Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 234. Tunangan Siapa


__ADS_3

Prita terbangun dan menyadari tubuhnya yang tertutup jas milik Boy. Ia tersenyum sembari menyingkirkan jas tersebut. Terdenger  bunyi napas di belakang tubuhnya. Saat Prita menoleh ternyata Boy sedang tertidur. Laki-laki itu menyandarkan kepalanya di tangan bangku. Prita memandangi wajah Boy yang menurutnya tampan. Hatinya berbisik bahwa Boy adalah malaikat mama Risa, dan juga pahlawannya. Tapi dia juga seperti bintang film, oh tidak! seperti pangeran.


Prita tersenyum oleh perasaanya pada laki-laki yang tengah terlelap itu. Tiba-tiba Boy membuka matanya saling pandang dengan Prita. Ia mengangkat tangannya  meregangkan tubuh, Ia tersenyum dan rasa usilnya muncul.


"Kenapa kau menatapiku? terpesona dengan ketampananku ya?"


Prita salah tingkah, "Kau terbangun?"


"Atau sekarang kau sudah sadar ya bahwa aku lebih tampan dan ganteng dibanding tunanganmu."


"Wee! tidak! tidak, kau ini ada-ada saja."


Pipi Prita memerah dan merubah duduknya agak menjauh dari  Boy. Ia tak menyadari seorang laki-laki muda sedang berjalan ke arahnya dan Boy.


"Prita!"


Gadis itu mendongakkan kepalanya, ia membesarkan matanya melihat laki-laki yang berdiri di depannya.


"Hello Prita aku sudah wisuda dan kembali ke sini."


"Rakasiwi, alhamdulillah kau sudah kembali..."


Prita bangun dan ingin memeluk Rakasiwi, tetapi ia tak bisa bergerak. Ternyata Boy menarik bajunya dari belakang.


"Siapa Dia?"


Boy berdiri di sebelah Prita dan lengannya merengkuh bahu gadis itu.


"Prita kau tidak mengenalkan tunanganmu ini kepadanya?"


Gadis itu mengigit bibirnya, ia merasa sedang berada di keadaan yang gawat.


"Prita! aku datang mencarimu dan ingin mendengarkan penjelasan darimu."


"Kenalkan, aku tunangan Prita, dan kau siapa?"


Rakasiwi meremas jemarinya. Keadaan menegang. Prita membebaskan dirinya dari lengan Boy.


"Prita! benarkah yang dia katakan? lalu kau lupa pada janji kita?"


Prita mengigit bibirnya, ia berada diantara Rakasiwi dan Boy. Tetapi saat ini tidak mungkin menceritakan semuanya pada Rakasiwi. Sikap yang membuat Rakasiwi mengambil kesimpulan bahwa Prita lebih berat pada Boy.


"Apa arti semua ini Prita? sejak kapan kau berhubungan dengannya?"


"Baiklah semua sudah jelas, kau lebih memilih dia dari pada aku?"


Rakasiwi membalikkan tubuhnya, hatinya hancur berkeping-keping.


"Raka! Rakasiwi! tunggu! kau salah paham!"

__ADS_1


Tapi Rakasiwi terus berjalan meninggalkannya. Langkah Prita terpaksa berhenti.


"Oh, kenapa ini harus terjadi, keadaan menjadi kacau."


Ia mendekap wajahnya. "Ini semua gara-gara Boy."


"Siapa laki-laki itu Prita? kenapa sikapnya aneh begitu."


"Tidak jugakah kau mengerti pak Boy, dia tunanganku Rakasiwi."


"Aku juga tunanganmu!"


Prita mendongakkan kepalanya menatap penuh kemarahan pada Boy.


"Rakasiwi itu tunanganku! keluarganya sudah seperti keluargaku, mereka orang yang sangat baik, seharusnya  kau tak bicara yang bukan-bukan!"


Prita berteriak di hadapan Boy yang berdiri dengan memasukkan tangannya ke kantong celana.


"Mulai sekarang kau jangan lagi asal bicara! aku tidak mau mendengar kau mengatakan aku tunanganmu.?


Boy mendengarkannya dengan seksama, lalu ia menjawab.


"Apakau kau berhutang budi pada keluarganya, biar aku membayar mereka. Sebut saja nominalnya."


Boy mengeluarkan handphonenya.


"Aku akan menyuruh akuntanku membayar hutang budimu, tinggal bilang."


Mereka bertengkar beberapa menit.


"Prita! aku hanya ingin kau tidak dekat-dekat dengan dia."


"Kau tak berhak melarangku bergaul dengan siapa pun! jangan mengganggu! tolong kau menghargai privasiku!"


Boy menyentuh kepalanya dan mengeluh, "Kenapa dia susah dikendalikan?"


"Baiklah, asalkan jangan dekat-dekat  dengannya!"


