Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 197. Yunna Yang Malang


__ADS_3

Malam itu Yunna tiba-tiba merasakan rasa sakit yang tak biasa. Ia meringis kesakitan memegang perutnya. Apakah ia akan melahirkan? bukankah menurut dokter ia baru akan melahirkan bulan depan? kenapa sekarang ia merasakan mulas yang berulang. Sakitnya bukan alang kepalang.


Ia akhirnya menjerit sebab tak bisa menahankan sakitnya.


"Yah, Ayah!, perutku sakit aduh! aduh aduh!"


Yunna  memanggil Jaelany dan mengatakan keadaannya. Pria itu sedikit terkejut, lantas mengambil koper yang telah disediakan oleh Yunna dan ibunya. Mereka segera berangkat ke rumah sakit bersalin. Kebetulan ibu Yunna  sudah beberapa hari menginap untuk menguatkan keadaan putrinya. Yunna sudah memasuki masa ia akan


melahirkan.  Dan malam itu tanda-tanda kelahiran membuat Yunna berteriak-teriak kesakitan. Ibunya mengusapi perut putrinya.


"Sabar Yunna, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu, anakmu akan segera lahir Nak."


"Sakit Sekali Bu, hu hu hu. Setiap berselang waktu  aku merasa kesakitan di pinggangku Bu hu hu hu."


"Sebentar lagi kita sampai sayang, kuatkan ya."


Ibunya tak berhenti membesarkan hatinya, menyuruhnya berdoa dan menahankan rasa sakitnya ketika tanda itu datang berulang. Hingga mereka tiba di rumah sakit. Para medis langsung membawa Yunna ke kamar bersalin dan memeriksa. Memang Yunna akan melahirkan. Pembukaaan demi pembukaan terus terjadi. Dokter yang kan membantu pun sudah dihubungi dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Jaelany meremas-remas tangannya, ia berdebar dan hatinya tak sabar menunggu anak pertamanya. Sebentar-bentar ia menatap ke pintu menunggu dokter yang akan membantu proses  kelahiran Yunna. Jaelany memilih menemani istrinya, ia sudah bersiap dan memberikan kekuatan dengan mengecup kening Yunna berkali-kali.


"Kamu pasti bisa! kamu pasti bisa!"


Ulangnya berkali-kali. Hingga akhirnya dokter datang, dan memberikan senyumnya yang menguatkan. Ia bersiap-siap dan berdiskusi dengan suster yang membantunya.


"Bagus, mudah-mudahan lancar."


Dokter segera mendekat pada Yunna, memeriksa bagian bawah Yunna dan mengangguk-angguk.


"Mba, ikuti indtruksi ya, tarik napas panjang."


Yunna melakukan apa yang diminta oleh dokter.


"Hembuskan pelan-pelan."


Perempuan itu mengikuti setiap aba-aba yang diberikan oleh dokter, ia tercekat sebab rasanya ia tak akan sanggup melakukannya. Rasa sakit serta sesuatu yang besar di selangkangannya membuatnya putus asa. Dokter menyuruhnya untuk mengedan sekali lagi. Dengan kekuatan ajaib Yunna melakukannya lagi hingga ia berteriak sekuat tenaganya, rasanya napasnya telah lepas. Hening dan sunyi hingga suara itu terdengar.


"Oe oe oe oe  oeee!"


Yunna membuka matanya dan rasa sakit serta sesuatu yang mengganjal menghilang. Rasanya tak percaya. Tapi ia melihat sang dokter memberikan bayi merah pada seorang suster yang segera membawanya ke sebelah. Dokter melanjutkan pekerjaannya pada bagian bawah Yunna. Ia menekan perut Yunna dan terasa banyak sekali cairan keluar dan sesuatu yang besar. Agaknya ari-ari juga telah keluar.

__ADS_1


Dokter mengulurkan tangannya pada Yunna dan juga Jaelany.


"Selamat buat kalian berdua, semoga menjadi orang tua yang baik untuknya."


Sang dokter tersenyum, kemudian menerima bayi mungil yang terbungkus selimut lembut, kemudian menaro bayi tersebut di sebelah Yunna. Kemudian pamit keluar. Yunna mengucapkan terima kasihnya dan melihat bayi mungil di sisinya. Yunna merasakan keharuan menyeruak di relung hatinya. Ia terisak. Jaelany juga meneteskan air mata. Ia mencium kepala bayi itu dan juga kepala Yunna.


"Yah, azanin anak kita."


Yunna yang masih lemas mengingatkan Jaelany. Tapi pria itu ragu melakukannya. Akhirnya ia memanggil ayah mertuanya untuk mengazankan bayi itu. Orang tua Yunna sangat bahagia. Mereka sudah memiliki cucu dari


Yunna. Azan lembut mengalun di telinga bayi yang tengah tertidur tersebut.


Elsa baru saja keluar dari kantor saat ia mendapat kabar kalau Yunna sudah melahirkan. Bibir gadis itu tersenyum, tak sabar ingin melihat anak Yunna. Ia segera memesan kenderaan untuk mengantarnya ke tempat Yunna di rumah sakit. Kebetulan tak jauh jadi ia memutuskan untuk melihat terlebih dulu.


