Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 147. Dia Membuatku Nyaman


__ADS_3

Pagi yang indah sekali bagi Prita, masih  terbayang-bayang pada Rakasiwi


yang membuat tidurnya gelisah dan resah. Pria muda itu sangat menyenangkan


sikap dan sosoknya, lembut, cool serta memiliki selera homor yang baik. Dan


yang membuatnya klepek-klepek Rakasiwi pintar bermain gitar, itu merupakan


daya tarik tersendiri bagi Prita.


Tetapi dia harus ke tempat mengajar, senang sekali Anggie  anak lesnya sudah


lancar membaca. Dan ia suka sekali membaca cerita. Mamanya sangat berterima


kasih pada Prita, sebab Anggie yang semula tak bisa membaca meski sudah


les sama ibu gurunya. Tidak ada kemauan yang keras dari anak itu.


Untungnya begitu les membaca pada Prita, gadis kecil cantik itu memiliki


semangat serta minat yang bagus. Sekarang membaca sudah tidak menjadi


masalah. Karena libur semester Prita juga sudah berakhir dan tak bisa di perpanjang


lagi. Gadis itu mulai berpamitan pada anak-anak lesnya. Hari ini merupakan yang


terakhir di rumah Anggie, ia membelikan Anggie buku cerita dua buah buku yang


bagus. Prita membelinya di gramedia.


Setelah membungkus dan memberinya pita gadis itu segera mengeluarkan


mogenya. "Ma, aku berangkat mengajar ya."


Dia pamit pada ibunya sembari memberi tahu agar mengunci pintu dan pagar.


Karena hampir tiap hari ada saja yang berhilangan di halaman, mulai dari sandal


sepeda sampai motor.


Grup wa tetangga, mengirim vidio cctv tentang pencurian yang terekam. Pada


tengah malam yang sepi itu terlihat seseorang lewat dan agaknya melihat


motor di depan teras. Tiba-tiba saja pagar telah terbuka, dan dengan perlahan


seorang laki-laki yang serba berpakaian hitam menyeret motor dan dalam


sekejap motor tersebut menghilang.


Pagi-pagi sekali ramai rumah tetanga tersebut, hanya beberapa rumah dari


kediaman Prita dan mama Risanya. Mau tak mau Prita tak mau menaro


mogenya di teras. Ia memasukkannya ke ruang tamu. Sekarang orang-orang


sulit mendapatkan pekerjaan, sementara anak istri dan diri sendiri harus


makan dan memenuhi kebutuhan. Melihat ada kesempatan, dan keberanian


mereka langsung melakukannya tanpa pikir panjang. Mama juga sudah


berhati-hati, ia tidak lagi membiarkan pintu-pintu terbuka seperti dulu.


Ada banyak yang harus diwaspadai, waspadalah! waspadalah, kejahatan


terjadi karena adanya kesempatan. Mama bahkan sudah hapal salah


satu kata di telvisi.


"Kakak Prita!"


Anggie menyambutnya penuh kegembiraan. Dan Prita langsung memberikan


gadis kecil itu bungkusan buku ceritanya yang terbungkus rapi.


"Hello Prita, wahh! Anggie menunggu sejak tadi, ada yang ingin


ia berikan pada bu gurunya yang telah mengajarinya membaca."


"Aduhhh, merepotkan ya? apa tuh Anggie?"


Gadis kecil itu hanya tersenyum berahasia, lantas ia beranjak dan pergi

__ADS_1


ke kamarnya. Tak lama menyeret-nyeret sesuatu ke ruang tamu.


Mamanya datang membantunya dan mengangkatnya ke depan.


"Prita, tolong diterima ya, kemarin Anggie dan papanya ke super


markaet, sebagai tanda terima kasih kami semua."


Sebuah kotak yang lumayan besar, Prita terbengong melihatnya.


"Aduh, besar sekali apa nih."


"Semoga bermanfaat dan dipergunakan ya bu guru."


"Aduh, terima kasih banyak, kakak cuman membeli buku cerita


untuk Anggie, tapi kakak sibelikan sebesar ini, jadi nggak enak."


Prita merasa tak enak, tetapi Anggie dan mamanya memberinya


dengan tulus dan kegembiraan. Bukan hanya itu saja, ia juga diajak


pergi makan siang di sebuah tempat tak jauh dari tempat mereka.


