Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 174. Sedang Ujian


__ADS_3

Prita juga menerima pesan dari Yunna tentang acara empat bulanannya. Prita tak langsung membalas


sebab ia tau, minggu depan ia sudah menghadapi ujian kenaikan tingkat. Ia harus belajar dan fokus pada


pelajarannya.  Pengen banget sih pulang. Kangen pada mama Risanya. Juga kangen bermain dan


jalan-jalan dengan Yunna dan Elsa.


Tapi, ia harus prioritaskan pelajarannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan studynya agar segera


bekerja dan memiliki karier. Bosan juga belajar setiap hari. Kalau saja bukan kemauan keras serta


keinginan mengubah hidup keluarganya, sudah lama Prita menyerah. Jika ia ingat perjalanannya


hingga sampai pada hidupnya yang sekarang ini. Ia menangis darah. Sebab begitu sulit dan berlikunya


ia menjalani masa-masa bersekolah.


Paman dan bibi-bibinya mencemoohkannya, "Untuk apa sekolah, nanti tetap aja ke dapur! mending kau


menjaga mama kamu tuh yang sakit, bisa masuk surga."


Ketika hanya nenek yang membelanya dan memberinya semangat agar jangan mendengar omongan


paman dan bibi-bibinya. Anak-anak mereka tidak ada yang bersekolah. Dibiarkan setiap hari bermain


atau berada di jalanan menjadi pengamen, berjualan makanan.  Mereka memang sudah merasakan


enaknya mendapat uang. Sehingga tidak merasa perlu bersekolah.


Dan pamannya menginginkan dirinya juga seperti anak-anaknya, Prita pasti memiliki daya tarik tersendiri


jika ia berdiri di pinggir jalan dengan jualannya. Keluguan serta wajahnya yang cantik sendu. Pamannya


sudah memastikan bahwa pengendara-pengendara akan berhenti dan membeli barang dagangannya.


Bahkan mungkin tertarik membelinya.


Sayangnya Prita tak tertarik. Ia ingin bersekolah. Tidak ada biaya tetapi dengan kekuatan tekad dan


keterus terangannya pada guru-gurunya hingga step by step Prita terus menaiki jenjang sekolahnya.


Ia bahkan menahan rasa malunya ketika kekurangan biaya masuk smu. Ia menyurati bapak kepala


sekolah smunya, menceritakan bahwa ia sudah diterima di sekolah tersebut, tetapi ia tidak punya


biaya membayar uang gedung serta bulanannya, ia mau bekerja apa saja di sekolah itu asalkan


dibiarkan sekolah di smu tersebut.


Hampir putus asa menunggu jawabannya. Ia mengira suratnya tak sampai, ia nyaris membiarkan

__ADS_1


hari berlalu sementara hari sekolah semakin dekat. Prita menangis saat itu, ia pikir mungkin ia


hanya sampai di smp saja, lalu bekerja menjadi penjual makanan di jalan. Tetapi suatu sore seorang


pria tak dikenal datang ke rumah dan mencarinya. Ternyata laki-laki itu adalah bapak kepala


sekolahnya yang ingin lebih mengenalnya dan kehidupannya, apakah benar seperti yang ia


ceritakan.


Prita tak akan melupakan kejadian itu, kepala smu tersebut memberinya amplop untuk membayar


uang gedung serta kebutuhan sekolahnya sebanyak tiga juta. Tak lama kepala sekolahnya pindah


ke kota lain. Tetapi Prita telah mendapat bantuan yang ia inginkan. Sementara ibunya perlahan


membaik dan berkurang kunjungannya ke dokter. Ibunya mulai bisa menikmati makanannya


sendiri, membersihkan kamarnya, dan mencuci-cuci baju serta piring-piring yang kotor.


