
Pemberangkatan rombongan kecil itu ke kota Merauke seru dan bersemangat. Anak-anak yang belum pernah ke kota itu tak sabar ingin cepat sampai.
Penerbangan kesana berakhir di bandara Mopah kota Merauke. Tak sempat menikmati berlama-lama sebab mobil jemputan sudah menunggu sejak mereka masih berada di atas.
Dua kenderaan mini bis milik universitas telah terparkir di pintu keluar. Mereka di jemput oleh orang-orang kepercayaan di perguruan tinggi. Raka bersama Mardo dan anak-anak berada di mobil pertama. Sedangkan Rakasiwi, Prita dan lain-lain di bis kedua.
Mereka memasuki Kota Merauke dan memandangi suasananya. Lenggang dan tenang. Kenderaan yang berlalu lalang tidak terlalu banyak.
Sudah banyak perubahan yang terjadi. Beberapa bangunan serta gedung-gedung baru serta pertokoan, terlihat menyebar di kiri kanan.
Raka bilang mereka akan ke hotel terlebih dahulu. Dan para penjemput menyetujuinya. Akhirnya mereka sampai. Mardo tertegun melihat hotel tersebut.
Beberapa puluh tahun yang lalu, dia dan teman-temannya berada di hotel tersebut. Teringat mereka menyeret koper-koper dari mobil. Tak lama karyawan datang memperlakukan mereka tamu.
Ia ingat Richie yang begitu perhatian kepadanya. Laki-laki itu mengantarnya hingga ke kamar. Sementara teman-temannya yang lain ribut menanyakan kamar mereka.
Setelah berada di dalam kamar, ia membuka bajunya dan bergegas ke kamar mandi. Mardo senang sekali ia mendapatkan kamarnya sendiri.
Ia bilang pada Richi tak bisa tidur jika berduaan dengan teman. Richi sama sekali tak keberatan memberi kamar untuknya, ia mendapatkan kamarnya sendiri. Begitu juga Vana.
Sedangkan yang lain berdua. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kamar itu ternyata adalah milik Raka.
Mardo tiba-tiba mendekap wajahnya dengan kedua jarinya. Pipinya memerah dan ia melirik pada Raka.
"Bunda kok senyum-senyum sendiri, ada yang lucu ya?"
Tria yang mendapati ibunya itu tengah tersenyum-senyum sendirian, menegur bundanya.
"Hi hi hi, bunda ingat waktu ayah mengejar-ngejar bunda dulu, ini tempat bunda dan teman-teman menginap."
"Oh gitu ya bunda, he he he pasti bunda jutek ya, kayak kak Cindy."
Mardo tersenyum. Ia melihat Halima Haremba, gadis Papua yang berusaha keras menjadi temannya. Lalu ada Vana, Zamzam, Rossi, Sarah Lee, William, Sulaiman, Husen. Teman-temannya sangat gembira saat itu. Yang pertama kali mereka menginap di hotel.
Raka tiba-tiba berdiri di sisi Mardo dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Pasti Mimi teringat masa lalu, iya kan? Pipi juga berdebar saat melihat tempat ini. Dulu kita menghabiskan waktu liburan di kota ini ya Mi? Waktu itu mimi bersama teman-teman Mimi, sedangkan Pipi dengan om Deni dan Sammy."
"Bagus ya Yah, kotanya bersih dan lenggang, beda banget sama Jakarta"
"Ya iyalah, ibu kota mana bisa disamakan dengan propinsi di ujung Indonesia."
__ADS_1
Tria dan adik-adiknya saling mengomentari tentang kota tersebut. Macam-macam saja yang mereka katakan tentang kota itu. Suara mereka baru berhenti saat tiba di kamar. Dode dan Rama berdua, dan Tria sendirian.
Kata Raka, setelah beristirahat mereka ke rumah Rakasiwi yang tak jauh dari area hotel. Dulu Richi dan Laura tinggal di sana. Mangara ikut ke rumah itu bersama Richi. Mangara ingin melanjutkan perjalanannya ke kota Eksotik. Ingin mengenang masa lalu.
Mereka, Raka, Mardo, dan Mangara sempat berbincang-bincang iseng tentang perjalanan ke kota Eksotik. Kata Raka mau melihat situasi. Jika memungkinkan dan ada penerbangan kesana, tak salah jika mereka berkunjung untuk nostalgia.
Setelah acara pengangkatan Raka sebagai seorang rektor di universitas swasta milik keluarga Bramantyo. Mardo mengajak Raka dan anak-anaknya ke pantai lampu satu. Mereka menggunakan dua mobil. Mardo meremas jemarinya. Hatinya berdebar-debar memandangi tempat-tempat yang terlewati. Tak banyak berubah, perkampungan nelayan di sebelah kiri dengan kali kecil yang airnya berasal dari laut. Kali itu tempat bersandar kapal-kapal kecil pencari ikan.
