
Prita juga menerima pesan dari Yunna tentang acara empat bulanannya. Prita tak langsung membalas
sebab ia tau, minggu depan ia sudah menghadapi ujian kenaikan tingkat. Ia harus belajar dan fokus pada
pelajarannya. Pengen banget sih pulang. Kangen pada mama Risanya. Juga kangen bermain dan
jalan-jalan dengan Yunna dan Elsa.
Tapi, ia harus prioritaskan pelajarannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan studynya agar segera
bekerja dan memiliki karier. Bosan juga belajar setiap hari. Kalau saja bukan kemauan keras serta
keinginan mengubah hidup keluarganya, sudah lama Prita menyerah. Jika ia ingat perjalanannya
hingga sampai pada hidupnya yang sekarang ini. Ia menangis darah. Sebab begitu sulit dan berlikunya
ia menjalani masa-masa bersekolah.
Paman dan bibi-bibinya mencemoohkannya, "Untuk apa sekolah, nanti tetap aja ke dapur! mending kau
menjaga mama kamu tuh yang sakit, bisa masuk surga."
Ketika hanya nenek yang membelanya dan memberinya semangat agar jangan mendengar omongan
paman dan bibi-bibinya. Anak-anak mereka tidak ada yang bersekolah. Dibiarkan setiap hari bermain
atau berada di jalanan menjadi pengamen, berjualan makanan. Mereka memang sudah merasakan
enaknya mendapat uang. Sehingga tidak merasa perlu bersekolah.
Dan pamannya menginginkan dirinya juga seperti anak-anaknya, Prita pasti memiliki daya tarik tersendiri
jika ia berdiri di pinggir jalan dengan jualannya. Keluguan serta wajahnya yang cantik sendu. Pamannya
sudah memastikan bahwa pengendara-pengendara akan berhenti dan membeli barang dagangannya.
Bahkan mungkin tertarik membelinya.
Sayangnya Prita tak tertarik. Ia ingin bersekolah. Tidak ada biaya tetapi dengan kekuatan tekad dan
keterus terangannya pada guru-gurunya hingga step by step Prita terus menaiki jenjang sekolahnya.
Ia bahkan menahan rasa malunya ketika kekurangan biaya masuk smu. Ia menyurati bapak kepala
sekolah smunya, menceritakan bahwa ia sudah diterima di sekolah tersebut, tetapi ia tidak punya
biaya membayar uang gedung serta bulanannya, ia mau bekerja apa saja di sekolah itu asalkan
dibiarkan sekolah di smu tersebut.
Hampir putus asa menunggu jawabannya. Ia mengira suratnya tak sampai, ia nyaris membiarkan
__ADS_1
hari berlalu sementara hari sekolah semakin dekat. Prita menangis saat itu, ia pikir mungkin ia
hanya sampai di smp saja, lalu bekerja menjadi penjual makanan di jalan. Tetapi suatu sore seorang
pria tak dikenal datang ke rumah dan mencarinya. Ternyata laki-laki itu adalah bapak kepala
sekolahnya yang ingin lebih mengenalnya dan kehidupannya, apakah benar seperti yang ia
ceritakan.
Prita tak akan melupakan kejadian itu, kepala smu tersebut memberinya amplop untuk membayar
uang gedung serta kebutuhan sekolahnya sebanyak tiga juta. Tak lama kepala sekolahnya pindah
ke kota lain. Tetapi Prita telah mendapat bantuan yang ia inginkan. Sementara ibunya perlahan
membaik dan berkurang kunjungannya ke dokter. Ibunya mulai bisa menikmati makanannya
sendiri, membersihkan kamarnya, dan mencuci-cuci baju serta piring-piring yang kotor.
