
"Sampai ketemu lagi ya hati-hati di jalan!"
Yunna dan Elsa mengantar Prita hingga ke pintu keluar. Kemudian keduanya kembali ke ruangannya untuk bersiap-siap bekerja di bagiannya masing-masing. Yunna bertugas sebagai kasir sedangkan Elsa administrasi. Mereka sungguh beruntung.
Prita menghampiri motor besar miliknya yang berada di tempat parkir. Dia mengambil helm dan mengenakannya, juga mulai memasang sarung tangannya.
Saat akan menaiki kendaraannya tiba-tiba pria muda yang memarkir mobilnya disebelah, datang dan agaknya juga akan meninggalkan tempat itu.
Entah kebetulan atau memang sengaja, dia menatap dan tersenyum pada Prita.
"Sudah selesai lunchnya? sama dong ya."
"Sekarang mo balik ke rumah nih, beristirahat."
Dih nyama-nyamain aja, emang Gwe pikirin. Prita ngomong dalam hati.
Pria itu belum ada tanda-tanda akan masuk ke mobil dan mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir.
Padahal dia menunggu pria itu keluar agar bisa dengan leluasa mengeluarkan motornya yang besar itu.
Sementara tukang parkir belum terlihat dari tadi.
Sesaat mereka saling menunggu, hingga akhirnya dia berteriak,
"Oh, iya kamu mau keluar ya? bagaimana biar aku bantu mengeluarkan motormu."
Prita buru-buru menghindar dan sedikit berteriak, "Oh tidak usah! aku tidak mau merepotkanmu, cukup mobilmu keluar duluan biar aku leluasa mengeluarkan motorku."
Dia berhenti dengan tiba-tiba, menatap pada Prita, lantas mengangguk-angguk, "Oh iya kamu betul, kenapa aku jadi lupa ya?
hemm baiklah! aku akan mengeluarkan mobilku sebentar ya."
Prita hanya melihat pria muda itu perlahan mengeluarkan mobilnya dengan hati-hati. Lama sekali membuat Prita tak sabaran. Dia pun akhirnya beranjak ke belakang memarkirkan mobil si pria muda.
Terdengarlah suara gadis cantik itu, yang mengalahkan tukang parkir profesional, "Iya terus! terus ! terus! lurus!
kanan! ok good job!"
Pintu kendaraan itu terbuka dan menyembul wajah si pria muda tersebut, sambil menahan senyum, "Wah kamu hebat sekali tidak kalah dengan tukang parkir sungguhan. Terima kasih banyak ya!"
Prita tak membalas melainkan buru-buru mengendarai mogenya, menghidupkan mesinnya dan langsung cus, tak memperdulikan Alan yang begitu terpesona oleh kegesitan dan kecantikkan yang sangat alami.
__ADS_1
Ia mengikuti gadis itu. "Dia, sunguh menarik aku jadi ingin mengenalnya."
Ternyata Prita bisa melihat bahwa si pria tadi mengikuti di belakang. Apalagi ketika dia memasuki gang menuju ke rumahnya, pria itu masih mengikutinya.
"Apa sih yang dia inginkan? Kenapa dia mengikutiku."
Akhirnya Prita menghentikan motornya dan menunggu di tepi jalan.
"Kenapa kamu mengikuti aku? apa yang kamu inginkan?"
"oh ! tidak! aku tidak mengikutimu kenapa kamu jadi geer? aku memang akan ke daerah sini, ada saudaraku disini."
Prita terdiam dan kalau saja dia tidak memakai helm mungkin pria itu sudah melihat pipinya yang memerah.
"Oh jadi kamu tinggal di daerah sini? aku sering banget lewat jalan ini. Boleh aku mampir? siapa tau suatu saat aku lewat dan kehausan bisa mampir ke rumahmu."
Prita terdiam dia tidak tahu harus menjawab apa juga tidak mau mengajak pria itu ke rumahnya.
Dia membiarkan pria muda itu agar meneruskan perjalanannya. Prita sengaja menunggu hingga dia pergi.
Dia menggerakkan tangannya sebagai isyarat supaya pria itu melanjutkan perjalanannya.
Tetapi dia malah memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan keluar dari kendaraannya.
"Sorry, sorry banget nih boleh kenalan kan? nama ku Alan Shafiyyur Rahman, laki-laki yang cerdas, pintar, dan lembut serta romantis."