Tak lama deru angin laut mulai terasa. Mardo tersenyum, ia tak menyangka bisa datang lagi ke tempat itu setelah tiga puluh tahun lebih. Dan dihadapan mereka terbentang pantai yang luas. Banyak kenderaan yang terparkir di bibir pantai. Anak-anak berlarian dan bermain pasir. Belum lagi terlalu panas.
"Wah keren ini Bunda!"
Rama menatap tak berkedip ke arah pantai. Dan anak laki-laki itu selalu berkata keren pada semua hal yang menarik.
"Kita jalan-jalan dulu aja, nanti baru berhenti, pantai ini panjang sekali loh. Ada beberapa pantai lagi di sekitar sini, seperti pantai Buti, Payum dan lain-lain."
Setelah menyusuri pantai hingga ujung sekali, mereka kembali dan mencari tempat yang sejuk. Saat ini Mardo melihat sudah banyak sekali rumah-rumah nelayan yang dibangun di sepanjang tepi pantai. Ramai oleh kedai-kedai minum dan makanan. Jaman mereka dulu, rumah-rumah nelayan jauh dari pantai. Tidak ada rumah dan warung-warung.
Pantai juga sudah hitam dan sedikit kotor oleh banyaknya wisatawan, tetapi tak mengurangi minat para wisatawan dari luar dan juga dari dalam. Pantai lampu satu saati itu sedang surut sehingga air pantai menajdi sangat jauh sekali dari bibir pantai. Kapal-kapal nelayan tampak jauh seperti korek api.
"Bunda aku mau bermain di sana ya."
"Pi, kok nggak ada kuda ya?"
Mereka berdua menoleh ke kiri dan kanan. Tetapi memang tak ada. Agaknya kuda sudah punah tergilas oleh kenderaan yang banyak sekali berlalu lalang. Motor-motor yang besar, sedan hingga bis, banyak memenuhi tepi pantai.
"Dulu aku dan Richi berjalan menyusuri pantai, dari lampu mercusuar itu hingga ke tengah sini. Tau-tau Pipi menyembur kami dengan pasir. Ha ha ha, ich pipi bandel dan bengal banget ya waktu itu."
Keduanya tertawa-tawa mengenang masa lalu.
"Habis kamu juga, jinak-jinak merpati. Kalau Pipi diam datang, tapi kalau Pipi kejar menjauh, bikin gemas aja. kayaknya mesti di tembak aja deh he he he.'
Mardo mencebik, tetapi ia senang dan gembira.
"Pi, yuk lomba lari. Coba siapa yang paling cepat."
Tiba-tiba Mardo berlari-lari kecil meninggalkan Raka yang sesaat tadi sedang memperhatikan anak-anaknya. Melihat Mardo berlari di bawah sinar matahari pagi yang hangat. Ia segera mengejar. Keduanya tertawa-tawa sangat bahagia. Anak-anak melihat pada mereka dan ikut-ikutan mengejar. Jadilah suasana pagi itu ramai oleh kehadiran Mardo, Raka dan anak-anaknya. Mereka menikmati pantai, meminum air kelapa yang segar dan berkejaran.
"Pi, aku bahagia sekali."
Mardo memeluk suaminya, Raka membalas memeluk dan mengecup mesra pipi serta bibir istrinya yang mengemaskan. Anak-anak bersorak di bibir pantai, ombak yang tak terlalu besar mengejar ke pantai.
__ADS_1
Kebahagian dan kegembiraan ada di hati Mardo, Raka dan anak-anaknya. Pria Idola tersenyum ia memiliki satu cinta di hatinya hanya untuk Mardo dan anak-anaknya buah cinta berdua.
Sekali lagi pria Idola berpesan, "Jangan meninggalkan jejak dengan menyakiti hati seorangpun perempuan, hanya satu cinta di hati."
Tamat
Tara!!!
Akhirnya kisah Mardo dan Raka terukir indah dan abadi di hati. Author mengucapkan terima kasih pada Noveltoon/mangatoon yang telah menyediakan media menulis untuk saya sehingga bisa menuangkan kisah sederhana Pria Idola.
Auhor akhiri kisahnya, semoga berkesan bagi semua readers dan juga sesama Author.
Saat ini Author sedang menulis di *******. Terima kasih atas dukungannya dan like serta vote.
Semoga kelak bertemu kembali dengan cerita yang lebih menarik.
Salam manis selalu.
Bersambung
__ADS_1