
Pagi yang indah sekali bagi Prita, masih terbayang-bayang pada Rakasiwi
yang membuat tidurnya gelisah dan resah. Pria muda itu sangat menyenangkan
sikap dan sosoknya, lembut, cool serta memiliki selera homor yang baik. Dan
yang membuatnya klepek-klepek Rakasiwi pintar bermain gitar, itu merupakan
daya tarik tersendiri bagi Prita.
Tetapi dia harus ke tempat mengajar, senang sekali Anggie anak lesnya sudah
lancar membaca. Dan ia suka sekali membaca cerita. Mamanya sangat berterima
kasih pada Prita, sebab Anggie yang semula tak bisa membaca meski sudah
les sama ibu gurunya. Tidak ada kemauan yang keras dari anak itu.
Untungnya begitu les membaca pada Prita, gadis kecil cantik itu memiliki
semangat serta minat yang bagus. Sekarang membaca sudah tidak menjadi
masalah. Karena libur semester Prita juga sudah berakhir dan tak bisa di perpanjang
lagi. Gadis itu mulai berpamitan pada anak-anak lesnya. Hari ini merupakan yang
terakhir di rumah Anggie, ia membelikan Anggie buku cerita dua buah buku yang
bagus. Prita membelinya di gramedia.
Setelah membungkus dan memberinya pita gadis itu segera mengeluarkan
mogenya. "Ma, aku berangkat mengajar ya."
Dia pamit pada ibunya sembari memberi tahu agar mengunci pintu dan pagar.
Karena hampir tiap hari ada saja yang berhilangan di halaman, mulai dari sandal
sepeda sampai motor.
Grup wa tetangga, mengirim vidio cctv tentang pencurian yang terekam. Pada
tengah malam yang sepi itu terlihat seseorang lewat dan agaknya melihat
motor di depan teras. Tiba-tiba saja pagar telah terbuka, dan dengan perlahan
seorang laki-laki yang serba berpakaian hitam menyeret motor dan dalam
sekejap motor tersebut menghilang.
Pagi-pagi sekali ramai rumah tetanga tersebut, hanya beberapa rumah dari
kediaman Prita dan mama Risanya. Mau tak mau Prita tak mau menaro
mogenya di teras. Ia memasukkannya ke ruang tamu. Sekarang orang-orang
sulit mendapatkan pekerjaan, sementara anak istri dan diri sendiri harus
makan dan memenuhi kebutuhan. Melihat ada kesempatan, dan keberanian
mereka langsung melakukannya tanpa pikir panjang. Mama juga sudah
berhati-hati, ia tidak lagi membiarkan pintu-pintu terbuka seperti dulu.
Ada banyak yang harus diwaspadai, waspadalah! waspadalah, kejahatan
terjadi karena adanya kesempatan. Mama bahkan sudah hapal salah
satu kata di telvisi.
"Kakak Prita!"
Anggie menyambutnya penuh kegembiraan. Dan Prita langsung memberikan
gadis kecil itu bungkusan buku ceritanya yang terbungkus rapi.
"Hello Prita, wahh! Anggie menunggu sejak tadi, ada yang ingin
ia berikan pada bu gurunya yang telah mengajarinya membaca."
"Aduhhh, merepotkan ya? apa tuh Anggie?"
Gadis kecil itu hanya tersenyum berahasia, lantas ia beranjak dan pergi
__ADS_1
ke kamarnya. Tak lama menyeret-nyeret sesuatu ke ruang tamu.
Mamanya datang membantunya dan mengangkatnya ke depan.
"Prita, tolong diterima ya, kemarin Anggie dan papanya ke super
markaet, sebagai tanda terima kasih kami semua."
Sebuah kotak yang lumayan besar, Prita terbengong melihatnya.
"Aduh, besar sekali apa nih."
"Semoga bermanfaat dan dipergunakan ya bu guru."
"Aduh, terima kasih banyak, kakak cuman membeli buku cerita
untuk Anggie, tapi kakak sibelikan sebesar ini, jadi nggak enak."
Prita merasa tak enak, tetapi Anggie dan mamanya memberinya
dengan tulus dan kegembiraan. Bukan hanya itu saja, ia juga diajak
pergi makan siang di sebuah tempat tak jauh dari tempat mereka.
Hari itu Prita tak perlu mengajar. Sebab Anggie sudah pintar sekali
membacanya. Tiada kebahagian yang lebih dari pada keberhasilannya
membuat seseorang menjadi bisa.
