingin tau, bahkan waktu kecil tivi dibongkari karena ingin mencari orang-orang yang ada di televisi_ pokoknya Max Giver banget deh.
Tin tin
Bunda pulang! pulang! mereka hapal suara dan klakson mobilnya. Terdengar pak Mus membukakan pagar dan mobil yang memasuki garasi samping yang memuat tiga hingga empat mobil. Terdengar suara Mardo dan Dode yang berlarian mendahului Mardo.
Mba Wiwin masuk membawai belanjaan.
"Asyik! asyik! beli mainan."
Dode memamerkan mainan yang baru saja ia beli di supermarket bareng bunda. Cindy, Tria dan Rakasiwi mencebik acuh.
"Ich udah gede gitu masih beli mainan."
"Masih kecil kok."
"Udah gede tau, buat apaan mainan, pemborosan!"
Melihat semua kakaknya yang sinis, Dode menghindar pergi naik ke kamarnya di atas. Lagi pula ia dan Bunda sudah makan siang di kantor.
"Bunda, nanti Babay minta uang ya."
Melihat Mardo sudah relax, Babay yang sudah selesai makan menghampiri dengan senyum-senyum simpul.
" Buat apa Bay? kan ayah udah kasih jatah sebulan."
"Anu Bun ada kegiatan xtrakurekuler."
__ADS_1
"Seratus ribu cukup Bay."
"Dih Bubun mah pelit, one million Bun"
"Banyak banget sih Nak, buat apa?"
"Itu tadi sih udah Babay bilang kan?, di dompet Bunda cuman ada lima ratus ribu nih, nanti bunda trasnfer aja sisanya, tapi benar ya buat kegiatan sekolah."
"Paling buat traktir cewe-cewe centil bun."
Tria dan Cindy paling suka menggagalkan keberuntungan Rakasiwi.
"Uhh, bukan Bun. Benaran kok buat anuh."
Rakasiwi lupa dan menggaruk-garuk kepalanya. Meski tak meyakinkan begit, tetap saja Bunda memberikan uang yang diminta. Membuat anak laki-laki itu melompat-lompat kegirangan.
"Oia Bunda, Cindy juga minta uang dong. Soalnya mau pergi ke undangan pesta ultah teman. Nanti sore Cindy sama teman mau beli kadonya."
Tahu kalau Cindy seorang anak yang rajin membantu orang tua dan senang belajar Mardo tak banyak tanya langsung mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Nih Cinta cukup nggak?"
"Wauu lebih dari cukup, thank you very much Bundaku."
Babay sempat berbalik mau protes tapi sudah pasti nanti dirinya dapat nasehat, " Kamarmu itu Bay sudah seperti kapal pecah, tempat tidurmu diganti spreynya, kamar mandimu di gosok dan banyak lagi yang lainnya. Akhirnya karena terus menerus jorok dan berantakan terpaksa Bunda membayar mba Wiwin membersihkan semua ***** bengek perihal kamarnya. Dan Babay cuma bisa merintih perih waktu uang sakunya dipotong bunda untuk membayar mba Wiwin
Selesai sholat magrib, Cindy pinjam motor Babay ke rumah Fani, Babay sendiri tadi dijemput temannya Yogi, Rendy dan lain-lain. Mereka temanan sejak sd. Rendy punya mobil baru dan lagi senang-senangnya mengajak temannya berputar-putar mengelilingi kota, bahkan baru pulang. Ganti baju terus pergi lagi. Kalau belum kelelahan dan kehabisan uang pantang pulang ke rumah.
"Assalamualaikum, Faniii nu honey bunny sweety nu geulis tea, ini loh sahabatmu yang lebih cantik darimu datang,"
Cindy teriak di depan pintu dan melongok-longgokkan kepalanya.
"Ich Cindy lama pisan sih datangnya! jadi Cinderella dulu ya? kan dah aku bilang jangan jadi Cinderella dulu."
Tau-tau muncul Fani yang menghentak-hentak kakinya, wajahnya terlihat kesal.
"Ini baru jam enam tiga puluh menit Fan, mana bisa dibilang terlambat."
"Cindy! kan kita mau jemput Ara, terus jemput Alex."
"Ah cerewet, DASARRR CINDERELLA."
"Yee loe kok githu sih Fan."
"Udah deh, ayo cepatan! nggak enak kalau terlambat tau!"
Cindy memandang sahabatnya itu, hati Cindy yang semula ceria menjadi hendak meledak oleh kata-kata Fani yang lugas, keras, dan tandas. Tapi karena sudah terlanjur mengikuti Fani ke garasi dengan hati agak terpaksa ia membuka pintu di sisi gadis itu dan masuk dengan mulut mengatup.
"Gwe tuh belum punya sim, jadi kita jemput Alex dulu biar nanti dia yang bawa."
Cindy diam saja, dulu katanya mereka tidak akan mengenal makhluk yang namanya cowo atau laki-laki dalam pertemanan mereka. Buktinya baru beberapa bulan genx mereka terbentuk Fani mulai dekat sama Alek, anak SMU yang dulu adalah kakak kelas mereka.
