Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 120 Pertemuan


__ADS_3

Hello readers semoga kalian suka kisah ini


Kisah yang panjang tetapi jika mengikutinya akan terkenang sepanjang hidup


tertinggal dalam sebagai kesan yang menyenangkan. Kisah ini pernah ada


di efbe penulis note, tetapi tidak selengkap di platfrom Mangatoon. Banyak


yang memberitahu pada athor bahwa mereka sangat suka dengan tokoh Mardo


dan Raka. Mereka selalu mengenangnya dan menjadi bermimpi memilik kehidupan


seperti Mardo dan Raka, ada yang mengatakan ia mengikuti cerita Mardo dan Raka


sejak ia smp hingga memiliki dua orang anak. Ada lagi ia bilang bertemu dengan


pria bernama Raka dan mereka menikah, dan hidup bahagia seperti Mardo.


Bahkan ada seorang gadis yang mengirimkan ringkasan kisah Mardo dan Raka


yang panjang sekali, ia mengirimnya lewat email dan meminta pada author untuk


menggunakannya jika author menerbitkan bukunya. Hingga kini belum terwujud


oleh kesibukkan, semoga kelak ada yang membukukan cerita cinta yang


manis ini, semoga aamiin.


Oia, harap membaca kisahnya dari awal, sebab menurut cs sini akan sangat


kuat dan lebih baik membaca dari awal hingga ahkir bab, bukan yang baru


beberapa bab ditinggalkan, lebih banyak manfaat bagi pembaca dan juga


author untuk menaikkan performa, jika pembaca seorang author juga ia pun


akan terangkat performanya secara otomatis, demikian semoga


bermanfaat.#


Cikidot mari kita lanjut, kisah sebelumnya tentang Rakasiwi yang mencari


Prita untuk memberikan dompet yang ia temukan di stasiun.


Sementara Prita, Yunna dan Elsa sedang mengukur jalanan di kota Jakarta.


Ketiganya menunggangi motor layaknya seorang pria. Berpakaian kaos yang


ditutupi jaket tebal, jeans belel dan sarung tangan agar terlindungi dari


sengat matahari. Mereka menuju daerah Ancol. Beberapa hari yang lalu ketiganya


sudah merencanakan perjalanan kesana. Ingin bermain dan menikmati pantai


hingga puas, juga memasuki berbagai wahana. Elsa sedang ulang tahun dan


ia mendapat uang lumayan banyak dari bokap dan nyokapnya. Lima juta rupiah.


"Gilee Sa, lu dapat hadiah ulang tahun lima juta. Gwe kapan ya dikasih segitu


sama nyokap?"


Prita nyesek, boro-boro lima juta, seratus ribu saja susah, sampai terkadang


Prita harus berpikir untuk mencari uang. Mulai dari membantu tetangga


momong anak, menyapu dan mengepel bahkan menjadi ojek payung di


pasar. Sesekali juga membantu membawakan belanjaan. Lumayanlah


ia hampir tak pernah meminta uang jajan pada ibunya. Sekolahnya juga


gratis. Ia menikmati saja aliran kehidupan membawanya.


"Iya, alhamdulillah hidup Elsa enak sekarang. Sa ada kerjaan nggak sih


buat Gwe sama Prita, biar punya gajih tiap bulan."


"Paling nyari rongsokkan, nanti elu-elu jual ke babe Gwe, tukang rongsok


yang kerja nyari rongsok udah ratusan sih, nggak apa-apa klo nambah


barang dua biji."


Sahut Elsa santai, Prita dan Yunna saling pandang.


"Masa sih kita cantik-cantik kayak gini kerjaannya cari rongsok Sa, agak


yang enak dikit coba, administrasi kek, apa kek jangan cari rongsok sih


kagak pantas Gwe perasaan pake baju jelek ngorek-ngorek sampah


cari rongsok."


Yunna teringat tukang-tukang rongsok yang sering lewat di depan rumah


dengan beca serta karung di tangan beserta besi untuk mengorek dan


mengambil barang sekaligus memasukkannya ke karung.


"Jelek banget dah, mana ada cowo yang mau ngelirik."


Yunna menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketertarikkannya seketika


menguap.

