Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
236. Boy Dan Riri


__ADS_3

Boy sedang berbicara dengan seorang gadis di sebuah cafe. Wajah laki-laki itu dingin tanpa senyum yang menghias bibirnya. Tadi ia begitu terkejut  saat gadis berambut  panjang sepinggang itu mendapatinya di kantor.


Segera ia mengajak gadis itu bicara di luar.


"Boy, apa kabarmu? kau baik-baik saja kan?"


"Iya aku baik-baik."


Boy melengos. Kenapa perempuan ini datang menemuiku. Apa yang diinginkannya? aku sudah tak memperdulikan dirinya lagi sejak ia menikah dengan laki-laki lain.


"Lalu bagaimana dengan pernikahanmu, kudengar kau bahagia ya dengan pria itu."


Sembari Boy melengos. Rasa sakit hatinya sangat jauh berkurang. Ia mengerti sebuah hal, perempuan itu pasti bukan yang terbaik untuknya.


"Kenapa kau tak  menelpon dulu  sebelum datang?"


Sekarang Boy tak suka perempuan itu datang ke kantor saat ia sedang bekerja. Laki-laki itu sendiri merasa heran perasaan cinta, sayang, pada gadis yang bersamanya menghilang, memupus tak berbekas. Kalau saat ini ia mau bersama gadis itu sebabnya tak lain, menghindari pertemuan Riri dan Prita.


Jangan sampai Prita melihatnya bersama gadis ini, hubungan dirinya dan Prita seperti api dalam sekam. Boy tak ingin menambah masalah.


"Atau jangan-jangan pernikahanmu dengan pria itu sedang dalam masalah ya?"


Gadis itu langsung mengangkat wajahnya.


"Kau benar Boy, aku sedang ada masalah."


"Oh, jadi kau ingin meminta bantuanku ya?"

__ADS_1


Boy menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengeram dan menatap gadis itu dengan tajam. Seharusnya gadis ini tak datang kepadanya. Memang dia lupa yang telah ia lakukan.


"Aku bukan tempat pelarian Riri, sebaiknya kau pulang dan selesaikan sendiri masalahmu, aku tidak akan mengeluarkan energiku sedikit pun untukmu, maaf saja."


"Aku tidak sibuk! tidak punya waktu!"


Boy memundurkan kursinya bergegas meninggalkan tempat itu. Melihat sikap Boy, Riri juga bergegas dan berteriak sehingga banyak tamu yang melihatnya.


"Boy tunggu! maafkan semua kesalahanku. Aku menyesal telah meninggalkanmu!"


Riri memeluk boy dari belakang. Menyandarkan kepalanya ke punggung laki-laki itu.


Boy sangat marah, ia membuka tangan Riri dari tubuhnya, menjauhkan dirinya dari perempuan itu secepatnya. Ia bahkan berlari meninggalkan tempat itu.  Ia sempat mendengar keributan kecil di cafe tersebut. Tapi Boy tak perduli, ia terus lari ke tempat parkir.


"Hei tunggu!"


"Kau!"


"Mau apa kau?"


Keduanya sama-sama tegang, berpandangan dan saling mencurigai.


"Cepat kembali dan bawa teman perempuanmu pergi, ia pingsan di cafeku."


Boy terkejut, "Pingsan!"


Laki-laki itu serta merta berlari ke atas, dan melihat  Riri yang sedang di kelilingi dan kepalanya di pangku seseorang.

__ADS_1


"Riri! "


Boy berlutut lalu mengangkat gadis itu dan membawanya ke mobil, ia ngebut ke sebuah klinik tak jauh dari tempat itu. Dokter memeriksa dan tersenyum.


"Hanya sedikit shock, dan kelelahan, saya akan memberikan obat."


"Terima kasih dokter."


Boy tak banyak bicara setelah mendapat pemeriksaan dokter ia mengantarkan Riri ke rumah orang tuanya. Boy terbayang masa remajanya. Riri adalah teman sekolahnya. Gadis itu paling menonjol di kelas. Selain cantik dan eksklusif dia juga pintar serta rapi.


Teman-temannya bersaing mendapatkan cinta pertamanya tapi semua gagal. Gadis remaja cantik itu justru memilihnya menjadi teman dekat. Selanjutnya mereka menjadi sepasang kekasih hingga menjelang dewasa. Tiba-tiba orang tua Riri menjodohkannya dengan seorang pria. Riri tak bisa menolak.


Setelah Riri menikah, Boy kembali ke luar negeri, ia bekerja sambil melanjutkan lagi pendidikkan. Menurutnya mumpung masih muda.Setelah beberapa tahun papa mengirimi email menyuruhnya pulang. Mamanya sudah tua dan sakit-sakitan begitu juga papa. Mereka takut Boy tak melihat mereka lagi.


Benar juga apa yang dikatakan papanya. Boy akhirnya pulang.


 


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2