
Keduanya kembali ke kantor setelah berbelanja. Boy Indra memberikan tas belanjaan milik Prita dan berpesan.
"Sebaiknya kau mulai mempersiapkan diri dari sekarang!"
"Pokoknya aku tidak ingin dengar alasan apa pun, kau harus ikut! menamani direktur!"
"Kenapa siap-siap dari sekarang? kan pestanya masih lama."
Tapi Boy Indra mendengus berjalan ke ruangannya dan menutup pintu.
Brak!
Pria yang aneh, dia sudah membelikan gaun yang mahal dan tadi aku sudah menyanggupi, tapi bertanya lagi dan lagi huh!
Tiba-tiba mama Risa menelponnya, mengatakan bahwa kepalanya sangat pusing dan sedang ke dokter bersama tetangganya.
"Oh, ja-jadi sekarang bagaimana keadaan Mama? sudah baikan? apa kata dokter Ma?"
"Mama sudah baikan setelah minum obat yang diberikan oleh dokter, tinggal mengantuk dan lemas Nak."
"Oh syukurlah kalau begitu Ma, sudah ada di rumah?. Sebaiknya Mama tidur dan istirahat."
"Iya."
Prita menjadi gelisah memikirkankan ibu, akhirnya karena pekerjaan sudah beres semua ia ke ruangan pak Boy, dan pamit duluan pulang sebab ibunya sakit. Boy Indra membolehkannya.
"Iya, pulanglah. Mudah-mudahan Mama kamu tidak apa-apa."
"Makasih pak Boy."
Tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Prita segera bergegas pulang.
"Mama! mama sudah bangun?"
Prita mencari-cari ibunya, dan ternyata mama sedang menyiram bunga di belakang.
"Kenapa lama sekali pulangnya, mama kesepian."
"Dih mama manja ich, tiap hari juga ketemu dan ada tivi masak kesepian."
__ADS_1
"Kalau ada cucu, mama pasti nggak kesepian."
Prita bersemu merah wajahnya.
"Maksud mama aku harus buru-buru menikah begitu?"
"He he he, soalnya teman-teman mama sudah pada punya cucu, mama sendiri yang belum."
"Ngapain sih nyama-nyamain."
Prita mendowerkan bibirnya. Sebenarnya ia ingin menceritakan tentang rencananya berdua dengan Rakasiwi. Tetapi ia menunda. Belum saatnya. Sebab menunggu adalah pekerjaan yang tidak enak. Jika mama Risa tahu rencananya dan Rakasiwi, sudah pasti ia tak sabar. Selalu bertanya terus. Mending memberitahu mama saat waktunya sudah dekat, agar mama tak menunggu-nunggu.
Mama Prita sehat dan tidak apa-apa untuk dua hari itu. Tetapi hari sabtu saat Prita ada di rumah mama Risa sakit. Prita segera membawa ke rumah sakit. Pihak rumah sakit memberitahu bahwa mama Risa harus di rawat inap. Untung Mama Risa mempunya kartu berobat sehingga tidak perlu memikirkan biaya rawat inap dan dokter.
Prita ijin tidak masuk kerja di hari senin, karena harus menunggui mama Risa. Ia dan dokter membicarakan tentang kesehatan mama Risa. Menurut dokter tes darahnya baik tetapi hal itu tidak bisa menjadi acuan, Penyakit mama Risa sewaktu-waktu bisa kambuh. Prita bertanya pada dokter, bagaimana caranya agar penyakit mamanya sembuh total. Dokter bilang akan mengusahakan keinginan Prita.
Gadis itu tau bahwa ia tidak bisa mengandarlan kartu kesehatan ibunya. Ia harus bekerja untuk mencari uang tambahan jika sewaktu-waktu mama operasi. Dokter sempat membicarakan jika penyakit ibunya terus berulang tidak ada cara lain harus melakukan operasi.
Dan pagi itu ia terkejut saat pak Boy mengingatkan bahwa ia harus bersiap. Ia akan mengirim seorang gadis untuk merias Prita juga supir. Prita bilang apakah ia boleh mengajak Dian dan Marlina pergi bersama, toh mereka berdua akan bertemu di hotel. Boy tak keberatan.
"Terima kasih pak Boy."
"Prita, kau kelihatan tak ceria, ada apa?"
Gadis itu tersenyum, "Mama sedang di rawat, tetapi sudah membaik."
"Oh, pantas wajahmu murung, kau memikirkan mamamu ya."
Prita mengangguk.
"Tak perlu cemas, mama ada yang menjaga kok."
"Semoga Mama kamu cepat sembuh ya Prita."
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah. Ketiganya bersantai dan sempat tidur sembari menunggu senja. Ketika ada ketukkan di pintu barulah mereka terbangun dan melihat hari telah sore. Dan gadis perias sudah datang bersama supir yang menunggu di depan gang.
"Hello, aku akan merias nona Prita, yang lain juga boleh kok tapi yang mana nona Prita?"
Gadis perias belum pernah bertemu Prita. Dian menunjuk Prita.
__ADS_1
"Oh, belum dirias saja sudah cantik."
Mata si gadis perias, langsung melihat kecantikan yang alami dan segar.
"Mba tunggu sebentar ya, aku mandi dulu."
Prita bergegas ke kamar mandi. Tak lama ia muncul, aroma sabun mandi merebak.
Mereka menyiapkan gaun serta perlengkapan ke pesta. Setelah sholat magrib barulah mereka bersiap. Gadis itu sangat cekatan dan riasannya natural. Prita merasa cocok dengan riasan gadis itu. Ia tinggal menyanggul rambutnya dan menutup sanggulnya dengan hijab. Dian dan Marlina takjub melihat gaun yang dikenakan oleh Prita.
"Wau! kamu cantik sekali dengan gaun itu, di mana membelinya? pasti mahal ya."
Prita tersipu-sipu.
"Ini dibelikan pak Boy, aku harus menemani direktur."
Dian dan Marlina takjub.
"Oh gaun cantik itu dibelikan oleh pak Boy."
Keduanya bergumam dengan keterpesonaan yang tak bisa diungkapkan. Prita sangat beruntung.
Bersambung
__ADS_1