__ADS_1


"Prita loe kok tenang-tenang aja sih? memang uang kontrakkan udah cukup


tuh buat bayar kuliah, kost ama uang saku?"


"Mana cukup, yang bayar kontrakan seringnya telat, kalau telat alamat


puasa Cing."


"Yah dinikmati sajalah!"


Begitu akhirnya pembicaraan mereka, lantas memutuskan pergi jalan-jalan


ke Ancol. Elsa tak pernah pelit pada kedua sahabatnya itu. Jangankan


lima juta, seribu rupiah saja dia mau berbagi apa lagi ini lima juta ia ingin


bersenang-senang bersama sahabatnya sejak sd.


Yunna juga begitu, kalau punya rejeki ia pasti memanggil Elsa dan Prita


untuk bersenang-senang. Dua orang itu melebihi saudara baginya. Mereka


bertiga telah menjalin persahabatan dan merasa cocok satu sama lain, sering


berpetualang dan melakukan hal bersama-sama.


"Akhirnya kita sampai, Elsa memberikan uangnya pada Yunna yang berada di paling


depan pintu masuk."


"Tiga ya pak!"


Kata Yunna sembari memberikan uang seratus ribuan. Petugas memberikan tiga


karcis dan ketiganya segera masuk menuju tempat wisata favorit penduduk kota


Jakarta dan sekitar.  Mereka sempat bingung apakah masuk Dufan atau dunia


fantasi. Pasalnya  tempatnya bersebelahan. Tetapi akhirnya pilihan pertama masuk


ke pantai, karena ingin melihat ombak dan bermain pasir.


Pantai Ancol merupakan tempat kapal bersandar sekaligus tempat rekrasi keluarga


dan orang-orang yang sedang berkasihan. Sebab suasananya yang sangat indah


dan sejuk. Banyak sekali pohon kelapa yang tumbuh di sana, sehingga pengunjung


bisa duduk menikmati sepoi-sepoi angin pantai sembari bercengkrama dan menghabiskan


makanan.


Setelah menyusuri pantai dengan berlarian, bermain air di tepi laut mereka tertarik


kemanakah kapal tersebut. Dijawab bahwa itu adalah rombongan yang akan menuju


kepulauan seribu, di sana pengunjung bisa berjalan-jalan menikmati keadaan dan


suasana pulau tersebut. Sangat menyenangkan dan tempatnya indah. Yunna bertanya


apakah mereka boleh ikut berpura-pura sebagai anggota rombongan, ternyata


pemilik kapal mengangguk asal menambah pembayaran. Yunna meminta uang pada


Elsa. Mereka pun naik ke kapal.


Ke tiga gadis itu sama berpikir, betapa menyenangkannya menjadi orang kaya.


Bisa menikmati dan membeli apa saja yang kita inginkan. Memiliki uang lima


juta saja seperti Elsa sudah sangat senang. Apa lagi jika berlebihan, wahhh tentu


sangat menyenangkan.


Tak terasa  kapal telah bersandar, pengunjung bergantian turun, ketiga gadis itu


juga bersabar menunggu giliran sambil tercengang betapa indahnya pulau yang


ternyata sangat dekat dengan Jakarta.


Ramai sekali, dan banyak tempat untuk selfie dan bernarsir ria, tentu saja ketiga


gadis itu memisahkan diri dari rombongan. Mereka belum pernah sekali pun


ke tempat itu meski namanya sering mereka dengar. Banyak kegiatan yang bisa


dilakukan di sana. Di sebuah tempat banyak remaja yang sedang berenang, snorkeling


diving di dasar laut yang jernih. Katanya sih pemandangan alam bawah laut sangat


eksotik dan unik.


Beberapa menawarkan kepada Yunna dan Prita, tetapi gadis-gadis itu menolak


mereka tidak ada persiapan sama sekali. Mereka hanya menikmati pemandangan


serta suasana pulau tersebut. Ketiga gadis itu menikmati es kelapa muda dan


makan siang sebelum waktunya karena mereka belum sarapan saat berangkat.


Kemudian mereka kembali ke pantai Ancol, ketiganya berjanji suatu hari nanti


mereka akan ke pulau itu lagi dan kalau bisa menginap di salah satu hotel yang


menghadap ke pantai.

