
Hello readers semoga kalian suka kisah ini
Kisah yang panjang tetapi jika mengikutinya akan terkenang sepanjang hidup
tertinggal dalam sebagai kesan yang menyenangkan. Kisah ini pernah ada
di efbe penulis note, tetapi tidak selengkap di platfrom Mangatoon. Banyak
yang memberitahu pada athor bahwa mereka sangat suka dengan tokoh Mardo
dan Raka. Mereka selalu mengenangnya dan menjadi bermimpi memilik kehidupan
seperti Mardo dan Raka, ada yang mengatakan ia mengikuti cerita Mardo dan Raka
sejak ia smp hingga memiliki dua orang anak. Ada lagi ia bilang bertemu dengan
pria bernama Raka dan mereka menikah, dan hidup bahagia seperti Mardo.
Bahkan ada seorang gadis yang mengirimkan ringkasan kisah Mardo dan Raka
yang panjang sekali, ia mengirimnya lewat email dan meminta pada author untuk
menggunakannya jika author menerbitkan bukunya. Hingga kini belum terwujud
oleh kesibukkan, semoga kelak ada yang membukukan cerita cinta yang
manis ini, semoga aamiin.
Oia, harap membaca kisahnya dari awal, sebab menurut cs sini akan sangat
kuat dan lebih baik membaca dari awal hingga ahkir bab, bukan yang baru
beberapa bab ditinggalkan, lebih banyak manfaat bagi pembaca dan juga
author untuk menaikkan performa, jika pembaca seorang author juga ia pun
akan terangkat performanya secara otomatis, demikian semoga
bermanfaat.#
Cikidot mari kita lanjut, kisah sebelumnya tentang Rakasiwi yang mencari
Prita untuk memberikan dompet yang ia temukan di stasiun.
Sementara Prita, Yunna dan Elsa sedang mengukur jalanan di kota Jakarta.
Ketiganya menunggangi motor layaknya seorang pria. Berpakaian kaos yang
ditutupi jaket tebal, jeans belel dan sarung tangan agar terlindungi dari
sengat matahari. Mereka menuju daerah Ancol. Beberapa hari yang lalu ketiganya
sudah merencanakan perjalanan kesana. Ingin bermain dan menikmati pantai
hingga puas, juga memasuki berbagai wahana. Elsa sedang ulang tahun dan
ia mendapat uang lumayan banyak dari bokap dan nyokapnya. Lima juta rupiah.
"Gilee Sa, lu dapat hadiah ulang tahun lima juta. Gwe kapan ya dikasih segitu
sama nyokap?"
Prita nyesek, boro-boro lima juta, seratus ribu saja susah, sampai terkadang
Prita harus berpikir untuk mencari uang. Mulai dari membantu tetangga
momong anak, menyapu dan mengepel bahkan menjadi ojek payung di
pasar. Sesekali juga membantu membawakan belanjaan. Lumayanlah
ia hampir tak pernah meminta uang jajan pada ibunya. Sekolahnya juga
gratis. Ia menikmati saja aliran kehidupan membawanya.
"Iya, alhamdulillah hidup Elsa enak sekarang. Sa ada kerjaan nggak sih
buat Gwe sama Prita, biar punya gajih tiap bulan."
"Paling nyari rongsokkan, nanti elu-elu jual ke babe Gwe, tukang rongsok
yang kerja nyari rongsok udah ratusan sih, nggak apa-apa klo nambah
barang dua biji."
Sahut Elsa santai, Prita dan Yunna saling pandang.
"Masa sih kita cantik-cantik kayak gini kerjaannya cari rongsok Sa, agak
yang enak dikit coba, administrasi kek, apa kek jangan cari rongsok sih
kagak pantas Gwe perasaan pake baju jelek ngorek-ngorek sampah
cari rongsok."
Yunna teringat tukang-tukang rongsok yang sering lewat di depan rumah
dengan beca serta karung di tangan beserta besi untuk mengorek dan
mengambil barang sekaligus memasukkannya ke karung.
"Jelek banget dah, mana ada cowo yang mau ngelirik."
Yunna menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketertarikkannya seketika
menguap.
__ADS_1
"Prita loe kok tenang-tenang aja sih? memang uang kontrakkan udah cukup
tuh buat bayar kuliah, kost ama uang saku?"
