Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 274. Apa Kau Ingin Menikah Muda?


__ADS_3

Setelah menikmati makan siang adik-adik  berlarian ke belakang, di sana ada taman kecil serta kolam ikan berisi kura-kura. Sesaat Tria, Dode dan Rama bermain di sana. Setelah bosan mereka bergabung di ruang keluarga menonton you tube. Dode lebih suka bermain game di handphone sedang Rama tak mau kalah dengan kakaknya. Ia juga memiliki mainannya sendiri.


Sedang Raka, Mardo dan Cindy berbincang-bincang di depan.


"Tiga bulan lagi aku wisuda, ayah dan bunda kesini lagi he he he, tidak apa-apa kan Yah? Bunda?"


Mardo dan Raka saling berpandangan lantas tersenyum.


"Ya tidak apa-apa, itu adalah momen yang berharga."


"Setelah itu apa rencanamu?"


Gadis itu menolehi ayahnya.


"Aku akan bekerja, hem bagaimana kalau aku menjadi pemimpin perusahaan di tempat ayah atau bunda?"


"Ayah akan senang sekali, jika ada yang  bisa menggantikan ayah."


Raka menjangkau rambut putrinya itu, ia masih merasa kalau Cindy masih putri kecilnya.


"Jika ayah dan Bunda mempercayaiku, aku akan berusaha."

__ADS_1


Sedari kecil Cindy memang ambisius. Ia ingin menjadi wanita karier yang sukses memimpin perusahaan besar. Ia kerap memperhatikan Raka jika ia ikut bersama ayahnya ke kantor. Raka juga sering mengajaknya kepertemuan bisnis.  Semua melekat dalam jiwanya.


Dia juga mengagumi bundanya Mardo. Pemilik perusahaan penerbitan buku-buku wanita dan anak-anak. Bundanya seorang penulis dan ia memiliki bakat bunda di dalam dirinya. Saat-saat smp-smu ia sering menulis dan tak menyangka tulisannya di terima oleh media. Guru-guru dan temannya sudah mengenalnya sebagai seorang penulis dan cerpenis. Beberapa kali ia mengharumkan nama sekolahnya sebab memenangkan lomba cerpen nasional.


Cerpen-cerpennya tentang kehidupan anak-anak remaja sepertinya. Cindy sangat bahagia saat pertama kali ia mendapatkan honor menulisnya. Ia berteriak-teriak kegirangan. Ia membaginya dengan Tria, Dode, Rama dan juga kakaknya Rakasiwi.  Selebihnya ia mentraktir teman-teman dekatnya.


Apa yang Cindy inginkan sekarang? ia bisa memilih di mana ia mengamalkan ilmunya. Ayahnya Raka dengan senang hati akan memberikan pekerjaan pada putri kecilnya itu. Begitu juga Bunda Mardo, ia sangat berharap Cindy bisa mengembangkan perusahaannya.


Tapi kali ini Raka belum ingin membahas mengenai pekerjaan tetapi tentang seorang pria yang telah datang menemui Mardo.


"Apa kau ingin menikah muda putriku?"


"Memangnya kenapa Yah? Bunda?"


"Ada pria muda yang melamarmu."


Gadis itu terkejut dan wajahnya berubah. Jadi ini maksud kedatangan ayah dan bunda.


"A-apakah Alfredo? dia bilang melamar untuk bertunangan,"


Cindy terdiam dan menjadi gelisah. Raka bilang tak perlu cemas. Kalau memang hal itu yang Cindy dan Alfredo ingikan, mereka sebagai orang tua pasti memberi restu.

__ADS_1


"Jadi Alfredo sudah menemui kalian? ya ampun kenapa dia terburu-buru sih?"


Cindy mengeleng-gelengkan kepala. Ia kan harus menunggu wisudanya. Raka dan Mardo saling berpandangan. Mereka sengaja datang untuk membicarakan hal tersebut. Tetapi agaknya Cindy masih bingung. Tetapi gadis itu lantas tersenyum.


"Iya sih aku sudah menjawab Alfredo bahwa aku mau tunangan setelah wisuda."


"Berarti kalian berdua sudah  membicarakan hal ini ya?"


"Iya Bunda, Alfredo tak mau kalah dengan kak Rakasiwi."


"Kenapa begitu? seperti perlombaan saja."


Untunglah ayah dan bunda tak lagi mencecar Cindy dengan persoalan tersebut. Keduanya sudah bisa menarik kesimpulan dan bersiap sebagai orang tua perempuan. Selebihnya mereka berjalan-jalan menikmati kota Bandung.


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2