
Semakin dekat pelabuhan kota Eksotik, semakin penumpang berkemas dan menumpuk di pintu keluar. Wajah-wajah yang ceria, bahagia dan gembira mewarnai suasana itu. Awak-awak kapal juga sibuk menurunkan jangkar. Terdengar suara-suara mereka yang keras bersemangat.
"Tu, Dua, Tiga! iyaaaa!" Demikian berulang-ulang hingga jangkar turun.
Richi mondar-mandir memeriksa dan mengingatkan temannya agar tidak ada yang ketinggalan. Seperti biasa mereka akan ke rumah Richi terlebih dulu. Hingga orang tua, atau saudara datang menjemput. Di rumah Richi anak-anak bisa makan dan minum dengan bebas, beristirahat dan bercengkrama. Tentu saja tidak ada yang keberatan, di rumah Richi segala sesuatu tersedia. Semua suka di rumah Richi. Apa lagi Papi dan Mami Richi sangat baik dan ramah. Mengeluarkan semua makanan enak untuk dihabiskan.
Jadi anak-anak tenang dan tak buru-buru keluar dari kapal. Mereka membiarkan penumpang-penumpang yang lain turun terlebih dahulu. Richi dan teman-teman menghabiskan waktu dengan membuat foto serta vidio yang seru di dalam kapal. Suara mereka menarik perhatian penumpang.
Raka, Deni dan Sammy juga sudah bersiap. Mereka berdiri di dinding mengawasi dan mengamati. Pelabuhan kota Eksotik ramai sekali. Mereka ada yang menjemput anak-anak mereka yang pulang liburan. Juga para pedagang dan pengusaha yang akan mengambil barang-barang kiriman dari pusat. Berbaur di dermaga.
Halima seperti biasa sangat gembira dan ceria. Ia akan berkumpul lagi dengan keluarganya. Ayahnya adalah seorang kepala suku yang disegani, Tapi ia tak tahu Halima akan pulang hari ini. Halima tak berharap ayahnya akan menjemputnya seperti teman temannya. Meski begitu ia tak kecil hati. Halima bisa minta tolong Husen mengantarnya. Halima melirik pada Husen yang sedang mengikat sesuatu.
"Husen, torang sedang mengikat apa? kelihatannya susah sekali."
Cowo itu menoleh dan tersenyum pada Halima, gadis yang ditaksirnya.
Sejak mereka menang lomba dansa, Halima agak berubah pada Husen.
Lebih ramah, diam-diam Husen pintar berdansa juga.
"Oh, ini Halima sedang mengikat barang barangku," Husen merasa ada sesuatu,makanya Halima mendekatinya.
"Husen, torang bisa antar beta dulukah? barang barang sangat banyak dan berat."
Benar saja apa yang dipikirkan Husen, Ia mendongak menatap pada Halima.
"Hemmm, nanti beta pulangnya bagaimana? he he he tak masalah Halima. Beta dan Wiliam akan antar torang pulang."
"Terima kasih Husen, torang selalu baik pada beta. Nanti beta juga baik ke Husen."
Keduanya saling tatap dan saling tersenyum.
"Loh kok baiknya ke William, bukan ke beta? wahh, beta rugi bandar."
"Oh, Salah, maksud beta torang Husen, he he he."
"Siap Halima, sekarang kita ke rumah Richi dulu aja."
Mardo sedang bersandar di dinding kapal. Ia tak lagi banyak bicara dan tersenyum. Matanya menatap jauh ke ke depan. Bibirnya diam seribu bahasa. Sejak kejadian itu ia merasa ingin meledak. Ingin menjerit dan menangis. Tapi tak bisa. Ia harus merahasiakan hal itu. Tak boleh ada yang tau. Bahkan saat Vana menanyakan kenapa ia lama sekali mengambil air? ia menjawab menunggu koki memasak air. Karena air panas sudah habis. Untungnya Vana tak banyak tanya lagi. Cewe itu naik ke atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Sementara dia sendiri juga melakukan hal yang sama. Berbalik membelakangi Vana meremas jemarinya dan mengigit bibir.
'Aku benci kak Raka! benci!
Mardo menyentuh bibirnya, terbayang kemarahan kak Raka dan ciuman pertama mereka.
Sebel! ich sebel sekali sama kak Raka!
Tiba-tiba Raka dan dua temannya bersandar pula di dinding kapal, penumpang sudah mulai berkurang.
Ia melihat Mardo yang sedang bersandar, dan Mardo menolehinya juga. Pandangan keduanya bentrok.
Raka tersenyum, ia mendekati gadis yang cemberut kepadanya dan memandang sebel.
"Yuk, kak Raka bawakan kopernya turun,"
Raka akan mengambil kopernya, tapi Mardo mencegahnya, "Nggak usah aku bisa bawa sendiri."
"Raka! yuk da da da!"
Sekelompok gadis-gadis melambai pada Raka, mereka bergiliran turun sambil menatap pada Raka dan menggerak-gerakkan jemari dengan centil. Raka balas melambai menyandar, tersenyum dan memandangi
gadis-gadis pemujanya.