Nenek yang semakin tua, dengan tegas menyuruh anak-anaknya yang lain pindah ke rumah


mereka dan mengurus keluarga masing-masing. Sehingga ibunya tidak dibingungkan oleh


kehadiran serta suara-suara keributan saudara-saudaranya yang hampir sepanjang hari, tiada


hentinya. Setelah saudara-saudaranya pergi, rumah menjadi tenang dan damai. Hal yang


mempercepat kesembuhan ibunya.


kehidupan mereka. Saat itu memang nenek tidak lagi memiliki cicilan di bank. Dan tidak mau


lagi mengambil sesuatu dengan pinjaman di bank. Rumah-rumah kontrakkannya sudah direhap


seluruhnya, dan menjadi laris dengan orang-orang yang belum memiliki rumah. Rumah-rumah


kontrakan itu sudah waktunya diberikan kepada masing-masing anaknya. Dan mereka masing-masing


harus bekerja untuk membiayai kehidupan.


Sepanjang kehidupan nenek dan kakek Priti memang memiliki usaha membuat kontrakkan, jadi


pasangan itu memiliki banyak rumah-rumah kontrakkan mulai dari yang besar hingga kontrakkan


yang murah meriah dan bersekat. Beberapa sempat dijual untuk beberapa alasan yang kebutuhan


yang lebih besar.


Untungnya setelah kakek meninggal, nenek yang mengelola usaha kontrakkan tersebut. Ia cukup


keras dan tegas pada anak-anaknya. Hingga tidak ada lagi yang terjual. Nenek benar-benar

__ADS_1


menegaskan bahwa usaha itu adalah kehidupan mereka. Jangan sampai hilang atau dijual, bahkan


kalau bisa mesti bisa bertambah.


Nenek telah juga membagi-bagi rumah kontrakkan bedeng, kotrakkan bersekat kepada anak-anaknya


termasuk ibunya Risa. Dan mereka tidak boleh saling merecoki  karena nenek telah membagi


dengan adil. Untunglah paman dan bibi Prita menuruti nenek. Mereka sejak nenek meninggal dan


telah mendapatkan bagiannya, tidak pernah lagi menggangu kehidupan ibunya. Begitu juga


Prita, ia beberapa tahun ini aman dari mulut-mulut usil paman dan bibinya.


Kediaman Prita dan ibunya mungkin membuat mereka tak enak hati. Atau mungkin mereka sekarang


telah menyadari bahwa kehidupan yang Prita ambil saat ini justru baik. Merekalah yang terlambat


mendidik anak-anaknya untuk tidak bersekolah. Seandainya memaksakan diri, mereka sebenarnya


bisa juga menyekolahkan anak-anak, dan membanggakan keluarga. Sekarang seringkali pamannya


menyebut-nyebut sebagai contoh yang baik bagi anak-anaknya.


"Coba kalian lihat anak bibi kalian! Prita, ia hidup prihatin dan berjuang hingga bisa masuk perguruan


tinggi, sebentar lagi ia akan menjadi sarjana. Ia adalah satu-satunya sarjana diantara keluarga kita!"


Entah itu perasaan bangganya atau iri. Yang jelas Prita mulai merasakan kalau keluarga paman


dan bibi-bibinya tidak lagi mengusili dirinya dan mama Risanya. Gadis itu sangat bersyukur serta semakin


bersemangat secepatnya menyelesaikan tugas-tugasnya.


Mengingat itu semua, Prita membalas pesan Yunna, bahwa ia tidak bisa pulang sebab berbenturan


waktunya dengan  ujian semester. Tetapi ia bilang sangat senang, dan mendoakan agar kehamilan


Yunna selalu baik-baik saja, hingga kelak melahirkan.


Yunna yang menerima pesan Prita, sedikit kecewa. Untungnya masih ada Elsa dan keluarganya. Ia


membalas Prita, bahwa ia bisa mengerti  tentang kesibukkan Prita. Ia mendoakan sahabatnya itu


selalu sehat dan diberi kemudahan menghadapi ujian, sehingga mendapatkan nilai yang baik.


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2