
"Mi, Richi mau tinggal selama seminggu di sini, katanya ada tugas."
Raka yang sedang mengenakan kemejanya memberitahu istrinya.
"Oh ya? tumben-tumbenan ya Pi."
"Sebenarnya Richi sering ke Jakarta Mi, tapi dia tidurnya di hotel. Nggak
mau menganggu dan merepotkan kita katanya."
Mardo diam, ia tau luka hati Richi. Saat pertemuan terakhir ia nembak dirinya
tapi Mardo belum bisa memberikan jawaban, Hingga terjadi perpisahan yang
panjang. Richi begitu baik dan penuh perhatian padanya. Matanya lembut
dan menyiratkan cinta pertamanya.
Tetapi Mardo sudah melabuhkan hatinya pada kakak kandung Richi yakni
Raka. Ketika itu tidak ada kesempatan untuk menyatakan kalau ia dan Raka
sudah jadian ketika di kapal. Saat Raka memaksakan ciuman pertamanya.
Dan Mardo telah berjanji di buku diarynya bahwa laki-laki pertama yang
memciumnya adalah suaminya. Raka yang melakukannya pertama kali
ia menepati janjinya itu, terlebih ia jatuh cinta pada Raka.
"Richi kangen rumah ini. Aku dan Richi dulu jika ke Jakarta ya tinggal di sini Mi."
"Oh gitu ya Pi, aku jadi ingat Pi. Saat baru sampai di kota Pala, ada seseorang
yang menelponku. Setiap sore dia menelpon tapi setiap ditanya siapa namanya
selalu diam, nanti juga tau, begitu terus bilangnya."
Raka tersenyum, begitu tiba di rumah ini ia memang langsung menelpon satpam
di rumahnya, minta diberitahu nomer telepon rumah dinas pak Wijaya. Setelah
mendapatkannya ia langsung menelpon. Tetapi yang menerima bang Mangara.
Ia bilang ingin ke Mardo. Dan abangnya memberikan telpon itu. Tak lama terdengar
suara gadis yang memarahinya di bandara Zepman. Ia langsung gemetaran dan
terdiam. Terdengar hello hello berulang, ia tetap membisu kehilangan kemampuan
bicara, hingga akhirnya telpon itu di tutup.
"Iya, itu aku Mimi, begitu kejadian di bandara itu Pipi terus kepikiran sama kamu.
Pipi langsung telpon satpam untuk minta nomer rumah dinas papimu he he he."
__ADS_1
"Uh, dasar Pipi, dulu itu selalu bikin kesal Mimi."
Sembari Mardo beranjak dan memeluk tubuh suaminya dari belakang. Ia menyandarkan
kepalanya ke punggung Raka.
"Tapi, sekarang Mimi nggak kesal lagi dong sama Pipi?"
"Ah Pipi ini, mana mungkin anak kita sudah empat, pertanda cinta Mimi kepada
Pipi begitu besar."
Raka menyentuh lengan Mardo dan berbalik sehingga mereka berhadapan.
"Pipi juga sangat mencintai Mimi, dari dulu hingga sekarang hingga nanti, cinta Pipi
penuh di dada ini."
Sembari menjatuhkan bibirnya di kening, hidung dan bibir kekasih hatinya.
Keduanya berpelukkan lama sekali dan hangat. Hingga Raka terkejut sebab
hari telah siang, sementara ia ada meeting hari ini. Cafe-cafe semakin bertebaran
dan banyak yang meniru konsep cafe pria idola. Sehingga cafe Pria Idola mengalami
penurunan omset yang sangat signipikan.
"Jangan terlalu dipikirkan ya Pi, yang namanya bisnis itu selalu ada turun dan naik. Selama
yang lain sekarang ingin juga menikmati keuntungan yang cafe pria idola dapatkan."
"Hemmm, yang Mimi bilang itu benar. Pria idola sebaiknya memberikan kesempatan pada
cafe-cafe tersebut ya Mi."
"Yang selalu membuat Pipi pusing ini adalah Deny dan Sammy Mi, mereka sudah setua itu
tapi ambisiusnya nggak berkurang-kurang, Pipi kadang tak bisa mengendalikan mereka."
"Mungkin kita perlu pergi jalan-jalan Pi, kita bersama keluarga masing-masing."
Raka tercenung lalu sekali lagi mengecup kening Mardo dan beranjak keluar dari'
kamar,
"Nanti aku bicarakan dengan Denny dan Sammy, apakah mereka perlu cuti untuk
pergi rekreasi bersama keluarga, aku pergi Mi,"
Mardo mengantar suaminya hingga pagar. Ia melihat Raka duduk di belakang dan
melambai kepadanya, "Hati-hati Pi."
Belum lama Raka pergi, tiba-tiba terdengar suara mobil yang memasuki garasi.
__ADS_1
"Dih, Pipi kok balik lagi sih? apa ada yang ketinggalan."
Tetapi Mardo tercekat sebab ia melihat sosok tinggi hitam manis yang keluar
dari mobil.
"Richiii!"
Bibir perempuan itu tersenyum, ia sedikit hesteris memanggilnya. Sangat senang
bertemu dengan sahabat semasa smp.
"Hello kakak Ipar, apa kabarmu?"
Mardo memanyunkan mulutnya, "Aku mengingatmu sebagai teman sekolahku."
Keduanya berhadapan, saling menatap dan kemudian tersenyum.
"Mari masuk Rich, ini kan rumahmu juga."
"Tentu."
Lelaki itu segera masuk dan tercekat sesaat di depan hamparan pemandangan
rumah itu. Sesaat ia teringat ia pernah berkejaran dengan Raka kakaknya, bermain
bola hingga memecahkan pot bungga milik Mami.
Ia segera memasuki rumah tersebut dan menghenyakkan punggunyanya di sofa
ruang tamu.
"Kenapa sepi begini? anak-anak kemana? bukannya sudah libur."
Richi setengah berteriak pada Mardo yang datang membawakan minuman untuknya.
"Minum dulu, pasti haus, sebentar lagi masakkan siap."
Mardo duduk di hadapan laki-laki yang pernah sangat dekat dengannya dulu.
Ia pernah merasakan perhatian berlebih serta tatapan syahdu dari Richi. Kenangan
saat ia meraih lengan Richi saat ketakutan melihat ular yang melintang di jalan. Juga
ketika berkejaran di pantai lampu satu. Banyak sekali kenangan indah bersama
Richi dan sekarang rasanya mereka kembali ke masa kecil yang sungguh indah.
Bersambung
Tara! hello terima kasih ya sudah mampir dan memberi like, komen serta vote
Othot sangat berterima kasih.
__ADS_1