"Hai Do, rupanya kamu di sini. Anak-anak sebagian sudah turun."
Richi menghampiri sembari matanya melirik pada kak Raka yang bersandar tak jauh dari Mardo.
__ADS_1
"Rich, makasih ya atas liburan yang luar biasa. Tak akan terlupakan seumur hidupku."
Mardo memberikan tempat di sebelahnya pada Richi, ia ingin membuat kak Raka marah.
Richi hanya tersenyum dan mengangguk angguk. Matanya menyipit oleh mentari yang segera naik dengan perlahan.
"Sama sama Do, kehadiran kamu dan teman teman membuat liburanku berbeda."
Saling menatap dan tersenyum.
"Ini bukan yang terakhir ya? kita bisa berliburan bersama lagi."
Mudah mudahan, guman Mardo.
"Do, mari kubantu angkat barang-barangmu ya, perahunya sebentar lagi."
"Iya Rich makasih banyak ya."
Mereka berdua meninggalkan tempat itu. Tak memperdulikan Raka yang masih bersandar.
'Biar saja, mereka mengganggapku patung.'
Raka bergumam, ia mengikuti Richi dan Mardo yang turun beriringan, tukang bawa barang di belakang mereka.
Selanjutnya Raka bersiap turun diikuti Deni dan Sammy yang memang memperhatikan Raka dan menunggu.
Tak lama semua sudah berkumpul di rumah Richi dengan barang-barang mereka. Pak Bramantyo menyambut anak-anak itu dengan gembira.
"Gimana liburannya, seru dan berkesan?"
Tentu saja semua anak-anak menjawab sangat seru, dan tak terlupakan. Pokoknya liburan yang sangat keren!
Anak-anak berseru berbarengan. Harapannya tahun depan pak Bramantyo membolehkan mereka pergi liburan lagi. Wah kecanduan deh.
Semua menyambut mereka. Pak Bramantyo menyambut anak-anaknya, mengucek-ucek rambut Richi. Dan saling menepuk tangan dengan Raka. Pak Bramantyo sangat bangga dengan kedua anak laki-lakinya.
"Liburannya asyik banget Pi, sayang Papi mggak ikut."
Richi bermanja-manja di pelukkan pak Bramantyo. Bukan Richi, tetapi pak Bramantyo yang memeluk-meluk anak lelakinya itu. Masih saja menganggap Richi bocah kecil.
"Lepasin ah Pi, malu ada cewe-cewe."
Papi tergelak, oleh bisikkan anaknya di telinga.
Anak-anak melihat keakraban itu, jadi teringat keluarga di rumah. Sulaiman buru-buru pamit, ia bersama Sarah Lee, Halima dan Husen. Mereka satu arah. Sulaiman sebelumnya ingin mengantar Betty, tetapi gadis itu menolak karena rumah mereka berbeda arah. Ia bisa ikut Mardo, Vana atau orang tuanya yang menjemput. Mana saja yang duluan. Karena rumah mereka berdekatan.
Tak ada yang menduga Zamzam pulang bersama mas Irawan, pria itu menawarkan tumpangannya saat melihat Zamzam baru saja turun. Ia juga akan cuti selama seminggu hingga kapal berangkat lagi.
Rose ternyata diam-diam, sudah janjian dengan kak Ferdy, mereka searah. Zamzam dan Rose tak singgah ke rumah Richi.
Mardo menunggu jemputan bang Mangara atau Papi. Ia sudah memberitahu ke rumah kalau hari ini ia pulang.
"Bang, jemput ya, aku di rumah Richi."
"Iya, ini udah di jalan Do, tunggu aja."
Mangara memberitahu, Mardo buru-buru memberitahu Vana dan Betty agar bersiap dengan barang-barang mereka karena bang Mangara sudah dekat.
Gadis itu ingin cepat menghindar dari memandang dan melihat kak Raka. Ingin menenangkan hatinya yang terguncang. Ia menyentuh lagi bibirnya, merasakan lagi pagutan bibir kak Raka yang memaksa. Ia meremas jemarinya, ingin marah tapi tak kuasa.
Ia tak bisa mengikuti pembicaraan orang tua Richi dengan teman-temannya, karena ia sangat terganggu dengan kehadiran kak Raka di ruangan itu.
Hal yang sama dialami oleh Vana, hatinya berada di tempat lain. Ia tak ingin pulang. Tapi ia juga tak ingin menginap di salah satu rumah temannya. Ia berusaha mencari jalan keluar, tapi tak ada yang bisa dimintai bantuan. Dengan keresahan dan kegelisahan ia mengiyakan ikut pulang bersama Mardo.
"Tin!"
__ADS_1
Bunyi klakson bang Mangara, "Do, Mardo ayo!"
Mangara memarkir mobilnya dan turun berdua Patricia.
"Rich, abangku sudah datang, kami pulang ya. Terima kasih atas semuanya, Tante, Om, k-kak Raka
saya pamit."
Mardo pamit, begitu juga Vana dan Betty. Richi mengantar ke depan sembari ikut membantu Mangara memasukkan koper dan barang-barang ke bagasi.
Bersambung
__ADS_1