Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 175. Mengulangi Kenangan Lalu.


__ADS_3

"Mi, Richi mau tinggal selama seminggu di sini, katanya ada tugas."


Raka yang sedang mengenakan kemejanya memberitahu istrinya.


"Oh ya? tumben-tumbenan ya Pi."


"Sebenarnya Richi sering ke Jakarta Mi, tapi dia tidurnya di hotel. Nggak


mau menganggu dan merepotkan kita katanya."


Mardo diam, ia tau luka hati Richi. Saat pertemuan terakhir ia nembak dirinya


tapi Mardo belum bisa memberikan jawaban, Hingga terjadi perpisahan yang


panjang. Richi begitu baik dan penuh perhatian padanya. Matanya lembut


dan menyiratkan cinta pertamanya.


Tetapi Mardo sudah melabuhkan hatinya pada kakak kandung Richi yakni


Raka. Ketika itu tidak ada kesempatan untuk menyatakan kalau ia dan Raka


sudah jadian ketika di kapal. Saat Raka memaksakan ciuman pertamanya.


Dan Mardo telah berjanji di buku diarynya bahwa laki-laki pertama yang


memciumnya adalah suaminya.  Raka yang melakukannya pertama kali


ia menepati janjinya itu, terlebih ia jatuh cinta pada Raka.


"Richi kangen rumah ini. Aku dan Richi dulu jika ke Jakarta ya tinggal di sini Mi."


"Oh gitu ya Pi, aku jadi ingat Pi. Saat baru sampai di kota Pala, ada seseorang


yang menelponku. Setiap sore dia menelpon tapi setiap ditanya siapa namanya


selalu diam, nanti juga tau, begitu terus bilangnya."


Raka tersenyum, begitu tiba di rumah ini ia memang langsung menelpon satpam


di rumahnya, minta diberitahu nomer telepon rumah dinas pak Wijaya. Setelah


mendapatkannya ia langsung menelpon. Tetapi yang menerima bang Mangara.


Ia bilang ingin ke Mardo. Dan abangnya memberikan telpon itu. Tak lama terdengar


suara gadis yang memarahinya di bandara Zepman. Ia langsung gemetaran dan


terdiam. Terdengar hello hello berulang, ia tetap membisu kehilangan kemampuan


bicara, hingga akhirnya telpon itu di tutup.


"Iya, itu aku Mimi, begitu kejadian di bandara itu Pipi terus kepikiran sama kamu.


Pipi langsung telpon satpam untuk minta nomer rumah dinas papimu he he he."

__ADS_1


"Uh, dasar Pipi, dulu itu selalu bikin kesal Mimi."


Sembari Mardo beranjak dan memeluk tubuh suaminya dari belakang. Ia menyandarkan


kepalanya ke punggung Raka.


"Tapi, sekarang Mimi nggak kesal lagi dong sama Pipi?"


"Ah Pipi ini, mana mungkin anak kita sudah empat, pertanda cinta Mimi kepada


Pipi begitu besar."


Raka menyentuh lengan Mardo dan berbalik sehingga mereka berhadapan.


"Pipi juga sangat mencintai Mimi, dari dulu hingga sekarang hingga nanti, cinta Pipi


penuh di dada ini."


Sembari menjatuhkan bibirnya di kening, hidung dan bibir kekasih hatinya.


Keduanya berpelukkan lama sekali dan hangat. Hingga Raka terkejut sebab


hari telah siang, sementara ia ada meeting hari ini. Cafe-cafe semakin bertebaran


dan banyak yang meniru konsep cafe pria idola. Sehingga cafe Pria Idola mengalami


penurunan omset yang sangat signipikan.


"Jangan terlalu dipikirkan ya Pi, yang namanya bisnis  itu selalu ada turun dan naik. Selama


yang lain sekarang ingin juga menikmati keuntungan yang cafe pria idola dapatkan."


"Hemmm, yang Mimi bilang itu benar. Pria idola sebaiknya memberikan kesempatan  pada


cafe-cafe tersebut ya Mi."


"Yang selalu membuat Pipi pusing ini adalah Deny dan Sammy Mi, mereka sudah setua itu


tapi ambisiusnya nggak berkurang-kurang, Pipi kadang tak bisa mengendalikan mereka."


"Mungkin kita perlu pergi jalan-jalan Pi, kita bersama keluarga masing-masing."


Raka tercenung lalu sekali lagi mengecup kening Mardo dan beranjak keluar dari'


kamar,


"Nanti aku bicarakan dengan Denny dan Sammy, apakah mereka perlu cuti untuk


pergi rekreasi bersama keluarga, aku pergi Mi,"


Mardo mengantar suaminya hingga pagar. Ia melihat Raka duduk di belakang dan


melambai kepadanya, "Hati-hati Pi."


Belum lama Raka pergi, tiba-tiba terdengar suara mobil yang memasuki garasi.

__ADS_1


"Dih, Pipi kok balik lagi sih? apa ada yang ketinggalan."


Tetapi Mardo tercekat sebab ia melihat sosok tinggi hitam manis  yang keluar


dari mobil.


"Richiii!"


Bibir perempuan itu tersenyum, ia sedikit hesteris memanggilnya. Sangat senang


bertemu dengan sahabat semasa smp.


"Hello kakak Ipar, apa kabarmu?"


Mardo memanyunkan mulutnya, "Aku mengingatmu sebagai teman sekolahku."


Keduanya berhadapan, saling menatap dan kemudian tersenyum.


"Mari masuk Rich, ini kan rumahmu juga."


"Tentu."


Lelaki itu segera masuk dan tercekat sesaat di depan hamparan pemandangan


rumah itu. Sesaat ia teringat  ia pernah berkejaran dengan Raka kakaknya, bermain


bola hingga memecahkan pot bungga milik Mami.


Ia segera memasuki rumah tersebut dan menghenyakkan punggunyanya di sofa


ruang tamu.


"Kenapa sepi begini? anak-anak kemana? bukannya sudah libur."


Richi setengah berteriak pada Mardo yang datang membawakan minuman untuknya.


"Minum dulu, pasti haus, sebentar lagi masakkan siap."


Mardo duduk di hadapan  laki-laki yang pernah sangat dekat dengannya dulu.


Ia pernah merasakan perhatian berlebih serta tatapan syahdu dari Richi. Kenangan


saat ia meraih lengan Richi saat ketakutan melihat ular yang melintang di jalan. Juga


ketika berkejaran di pantai lampu satu. Banyak sekali kenangan indah bersama


Richi dan sekarang rasanya mereka kembali ke masa kecil yang sungguh indah.


 


Bersambung


Tara! hello terima kasih ya sudah mampir dan memberi like, komen serta vote


Othot sangat berterima kasih.

__ADS_1


__ADS_2