Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 43.Theo Mengangkat Saudara


__ADS_3

Raka bahagia sekali berkenalan dengan Theo.Begitu pria asli Papua tersebut menyatakan ingin mengangkatnya sebagai saudara, serta merta ia lari untuk memeluk Theo. Mereka berpelukkan erat dan saling menepuk pundak.


"Terima kasih Theo, kita sekarang bersahabat dan bersaudara. Saya senang berkenalan denganmu."


Theo, tersenyum lebar, mengajak masuk ke dalam. Juga Halima.Sementara  yang lain menyiapkan api unggun di halaman. Mereka akan membuat acara pengangkatan saudara.


Raka membuka pintu di mana di dalamnya ada Mardo. Gadis itu mengangkat wajahnya dan terhenyak melihat sosok di depannya.


"Kak Raka!"


Mardo spontan bangun dari tempat duduknya dan lari menyongsong memeluk laki laki itu.


Oh sayangku.


Raka menyambut gadis itu dan balas memeluknya.


"Kita akan baik baik saja kok,nggak usah takut."


"Iya benar Nona, semuanya baik baik saja malah kita akan berpesta."


Mardo mengangkat wajahnya mencari suara itu, "Halima!"


"Halima torang ada di sini juga? beta baru saja memikirkan torang."


Mardo menarik tangan Halima, menggenggamnya erat.


"Halima melakukan hal yang hebat tadi. Dia menceritakan tentang dirimu sampai sampai Theo dan teman temannya tercengang. Akhirnya Theo percaya kamu tak seperti pengaduan itu. Untung ada Halima."


"Oh, terima kasih Halima."


Keduanya berpelukkan erat erat.


Mardo merasakan sesuatu rasa aman menyelusup ke jiwanya saat melihat Raka muncul tadi. Hingga ia melonjak kegirangan, lupa betapa ia selama ini menjaga jarak dengan lelaki itu. Ia rasa pipinya memerah sebab ia merasakan pergerakkan  darah yang bergerak kuat ke pipinya.


Halaman rumah yang berada di tengah hutan belantara itu telah ramai oleh penduduk asli. Sebagian besar teman teman Theo. Juga bapak ketua suku dan ibu yang telah dijemput anak buah Theo.  Upacara adat segera dilaksanakan. Raka dan Mardo di bawa ke halaman. Halima mendampingi Mardo di sampingnya.  Musik serta nyanyian mulai terdengar. Mardo terdiam, ia teringat sering sekali mendengar sayup sayup tetabuhan yang terbawa angin.  Hilang dan pergi. Ternyata beginilah mereka. Api unggun sudah berubah menjadi bara api kemerahan. Ada sebuah belanga di dalamnya. Mereka menyanyi dan menggerakkkan gerakkan tangan. Dru dru nina dru nina nina


dru nina nina ya ya ya...

__ADS_1


Merdu dan syahdu  tetabuhan serta lagunya.


Kemudian mereka semua mengitari api unggun beberapa kali. Ritual adat yang turun temurun mereka pertahankan.


Mardo pernah mendengar bahwa kota Fakfak adalah satu satunya kota yang penduduk aslinya banyak memeluk islam. Itu sebabnya malam itu ia tak melihat orang orang asli pedalaman bertelanjang dada.   Melainkan mereka semua memakai baju dan kopiah. Ibu Ketua juga memakai hijab. Alhamdulillah Theo seorang muslim.


Setelah usai,bapak dan ibu ketua suku mengusapkan sesuatu ke punggung tangan Raka, Mardo juga Halima.Kata Halima itu kapur merah dari cangkang kerang yang dihancurkan hingga menjadi tepung. Sekarang mereka sudah menjadi bersaudara. Hanya dengan simbol saja, mereka sekarang sudah menjadi saudara.


Api unggun, serta bara api di matikan dan dibongkar. Ternyata banyak makanan di dalam bara api tersebut.


Tikar di gelar, dan makanan berdatangan. Ubi ubi yang dibakar di dalam bara api, juga daging ayam hutan.


Semangkuk sup sagu diberikan pada Raka dan Mardo.Keduanya saling tatap. Lantas menghirupnya karena tidak ada sendok. Semua bersorai sorai lalu mengikuti menikmati sup sagu. Theo bilang mereka hanya punya makanan seperti itu. Sagu di dapat dari dalam hutan. Kebun kebun kecil yang menanam ubi, kentang serta kacang. Beberapa orang bekerja di kebun kebun buah Pala. Sehingga mereka juga punya makanan serta manisan dari buah pala.