Suasana rumah sakit lenggang. Tidak terlalu banyak yang datang ke ruangan rawat melahirkan. Yunna bilang ia telah melahirkan tadi malam. Putra kecil yang lucu. Yunna mengirimkan foto anaknya yang terpejam dan bibirnya mengatup. Sangat imut sekali.  Yunna memberitahu di wa grup mereka bertiga. Dia, Elsa dan Prita. Ketiganya sangat bahagia. Elsa langsung mengucapkan selamat atas kelahiran anaknya dan Jaelany. Sementara Prita baru pagi harinya membuka handphone dan terkejut oleh berita tersebut.


"Memangnya sudah sembilan bulan ya? rasanya baru beberapa bulan kau mengabari kami dengan kehamilanmu dan sekarang ia sudah hadir di dunia. Dia sungguh tampan dan imut, muahhh."


Yunna tersenyum membaca pesan dari Prita.


"Baiklah, tante Prita akan menyempatkan datang untuk mengendong jagoan kecil kita."


Balas Yunna, dan menutup handphonenya.


"Teman-temanmu akan datang menengok jagoan kecil kita?"


Ayah Jae menggendong putranya, dan Yunna mengangguk-anggukkan kepalanya. Elsa muncul di pintu dan melihat pasangan itu yang sedang memperhatikan anak mereka yang terlelap.


"Hello, selamat ya Yunna, kamu sudah menjadi ibu sekarang cup-cup muah."


Elsa mengecup pipi Yunna. Ia lalu berdiri di dekat Jaelany untuk melihat bayi kecil tersebut.


"Ich lucu sekali, mirip siapa ini ya?"


"Mirip ayahnya dong."


Sahut Jaelany dengan senyum yang tipis. Beberapa saat Elsa mengobrol dan menemani Yunna. Sedangkan Jaelany keluar untuk mengurus dan membeli keperluan Yunna. Tiga hari ke depan mereka akan berada di rumah sakit.


 'Hem, aku sudah memiliki seorang putra. Aku tak membutuhkan Yunna lagi. Perempuan itu dan keluarganya amat ambisius, aku tak suka! membuatku sakit kepala mengingatnya.'

__ADS_1


Laki-laki itu menyunggingkan senyum menyeramkan di wajahnya. Ia telah menyusun rencananya dengan rapi. Tiga hari berikutnya terjadi tragedi di depan rumah sakit. Mereka sekeluarga akan membawa Yunna dan bayinya ke rumah. Saat di depan rumah sakit beberapa pria bertopeng menyergap mereka, Jaelany berusaha melindungi Yunna dan putranya, demikian juga ayah Yunna  namun tebasan clurit di dada pria itu membuatnya berhenti. Ia ambruk seketika. Istrinya meraung ditengah keterkejutan.


Mereka merebut bayi mungil dalam gendongan sang nenek, sempat tarik menarik hingga sebuah dorongan keras membuat perempuan itu terlempar.


"Siapa kalian, berikan anakku!"


Yunna berteriak, tetapi kembali tebasan clurit membuat lehernya nyaris putus. Jaelany menutup matanya ngeri. Ia lantas berteriak-teriak meminta pertolongan. Saat satpam dan beberapa orang yang datang ke tempat itu, kelompok laki-laki bertopeng itu telah pergi dan membawa anak laki-laki Yunna dan Jaelany. Pria itu terlihat sangat terpukul. Memanggku kepala Yunna yang terkulai dengan simbahan darah.


"Tolong! tolong! tolong istriku!"


Para medis berlarian dan membawa Yunna ke ruang Icu. Namun agaknya luka di leher Yunna sangat parah. Napasnya terlihat satu-satu. Sementara Jaelany meremasi tangannya berjalan mondar-mandir. Apa yang ia pikirkan? rencananya berhasil. Yunna lumpuh total antara hidup dan mati. Demikian juga ayah mertuanya, sedangkan perempuan bodoh ibu Yunna hanya pingsan melihat peristiwa mengerikan di depan matanya.


Polisi tiba di tkp dan membuat garis polisi. Mereka mulai memeriksa dan menyelidiki kejadian tersebut.


Jaelany membekap wajahnya seolah ia sangat shok oleh kejadian yang menimpanya. Ia termangu-mangu dan berteriak hesteris menyuruh polisi menemukan anaknya.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Pak."


Polisi lalu meninggalkan pria itu dengan membawa bukti-bukti yang minim. Mereka harus bekerja keras untuk mengungkap kasus Jaelany dan Yunna.


Sementara Prita telah berada di atas kereta api yang menuju Jakarta. Ia memberitahu Rakasiwi bahwa ia pulang ke Jakarta. Pria muda di sana bilang akan menyusul dan bertemu di Jakarta.


"Hati-hati ya cinta."


"Iya, makasih cinta."


Prita melebarkan senyumnya dan mencari pewe, cukup lama perjalanannya ke jakarta. Ia harus nyaman  sekarang agar tak pegal dan membuat tubuh sakit.


 


 


 


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2