Nenek yang semakin tua, dengan tegas menyuruh anak-anaknya yang lain pindah ke rumah
mereka dan mengurus keluarga masing-masing. Sehingga ibunya tidak dibingungkan oleh
kehadiran serta suara-suara keributan saudara-saudaranya yang hampir sepanjang hari, tiada
hentinya. Setelah saudara-saudaranya pergi, rumah menjadi tenang dan damai. Hal yang
mempercepat kesembuhan ibunya.
kehidupan mereka. Saat itu memang nenek tidak lagi memiliki cicilan di bank. Dan tidak mau
lagi mengambil sesuatu dengan pinjaman di bank. Rumah-rumah kontrakkannya sudah direhap
seluruhnya, dan menjadi laris dengan orang-orang yang belum memiliki rumah. Rumah-rumah
kontrakan itu sudah waktunya diberikan kepada masing-masing anaknya. Dan mereka masing-masing
harus bekerja untuk membiayai kehidupan.
Sepanjang kehidupan nenek dan kakek Priti memang memiliki usaha membuat kontrakkan, jadi
pasangan itu memiliki banyak rumah-rumah kontrakkan mulai dari yang besar hingga kontrakkan
yang murah meriah dan bersekat. Beberapa sempat dijual untuk beberapa alasan yang kebutuhan
yang lebih besar.
Untungnya setelah kakek meninggal, nenek yang mengelola usaha kontrakkan tersebut. Ia cukup
keras dan tegas pada anak-anaknya. Hingga tidak ada lagi yang terjual. Nenek benar-benar
__ADS_1
menegaskan bahwa usaha itu adalah kehidupan mereka. Jangan sampai hilang atau dijual, bahkan
kalau bisa mesti bisa bertambah.
Nenek telah juga membagi-bagi rumah kontrakkan bedeng, kotrakkan bersekat kepada anak-anaknya
termasuk ibunya Risa. Dan mereka tidak boleh saling merecoki karena nenek telah membagi
dengan adil. Untunglah paman dan bibi Prita menuruti nenek. Mereka sejak nenek meninggal dan
telah mendapatkan bagiannya, tidak pernah lagi menggangu kehidupan ibunya. Begitu juga
Prita, ia beberapa tahun ini aman dari mulut-mulut usil paman dan bibinya.
Kediaman Prita dan ibunya mungkin membuat mereka tak enak hati. Atau mungkin mereka sekarang
telah menyadari bahwa kehidupan yang Prita ambil saat ini justru baik. Merekalah yang terlambat
mendidik anak-anaknya untuk tidak bersekolah. Seandainya memaksakan diri, mereka sebenarnya
bisa juga menyekolahkan anak-anak, dan membanggakan keluarga. Sekarang seringkali pamannya
menyebut-nyebut sebagai contoh yang baik bagi anak-anaknya.
"Coba kalian lihat anak bibi kalian! Prita, ia hidup prihatin dan berjuang hingga bisa masuk perguruan
tinggi, sebentar lagi ia akan menjadi sarjana. Ia adalah satu-satunya sarjana diantara keluarga kita!"
Entah itu perasaan bangganya atau iri. Yang jelas Prita mulai merasakan kalau keluarga paman
dan bibi-bibinya tidak lagi mengusili dirinya dan mama Risanya. Gadis itu sangat bersyukur serta semakin
bersemangat secepatnya menyelesaikan tugas-tugasnya.
Mengingat itu semua, Prita membalas pesan Yunna, bahwa ia tidak bisa pulang sebab berbenturan
waktunya dengan ujian semester. Tetapi ia bilang sangat senang, dan mendoakan agar kehamilan
Yunna selalu baik-baik saja, hingga kelak melahirkan.
Yunna yang menerima pesan Prita, sedikit kecewa. Untungnya masih ada Elsa dan keluarganya. Ia
membalas Prita, bahwa ia bisa mengerti tentang kesibukkan Prita. Ia mendoakan sahabatnya itu
selalu sehat dan diberi kemudahan menghadapi ujian, sehingga mendapatkan nilai yang baik.
__ADS_1
Bersambung