Mereka segera bergegas ke sebuah cafe, dan tentu saja itu adalah
cafe idola milik keluarga Raka Bramantyo.
"Temanku bekerja di sini."
Prita tersenyum.
"Oh ya? kalau begitu kita bisa bertemu."
Mereka memasuki tempat tersebut. Hampir menjelang jam dua
belas, dan cafe tersebut telah siap dengan berbagai menu makanan
dan mimunan. Suasana juga sudah mulai ramai, agaknya makan
dari cafe.
Ketika Anggie dan mamanya sudah mendapat tempat, Prita pamit
untuk menemui Yunna dan Elsa. Ketiganya saling berpelukkan
dan merasa senang. Prita bilang ia di traktir mama dari muridnya, ia
tadi pamit sebentar. Gadis-gadis itu saling bergenggaman tangan
dan tersenyum bahagia. Prita berbisik, bahwa tadi malam seseorang
mengajaknya pergi ke sebuah acara dan seseorang itu telah
membuatnya sangat nyaman hingga saat itu.
"Ow ow ow, siapa dia? betapa beruntungnya."
Prita tersipu-sipu.
"Kakak dari murid lesku."
"Hah! benarkah? dan sekarang mamanya bersamamu, jangan-jangan
dia akan melamarmu Prita, ohhh selamat yaa, senangnya. Kau sudah
menemukan seseorang yang membuatmu nyaman."
"Bukan, ini sih lain lagi, memangnya anak-anak lesku hanya satu! aku punya
empat anak les tau!"
"Oh, kalau yang ini kenapa dia mengajakmu makan siang di sini?"
"Ya untuk makan siang dan pesan untuk di rumah."
"Prita kamu sungguh beruntung."
__ADS_1
Yunna dan Elsa, hanya bisa menggigit bibir karena sekarang Prita mereka
sudah memiliki seseorang yang membuatnya nyaman dan merasa indah.
Sedang mereka masih berkutat meniti dan menata masa depan.
Prita kembali ke mejanya, Anggie asyik sekali membaca buku ceritanya, kemana
saja ia membawa bukunya. sedang Mamanya juga sedang membalas chat asyik masing
masing. Keduanya menoleh saat Prita duduk di antara keduanya, pesanan juga
pas datang. Minuman yang mengoda untuk di seruput, serta menu makan siang
yang lengkap.
"Alhamdulillah sajiannya sudah datang, Anggie simpan dulu bukunya Nak, kita
makan dulu."
"Ok Mam."
"Yuk dinikmati, silahkan."
Mereka memulai menyuap makanan masing-masing, Nikmat sekali. Ia tidak
pernah bermimpi masih menjadi target dari Ayah Jae yang bersikeras mendapat
gadis itu untuk menjadi primadonanya. Ia sedang merencanakan sesuatu
yang sangat jahat.
"Gadis itu harus menjadi miliku secepatnya! cari cara agar ia menjadi lemah
dan pada akhirnya menjadi budak nafsuku seumur hidup."
"Siap ayah Jae!"
"Jangan sampai gagal, keluarga kalian menjadi taruhannya."
"Darto kali ini aku mempercayakan padamu, kalau kau gagal lebih baik kau
tenggelam di lautan sana bersama anak dan istrimu! tapi kalau kau berhasil
aku akan memberikanmu sebuah barpub. kau mau? atau sebuah Cafe, terserah
kau pilih mana?"
"Baik ayah Jae, siap laksanakan!"
Darto, laki-laki bertubuh gempal dan berkulit hitam. Dia adalah pimpinan beberapa
orang tukang pukul Ayah Jae. Terkenal sadis dan tidak memiliki belas kasihan.
Ia juga licik dan sangat jahat. Kebaikannya hanya sangat setia pada Ayah Jae dan
tak mau meninggalkan laki-laki yang memang mengangkat hidupnya dari jeratan
kemiskinan. Dan sekarang ia ditugaskan untuk mendapatkan seorang gadis bernama
Prita, yang keseluruan data gadis itu sudah dikirimkan padanya.
"Darto Keling tak pernah gagal mengemban misi!"
Matanya tajam melihat sebuah foto gadis yang sangat cantik dan muda belia.
Ia harus mendapatkan Prita dan menyerahkannya pada Bosnya yakni
ayah Jae.
Bersambung
__ADS_1