"Mana cukup, yang bayar kontrakan seringnya telat, kalau telat alamat
puasa Cing."
"Yah dinikmati sajalah!"
Begitu akhirnya pembicaraan mereka, lantas memutuskan pergi jalan-jalan
ke Ancol. Elsa tak pernah pelit pada kedua sahabatnya itu. Jangankan
lima juta, seribu rupiah saja dia mau berbagi apa lagi ini lima juta ia ingin
bersenang-senang bersama sahabatnya sejak sd.
Yunna juga begitu, kalau punya rejeki ia pasti memanggil Elsa dan Prita
untuk bersenang-senang. Dua orang itu melebihi saudara baginya. Mereka
bertiga telah menjalin persahabatan dan merasa cocok satu sama lain, sering
berpetualang dan melakukan hal bersama-sama.
"Akhirnya kita sampai, Elsa memberikan uangnya pada Yunna yang berada di paling
depan pintu masuk."
"Tiga ya pak!"
Kata Yunna sembari memberikan uang seratus ribuan. Petugas memberikan tiga
karcis dan ketiganya segera masuk menuju tempat wisata favorit penduduk kota
Jakarta dan sekitar. Mereka sempat bingung apakah masuk Dufan atau dunia
fantasi. Pasalnya tempatnya bersebelahan. Tetapi akhirnya pilihan pertama masuk
ke pantai, karena ingin melihat ombak dan bermain pasir.
Pantai Ancol merupakan tempat kapal bersandar sekaligus tempat rekrasi keluarga
dan orang-orang yang sedang berkasihan. Sebab suasananya yang sangat indah
dan sejuk. Banyak sekali pohon kelapa yang tumbuh di sana, sehingga pengunjung
bisa duduk menikmati sepoi-sepoi angin pantai sembari bercengkrama dan menghabiskan
makanan.
Setelah menyusuri pantai dengan berlarian, bermain air di tepi laut mereka tertarik
kemanakah kapal tersebut. Dijawab bahwa itu adalah rombongan yang akan menuju
kepulauan seribu, di sana pengunjung bisa berjalan-jalan menikmati keadaan dan
suasana pulau tersebut. Sangat menyenangkan dan tempatnya indah. Yunna bertanya
apakah mereka boleh ikut berpura-pura sebagai anggota rombongan, ternyata
pemilik kapal mengangguk asal menambah pembayaran. Yunna meminta uang pada
Elsa. Mereka pun naik ke kapal.
Ke tiga gadis itu sama berpikir, betapa menyenangkannya menjadi orang kaya.
Bisa menikmati dan membeli apa saja yang kita inginkan. Memiliki uang lima
juta saja seperti Elsa sudah sangat senang. Apa lagi jika berlebihan, wahhh tentu
sangat menyenangkan.
Tak terasa kapal telah bersandar, pengunjung bergantian turun, ketiga gadis itu
juga bersabar menunggu giliran sambil tercengang betapa indahnya pulau yang
ternyata sangat dekat dengan Jakarta.
Ramai sekali, dan banyak tempat untuk selfie dan bernarsir ria, tentu saja ketiga
gadis itu memisahkan diri dari rombongan. Mereka belum pernah sekali pun
ke tempat itu meski namanya sering mereka dengar. Banyak kegiatan yang bisa
dilakukan di sana. Di sebuah tempat banyak remaja yang sedang berenang, snorkeling
diving di dasar laut yang jernih. Katanya sih pemandangan alam bawah laut sangat
eksotik dan unik.
Beberapa menawarkan kepada Yunna dan Prita, tetapi gadis-gadis itu menolak
mereka tidak ada persiapan sama sekali. Mereka hanya menikmati pemandangan
serta suasana pulau tersebut. Ketiga gadis itu menikmati es kelapa muda dan
makan siang sebelum waktunya karena mereka belum sarapan saat berangkat.
Kemudian mereka kembali ke pantai Ancol, ketiganya berjanji suatu hari nanti
mereka akan ke pulau itu lagi dan kalau bisa menginap di salah satu hotel yang
menghadap ke pantai.