Prita masih membisu. Sedikitpun dia tidak tertarik dengan acara perkenalan di pinggir jalan itu.
Apa dia tidak tidak punya pikiran jernih, siang-siang seperti ini di bawah terik matahari ngajak berkenalan. Ada-ada saja! mimpi apa ya Gwe semalam.
Prita memundurkan motornya bersiap untuk pergi, dia tidak ada waktu meladeni anak orang kaya, manja, dan tidak tau kesulitan hidup.
Gadis itu berhasil memundurkan motornya lalu bergerak ke kanan dan meraungkan motornya. Pergi begitu saja. Alan hanya terbengong ditinggal pergi.
Prita membelokkan mogenya. Lalu memasuki jalan setapak menuju ke rumahnya. Ia yakin laki-laki tadi tidak bisa mengikutinya. Dia sudah memperkirakan hal itu, jangan main-main dengan gadis bernama Prita!
"Ma, mama!"
Prita berteriak memanggil ibunya. Perempuan itu terkejut oleh suara anaknya yang seperti dikejar-kejar oleh banteng bermata merah.
Dia buru-buru turun dari tempat tidurnya, bergegas menemui anaknya.
__ADS_1
"Ada apa? bikin kaget Mama saja! kalau jantung Mama copot bagaimana? Apa kamu masih bisa menyambung nya?"
"Ah Mama lebay deh, memangnya jantung semudah itu copot."
Prita misah misuh, Bukannya dibantuin anaknya masukin motor malah seperti itu.
"Bukannya nanti kamu sebentar lagi keluar? ngapain dimasukin sih bikin repot aja!"
Mama Prita keheranan karena sudah seminggu ini setiap jam dua, Prita akan pergi lagi dan pulang sekitar jam sembilan atau setengah sepuluh.
Gadis itu hanya terdiam, pada mulanya. Tetapi setelah ia selesai memarkirkan mogenya di ruang tamu, ia bergumam."Takut Ma, tadi ada laki-laki yang mengikutiku."
"Oh benarkah? tapi itu kan biasa, laki-laki manapun pasti tertarik kepada anak gadis yang cantik."
Prita menoleh ibunya dan sedikit tersadar Kalau memang dia sekarang bukan lagi gadis kecil melainkan sudah menjelma menjadi seorang gadis menjelang dewasa, ohh dia sudah punya pesona, ibarat sekuntum bunga, sedang mekar, harum, mewangi, membuat banyak kumbang datang untuk menghisap madunya.
"Tidak perlu takut seperti itu, bisa-bisa kamu membuat mereka tersinggung, lebih baik ditanggapi dengan baik dan bijak, pertanda kamu itu seorang gadis yang berpendidikan dan memiliki etika."
Prita agak terkejut mendengar kata-kata ibunya. Itu memang benar, ternyata begitu-begitu ibunya seorang yang memiliki
pandangan serta nasehat yang berguna.
Prita melebarkan bibirnya dan tersenyum manis, "Siap mamaku yang luar biasa dan di luar dugaan."
"Oh iya Yunna dan Elsa membelikan mama makanan dan minuman dari tempat mereka bekerja. Mama tau nggak? mereka sekarang bekerja di sebuah cafe yang bernama cafe pria idola, tidak jauh dari sini. Nanti kapan-kapan Prita akan ajak mama makan di sana, oke! kita akan cari waktu yang tepat. makanan dan minumannya enak sekali lo mah."
"Iya anakku, mama menunggu."
Prita lalu mengambil bungkusan yang berada di dalam mogenya. Meletakkannya di atas meja, ia pergi ke dapur untuk mengambil piring, sendok, menyiapkan untuk ibunya.
"Itu mah dicicipin enak banget lo mah karedok nya juga ayam bakarnya lembut, tulangnya nggak terasa, empuk, cobain mah."
"Tapi mama baru saja makan siang, masih kenyang. Paling nanti untuk makan sore atau malam, tolong sampaikan ucapan terima kasih mama ya pada Yunna dan Elsa. juga ucapan selamat untuk keduanya karena sudah mendapatkan pekerjaan."
"Ok, ma. Prita mau istirahat dulu. Jam dua aku ada kelas mengajar."
"Iya nanti mama bangunin."
Bersambung
Hello, terima kasih banyak ya atas dukungan
__ADS_1
kalian, telah memberi like, komen serta vote, author sangat berterima kasih.