__ADS_1


Ketiga gadis itu juga masuk ke Seaworld yakni sebuah Aquarium raksasa yang


berisikan ikan-ikan, ketiga gadis itu berlarian menyusuri lorong panjang tersebut.


Banyak sekali ikan serta biota laut, karena sangat ramai sekali, ketiganya tidak


berlama-lama di tempat itu.


Prita, Yunna dan Elsa mengakhiri  kegembiraan mereka di area pantai Ancol dengan


menonton pertunjukkan lomba-lomba, dolphin Bay, sea lion dan juga underwater


teater. Pengunjung duduk menghadap ke sebuah kolam tembus pandang berwarna


biru. Saat semua bangku telah penuh, pertunjukkan pun di mulai. Petugas


memperkenalkan dirinya dan bercerita tentang teman-teman mereka yang tak lain


adalah lomba-lomba. Mereka memiliki nama dan tanggal lahir. Dan binatang


pintar itu bisa memilih hurup-hurup untuk memberi tahu nama mereka.


Hari itu sangat menyenangkan, selanjutnya mereka keluar dari pantai Ancol


pergi ke mall untuk melihat-lihat. Elsa bilang kalau ada yang bagus dan mereka


suka ia akan membelikannya asal jangan lebih dari lima ratus perorang.


Yunna dan Prita saling memandang, terharu sekali. Lantas keduanya


memeluk Elsa, "Kalau Gwe nanti jadi orang kaya, Gwe akan ganti traktir Elu


Sa."


Yunna dan Prita menciumi gadis mungil yang manis itu. Elsa hanya medorong


kedua sahabatnya, "Iya tenang aja, Gwe doain kalian menjadi orang yang kaya


raya, Gwe juga dong, biar kita bisa selalu bersama dan senang-senang, aamiin."


Berlarian dan bergerak lincah ketiga gadis itu ke area pernak-pernik kebutuhan


wanita. Kebetulan banyak sekali diskon, Yunna merayu agar diperbolehkan


belanja satu juta, Prita juga tak mau ketinggalan, Elsa melebarkan bibirnya


dan membulatkan matanya, ok deh! begitu akhirnya. Dia lemah kalau dua manusia


di dekatnya itu sudah merayu dan merajuk.


Prita mendapatkan kemeja-kemeja yang cocok untuk berangkat kuliah, juga


celana jeans baru, tas, sepatu, lengkap sudah yang ia inginkan, ya Allah


terima kasih Kau berikan aku seorang sahabat yang sebaik Elsa, semoga


kau memberikan rejeki yang berlimpah kepadanya, Juga kepadaku dan


Yunna, aamiin. Prita tak putusnya berdoa.


"Haus, yuk minum dulu, kita ke cafe pria Idola, di sini ada loh."


Yunna yang serba tahu membawa teman-temannya ke lantai tujuh, pusat


makanan dan minuman.


Cafe Pria Idola yang Yunna maksud adalah cabang pengembangan usaha


milik Raka, saat itu di seluruh Jakarta sudah memiliki cabang ratusan cafe.


Dan Cafe ini termasuk yang terbaik dan banyak sekali pengunjungnya.


Ketika mereka masuk Rakasiwi dan dua temannya kebetulan juga baru


saja tiba di cafe itu. Mereka mengambil meja di belakang dan baru akan


memilih menu ketika tiga orang gadis menarik perhatian mereka. Ketiga


gadis itu sama-sama cantik memiliki kelebihan tersendiri. Namun ketiganya


terlihat menarik karena kebaikan hati dan sifat tulus yang memancar


dari aura ketiganya.


"Suttttt, lihat mereka!"


Teman Rakasiwi menyenggol pelan lengannya dan menunjuk dengan


mulutnya tiga gadis yang melewati meja mereka. Raka hanya melihat


tubuh ketiga gadis tersebut yang menuju meja di sebrang.


"Apa sih? melihat cewe? jaga mata jaga hati."


Rakasiwi mengusap wajah teman dekatnya yang bernama Alan, hingga


gelagapan seperti orang tenggelam. Sedang seorang temannya yang


satu lagi hanya tertawa melihat tingkah konyol kedua sahabat sejak


smp itu. Mereka, Rakasiwi, Alan dan Alfredo. Ketiganya adalah putra


pengusaha kaya raya di Indonesia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2