Bukan kerena Cindy jealous tapi itu adalah komitmen mereka, uch. Cindy menghela napas.
"Kenapa Cin? nggak setuju gwe jemput Alex?"
Cindy menggeleng, tak ingin memberi komentar.
"Loe iri yaa, Gwe bisa dekatan sama Alex? bilang terus terang.
Hah!
Cindy seperti tersambar petir.
" A-apa maksud Loe Fan, pertanyaan loe itu nggak enak banget di dengar."
"Ngaku aja terus terang, asal Gwe nyebut nama Alex kontan wajah loe berubah, loe pasti ngiri dan nggak suka Gwe dapatin Alex iya kan?"
Via seperti mau meledak.
"Ngapain Gwe musti ngiri dengan hal nggak benar seperti itu Fan, kalau Loe meraih kejuaraan sekolah Gwe baru iri, masa hal seperti Loe dapatin si Alex Gwe iri, bukan level Gwe ya Fan."
Cindy mendengus kesal. Dan Gantian Fani yang mau meledak oleh perkataan Via, hal nggak benar! kata-kata itu berulang-ulang di kepalanya.
Brengsek Via!! Fani melampiaskan kekesalannya dengan menginjak gas. Cindy meremas jok. Untung mereka sudah sampai rumah Ara yang sudah menunggu di depan pagar.
__ADS_1
"Hello, Aku menunggu sejak lama."
Tapi suasana sangat menegangkan, sehingga Ara merasa ada sesuatu.
"Ana aya teh, suasana sepertinya berbeda dari biasa."
Tapi keduanya sahabatnya yang duduk di depan sama-sama memajukan mulut lima senti dan membisu.
"Cinta ada apa?"
Ara menyentuh bahu Cindy
"Tanya dia tuh."
Bahkan suasana tak nyaman terus berlanjut hingga Alex ada diantara mereka. Seventeen Party si ganteng berlangsung meriah di salah satu room hotel berbintang di kota kecil itu. Hampir seluruh siswa di sekolah datang memeriahkan party tersebut. Maklum Rama anak bungsu pengusaha rotan yang terkenal di kota tersebut, segala sesuatu yang menjadi kebahagian putra mereka akan dilakukan, apalagi merayakan ulang tahun yang hanya menghamburkan biaya ratusan juta, tak masalah bagi papi dan mami Rama, hitung-hitung menyenangkan banyak orang.
"Cinta, Rama udah punya gebetan belum yah?"
Ara tak putus memandangi Rama yang menerima ucapan selamat dari teman-teman, mereka juga antri untuk bisa memberikan kado genx hubsche maedchen.
"Mana aku tau sis, nanya aja nanti."
Ara mencubit pinggang Fani sehingga mereka bergerak-gerak di dalam antrian, ih Ara begitu terobsesi dengan wajah cakepnya Rama, mungkin bukan hanya Ara, semua gadis-gadis di sekolah, Rama cakep, keren, dan orang tuanya kaya raya, siapa yang tidak bercita-cita menjadi pacarnya.
" Terima kasih Cindy, Ara, senang kalian bisa hadir di pestaku, ada anak-anak band Poisson kalian bisa menyanyi nanti."
" Oh yaa? aku mau."
Mata Ara berbinar-binar, Rama menawarinya menyanyi artinya Rama tau tentang aktifitasnya dibidang musik. Yah Ara sangat suka bidang menyanyi dan sering mengikuti ajang lomba menyanyi mulai dari even kecil hingga yang besar, bahkan piala kejuaran menyanyinya berjejer memenuhi lemari.
"Hai Cindy , aku membaca cerpenmu di koran kota kita, hemmm bagus, aku tertawa membacanya, kamu hebat sekali menggambarkan kejadian itu."
Cindy melebarkan bibir, " Alhamdulillah kalau cerita itu bisa membuat seorang Rama tertawa, artinya sudah lumayan dong, makasih loh."
"Bagaimana honornya? mau dong ditraktir dari honor menulis."
"Benaran mau kutraktir?" Ara dan Cindy saling meremas tangan."
"Tentu saja, aku senang jika diajak untuk ditraktir dari honor menulis."
"Ok, tunggu undanganku ya."
Sipp.
Saling mengedipkan mata.
"Ohhh, awas ya Cinta, jangan pergi berdua!"
Ara meletakkan jari telunjuknya diantara Cindy dan Rama.
Tentu tidak sayangku, dan mereka berdua menuju tempat minum dan hidangan, sedang Fani agaknya bersenang-senang dengan Alex ditengah party. Musik ceria mulai mengalun dan bermunculan anak-anak perempuan dan laki-laki seusia mereka, lagu ulang tahun yang manis mengalun memenuhi ruangan.
Cikidot
Jangan lupa like, komen, bintang lima dan juga vote. Biat tambah semangat nih othor.
Bersambung
__ADS_1