Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 51.Tak Mau Pindah Ke Lain Hati


__ADS_3

Perusahaan 'Pria Idola', adalah hampir milik Raka Bramantyo, ia memiliki delapan puluh persen sahamnya. Sementara Deni dan Sammy masing-masing sepuluh persen. Dua pria itu memang lebih tenang bekerja menjadi pegawai negeri. Sedikit  saja uang gaji bulanan mereka  yang diinvestasikan ke perusahaan Pria Idola. Namun kesuksesan Cafe PI, tak lepas dari tangan dingin Sammy. Pria kalem  tersebut adalah pakar  teknologi. Dia bekerja dan memastikan bahwa website PI akan muncul paling atas dari hasil daftar pencarian. PI (Pria Idola)  juga akan muncul di dalam daftar klasifikasi lain tentang yang enak.


Sementara Deni berperan dalam pembuatan iklan. Ia hebat menciptakan serta menyusun kata-kata yang menggoda untuk penjelajah internet, kemudian datang untuk menikmati minuman dan makanan. Iklan PI di berbagai media sosial, sangat berjasa membuat cafe PI menjadi terkenal. Tiga orang pemiliknya tidak perlu bekerja keras untuk menghasilkan uang  hampir enam digit dalam seminggu. Iklan hampir bisa dibilang  bekerja sendiri.


Ketiga pria itu juga memilih tinggal di apartemen masing-masing yang tidak terlalu jauh dari pusat bisnis milik mereka. Sekitar dua puluh menit jika bermobil, sedangkan jika jalan kaki hanya sepuluh menit saja. Ketiganya bisa mengatur waktu sedemikian rupa. Deni dan Sammy bekerja sore hari hingga tempat bisnis itu tutup. Kantor mereka berada di belakang cafe,  sebuah ruangan yang cukup besar dan nyaman. Hanya mereka bertiga saja yang boleh masuk ke  ruangan itu.  Agak di depan ada satu ruangan kecil untuk asisten yang mengerjakan semua hal yang berkaitan dengan administrasi. Mereka terbebas dari catat-mencatat yang melelahkan.


Sebelum memiliki mesin uang melalui 'PI' hanya mereka bertiga yang mengetahui betapa susahnya meraih hal yang  seperti  sekarang. Pertama karena  Deni  jatuh cinta pada karyawan bagian kasir.  Awalnya semua terlihat manis dan menyenangkan, sampai-sampai Deni segera memutuskan melamar gadis kasir tersebut. Ia selalu ingat nasehat Raka   'Jangan meninggalkan jejak dengan membuat orang patah hati' Namun sebelum ia memperkenalkan gadis kasir tersebut, terjadi sesuatu. Gadis kasir itu telah menggelapkan banyak uang perusahaan. Raka dan Sammy menyuruhnya  memecat gadis kasir tersebut.


Deni gemetar tak tahu caranya memecat si gadis kasir. Sammy juga angkat tangan, yang penting baginya gadis tak jujur itu dipecat. Deni menatap Raka, biasanya Raka memiliki banyak jalan keluar.


Katakan saja, "Susi sayang, sebenarnya aku tak bisa bertahan tanpamu, namun akan kucoba." Raka mengajarinya memecat tanpa merasa dipecat. Lagi pula gadis kasir itu sudah memiliki uang yang banyak hasil dari ketidak


jujurannya. Dan mereka bertiga berbaik hati menutup  kasus  itu  asal gadis kasir itu keluar  dari kantor mereka.


Karena Susi kasir mereka telah dipecat, Raka memberi mereka pekerjaan untuk mencari karyawan baru. Sebenarnya Deni keberatan, tapi karena ia yang telah memecat gadis kasir, maka dia pula yang mencari gantinya. Jadilah Deni bersiap untuk mewawancarai karyawan baru. Deni terpaksa berjalan terburu-buru menuju tempat bisnis mereka, ia baru saja pulang dari kantor yang mencatatnya sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil). Belum sempat berganti baju dan wajahnya terlihat lelah. Ia menyempatkan diri masuk ke toilet, membasuh wajahnya, menggosok gigi dan merapikan rambutnya dengan jari -jemari. Deni tak habis pikir untuk apa mereka mencari  gadis kasir?  mereka bisa bergantian mengerjakan hal itu. Ia merasa Raka dan Sammy terlalu tinggi untuk tidak mau mengerjakannya. Tapi dia sendiri juga malas melakukan pekerjaan remeh .