__ADS_1
Ketiga gadis itu juga masuk ke Seaworld yakni sebuah Aquarium raksasa yang
berisikan ikan-ikan, ketiga gadis itu berlarian menyusuri lorong panjang tersebut.
Banyak sekali ikan serta biota laut, karena sangat ramai sekali, ketiganya tidak
berlama-lama di tempat itu.
Prita, Yunna dan Elsa mengakhiri kegembiraan mereka di area pantai Ancol dengan
menonton pertunjukkan lomba-lomba, dolphin Bay, sea lion dan juga underwater
teater. Pengunjung duduk menghadap ke sebuah kolam tembus pandang berwarna
biru. Saat semua bangku telah penuh, pertunjukkan pun di mulai. Petugas
memperkenalkan dirinya dan bercerita tentang teman-teman mereka yang tak lain
adalah lomba-lomba. Mereka memiliki nama dan tanggal lahir. Dan binatang
pintar itu bisa memilih hurup-hurup untuk memberi tahu nama mereka.
Hari itu sangat menyenangkan, selanjutnya mereka keluar dari pantai Ancol
pergi ke mall untuk melihat-lihat. Elsa bilang kalau ada yang bagus dan mereka
suka ia akan membelikannya asal jangan lebih dari lima ratus perorang.
Yunna dan Prita saling memandang, terharu sekali. Lantas keduanya
memeluk Elsa, "Kalau Gwe nanti jadi orang kaya, Gwe akan ganti traktir Elu
Sa."
Yunna dan Prita menciumi gadis mungil yang manis itu. Elsa hanya medorong
kedua sahabatnya, "Iya tenang aja, Gwe doain kalian menjadi orang yang kaya
raya, Gwe juga dong, biar kita bisa selalu bersama dan senang-senang, aamiin."
Berlarian dan bergerak lincah ketiga gadis itu ke area pernak-pernik kebutuhan
wanita. Kebetulan banyak sekali diskon, Yunna merayu agar diperbolehkan
belanja satu juta, Prita juga tak mau ketinggalan, Elsa melebarkan bibirnya
dan membulatkan matanya, ok deh! begitu akhirnya. Dia lemah kalau dua manusia
di dekatnya itu sudah merayu dan merajuk.
Prita mendapatkan kemeja-kemeja yang cocok untuk berangkat kuliah, juga
celana jeans baru, tas, sepatu, lengkap sudah yang ia inginkan, ya Allah
terima kasih Kau berikan aku seorang sahabat yang sebaik Elsa, semoga
kau memberikan rejeki yang berlimpah kepadanya, Juga kepadaku dan
Yunna, aamiin. Prita tak putusnya berdoa.
"Haus, yuk minum dulu, kita ke cafe pria Idola, di sini ada loh."
Yunna yang serba tahu membawa teman-temannya ke lantai tujuh, pusat
makanan dan minuman.
Cafe Pria Idola yang Yunna maksud adalah cabang pengembangan usaha
milik Raka, saat itu di seluruh Jakarta sudah memiliki cabang ratusan cafe.
Dan Cafe ini termasuk yang terbaik dan banyak sekali pengunjungnya.
Ketika mereka masuk Rakasiwi dan dua temannya kebetulan juga baru
saja tiba di cafe itu. Mereka mengambil meja di belakang dan baru akan
memilih menu ketika tiga orang gadis menarik perhatian mereka. Ketiga
gadis itu sama-sama cantik memiliki kelebihan tersendiri. Namun ketiganya
terlihat menarik karena kebaikan hati dan sifat tulus yang memancar
dari aura ketiganya.
"Suttttt, lihat mereka!"
Teman Rakasiwi menyenggol pelan lengannya dan menunjuk dengan
mulutnya tiga gadis yang melewati meja mereka. Raka hanya melihat
tubuh ketiga gadis tersebut yang menuju meja di sebrang.
"Apa sih? melihat cewe? jaga mata jaga hati."
Rakasiwi mengusap wajah teman dekatnya yang bernama Alan, hingga
gelagapan seperti orang tenggelam. Sedang seorang temannya yang
satu lagi hanya tertawa melihat tingkah konyol kedua sahabat sejak
smp itu. Mereka, Rakasiwi, Alan dan Alfredo. Ketiganya adalah putra
pengusaha kaya raya di Indonesia.
Bersambung
__ADS_1