Prita ingin menjawab, tetapi seorang suster menghampirinya.


"Alhamdulillah, operasi ibu nona sudah berhasil, keadaannya cukup baik."


"Oh alhamdulillah, mama berhasil melewati operasinya, jangan cemas kami akan merawatnya dengan baik."


"Terima kasih banyak suster."


"Sebaiknya nona pulang saja, kami akan mengabari jika terjadi sesuatu, nona beristirahatlah."


Boy tiba-tiba menggenggam lengan Prita.

__ADS_1


"Ayo pulang, nanti kau bisa sakit jika tidur di sini."


"Boy! lepaskan aku, hentikan semua omong kosong itu, aku bukanlah tunanganmu."


Prita menarik tangannya hingga lepas dari genggaman Boy. Mereka saling pandang.


"Sayang sekali, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu,  kau wanita yang sangat berbeda, kenapa kau tak mau mengerti, aku ingin selalu berada di dekatmu, kau sangat istimewa bagiku, tak ada wanita yang membuatku rela melakukan apa saja. Aku mencintaimu Prita!"


"Kau keterlaluan Boy Indra! kau tahu aku sudah memiliki tunangan dan aku mencintainya."


"Terserah! tapi aku hanya ingin tahu kau mengerti perasaanku."


Boy meninggalkan Prita dan tak lagi mengatakan apa pun. Sementara Pria mendekap wajahnya, terisak sesaat di bangku tunggu. Lalu ia memutuskan pulang. Tubuhnya dan pikirannya merasa sangat lelah. Sebenarnya gadis itu ingin pergi ke rumah Elsa, tetapi ia mengurungkan niatnya. Sebab sudah malam, kenderaan ke tempat Elsa susah, apa lagi jika telah malam. Akhirnya Prita memutuskan pulang ke rumah.


***


Pagi hari itu Prita sudah kembali bekerja. Alhamdulillah mama Risa sudah pulang ke rumah dan Prita memutuskan kembali beraktivitas seperti semula. Ia menghadap pak Boy.


"Selamat pagi pak Boy, hari ini bapak ada meeting jam sembilan pagi, aku sudah menyiapkan file yang diperlukan."


"Ok Prita, terima kasih."


Boy tidak bicara apa-apa. Ia seperti melupakan masalah yang terjadi diantara dirinya dan Prita. Gadis itu sendiri merasa tidak enak, tapi kebisuan terjadi diantara mereka. Prita lantas permisi kembali ke ruang kerjanya. Boy hanya mengangguk.


Seorang gadis berjalan ke arah ruangan Boy. Prita sempat mendongakkan kepalanya tetapi ia tak perduli, segera memasuki ruangannya. Prita kembali berkutat di depan komputernya. Ia harus menyusun neraca perdagangan lagi untuk bulan lalu. Hingga tiba-tiba pak Boy mengetuk pintu dan berdiri di depannya.


"Prita, kau pimpin meeting ya, aku ada urusan sebentar."


Gadis itu terbengong, ia ingin menolak sebab suasana hatinya sedang tidak baik, tetapi Boy telah menghilang dari pintu. Ia mendengar laki-laki itu mengajak pergi seorang gadis.  Prita buru-buru keluar dari bangkunya untuk melihat pak Boy. Benar ia bersama seorang gadis. Gadis berambut panjang.  Siapa gadis itu?  Prita memikirkan gadis yang pergi bersama Boy. Segera ia meraih buku agenda dan file-file yang sekiranya  nanti dibutuhkan saat meeting.


Tepat jam sembilan Prita memasuki ruang meeting.


"Selamat pagi semua."


Ia menyapa beberapa orang yang sudah hadir.


"Pagi bu Prita."


Prita tersenyum di bibir tipisnya. Ia akhirnya terbiasa dengan panggilan ibu itu. Semula terasa janggal di telinga sebab baru di perusahaan tempatnya ini ia dipanggil ibu. Tadinya terasa tua, tapi kemudian menjadi biasa saja, justru sebuah panggilan yang enak, membuatnya  merasa dewasa dan diakui.


"Saya mewakili pak direktur yang tiba-tiba ada keperluan."


Sembari Prita memasuki tempat duduknya. Ia kemudian memimpin meeting rutin tersebut. Ia mendengarkan laporan-laporan dari para kepala bagian tentang pekerjaan mereka. Prita juga menanyakan tentang dua perusahaan klien mereka yang tidak lagi melakukan refeat order. Marlina menjelaskan, dia tidak tau kenapa kedua perusahaan itu tak datang lagi. Mungkin mendapatkan penawaran promo dari perusahaan lain yang sama. Ia janji akan melakukan follow up. Dian menambahkan bahwa mereka ada klien baru lima perusahaan, wah bisnis bagus, hilang satu datang seribu.


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2