Hari itu Prita tak perlu mengajar. Sebab Anggie sudah pintar sekali


membacanya. Tiada kebahagian yang lebih dari pada keberhasilannya


membuat seseorang menjadi bisa.


Mereka segera bergegas ke sebuah cafe, dan tentu saja itu adalah


cafe idola milik keluarga Raka Bramantyo.


"Temanku bekerja di sini."


Prita tersenyum.


"Oh ya? kalau begitu kita bisa bertemu."


Mereka memasuki tempat tersebut. Hampir menjelang jam dua


belas, dan cafe tersebut telah siap dengan berbagai menu makanan


dan mimunan. Suasana juga sudah mulai ramai, agaknya makan


dari cafe.


Ketika Anggie dan mamanya sudah mendapat tempat, Prita pamit


untuk menemui Yunna dan Elsa. Ketiganya saling berpelukkan


dan merasa senang. Prita bilang ia di traktir mama dari muridnya, ia


tadi pamit sebentar. Gadis-gadis itu saling bergenggaman tangan


dan tersenyum bahagia. Prita berbisik, bahwa tadi malam seseorang


mengajaknya pergi ke sebuah acara dan seseorang itu telah


membuatnya sangat nyaman hingga saat itu.


"Ow ow ow, siapa dia? betapa beruntungnya."


Prita tersipu-sipu.


"Kakak dari murid lesku."


"Hah! benarkah? dan sekarang mamanya bersamamu, jangan-jangan


dia akan melamarmu Prita, ohhh selamat yaa, senangnya. Kau sudah


menemukan seseorang yang membuatmu nyaman."


"Bukan, ini sih lain lagi, memangnya anak-anak lesku hanya satu! aku punya


empat anak les tau!"


"Oh, kalau yang ini kenapa dia mengajakmu makan siang di sini?"


"Ya untuk makan siang dan pesan untuk di rumah."


"Prita kamu sungguh beruntung."

__ADS_1


Yunna dan Elsa, hanya bisa menggigit bibir karena sekarang Prita mereka


sudah memiliki seseorang yang membuatnya nyaman dan merasa indah.


Sedang mereka masih berkutat meniti dan menata masa depan.


Prita kembali ke mejanya, Anggie asyik sekali membaca buku ceritanya, kemana


saja ia membawa bukunya. sedang Mamanya juga sedang membalas chat asyik masing


masing. Keduanya menoleh saat Prita duduk di antara keduanya, pesanan juga


pas datang. Minuman yang mengoda untuk di seruput, serta menu makan siang


yang lengkap.


"Alhamdulillah sajiannya sudah datang, Anggie simpan dulu bukunya Nak, kita


makan dulu."


"Ok Mam."


"Yuk dinikmati, silahkan."


Mereka memulai menyuap makanan masing-masing, Nikmat sekali. Ia tidak


pernah bermimpi masih menjadi target dari Ayah Jae yang bersikeras mendapat


gadis itu untuk menjadi primadonanya. Ia sedang merencanakan sesuatu


yang sangat jahat.


"Gadis itu harus menjadi miliku secepatnya! cari cara agar ia menjadi lemah


dan pada akhirnya menjadi budak nafsuku seumur hidup."


"Siap ayah Jae!"


"Jangan sampai gagal, keluarga kalian menjadi taruhannya."


"Darto kali ini aku mempercayakan padamu, kalau kau gagal lebih baik kau


tenggelam di lautan sana bersama anak dan istrimu! tapi kalau kau  berhasil


aku akan memberikanmu sebuah barpub. kau mau? atau sebuah Cafe, terserah


kau pilih mana?"


"Baik ayah Jae, siap laksanakan!"


Darto, laki-laki bertubuh gempal dan berkulit hitam. Dia adalah pimpinan beberapa


orang tukang pukul Ayah Jae. Terkenal sadis dan tidak memiliki belas kasihan.


Ia juga licik dan sangat jahat. Kebaikannya hanya sangat setia pada Ayah Jae dan


tak mau meninggalkan laki-laki yang memang mengangkat hidupnya dari jeratan


kemiskinan. Dan sekarang ia ditugaskan untuk mendapatkan seorang gadis bernama


Prita, yang keseluruan data gadis itu sudah dikirimkan padanya.


"Darto Keling tak pernah gagal mengemban misi!"


Matanya tajam melihat sebuah foto gadis yang sangat cantik dan muda belia.


Ia harus mendapatkan Prita dan menyerahkannya pada Bosnya yakni


ayah Jae.


 


 


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2