Raka yang selama hidupnya belum pernah masuk hutan belantara sangat takjub oleh keadaan malam itu.


Ia bertanya apakah mereka tidak makan beras? ketua suku bilang.hanya sesekali.Karena beras sangat mahal. Raka langsung menjanjikan akan memberi mereka beberapa karung beras.Theo hanya tersenyum senyum dan mengangguk angguk.


Halima juga bilang kalau keluarganya juga hanya setahun sekali makan beras, saat hari raya dan natal. Serta merta Mardo bilang bahwa Raka juga tak keberatan memberi Halima beras. Semua tertawa.


"Kenapa tidak kamu saja yang ngasih?"


"Sekalian dong."


Keduanya tersenyum, kedekatan semakin kuat diantara Raka dan Mardo.


Menjelang tengah malam barulah ritual itu selesai. Raka membawa Mardo dan Halima bersamanya.


Orang tua sudah cemas mencari kesana dan kemari.Tidak ada yang sempat mengabari mereka. Sarah Lee juga mencemaskan Halima Haremba. Tak biasanya pergi tak memberi tahu. Ia pikir Halima pulang ke rumahnya di sebrang kota eksotik. Orang tua Mardo juga cemas dan takut, bahkan mereka sudah mengadukan peristiwa itu ke kantor polis.


Oh, tiba tiba Mardo merasa tubunya tidak enak.


"Kenapa?kenapa Mardo?"


"Entah, tiba-tiba tubuhku merasa sakit dan panas."


"Ya ampun, tahan ya."

__ADS_1


Tapi sakitnya tak hilang. Meski Halima sudah mengolesi dengan kayu putih.


Raka mengebut menerjang kegelapan malam, kemudian tak lama mereka memasuki rumah sakit.


Raka memapah gadis itu yang sudah lemas dan pucat.


Dokter bilang Mardo harus dirawat untuk menemukan penyakitnya. Raka menyetujuinya. Ia lantas menelpun Mangara, ia harap kakak Mardo itu tak bisa tidur memikirkan adiknya yang hilang.


"Apa? ja-jadi kelompok anak Papua menculik Mardo?"


Mangara tercekat saat Raka menceritakan keberadaan mereka hingga larut malam begini.


Tapi semua sudah berakhir dengan baik-baik. Masalahnya tiba di kota mendadak  saja Mardo demam dan pingsan. Sekarang mereka di rumah sakit.


Mangara mengucapkan terima kasih, karena telah membawa Mardo ke Rumah sakit.


Siapa?


Papi yang mendengar Mangara bicara sengan seseorang mendekat. Mereka semua tegang dan bisa tidur menunggu polisi mengabari mereka. Nyatanya Raka yang lebih mengabari tentang  Mardo.


"Raka Pi, katanya Mardo diculik anak-anak Papua di pedalaman. Tapi agaknya Raka bisa bernegosiasi hingga mereka dilepasakan. Tapi sekarang mereka sudah keluar dari hutan dan katanya mendadak Mardo jatuh sakit.


Panik serta cemas, mereka serta merta berlarian turun, mobil terparkir di tepi jalan.Di suasan angin yang berhembus serta gelap, Mangara mengenderai mobil menuju pusat kota.


"Hati-hati bang, nggak usah ngebut," Mami mewanti-wanti anak lelakinya.


"Oh, iya Mi, maaf."


Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Diculik oleh penduduk asli Papua? seperti laki-laki yang lewat setiap pagi di depan rumah. Apakah lelaki -lelaki itu sepertinya? tinggi tegap, mengenakan kotek dan rambutnya gimbal ? kasihan sekali Mardo, dia pasti ketakutan.


Raka menunggu di lobbi rumah sakit, ia dan Mangara saling mengirim pesan.


Sedang Halima menunggu di depan pintu kamar Mardo. Ia tadi sudah menelpun Sarah Lee dan menceritakan kejadian di depan sekolah. Sarah Lee sangat terkejut. Ia kemudian mengabari Richi serta teman-teman yang lain.Keadaan sudah larut malam Namun Betty, Zamzam, Rose serta yang lain berjanji akan datang. Mereka takut sesuatu telah terjadi.


 


Bersambung.

__ADS_1


 


 


__ADS_2