Deni sudah tahu ia akan mewawancarai  seorang gadis yang cantik dan bertubuh molek. Ia sudah memilah-milih  CV dan foto. Dasarnya  lebih karena penampilan fisik yang menarik dibanding kualifikasinya.


Hello! Deni menyapa gadis yang menunggunya. Matanya sedetik mengawasi gadis itu. Ternyata gadis itu bertubuh mungil, langsing, pakaiannya modis, kemeja yang dimasukkan kedalam rok dan jas kerja berwarna krem.


"Hello pak, selamat sore, saya Elsa."


Deni menyambut uluran tangan gadis itu, "Saya Deni," sembari mengingat bahwa jabat tangan itu penting. Kita harus menjaga genggaman tangan yang kuat selama yang diperlukan."


"Selamat datang di PI, semoga kamu beruntung."


Elsa tersenyum, bibir gadis itu menurut Deni tipis dan mungil, sangat menggemaskan.

__ADS_1


Keesokan harinya Raka dan Sammy sama-sama ingin tahu bagaimana hasil wawancaranya. Deni bilang ia baru mewawancarai seorang calon kasir. Dia sebenarnya berpengalaman sebagai sekretaris, tapi dia juga menyukai  pekerjaan yang ditawarkan, sebab itu ia membuat lamaran.


"Apa kau akan memanggilnya atau mewawancarai calon yang lain?"


"Menurut kalian apa yang harus kulakukan?"


Ketiganya saling menatap, "Kalau menurutmu dia cocok, tak perlu memanggil yang lain."


"Baiklah akan aku pikirkan."


"Sebaiknya salah seorang diantara kita menjadi kasir siang ini, karena Liliana agaknya sudah kelelahan."


Lagi-lagi ketiganya saling tatap.


"Biar aku saja! " Kata Sammy, sembari keluar dari ruangan nyaman. Deni menghembuskan napas lega. Ia membaringkan tubuhnya di sofa dan menghidupkan televisi. Raka, meregang tubuhnya di kursi besar, ia juga bersandar dan memejamkan mata. "Kau di mana kekasih pertama dan terakhirku?"


Sammy tergopoh-gopoh memasuki ruangan khusus itu.


"Apa maksudmu?"


Raka dan Deni sama-sama bangun dari tidur ayam mereka.


"Ma-Mardo! aku melihat ia ada di sini!"


Sammy berteriak kesenangan, karena ia tahu Raka sahabatnya selalu mencari gadis itu. Tak bisa berpindah ke gadis lain..


Ketiganya sontak bergerak keluar. Raka berdebar dan jantungnya serasa tak karuan. Matanya menyapu semua yang ada diruangan tersebut. Tapi tak ada.

__ADS_1


"Mungkin kau salah lihat," Raka sangan kecewa.


"Tidak, temannya membayar makanan mereka, Mardo menunggu tidak jauh, aku terlambat melihatnya!"


"Mereka baru saja selesai membayar saat aku lari masuk memberatahumu."


Raka berusaha mengejar hingga ke lantai bawah, namun tak berhasil menemui Mardo.


Ia kembali ke atas, dan melihat Deni sedang memeriksa cctivi.


"Benarkah Dia?"


Raka menyandarkan kepalanya ke kursi, ia terlihat sedih.


"A-aku hampir berteriak memanggilnya. Tapi lidahku kelu."


Sammy merasa sangat bersalah.


"Lihat! keempat gadis ini!" Raka dan Sammy meloncat mendekat, mereka melihat empat orang gadis memasuki cafe PI. Hanya sebuah meja yang tersisa. Keempat gadis itu duduk dan memesan di daftar menu.'


"Oh, itu dia! memang dia!, lihat wajahnya! bibirnya, matanya, tak salah lagi."


Raka merasakan dadanya meletup-letup oleh kebahagian yang datang siang itu.


Namun, tidak bisa menemukannya. Raka harus berusaha lebih keras untuk menemukan cinta pertama, terakhir dan cinta sejatinya. Ia bertahan dari godaan, rayuan ratusan gadis cantik yang menjadi followernya. Janjinya tidak akan membuat jejak patah hati seorang gadis, akan ia tepati seumur hidupnya.


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2